
"Ayo kita rayakan pestanya! Bi, musiknya mainkan!" suruh Sevia yang sedari tadi jadi penonton.
Bi Lina langsung menyalakan musik hingga terdengar sebuah lagu dangdut dengan musik yang mampu menggoyangkan badan.
Sudah mabok minuman ditambah mabok judi
Masih saja akang tergoda janda kembang
Tak sudi ku tak sudi.
Mendengar lagu yang diputar, Sevia yang akan mulai bergoyang menghentikan goyangannya.
"Bi, hentikan! Masa mabuk janda," pinta Sevia.
"Iya maaf, Neng!" Bi Lina pun langsung mengganti lagu.
Padahal musiknya enak, mungkin takut nyindir Neng Rani, batin Bi Lina.
Bi Lina pun akhirnya mengganti dengan lagu sambalado hingga semua orang menggoyangkan badannya. Dave dan Harry bengong melihat para wanita di rumahnya sedang bergoyang. Mereka tidak menyangka kalau istri-istrinya bisa sedekat itu dengan semua pekerja di rumahnya.
Melihat Dave dan Harry yang terbengong, Sevia pun memberi kode pada Rani untuk mengajak suami mereka bergoyang. Entah setan dari mana yang merasuki Sevia, dia tanpa malu melakukan gerakan menggoda pada Dave.
"Ayo sayang, kita goyang dumang dulu!" ajak Sevia.
"Via, aku gak biasa joged," tolak Dave.
"Kamu harus bisa karena kamu tinggal di negeri ini." Sevia langsung menggoyang-goyangkann tangan Dave.
Saat yang lain sedang menikmati pesta dadakan, Harry langsung mengajak istrinya untuk naik ke atas. Mereka meninggalkan Sevia dan yang lainnya yang sedang asyik bergoyang.
"Harry, kenapa kita ke sini?" tanya Rani.
"Biarkan saja mereka bergoyang di bawah. Kita goyang berdua saja di kamar," ucap Harry dengan tatapan nakal pada istrinya.
"Harry, jangan aneh-aneh deh! Gak enak sama yang lain," ucap Rani mencoba melepaskan tangan Harry yang meraba kemana-mana seraya memeluknya dari belakang.
"Aku gak aneh, aku normal jika ingin menikmati keindahan yang Tuhan berikan padaku." Harry terus mendengus di belakang leher Rani membuat ibu muda geli-geli enak.
"Harry, ah ...." Rani tidak melanjutkan ucapannya saat tangan Harry sudah bermain-main di bukit kembarnya dengan tangan yang satunya bermain di bawah.
"Ayo kita tuntaskan!" bisik Harry.
Akhirnya, apa yang Harry inginkan, dia dapatkan di rumah barunya. Ya memang rumah yang sekarang dijadikan pesta adalah rumah yang akan Harry tempati bersama dengan keluarga kecilnya.
Lain di kamar atas, lain pulan di lantai bawah. Saat Sevia menyadari kalau Harry dan Rani ternyata pergi ke lantai atas, dia pun menghentikan goyangannya.
__ADS_1
"Kenapa berhenti? Aku kan sudah bisa joged," ucap Dave dengan terus menggoyangkan badannya mengikuti irama musik.
"Kita pulang yuk! Yang punya acara lagi punya acara lain," ajak Sevia.
"Pulang ke rumah?" tanya Dave.
"Enggak, ke hotel." Sevia menjawab asal pertanyaan Dave.
"Ayo! Perhatian, pestanya bubar. Semuanya kembali pulang ke rumah dan tolong jaga anak-anak. Aku dan Sevia punya rencana lain. Satu lagi, tidak ada yang boleh menginap di sini," seru Dave membuat semua orang yang sedang berjoged langsung menghentikan gerakannya.
"Kenapa bubar, Den? Boleh lanjut di rumah sana?" tanya Bi Lina.
"Boleh, asal pastikan keamanan anak-anak. Jangan sampai mereka nangis karena terganggu oleh musiknya," pesan Dave.
"Baik, Den!" sahut Bi Lina.
Dave pun langsung membawa Sevia ke luar dari rumah baru Harry. Tujuannya ingin membawa istrinya untuk booking kamar di hotel yang tidak jauh dari rumahnya. Namun, ternyata keberuntungan belum berpihak padanya.
"Dave, tadi aku hanya becanda ingin pulang ke hotel," ucap Sevia saat mereka sudah dalam perjalanan menuju ke hotel.
"Aku anggap apa yang kamu katakan itu beneran. Aku tidak menganggap kalau kamu itu candaan," ucap Dave seraya melirik ke arah istrinya.
"Dave, ingat! Kata dokter gak boleh terlalu bersemangat, takut membahayakan anak kita." Sevia langsung mengingatkan suaminya.
"Kami menghitungnya?"
"Tentu saja, kamu dan anak-anak kita sangat berarti untuk aku. Jadi aku tidak akan melewatkan waktu untuk memperhatikannya." Tangan Dave terulur mengelus perut Sevia dengan lembut.
"Makasih, Papa!" Sevia langsung menggenggam tangan Dave dan mengecupnya sekilas.
Tak lama kemudian, mobil sudah merasuki halaman parkir hotel. Dave dan Sevia pun langsung keluar mobil dan menuju ke resepsionis. Namun, saat mereka sedang melakukan pendaftaran, tanpa sengaja netra-nya menangkap sosok Nadine bersama dengan seorang lelaki yang Dave tahu merupakan seorang pengusaha.
