
Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, Devanya mengajak bicara pada Orion di cafe tempat mereka dulu jadian. Orion yang sudah dapat menangkap maksud Devanya mengajaknya ke sana, dia hanya diam mengikuti keinginan gadis bermata biru.
"Ion, kamu tahu kalau jodoh seseorang sudah dicatat saat orang itu masih dalam kandungan?" tanya Devanya memulai percakapan.
"Aku tahu." Orion menatap lekat Devanya yang nampak gugup di depannya.
"Ion, aku sudah bertunangan dengan Bang Ano. Aku mohon kita batalkan perjanjian kita. Aku tidak bisa mengecewakan papa dan yang lainnya," ucap Devanya dengan menautkan jari jemarinya.
"Itu urusan kamu. Aku belum memutuskan untuk membatalkan perjanjian kita. Lagipula kamu baru bertunangan. Apa kamu mencintai Bang Ano?"
"Ion, cinta gak cinta sekarang aku sudah jadi tunangannya. Mumpung cinta kita belum terlalu dalam, lebih baik kita mengakhirinya sekarang."
Mungkin memang benar kamu belum terlalu dalam mencintai aku. Tapi aku sudah mencintai kamu lebih dari yang kamu tahu, batin Orion.
"Aku tetap menolaknya. Sebelum kamu menikah dengan Bang Ano, kamu masih menjadi milikku."
Devanya hanya diam mendengar apa yang Orion katakan. Dia pun sebenarnya berat jika harus berpisah dengan Orion. Tapi dia merasa sangat bersalah pada Keano jika masih berhubungan dengan Orion seperti dulu. Apalagi, saat tadi Devanya melihat sorot mata kecewa dan luka Keano, hatinya menjadi sakit dan bisa merasakan apa yang Keano rasakan.
"Ion, apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung," tanya Devanya.
"Baiklah, jika kamu sudah memilih Bang Ano. Aku akan membatalkan perjanjian kita setelah wisuda. Selama kita belum wisuda, aku akan menganggap kamu sebagai pacar simpanan aku. Aku tidak mau dibantah. Keputusanku sudah final."
"Maafkan aku, Ion!
"Aku tidak terima permintaan maaf kamu. Kamu harus membayarnya,Vanya."
"Oke, aku traktir makan sebagai bayarannya."
"Aku gak mau, aku maunya ...." Tangan Orion langsung terulur mengelus lembut bibir Devanya.
Devanya hanya menggelengkan kepalanya dengan memegang tangan Orion. Dia takut sangat takut, jika mereka akan kelepasan jika melakukan hal yang terlalu intim.
"Kamu menolak aku?"
Saat Devanya akan bicara, datang seorang gadis cantik datang menghampiri dengan segelas jus ditangannya. Dia pun langsung menyapa Devanya.
"Permisi, kamu Devanya kan? Apa kamu sudah lupa sama aku? Aku Aileen dari Cikarang."
__ADS_1
"Adiknya Kak Kia?" tanya Devanya memastikan.
"Iya, kamu ingat sama kakakku tapi tidak ingat denganku." Aileen tersenyum manis pada Devanya. "Boleh aku bergabung? Kursinya penuh semua."
"Oh iya silakan! Ai kenalin ini Orion, dia ...."
"Pacar Devanya," potong Orion.
"Hallo Orion, senang berkenalan denganmu." Aileen pun mengulurkan tangannya mengajak bersalaman pada Orion dan langsung disambut dengan gadis itu.
Pacar Devanya cakep tapi kayaknya cuek, batin Aileen
"Kamu kerja di sini, Ai?" tanya Devanya.
"Aku sedang praktek di SMU yang di depan kafe ini," jelas Aileen.
"Oh! Itu kan sekolah aku waktu SMU."
Mereka pun larut dalam obrolan dengan sesekali Aileen melirik ke arah Orion yang sedari tadi diam dan memilih bermain game di ponselnya daripada harus jadi pendengar para gadis bercerita.
...***...
