
Saat pagi menjelang, nampak sepasang muda mudi yang sedang tidur seraya saling berpelukan. Orion yang sudah terbangun lebih dulu hanya diam menikmati pelukan Devanya. Entah seperti apa perasaannya pada Devanya, tapi ada desiran aneh yang sedang dia rasakan kini.
"Vanya, bangun sudah siang!" ucap Orion.
"Bentar lagi, Mah! Aku masih ngantuk," jawab Devanya dengan mata yang masih terpejam.
"Vanya, bangun! Kita ada kuis hari ini. Apa kamu ingin nilai E mata kuliah Pak Ferri?" tanya Orion lagi.
Mendengar nama dosennya disebut, seketika Devanya langsung membuka matanya. Dia tambah terkejut saat mendapati dirinya sedang memeluk tubuh Orion yang tidak memakai baju. Devanya pun Langsung menarik selimut agar menutupi tubuhnya sampai ke leher.
"Ion, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak pakai baju?" tanya Devanya panik.
"Apa yang aku lakukan? Tentu saja melakukan apa yang seharusnya aku lakukan pada wanita yang sudah menyerahkan dirinya padaku. Aku laki-laki normal yang tertarik pada lawan jenis," jawab Orion enteng dengan melirik wajah Devanya yang sudah merah padam.
"Ion, bukankah aku hanya akan melayani kebutuhan kamu saja tapi tidak termasuk melayani di atas tempat tidur?" tanya Devanya dengan menahan tangisnya.
"Sudahlah, Vanya! Bukankah dari awal perjanjian kamu bersedia jadi simpananku? Kamu hanya tinggal ikuti saja peranmu." Orion tersenyum miring kemudian berlalu pergi menuju ke kamar mandi.
Sementara Devanya langsung memeriksa seluruh tubuhnya. Hatinya hancur saat melihat tubuhnya tanpa pembungkus sehelai benang pun. Ditambah lagi, ada bercak darah di sprei. Gadis bermata biru itu hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
Dia merasa jadi orang yang gagal karena tidak bisa menjaga kehormatannya. Ketika dia sedang menangis meratapi nasibnya, terdengar suara ponsel Orion berbunyi. Devanya pun terpaksa mengambilnya karena terus menerus berbunyi.
"Diandra ...," lirih Devanya. Melihat nama sahabatnya yang tertera di sana, Devanya pun langsung menggulir tombol hijau di layar ponsel.
"Hallo Dian! Ada Apa?" tanya Devanya saat sudah tersambung.
"Deva, kamu di apartemen Orion? Apa kamu tidak pulang semalam?" tanya Diandra panik.
"Aku ... Aku ketiduran saat mengerjakan tugas, jadi menginap di sini," jawab Devanya.
"Cepat pulang! Om Dave mencarimu," suruh Diandra.
__ADS_1
"Apa???!!! Lalu aku harus bagaimana?" tanya Devanya panik.
"Kamu harus cari alasan yang bisa diterima oleh Om Dave. Kalau gak, kamu jujur saja apa adanya."
"Ya udah deh, aku mau mandi dulu."
Klik
Devanya langsung menutup sambungan teleponnya. Baru saja dia akan beranjak pergi menuju ke kamar mandi, nampak Orion berjalan menghampirinya dengan handuk di pinggangnya.
"Ion, bajuku di mana?" tanya Devanya celingukan.
"Sudah aku buang. Aku tidak suka melihat kamu pakai baju yang sama denganku. Kamu perempuan jadi harus memakai baju layaknya seorang perempuan." Orion melempar sebuah paper bag pada Devanya.
Sebenarnya, baju itu mau dia berikan pada Devanya saat ulang tahun gadis itu beberapa bulan yang lalu. Namun, dia mengurungkan niatnya saat melihat Keano sudah terlebih dahulu memberi Devanya gaun yang cantik.
Devanya pun langsung mengambil paper bag yang Orion lemparkan. Setelah dia membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu Devanya pun menuju ke kamar mandi.
Sementara Orion, dia langsung berpakaian dan memesan makanan via go food. Pemuda tampan itu bersiul senang saat membayangkan bagaimana reaksi Devanya ketika melihat tubuhnya yang begitu banyak bercak merah. Seandainya saja tadi malam dia sampai khilaf, Orion tidak bisa membayangkan reaksi keluarganya jika Devanya sampai hamil olehnya.
