
Setelah melewati perjuangan panjang dan melelahkan, akhirnya putra pertama Harry lahir dengan selamat. Hanya saja, Nadine yang sudah kehabisan tenaga langsung pingsan setelah anaknya lahir. Dokter yang membantu persalinannya dengan sigap memberi tindakan sehingga nyawa Nadine dapat tertolong.
Harry langsung memberitahu Dave tentang kelahiran putranya. Dia terlihat sangat bahagia dengan kelahiran putra pertamanya. Tak henti Harry pun mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa.
"Harry, bagaimana keadaan bayi kamu?" tanya Dave yang datang tergesa-gesa keesokan harinya.
"Alhamdulillah sehat, Dave. Hanya saja Nadine masih belum sadar. Kata dokter, dia kehilangan banyak darah," jelas Harry yang saat ini sedang menunggu Nadine di depan ruang ICU.
"Bayi kamu di mana? Aku ingin melihatnya," tanya Dave.
"Ada di ruangan khusus bayi, ayo aku antar!" Harry pun beranjak dari duduknya dan pergi bersama dengan Dave untuk melihat anaknya.
Sesampainya di tempat yang di tuju, Harry dan Dave hanya melihat bayi kecil itu lewat jendela kaca yang besar. Mereka tidak diperbolehkan masuk oleh perawat yang menjaganya. Harry hanya menunjukkan keberadaan putranya pada Dave.
"Dave, putraku yang memakai bedong warna biru," tunjuk Harry.
"Dia tampan sekali, apa orang tuamu sudah tahu tentang kelahiran putramu?" tanya Dave.
"Aku sudah memberitahu Mama, katanya dia akan pulang ke sini karena keadaan papa sudah membaik. Mertuaku juga sudah kuberi tahu, mungkin sebentar lagi mereka datang," jawab Harry.
"Syukurlah, Om Ed sudah bisa pulang ke sini." Dave terus saja melihat ke arah Bayi Harry. Ada sesak di hatinya saat dia mengingat kelahiran putrinya yang membiarkan Sevia berjuang sendiri menghadapi kelahirannya.
"Mas, istri Anda sudah siuman. Saya akan membawa bayi Anda untuk bertemu dengan ibunya," ucap perawat yang pernah melerainya dengan Adjie.
"Ayo, Dave kita lihat Nadine!" ajak Harry dengan menarik tangan Dave.
Harry dan Dave pun kembali ke ruangan di mana Nadine dirawat. Namun, mereka begitu terkejut saat melihat kemesraan Adjie pada Nadine yang baru sadar. Harry hanya mematung di ambang pintu melihat semua itu.
Jika memang Nadine sudah tidak ingin bersamaku lagi, ada baiknya aku melepaskan dia. Hatiku terlalu sakit dengan apa yang Nadine lakukan, batin Harry.
__ADS_1
"Harry kenapa ada Tuan muda Wibisana ada di sana? Apa hubungannya dengan Nadine?" tanya Dave.
"Mereka berpacaran, temani aku menemuinya. Setelah itu kita pergi," pinta Harry.
Harry terus mengontrol emosinya yang sedang meluap. Dia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit. Apalagi, Nadine baru sadar dari komanya.
"Bagaimana keadaan kamu, Nadine?" tanya Harry denagn nada datar.
"Aku baikan!" jawab Nadine yang tangannya masih digenggam oleh Adjie.
"Syukurlah! Ada pacarmu yang menjaga, jadi aku pamit pulang dulu. Untuk anak kita, biar aku yang menjaganya. Kamu bersenang-senanglah, tidak usah mengkhawatirkan putraku." Harry langsung pergi tanpa menunggu Nadine berbicara.
Dia pun langsung mengurus kepindahan bayinya ke rumah sakit internasional milik keluarga Mahardika, tanpa memberitahu pada Nadine. Setelah memindahkan bayinya dan memastikan keadaannya aman, Harry mengajak Dave yang sedari tadi mengikutinya ke sasana tinju untuk meluapkan kemarahannya.
Disinilah sekarang dua pemuda keturunan dari negara A berada. Sebuah sasana tinju yang sebagian modalnya milik Harry. Dave sedang menemani Harry yang melampiaskan kemarahannya pada samsak tinju. Namun, lama-kelamaan Dave merasa bosan karena sudah lebih dari satu jam hanya melihat Harry, akhirnya dia pun mengajak sahabatnya itu untuk bertanding di atas ring.
