
Satu minggu sudah Rani berada di rumah Dave. Satu minggu pula, Harry tidak pulang ke rumahnya. Dia memilih tinggal di rumah yang ada di Cikarang bersama dengan Gavin. Sementara Anne dengan tidak tahu malunya masih saja tinggal di rumah Harry berlagak jadi nyonya rumah.
Dave yang sudah menyuruh Mimin menyimpan penyadap di kamar Anne, masih menunggu pergerakan Anne yang belum terlihat mencurigakan. Perempuan itu setiap harinya hanya berleha-leha menikmati semua fasilitas yang ada di rumah Harry termasuk sering menyuruh semaunya pada pembantu di rumah itu.
"Mimin, kamu masak ayam rica-rica ya! Sama sayur capcay juga," suruh Anne.
"Baik, Mbak!" sahut Mimin.
Dih berlagak banget nih orang. Tuan Harry juga kenapa gak pulang-pulang dan membiarkan orang ini terus berada di rumah," gerutu Mimin dalam hati.
Saat dia sedang masak seraya mengomel dalam hatinya, Diandra datang ke rumah untuk membawa barang-barangnya. Merasa rumahnya sangat sepi padahal hari Minggu, Diandra pun ke dapur mencari Mimin.
"Bi, orang-orang pada ke mana kho sepi?" tanya Diandra yang sukses mengagetkan Mimin.
"Ya Allah, Neng Dian bikin Bibi kaget saja. Tuan kan sudah lama gak pulang ke rumah. Hanya perawat abal-abal saja yang masih ada di sini. Bibi juga ingin pindah kerjanya, gak mau melayani orang itu," ucap Mimin dengan memonyongkan bibirnya.
Kenapa Papa gak pulang ke rumah? Bukankah kesempatan untuk dia agar bisa berduaan dengan Anne. Aku tidak pernah menyangka, keluarga ini akan berantakan. Padahal sebelum Mama kecelakaan semuanya baik-baik saja, batin Diandra.
"Ya sudah, Bi. Dian mau ke kamar dulu. Ada yang mau diambil," ucap Diandra.
"Iya, Neng. Kalau ada yang diperlukan, panggil Bibi saja!" suruh Mimin.
Diandra pun langsung menuju ke kamarnya di lantai atas. Namun, saat di melewati kamar Anne yang pintunya tidak tertutup rapat, tanpa sengaja dia melihat dua ponsel yang disimpan sembarangan di atas tempat tidur. Dian pun celingukan melihat penghuni kamar yang sepertinya sedang di kamar mandi.
__ADS_1
Dengan perasaan yang dag dig dug, Dian secepatnya mengambil kedua ponsel Anne. Dia pernah mendengar obrolan Dave dan Harry yang menginginkan nomor ponsel Anne, untuk menyadap pembicaraan wanita itu dengan orang yang sudah menyuruhnya mencelakai Rani.
Setelah mendapatkan ponsel Anne, Dian pun langsung pulang ke rumah Dave. Namun, baru saja dia di ambang pintu kamar Anne, terdengar pintu kamar mandi terbuka. Rupanya Anne baru saja selesai mandi karena masih terlihat tetesan air di rambutnya.
"Mau apa kamu ke kamar aku?" bentak Anne.
"Tidak ada, aku hanya mau melihat apakah masih ada orang yang mau tinggal di rumah ini?"
"Apa kamu tidak punya sopan santun masuk ke kamar orang tanpa permisi?" tanya Anne dengan nada tinggi.
Mendapat bentakan dari Anne, Diandra mulai terpancing. Dia tidak terima dibentak oleh perawat itu. Karena selama ini Rani dan Harry tidak pernah membentaknya.
"Hey pecun, ngaca dong! Kamu tinggal numpang di sini tapi belagu banget. Kamu lupa kalau ini rumahku?" geram Diandra.
"Dasar pecun sialan, perawat badung, kalaupun Daddy menceraikan Mama, aku tidak ikhlas Daddy menikah dengan perempuan seperti kamu," umpat Diandra.
Aku harus bisa mengalihkan perhatian Anne, agar dia tidak sadar kalau ponselnya aku ambil, batin Diandra.
"Apa kamu bilang, kamu jangan kurang ajar sama orang yang lebih gede dari kamu."
Anne yang tidak terima dengan umpatan Diandra padanya, dia langsung melayangkan tangannya untuk menampar Diandra. Namun ada sebuah tangan kekar yang menahannya datang dari arah samping pintu.
"Tante, siapa yang mengijinkan Tante untuk berbuat kasar pada adikku? Lagipula, untuk apa Tante masih di sini kalau mama berada di rumah Tante Via. Sebaiknya Tante segera bereskan barang-barang, karena rumah ini akan disita oleh Bank," ucap Gavin dengan mencekal tangan Anne kuat, sehingga gadis itu meringis merasa sakit karena cengkraman Gavin.
__ADS_1
Gavin yang datang bersama dengan Harry untuk melihat keadaan Rani, langsung menyusul Diandra saat dia tahu adik sambungnya itu pergi ke rumah mereka. Entah kenapa dia merasa khawatir pada Diandra. Sampai akhirnya dia melihat perawat itu berbuat kasar pada Diandra.
"Gavin ...." Anne langsung terdiam tidak melanjutkan ucapannya.
"Dengar Tante! Tante bukan siapa-siapa di rumah ini, jadi bersikap sopan lah dan jangan kurang ajar! Ayo Dian!" Gavin langsung membawa Diandra pergi kembali ke rumah Devanya.
Namun, saat mobilnya akan dia belokan ke arah rumah Dave, Diandra meminta Gavin untuk mengantarnya ke taman komplek yang tidak jauh dari rumahnya.
"Mau es krim?" tawar Gavin.
"Boleh," jawab Diandra.
Gavin pun langsung ke luar mobil dan berlari menuju ke minimarket. Dia membeli es krim dan air mineral beserta cemilan untuk Diandra. Dia memang tidak begitu dekat dengan Diandra, tapi bukan berarti dia tidak menyayangi adik sambungnya itu.
"Makanlah!" suruh Gavin saat sudah kembali dengan kantong plastik di tangannya.
"Terima kasih," ucap Diandra.
"Dian, kamu jangan dengarkan apa yang perawat itu katakan. Aku tidak akan menerima perempuan manapun sebagai mama aku selain Mama Rani. Aku tidak akan biarkan papa menikahi perempuan tidak tahu diri itu."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...