
Davin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah menemukan lokasi di mana Devanya akan balapan dengan Orion. Tak lupa dia pun segera meminta bantuan pada Keano karena hanya Abang iparnya itu yang bisa menghentikan kekonyolan Orion dan Devanya.
Setibanya di sirkuit, ternyata Devanya dan Orion sudah memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sepasang mantan kekasih itu sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari cara mereka membawa kendaraannya yang seperti sedang menahan gejolak di hatinya.
"Sial! Aku telat. Bagaimana caranya agar aku bisa menghentikan mereka? Kenapa mereka bisa kembali seperti dulu menjadi tidak akur?" gumam Davin dengan terus melihat ke arah arena balap.
Setelah mendapatkan lima kali putaran, keduanya pun berhenti tepat di depan Davin. Namun, ada satu hal yang membuat Davin heran, karena ternyata bukan Devanya yang turun dari motor kakak perempuannya itu. Melainkan seorang gadis yang memiliki perawakan sama dengan kakak perempuannya.
"Ion, Kak Deva mana?" tanya Davin dengan hati yang berdebar.
"Tuh!" tunjuk Orion pada kursi barisan penonton kelas VVIP.
"Jadi, tadi kamu tidak balapan dengan kakakku?" tanya Davin.
"Tanya saja sama dia! Kalau istri sultan, taruhan aja pakai stuntman. Kamu tahu, ini adalah balapan terakhir Vanya. Tapi Bang Ano datang mengacaukan semuanya. Dia malah menyuruh pengawal untuk menggantikan calon istrinya itu. Kenapa dia harus takut Vanya akan kembali sama aku, kalau dia yakin bisa memiliki hati Vanya seutuhnya." Orion meluapkan kekesalannya pada Davin.
Orion hanya ingin mengukir kenangan dengan Devanya. Makanya saat Devanya meminta Orion untuk menghapus semua video itu, dia mengajukan syarat untuk balapan dengannya. Padahal, video yang diminta oleh Devanya sudah dia hapus semua setelah dia menyatakan cinta pada gadis bermata biru itu.
"Wajar Bang Ano seperti itu. Kamu kan tahu pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi. Tentu Bang Ano khawatir jika terjadi sesuatu sama Kak Deva. Begitupun dengan aku," bela Davin.
"Kamu sama Bang Ano sama saja. Hanya Devan yang mengerti tentang perasaanku. Sudahlah aku pulang, bilang sama kakak kamu, videonya sudah aku hapus semua." Tanpa menengok lagi ke arah Davin, pemuda tampan itu langsung memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Sementara Davin hanya melihat punggung kokoh itu pergi keluar dari sirkuit. Saat Orion sudah hilang dari pandangan matanya, barulah Davin beranjak pergi untuk menemui kakaknya yang sedari tadi memperhatikan dari jauh interaksi Davin dengan Orion.
Saat sampai di depan Devanya dan Keano, nampak gadis bermata biru itu sedang menundukkan kepalanya. Sementara Keano menatap dalam tunangannya. Davin pun langsung duduk di samping kakak perempuannya.
"Kak, kakak tahu seberapa khawatirnya aku saat mendengar kakak akan balapan dengan Orion. Kakak tahu, kalau kakak kenapa-napa, bukan hanya kakak yang terluka tapi aku dan semua orang yang menyayangi kakak. Terutama mama dan papa." Davin melirik sekilas ke arah kakaknya.
__ADS_1
Bukan hanya sekali dia meminta Devanya untuk tidak ikut balapan. Tapi kakak cantiknya itu selalu menganggap angin lalu ucapan adiknya. Makanya saat dia tahu Devanya dekat dengan Orion dan tidak keluar malam untuk balapan lagi, dia merasa sedikit tenang.
"Iya, maaf! Kakak gak akan balapan lagi. Kamu tenang saja, bodyguard Kakak sekarang galak banget seperti seekor singa yang mau melahap mangsanya. Dia bahkan lebih galak dari papa," sindir Devanya.
Gadis bermata biru itu teringat saat tadi Keano datang ke sirkuit ketika dia akan menancap gas. Mata tajam yang mampu menembus ke dasar hati dan aura dingin yang menguar ke sekelilingnya, membuat gadis bermata biru itu akhirnya menurut saat Keano menyuruh pengawal bayangan gadis itu untuk menggantikannya.
