
Keesokan harinya, Dave sudah siap dengan kaos oblongnya dan celana cargo pendek. Baju kaos yang pas di badannya membuat tercetak jelas otot-otot yang terbentuk di badannya. Pria bermata biru itu bersemangat sekali akan membongkar dipan yang semalam roboh karena aktivitasnya bersama sang istri.
"Dave, sarapan dulu! Aku sudah beli lontong sayur dan hucap," suruh Sevia seraya menyiapkan piring dan sendok di atas meja.
"Nenek ke mana, Via? Kho gak kelihatan?" tanya Dave celingukan mencari keberadaan nenek Salamah.
"Nenek sedang ke kebun memetik sayur," ucap Sevia.
Dave langsung duduk di depan Sevia. Matanya menelisik penampilan istrinya yang hanya memakai daster dengan rambut di gelung asal. "Via, tadi kamu keluar hanya memakai baju itu dengan rambut dinaikan ke atas?"
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Sevia heran dengan pertanyaan suaminya.
"Aku tidak mengijinkan kamu menaikkan rambut ke atas saat bepergian," larang Dave.
Ya ampun nih bocah! Kenapa jadi banyak larangan begini, salaman ma cowok gak boleh, rambut diikat ke atas gak boleh. Nanti apalagi yang gak boleh, batin Sevia.
"Via, kamu jangan pakai baju seperti itu lagi kalau keluar rumah! Lihat, sangat seksih dengan baju itu!" lanjut Dave.
"Iya, Dave! Tadi aku pakai sweater saat ke luar. Hanya depan kamu, sweater aku lepas," jelas Sevia.
"Istri yang baik!" puji Dave dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
Keduanya pun terlihat lahap menikmati sarapan paginya. Sampai saat Dave sudah selesai makan, barulah dia angkat bicara. "Via yang tadi aku makan namanya apa? Nanti belikan lagi, aku masih ingin memakannya."
"Oh, itu hucap. Iya nanti aku belikan," ucap Sevia yang masih menikmati lontong sayurnya.
Setelah selesai dengan sarapannya, Dave pun mulai membongkar dipan dan mengeluarkan dari kamar Sevia. Sang istri hanya tersenyum melihat apa yang suaminya lakukan. Dia tidak menyangka Dave mau melakukan pekerjaan seperti itu. Seandainya saja mereka sedang berada di kota, sudah pasti Dave akan menyuruh anak buahnya.
Selesai mengeluarkan dipan, Dave sengaja duduk di teras. Dia menghirup udara pagi pegunungan yang sejuk. Banyak gadis-gadis yang sengaja lewat di rumah Nenek Salamah hanya untuk melihat Dave yang sedang duduk. Tak berapa lama Sevia datang dengan secangkir kopi di tangannya dan goreng ubi yang baru saja dia goreng.
__ADS_1
Saat keduanya sedang asyik menikmati secangkir kopi di pagi hari, terdengar ada deru motor yang masuk ke halaman rumah Nenek Salamah. Terlihat Pak Rudi datang bersama dengan seorang wanita paruh baya yang tidak Sevia kenal. Senyum mengembang di bibir Pak Rudi, dia senang mesin penghasil uangnya pulang kampung dengan membawa seorang lelaki kaya yang pasti membawa uang banyak untuknya.
Sevia berdiri menyambut kedatangan bapaknya. Dia pun langsung mencium punggung tangan Pak Rudi dan wanita yang bersama bapaknya. Namun, Dave masih asyik menikmati secangkir kopinya seolah tidak terganggu dengan kedatangan bapak mertuanya. Dia hanya tersenyum sekilas pada Rudi dan istrinya.
"Bapak, apa kabar?" tanya Sevia setelah mencium punggung tangan bapaknya.
"Bapak baik, Via! Kenalin ini ibumu, Susi!" sahut Rudi memperkenalkan istrinya pada Sevia.
Sevia hanya tersenyum pada wanita yang menjadi ibu tirinya. Dia pun langsung mengajak Rudi dan Susi untuk masuk ke dalam rumah dan menyiapkan air minum. Setelah semuanya terhidang, barulah dia duduk bersama dengan bapak dan ibu tirinya.
"Bapak tahu dari siapa kalau Via pulang?" tanya Sevia.
"Banyak yang bilang kalau anak bapak yang dari kota pulang dengan membawa suami yang kaya," jawab Rudi. "Bapak senang mendengarnya, pasti kamu juga membawa uang yang banyak untuk Bapak dan Nenekmu. Lihat Via, rumah Emak sudah jelek begini, memang kamu tidak berniat untuk memperbaikinya?" lanjutnya.