"Harry, ayo kita bertanding! Rasanya sudah lama aku tidak mengasah kemampuanku," ajak Dave.
"Asal jangan ken mukaku saja. Aku gak mau Sevia khawatir," ucap Dave.
"Baiklah, cukup sepuluh menit kita bertarung." Harry menghentikan tinjuannya yang sedari tadi mengarah ke samsak.
"Jack, kamu ambil stopwacth! Kalau sudah sepuluh menit, hentikan pertandinganku dengan Dave," suruh Harry.
"Siap Bos!" Jack langsung berlalu pergi ke ruangannya untuk mengambil apa yang Harry minta.
Dave dan Harry sudah berada di atas ring. Mereka sudah memakai head guard dan sarung tinju serta celana kolor dan tanpa alas kaki. Kedua pemuda tampan itu memang menyukai olahraga berat kick boxing sedari mereka masih duduk di bangku SMU. Namun, kesibukan Dave membuat kedua sahabat itu jarang berlatih bersama.
Setelah sepuluh menit mereka berdua saling serang satu sama lain, akhirnya Dave dan Harry tiduran di atas ring dengan napas yang masih belum teratur. Keduanya masih mengatur napas sampai akhirnya Dave berbicara.
__ADS_1
"Harry, sudah cukup kamu memikirkan Nadine. Perempuan seperti itu tidak pantas untuk kamu pertahankan. Aku pernah mendengar rumor tentang hubungan mereka. Namun, aku menganggap itu hanya cara mereka para bintang pentas untuk menaikkan popularitas dengan membuat skandal. Ternyata memang benar ada sesuatu di antara mereka berdua." Dave memandang ke langit-langit sasana dengan pikiran yang menerawang. Mengingat bagaimana Nadine saat melihatnya.
"Kamu benar, Dave. Sekarang aku harus melepaskan semua perasaanku sama dia. Kalaupun aku bertahan, sepertinya Nadine semakin tidak menganggap aku ada." Harry memejamkan mata dengan tangan sebagai tumpuan kepalanya.
"Sudahlah,aku akan meliburkan kamu tapi aku minta agar kamu mengantar Rani ke kampungnya. Dia ingin melahirkan di kampung agar ditemani oleh ibu dan bapaknya," ucap Dave dengan melirik ke arah Harry.
"Dave, yakin kamu memberi aku libur? Bukannya mengantar Rani adalah tugasku? Lalu kapan aku liburnya?" Harry langsung bangun dari duduknya dan menghadap ke arah Dave.
"Maksud aku, kamu libur tidak usah mengurus pekerjaan di kantor cukup menemani Rani pulang. Siapa tahu diangkat menantu oleh bapaknya Rani," seloroh Dave dengan tersenyum.
"Masalah Nadine saja belum kelar. Mana mungkin aku membuat masalah baru," elak Harry. "Tapi bagaimana dengan putraku?"
"Kamu berangkat saat putramu sudah diperbolehkan pulang. Biar dia tinggal di rumahku agar keluarga Nadine tidak menemukannya," ucap Dave.
"Sudah larut, ayo kita pulang! Nanti istrimu mencari," ajak Harry.
"Kalau kamu sudah merasa lebih baik, ayo kita pulang! Tapi kalau kamu masih merasa ingin melampiaskan kemarahanmu, aku akan menemani kamu." Dave pun bangun dari tidurnya saat Harry menarik tangannya.
Setelah keduanya membersihkan diri dan kembali memakai pakaiannya, dua sahabat itu tidak langsung pulang. Melainkan mampir dulu ke cafe yang ada di depan sasana. Mereka mengisi perut dulu yang terus berbunyi nyaring. Apalagi Harry belum terisi makanan dari kemarin semenjak diberi kabar Nadine akan melahirkan.
"Dave, semenjak aku memutuskan untuk melepaskan Nadine, kenapa aku merasa plong?" tanya Harry disela-sela makannya.
"Itu berarti, Nadine hanya beban buat kamu. Saat kamu melepaskan bebanmu pasti akan terasa plong," jawab Dave.
"Mungkin benar. Ternyata sesakit ini saat kita mencintai sendiri."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...