Tidak berapa lama kemudian, Devanya pun sudah rapi berpakaian. Dia nampak segar setalah mandi dan memakai dress selutut warna pastel. Orion tersenyum tipis melihat baju pilihannya pas di badan Devanya.
"Ion, aku langsung pulang ya! Papa udah nungguin, kata Diandra dia mencari aku karena semalam tidak pulang," ucap Devanya.
"Aku tahu, semalam Om Dave menghubungi aku. Aku bilang kamu ketiduran saat ngerjain tugas," ucap Orion. "Sudah cepat sarapan dulu! Kamu harus cukup energi untuk melayani aku di kampus maupun di atas tempat tidur."
Devanya hanya mendelik tidak suka pada Orion. Dia pun langsung memakan sarapan paginya yang sudah tersedia di atas meja.
"Kamu masak, Ion?" tanya Devanya disela-sela makannya.
"Mana mau aku masak buat kamu. Aku akan masak untuk gadis yang aku cintai dan itu bukan kamu," jawab Orion lalu memasukkan makanan ke mulutnya.
__ADS_1
Devanya hanya diam tidak bicara lagi. Dia hanya terus menguyah menikmati sarapan paginya. Devanya tidak peduli dengan apa yang Orion katakan karena pikirannya terus tertuju pada papanya.
Semoga saja papa tidak memarahi aku. Aku takut, tiba-tiba papa mengirimku ke luar negeri menyusul si kembar. Hadapi satu orang Orion saja buat aku pusing. Bagaimana kalau aku menghadapi dua Orion tanpa ada orang yang membela aku, batin Devanya.
Saat semua makanan suah habis tak bersisa, Devanya pun langsung membereskan meja makan dan mencucinya sebelum dia pulang ke rumah karena hari ini, dia hanya ada kelas siang, sehingga tidak perlu terburu-buru untuk perg ke kampus.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di dapur, Devanya pun langsung menghampiri Orion yang menunggunya seraya memainkan ponsel pintarnya. Dia sedang asyik memantau pergerakan saham perusahaan e-commerce miliknya. Berkat dukungan dari seluruh keluarga besarnya, persahaan e-commerce yang dia rintis bersama dengan Devan dan Davin kini menduduki peringkat pertama di tanah air.
"Ion, bagi duit dong! Aku lupa gak bawa uang kertas, bawa kartu aja. Aku mau pulang naik taksi,"
"Aku gak punya duit!"
"Ya ampun, Ion. Kamu tuh pelit banget, padahal semalam udah make aku. Tapi buat bayar taksi aja gak mau ngasih," gerutu Devanya.
"Siapa yang udah ma ...." Orion tidak melanjutkan ucapannya, dia pun langsung mengalihkan pembicaraan. "Ayo aku antar pulang! Sekalian mau ketemu papa kamu."
"Ngapain ketemu papa aku?"
"Mau minta ijin dia buat jadiin kamu simpanan aku." Orion langsung berlalu pergi meninggalkan Devanya yang sedang melongo.
Mana ada cowok yang minta ijin bapak ceweknya untuk dijadiin simpanan. Ada juga cowok yang minta ijin untuk dijadikan istri. Dasar Orion gila! Kenapa Tante Zee dan Om Malvin punya anak model gini? Sangat berbeda jauh dengan Om Malvin yang tidak banyak omong meskipun wajahnya mirip, batin Devanya.
Devanya terus menggerutu dalam hatinya. Merutuk Orion yang sudah benar-benar keterlaluan padanya. Tapi dia bimbang untuk menceritakan semua pada papanya. Dia takut hubungan baik papanya dengan keluarga Orion jadi buruk hanya karenanya.
Dug
Devanya yang berjalan seraya melamun, akhirnya harus menabrak punggung Orion yang sedang berdiri di depan pintu lift. Orion pun langsung berbalik saat merasa ada yang menabrak punggungnya.
"Jelek, kalau jalan jangan sambil melamun! Apa kamu teringat dengan kejadian semalam sampai menabrak aku?"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih!...