
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Sevia dan Rani pun keesokan harinya benar-benar pergi ke salon untuk perawatan di sebuah SPA. Sementara Dave dan Harry berencana akan berenang di waterboom yang menyatu dengan SPA. Dave dan Harry sengaja mengajak bayi mereka dan pengasuhnya untuk sekalian bermain di sana.
"Mbak tolong perawatan seluruh tubuh dan wajah untuk istriku ya!" pinta Dave pada resepsionis.
"Untuk istriku juga," timpal Harry yang tidak mau kalah dari Dave.
Beruntung sekali mereka yang memiliki suami perhatian. Biasanya suami suka pelit untuk perawatan istrinya tapi ini mereka begitu bersemangat menyuruh istrinya untuk perawatan. Andai masih ada satu lagi laki-laki yang seperti ini, aku mau secepatnya dipinang meski hanya dengan bismillah, batin resepsionis.
"Mbak, dengar tidak apa yang aku katakan? Kenapa melamun?" tanya Dave heran.
Resepsionis itu pun cepat tersadar dari lamunannya. Dengan sedikit gugup dia bicara, "Baik, Tuan! Silakan Nyonya ikut dengan rekan saya!" suruh resepsionis itu.
"Dave kalau sudah selesai nanti aku bagaimana?" tanya Sevia gugup karena seumur hidupnya dia baru pertama kali melakukan perawatan di Spa. Kalau pergi ke salon untuk sekedar potong rambut atau creambath, Sevia dan Rani juga sudah biasa.
"Aku dan anak-anak ada di dalam waterboom. Kalau kamu udah duluan, nanti ke sana saja. Tapi kalau nanti aku yang sudah duluan, aku pasti akan ke sini." Dave tersenyum manis pada istrinya, Dia bisa mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Sevia.
Kamu harus sudah mulai belajar kehidupan kelas atas, Via. Aku tidak mau, akan ada orang yang menganggap remeh istriku lagi. Bagaimanapun, kamu harus terbiasa dengan lingkungan aku. Masih mending Tante Icha tidak pernah mempermasalahkan status sosial seseorang. Sedangkan yang lain, tidak semua bisa seperti Tante, batin Dave.
"Baiklah, tunggu aku di sana! Aku masuk ke dalam dulu," pamit Sevia yang kemudian diikuti oleh Rani setelah dia berpamitan dengan Harry.
Setelah kepergian istri-istrinya, Dave langsung merangkul pundak Harry. Dia mengajak sahabatnya segera menuju ke waterboom karena pengasuh dan anak-anaknya sudah masuk duluan ke sana. Harry pun hanya mengikuti ajakan Dave.
"Kamu tenang saja, kita buat Tante Yenita melongo melihat mereka. Semua wanita itu cantik, hanya saja ada yang pandai merawat diri dan ada yang cuek dengan penampilannya seperti istri kita," ucap Dave.
"Kamu benar, Dave. Saat ulang tahun perusahaan nanti, kita buat penampilan istri kita seperti wanita yang berkelas dan elegan." Harry berbicara dengan berapi-api.
"Aku tidak menyangka, mama kamu akan bicara sepeti itu. Seingat aku, dulu dia wanita yang sederhana."
__ADS_1
Dave masih mengingat saat pertama kali dia bermain ke rumah Harry saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia melihat Yenita yang dulu sangat berbeda jauh dengan yang sekarang. Memang waktu bisa merubah seseorang menuju ke arah yang lebih baik atau sebaliknya.
"Kamu benar Dave, mamaku dulu tidak seperti itu. Namun, semenjak dia bertemu lagi dengan sahabatnya saat masih sekolah, sikapnya dan gaya hidupnya perlahan-lahan mulai berubah. Aku tidak tahu pasti penyebab utamanya apa," ucap Harry dengan pikirannya yang menerawang jauh ke masa lalunya.
"Sudahlah, ayo kita bersenang-senang!" Dave langsung melepaskan rangkulannya dan menarik tangan Harry agar cepat sampai ke dalam.
Setelah mendapatkan telepon dri Bi Lina, Dave pun segera menuju ke tempat di mana pengasuhnya itu berada. Terlihat dari jauh Devanya yang tidak mau diam di dalam gendongan pengasuhnya. Dave pun segera mangambil alih putrinya saat dia sudah sampai di sana.
"Putri Papa ingin berenang? Oke kita berenang bareng Papa," ucap Dave.
