
Berbeda dengan Devanya yang mendadak tidak bisa tidur. Dia terus berguling ke sana ke mari dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman. Devanya tidak pernah menyangka akan terjerat cinta orang yang menurutnya sangat menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya pun tidak bisa menyangkal kalau dia menyukai dengan apa yang Orion lakukan padanya.
" Ion nyebelin, kenapa juga pake cium-cium aku terus? Jadinya kan, aku tidak bisa tidur karena inget terus," gumam Devanya dengan mengelus bibirnya.
"Ternyata ciuman itu rasanya luar biasa, tapi bagaimana kalau papa tahu, nenek dan kakek tahu? Seingat aku, Orion sudah dijodohkan oleh keluarga papanya sama gadis pilihan mereka. Lalu, bagaimana dengan aku? Lebih baik keluarga tidak ada yang tahu tentang hubungan aku dengan Ion."
Devanya benar pun langsung mengambil ponselnya ingin memberi pesan pada Orion. Tapi baru saja dia memegang ponsel, ternyata Orion sudah terlebih dahulu melakukan panggilan video padanya. Dengan senyum yang merekah di bibirnya dan dadanya yang berdegup hebat, Devanya pun langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan video dari Orion.
"Hallo jelek!" ucap Orion di seberang sana.
"Apa?" tanya Devanya yang langsung cemberut karena dipanggil jelek oleh Orion.
"Kamu gemesin kalau cemberut, wife."
"Apaan sih, Ion? Panggil wife wife segala."
"Salah ya kalau panggil wife? Kamu kan wife aku di masa depan. Nikah yuk!"
"Apaan sih, Ion? Baru aja jadian, udah ajak nikah. Emang kamu udah punya buat maskawin-nya?" tanya Devanya dengan dada yang berdebar mendengar ada seorang lelaki yang mengajak dia nikah.
"Ada, kalau kamu mau, besok juga aku bersedia kho!"
"Apaan sih? Udah deh Ion, belum tentu juga keluarga kamu setuju, kamu nikah sama aku."
Aku juga tidak tahu bagaimana reaksi mama dan papa kalau mereka tahu, aku jadian dengan Vanya. Apalagi Opa, pasti dia akan menolaknya karena opa selalu melihat bibit bebet bobotnya, batin Orion.
"Ion, Ion kamu melamun kan? Tuh kan, baru aku bilang gitu aja kamu udah ngelamun. Kamu takut kan, keluarga papa kamu tidak setuju dengan hubungan kita?"
"Aku hanya sedang berpikir, bagaimana cara bilang sama mereka tentang hubungan kita."
__ADS_1
"Ion, jangan bilang apa-apa sama mereka. Biar saja mereka tahunya kita berteman."
"Kita memang berteman tapi teman di atas tempat tidur," kelakar Orion untuk mencairkan suasana.
"Udah ya, aku mau tidur."
"Jangan ditutup! Aku mau nemenin kamu sampai kamu benar-benar tertidur."
"Baiklah!"
Devanya langsung menyimpan ponselnya di stand holder. Membiarkan Orion melihatnya memejamkan mata dan tertidur. Benar saja, tidak lama kemudian dia terlelap tidur meninggalkan Orion, yang masih setia menikmati keindahan ciptaan Tuhan, yang nyaris sempurna di layar ponselnya.
Ternyata hubungan kita tidak semudah yang aku bayangkan. Aku lupa kalau opa pernah mengatakan punya janji pernikahan dengan sahabatnya. Ah ... kenapa Vanya mengingatkan aku, batin Orion.
...***...
Keesokkan harinya, Orion datang ke rumah Devanya saat matahari masih sembunyi di peraduannya. Dave yang menerima kedatangan Orion sempat kaget, karena tidak biasanya bocah tengil itu datang pagi-pagi sekali.
"Aku gak bisa tidur, Om. Vanya udah siap belum Om?" tanya Orion.
"Mungkin masih bersiap-siap di kamarnya. Oh iya, nanti pulang kerja langsung pulang ke rumah ya! Hati ini Tante Rani pulang dari rumah sakit, Om mau adakan syukuran selepas magrib."
"Baik, Om! Memang pulangnya ke sini? Kenapa Om yang adain syukurannya, kan suaminya Om Harry?"
"Ya tidak apa. Buat Om, Harry dan Rani itu sudah seperti saudara sendiri. Sengaja dirawat di sini biar diawasi dengan baik perkembangannya," jawab Dave.
Tidak berapa lama kemudian, Devanya turun ke lantai atas. Dia bergegas menuju meja makan karena sudah pasti mama papanya menunggu si sana. Namun, gadis itu begitu kaget saat melihat Orion sudah duduk di meja makan bersama dengan papanya.
"Loh, Ion. Sudah datang?" tanya Devanya.
__ADS_1
"Iya nih, teman putri papa yang satu ini mau numpang sarapan katanya," seloroh Dave.
"Om, tahu aja. Kasihanilah aku, Om! Papa mama ku jauh di negeri orang," ucap Orion melas.
"Udah deh jangan sandiwara. Ayo sarapan dulu!" ajak Devanya.
"Ayo Ion, jangan sungkan! Tante bikin omelette loh," ajak Sevia.
"Iya, Tan Makasih!"
Mereka pun makan dalam diam. Setelah selesai sarapan, Orion dan Devanya langsung pamit untuk berangkat kerja. Sementara Dave masih berada di meja makan bersama dengan Sevia.
"Via, apa sudah siap kamar untuk Rani?" tanya Dave.
"Sudah, kita tinggal menjemputnya saja. Apa Harry tidak keberatan Rani tinggal di sini sementara?" tanya Sevia.
"Aku sudah menjelaskannya. Awalnya dia keberatan tapi akhirnya dia menyetujui. Semoga saja Rani cepat pulih kalau dia tinggal bersama dengan kita."
"Pah, kata pembantu di rumah Rani, perawat Rani suka menggoda Harry. Apa mungkin Harry tergoda dan berusaha untuk mencelakai Rani?"
"Jangan berpikiran buruk pada orang, sebelum kita melihat keburukannya. Papa berangkat dulu," pamit Dave.
Sevia pun langsung mengantar suaminya sampai ke depan. Namun entah kenapa, dia merasa ada yang beda dengan ekspresi Dave tadi.
Semoga saja Dave tidak pernah tergoda dengan daun muda di luaran sana. Aku terkadang takut, Dave merasa bosan padaku yang sekarang sudah berumur dan mencari gadis yang masih belia.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...