"Bukan aku gak niat, Pak. Bukannya uang yang aku kirim untuk renovasi rumah Nenek sudah dipakai sama Bapak. Kenapa Bapak tidak punya niat untuk membahagiakan Nenek? Malah terus meminta uang sama Nenek. Harusnya Bapak yang membiayai hidup Nenek bukan sebaliknya." Sevia yang masih kesal karena uangnya untuk merenovasi rumah malah dipakai semua oleh Bapaknya akhirnya mengungkapkan kekesalannya.
"Sevia, kamu itu anakku. Sudah seharusnya kamu berbakti padaku. Apa kamu ingin menjadi anak durhaka? Uang yang Bapak pakai anggap saja sebagai uang dapur pernikahan kamu. Karena suamimu tidak memberikan apa-apa saat dulu kalian menikah," sentak Rudi.
"Sekarang, sini Bapak bagi uang. Bukannya suami kamu banyak uangnya?"Seperti tidak tahu malu, Rudi langsung mengatakan maksud dan tujuannya.
"Berapa uang yang Bapak minta?" tanya Dave yang sudah duduk di samping Sevia.
"Sepuluh juta!" sahut Rudi.
"Hanya sepuluh juta? Baik, selama anda bisa bersikap baik pada istriku, maka aku akan memberikan uang yang Anda minta. Tapi karena tadi Anda sudah membuat istriku sedih dan menangis, maka uangnya aku potong menjadi dua juta," sahut Dave enteng.
"Mana bisa begitu? Kamu jadi menantu harusnya memberikan uang yang banyak pada mertua, bukannya malah memotong uang yang akan kamu berikan," protes Rudi.
"Anda protes, uangnya aku pot ...." Belum selesai Dave bicara, Rudi sudah memotongnya.
__ADS_1
"Sudah cepat sini uangnya!" potong Rudi dengan menengadahkan telapak tangannya.
Dua juta sih hanya buat isi bensin mobilku saja. Dia sampai segitunya takut kehilangan duit dua juta. Bukannya aku gak mau kasih uang banyak, tapi sebanyak apapun uang yang aku kasih, dia pasti tidak bisa menggunakannya dengan baik, batin Dave.
Dave pun langsung mengambil dompetnya yang tersimpan di kantong celananya. Rudi melotot tak percaya saat mengintip isi dompet Dave yang banyak uang dolarnya. Pria paruh baya itu sampai menelan ludahnya kasar. Dia berharap Dave memberikan beberapa lembar uang dolar padanya. Namun, sepertinya Dave menyadari sehingga dia memberikan uang yang diminta oleh Rudi dan memberi satu lembar dolar $100.
Punya menantu pelit sekali, masa mertuanya hanya dikasih uang segini. Padahal di dompetnya banyak uang warna pink dan juga dolar, gerutu Rudi dalam hati.
Setelah mendapatkan uang dari Dave, tak berapa lama kemudian Rudi dan istrinya berpamitan pulang. Dave hanya menggelengkan kepalanya dengan apa yang mertuanya lakukan. Dia tidak habis pikir bagaimana kehidupan Sevia sebelum bertemu dengannya. Bukan hanya Andika yang selalu memalak istrinya tapi ayah kandungnya pun tidak jauh beda.
Kasian sekali hidupmu, Via. Kamu membanting tulang hanya untuk mencukupi biaya hidup orang yang tidak peduli padamu, batin Dave.
Saat hari menjelang siang, Sevia dan Dave pun pergi ke pasar untuk membeli springbed, sekaligus bertemu dengan kontraktor yang akan memegang pembangunan rumah nenek Sevia. Rasanya Dave tidak percaya pada orang-orang di sekitar Sevia. Apalagi, Rudi bisa mengancam mereka semua.
Namun, saat mereka sedang asyik memilih springbed, entah datang dari mana mamanya Andika datang. Dia langsung nyerocos bicara pada Sevia. Meskipun terlihat Sevia seperti tidak nyaman bertemu dengan mamanya Andika. Apalagi Dave mengawasi mereka.
"Loh, Sevia kan? Kamu pulang ke sini dengan siapa? Apa Andika tidak pulang?" tanya Yati mamanya Andika.
"Aku pulang ...." Belum selesai Sevia bicara, Yati sudah memotongnya.
"Via, Andika sedang mengurus surat cerainya karena ternyata Ines berselingkuh. Kamu mau kan kembali sama putra Mama? Bukankah kalian sudah dekat sedari masih SMP? Maafkan Andika yang kemarin khilaf dan tergoda dengan rayuan Ines. Mama harap, kamu mau jadi menantu Mama," Cerocos Yati tanpa jeda.
"Maaf Mah, aku sudah menikah dan itu suamiku," tunjuk Sevia pada Dave yang berada di seberang kasur.
"Apa? Bule tampan itu suami kamu?"
...~Bersambung~...
...Selamat Berpuasa bagi yang menjalankannya....
__ADS_1
...Jangan lupa jaga kesehatan dan terus pantengin cerita Dave dan Sevia....