Devanya hanya menjawab ucapan papanya dengan ocehannya yang tidak dimengerti. Sehingga Dave hanya tersenyum menanggapinya. Setelah berganti baju, Dave pun membawa Devanya ke kolam renang dengan memakaikan neck ring sebagai pelampungnya. Bayi sebelas bulan itu begitu senang bermain air dengan papanya. Sampai-sampai banyak pengunjung yang mengabadikan potret kebersamaan ayah dan anak itu.
Merasa sudah terlalu lama Devanya berada di air, Dave pun segera memberikannya pada Bi Lina. Sementara dia langsung mengajak Harry untuk naik perosotan dengan ketinggian sepuluh meter. Harry yang memang sedari tadi berenang sendiri karena kedua anaknya belum dia ijinkan berenang di tempat umum, langsung menyetujui ajakan Dave.
"Harry, aku merasa kangen dengan geng rusuh. Dulu kemana-mana pasti bareng dengan mereka. Tapi sekarang hanya tinggal kita berdua," ucap Dave saat manaiki tangga.
Sesampainya di atas, kedua sahabat itu segera muluncur dengan arus air yang membawanya. Keduanya terlihat bahagia, melupakan sejenak permasalahan hidup dan perkerjaannya. Setelah merasa puas, kedua sahabat itu segera membilas badannya dan menemui anak-anaknya.
"Bi, kalau mau berenang, berenang saja. Biar anak-anak bersamaku. Aku mau menemui Sevia dulu," ucap Dave.
"Bibi tidak renang, Den! Biar mereka saja," ucap Bu Lina menunjuk pada dua pengasuh Gavin dan Diandra.
"Kami tidak bawa baju ganti, Tuan. Biar kami menjaga anak-anak saja," ucap Ranti pengasuh baru Gavin.
"Ya sudah, kalau begitu kita ke cafe saja. Kalian pasti sudah lapar," tebak Dave.
"Iya, Tuan!" jawab kedua pengasuh itu dengan malu-malu.
__ADS_1
Dave dan Harry pun kembali ke spa setelah memastikan anak-anak dan pengasuh itu nyaman berada di cafe. Sementara Devanya dibawa oleh Dave untuk menemui Sevia. Saat tiba di sana, bertepatan dengan Sevia dan Rani yang baru keluar dari ruang perawatan dengan wajah yang sudah terlihat segar dan sedikit polesan make up yang membuat ibu muda itu terlihat bercahaya.
Istriku bertambah cantik saja. Aku semakin betah tinggal di rumah. Rasanya aku ingin segera mencoba tubuhnya yang pasti wangi dan kulitnya kenyal saat bergesekan dengan kulitku. Sepertinya aku harus segera pulang ke rumah dan menyuruh pengasuh itu jalan-jalan, batin Dave.
Mama tidak bisa melihat kecantikan yang tersembunyi. Dipoles sedikit saja, auranya keluar. Apalagi saat nanti dia rutin melakukan perawatan. Aku yakin, Rani pasti akan terlihat lebih cantik dari Nadine. Aku tidak menyesal telah melepaskan Nadine dan memilih Rani sebagai pendamping hidupku. Meskipun awalnya tidak ada niat sedikitpun untuk menjadikannya sebagai istriku, batin Harry.
Melihat suaminya yang terbengong, Sevia dan Rani pun segera mendekati suami brondongnya dan menepuk tangan keduanya. Devanya hanya tertawa senang melihat papanya yang terkaget karena ulah mamanya. Dia pun langsung meminta digendong oleh Sevia.
"Mama ... Mama ...." Devanya langsung merentangkan tangannya meminta digendong oleh Sevia.
"Tidak sayang, Papa duluan yang mencium mama. Nanti Deva setelah Papa." Dave langsung mencium pipi Sevia sekilas sebelum memberikan putrinya pada Sevia.
"Papa nakal, ya Sayang." Sevia mencoba mengajak bicara pada Devanya.
"Karena aku nakal, makanya kamu suka kan Tante mesumm," bisik Dave yang sukses membuat pipi Sevia menjadi merona
Sementara Harry dan Rani hanya senyum malu-malu seperti anak baru gede yang sedang kasmaran. Harry ingin melakukan seperti yang Dave lakukan pada Sevia. Tapi dia merasa canggung jika di tempat umum.
"Kamu cantik, Rani!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih!...
Yuk kepoin juga karya Author yang keren ini!
__ADS_1