Sementara Keano yang mendapat sindiran dari tunangannya, hanya tersenyum tipis. Dia tidak peduli dengan tanggapan kekasih hatinya itu. Yang terpenting baginya, Devanya tidak melakukan hal konyol bersama dengan Orion.
"Abang berbuat seperti itu, karena Abang sayang sama kamu. Abang tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan pada calon istri Abang," jelas Keano.
"Tau akh! Hari ini kalian begitu menyebalkan. Sebagai gantinya, aku ingin ditraktir makan baso boom beranak." Cebik Devanya.
...***...
Lain Devanya, lain pula dengan Diandra. Gadis manis itu mengurung diri di kamarnya. Dia terus merenungkan apa yang tadi Sevia katakan pada Davin. Ada ketakutan di hatinya jika nanti Davin mengikuti apa yang mama mertuanya itu katakan. Entah kenapa, dia merasa tidak ingin jika harus berpisah dengan suami brondongnya.
"Apa yang harus aku lakukan jika Davin benar-benar melepaskan aku. Harapan aku untuk pergi jauh dari Daddy akan tipis. Apa mungkin selamanya mama tidak bisa lepas dari Daddy?" gumam Diandra.
"Boleh Tante masuk?" tanya Sevia dengan nampan di tangannya.
"Boleh, Tan!" Diandra langsung membuka lebar pintu kamarnya agar Sevia tidak kesusahan memasuki kamar.
"Dian apa kamu baik-baik saja? Kata Bi Inah kamu sedang tidak enak badan, makanya Tante bawa makan malam kamu ke sini," ucap Sevia seraya menyimpan nampan di nakas.
"Dian hanya pusing sedikit, Tan! Mungkin karena tadi pekerjaan Dian lumayan banyak," kilah Diandra.
Kenapa aku merasa kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu? Sebenarnya hal apa yang aku lewatkan di rumah ini. Semenjak pulang dari liburan, aku merasa ada hal yang tidak biasa antara Diandra dan Davin. Apa mungkin gadis ini akhirnya luluh dan menerima cinta Davin?
__ADS_1
Melihat Sevia yang terdiam tanpa bicara, akhirnya Diandra pun kembali angkat suara. "Tan, apa mungkin mama bisa berjalan lancar saat pesta pernikahan Deva nanti?" tanya Diandra untuk memecah kesunyian.
"Tante berharap begitu. Dian apa boleh tante bertanya hal yang sedikit sensitif?" tanya Sevia dengan merangkul pundak Diandra dan membawanya ke sofa yang ada di kamar Davin.
"Boleh, Tan. Memang mau bertanya apa?" tanya Diandra saat mereka sudah sama-sama duduk.
"Tapi sebelumnya Tante minta maaf, jika hal yang Tante tanyakan sedikit pribadi." Sevia menghela napas dalam sebelum dia bertanya pada Diandra.
"Tidak apa, Tan!"
"Apa kamu dan Davin pacaran? Tante senang jika akhirnya kamu menerima cinta putra Tante. Tapi, jika kamu merasa terpaksa menjalin hubungan dengan Davin, Tante akan menegur Davin agar tidak memaksakan perasaannya sama kamu."
Deg
Jantung Diandra berdetak lebih cepat dari biasanya. Wajahnya serasa terbakar. Dia tidak pernah menyangka Sevia akan mencium hubungannya dengan Davin. Meskipun mama mertuanya itu tidak tahu kalau sebenarnya dia dan putranya sudah menikah.
"Aku-aku ... Aku sedang belajar menerima Davin sebagai pacarku, Tan." Diandra menundukkan kepalanya dengan jari jemarinya saling bertautan.
"Terima kasih jika kamu bersedia membuka hati untuk Davin. Meskipun seumuran dia masih terbilang cinta monyet, tapi Tante yakin kalau dia mencintai kamu tulus dari hatinya."
Meskipun aku percaya kalau Davin mencintai aku dengan tulus, tapi kenapa aku merasa takut jika dia akan balas dendam karena cintanya sering aku tolak.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
Sambil nunggu Brondong Tajir update, yuk kepoin juga karya Author keren yang satu ini!