Terbit ide iseng Dave untuk mengerjai Nadine. Dia pun segera meretas CCTV hotel dan mencari tahu ke mana Nadine pergi bersama dengan seorang lelaki yang bukan suami sahnya.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, dia segera mengirim video itu ke beberapa stasiun televisi. Yang sudah jelas akan membuat para wartawan seperti mendapatkan durian runtuh. Mereka yang mendapatkan video itu langsung menyerbu hotel tempat di mana Dave dan juga Nadine menginap.
"Sayang, kamu ingin melihat gosip paling hot Minggu ini gak?" tanya Dave saat keduanya sedang beristirahat di atas tempat tidur.
"Gosip apa, Dave? Memang sekarang kamu sudah alih profesi jadi biang gosip?" tanya Sevia.
Benar juga apa yang Sevia katakan. Aku mendadak jadi biang gosip demi membalaskan sakit hati Harry. Tapi biarlah, kali ini saja aku melakukannya. Besok-besok aku tidak akan mengulanginya lagi kalau tidak terpaksa, batin Dave.
"Sini, lihat di ponselku!" Dave langsung merangkul istrinya agar lebih mendekat padanya. Dia pun langsung memperlihatkan video yang ada di dalam ponselnya.
"Bukannya ini Nadine ya, Dave?" tanya Sevia dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Iya, ini Nadine. Kamu tahu siapa laki-lakinya?" tanya Dave.
"Mana aku kenal, Dave. Kalau dia pernah kerja di AP Technology, mungkin aku kenal." Sevia sangat serius melihat video Nadine yang sedang memasuki kamar hotel seraya berpagutan dengan lelaki yang sudah berumur itu.
"Dia Tommy Winata, adik Bambang Winata."
"Apa??!!" pekik Sevia kaget. "Dia-dia-dia orang yang sudah menyebabkan ibu kecelakaan." Napas Sevia langsung memburu mendengar nama itu di sebut. Dia tidak menyangka akan melihat langsung kelakuan orang itu.
"Sudah aku, jangan lama-lama melihatnya! Lebih baik kita melihat keadaan my twins. Aku sudah sangat merindukannya, Via. Berapa bulan aku tidak menengok mereka," ucap Dave sendu.
Benar juga ya, semenjak aku masuk rumah sakit. Dave tidak berani untuk mengajak aku bermain jungkat-jungkit lagi. Kasian juga, pasti selama ini tersiksa karena terus menahan hasratnya, batin Sevia.
"Papa boleh berkunjung melihat keadaan twins tapi harus hati-hati ya, Papa." Sevia bicara dengan menirukan suara anak kecil.
"Siap, sayang!" Dave pun langsung meraup candunya dengan tangan terus menjelajah mencari titik sensitif sang istri.
Mendapat sentuhan yang membuat darahnya berdesir hebat, Sevia pun semakin mengeratkan pegangan tangannya pada seprei. dia sebisa mungkin menahan diri agar tidak mengeluarkan suara laknat. Namun, ternyata pertahanannya runtuh. Tanpa sadar bibir mungil itu mengeluarkan suara-suara merdu yang membuat Dave semakin bergairah untuk terus menjelajahi lekuk tubuh istrinya.
"Dave, ah ... ayo cepat masukkan!" pinta Sevia dengan suara seksinya.
"Kenapa sayang, apa kamu sudah tidak bisa menahannya?" tanya Dave.
Sevia tidak menjawab apa yang Dave tanyakan. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Sampai dia mendapatkan pelepasan pertamanya, barulah Dave menengok anak kembarnya yang sudah lama tidak dia kunjungi.
Sementara di luar hotel, nampak beberapa orang masuk dengan membawa kamera di tasnya. Mereka sengaja menyembunyikannya karena tidak mau ketahuan noleh pihak hotel. Bukan hanya para pemburu berita yang datang berbondong-bondong ke sana, tetapi seorang wanita cantik meski usianya sudah lewat dari empat puluh tahun dan terlihat elegan juga ikut ke sana.
Wanita cantik itu langsung menuju ke kamar hotel tempat di mana Nadine berada. Setelah seorang pelayan membuka kunci kamar, wanita cantik itu langsung membuka pintu kamar dengan kasar.
Brakk
Wanita itu langsung menghampiri Nadine yang akan turun dari tubuh Tommy karena tadi mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar. Tanpa ada ampunan, rambut Nadine langsung dijambak dan diseret agar keluar dari kamar hotel.
"Aw ... sakit ... lepaskan rambutku!" suruh Nadine.
"Sofie, apa yang kamu lakukan?" bentak Tommy marah karena merasa kesenangannya terganggu.
"Aku hanya ingin memberikannya pelajaran karena sudah bermain dengan suamiku," jawab Sofie datar. Dia terus menarik rambut Nadine sampai akhirnya Tommy bangun dari posisi tidurnya.
"Sofie, kamu jangan gila! Lepaskan dia!" Lagi-lagi Tommy membentak istrinya bersamaan dengan beberapa wartawan masuk ke kamar dengan mengarahkan kamera padanya.
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum dia mendapat ganjarannya."
...~Bersambung~...
Ayo sawerannya Kakak! Beberapa bab lagi Dave dan Sevia tamat nih. Ada yang mau season 2 gak ya?
__ADS_1