Hari ini, hari terakhir Devanya dan Orion serta Diandra magang di JS Group. Mereka berencana untuk merayakannya dengan pergi karaoke. Tak ketinggalan pula Devan Davin ikut serta bersama dengan kakaknya.
"Vanya mau nyobain gak?" tanya Orion dengan mengacungkan segelas minuman yang warnanya seperti teh.
"Ion, bau ikh. Kenapa kamu minum? Memang Tante Zee mengijinkan?" tanya Devanya.
"Sekali-kali gak papa, asal jangan sering." Orion langsung meminumnya hingga ludes.
Devanya hanya melotot tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Orion. dia pun langsung memperingati adik-adiknya agar tidak mengikuti apa yg Orion lakukan.
"Davin, Devan, awas kalau kalian ikut minum. Kakak adukan ke mama," ancam Devanya.
"Tenang saja, aku gak minum." Davin langsung menenangkan kakaknya.
"Aku sedikit aja ya!" tawar Devan.
__ADS_1
"Nggak, pokoknya aku gak ijinkan."
"Ck! Kak Vanya kolot banget. Di sana aja aku sering minum yang kayak gini. Aku gak mabok kan, Van?" tanya Devan
"Nggak, cuma teler aja. Aku yang selalu membawa kamu pulang ke rumah dan itu sangat menyusahkan aku," ucap Davin.
Saat ketiga saudara itu sedang berdebat, Orion sudah menghabiskan satu botol brandy. Sementara Diandra sedang asyik bernyanyi. Dia malas mendengar perdebatan sahabatnya dengan kedua adik kembarnya.
"Vanya sayang, ayo kita nyanyi! Kita rayakan kebersamaan kita," ajak Orion dengan menarik Devanya sampai gadis itu tersungkur ke dalam pelukannya.
"Ion lepaskan!" pinta Devanya.
"Tidak sayang, aku tidak mau. Aku ingin sama kamu terus, aku tidak mau pisah sama kamu." Orion memeluk erat gadis bermata biru itu. Hatinya masih belum bisa bersahabat dengan kenyataan. Apalagi jika dia mengingat tidak berapa lama lagi mereka akan wisuda.
Maafkan aku Ion, kita tidak bisa melawan takdir. Mungkin bukan aku yang Tuhan siapkan untuk menjadi pendamping kamu, batin Devanya.
"Woy, jangan sedih-sedihan! Ayo kita happy happy!" seru Devan dengan mic di tangannya.
"Sini aku yang nyanyi," ucap Orion dengan merebut mic dari tangan Devan. Dia pun mulai mengatur lagu yang akan dia nyanyikan.
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu.
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu. Karena langkah merapuh tanpa dirimu.
Oh, karena hati telah letih. Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh. Aku ingin kau tahu, bahwa ku selalu memujamu. Tanpamu, sepinya waktu merantai hati.
Orion berhenti tidak melanjutkan nyanyinya. Air mata luruh membasahi pipinya. Semua orang yang melihat hanya diam, karena mereka pun bingung tidak tahu harus melakukan apa.
Devanya yang sedari tadi diam, akhirnya mengambil mic dan melanjutkan nyanyian Orion yang sempat terpotong. Dengan suara seraknya, karena menahan tangisan akhirnya dia pun menyanyi di dengan menatap Orion lekat.
Oh, bayangmu seakan-akan ... Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu. Kau seperti udara yang ku hela, kau selalu ada.
Tidak sanggup melanjutkan lagu yang dia nyanyikan, akhirnya Devanya pun ikut menangis berpelukan dengan Orion. Dia pun sedih jika harus berpisah dengan laki-laki yang menyebalkan itu. Tapi sepertinya tidak ada pilihan untuknya, selain dengan ikhlas menerima perjodohan dari keluarganya. Karena laki-laki yang dipilihkan oleh orang tuanya adalah laki-laki yang baik.
"Maafkan aku Ion. Cinta kita hanya sampai di sini."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate gift dan favorite....
...Terima kasih....