
Udara pagi yang dingin menusuk kulit, membuat sepasang anak manusia semakin mengeratkan pelukannya. Harry yang baru tiba tadi malam di tanah air, dia langsung datang ke rumah Davin tanpa sepengetahuan Rani. Sehingga ibu hamil itu tidak menyadari kalau yang sedang dipeluknya sekarang adalah suaminya yang ingin dia tinggalkan.
Saat sinar mentari menelusup masuk ke celah jendela kamar, Rani perlahan membuka matanya. Dia terus mengerjapkan mata menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Sampai akhirnya dia merasakan ada sebuah tangan kekar yang melingkar di perutnya.
Jantung Rani langsung berdegup lebih kencang dari biasanya. Ada rasa takut di hatinya, jika yang sedang memeluknya dari belakang adalah pria hidung belang yang menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Namun, saat semua kesadarannya sudah kembali. Dia bisa mengingat wangi tubuh laki-laki yang kini sedang memeluknya.
"Harry, kapan dia pulang? Bukankah harusnya masih ada di negeri Paman Sam?" gumam Rani pelan.
Dia mencoba menyingkirkan tangan Harry yang telapak tangannya terus memegang perutnya yang sedikit membuncit. Namun, tangan itu seolah enggan berpindah dari perutnya. Ibu hamil itu pun hanya menghela napas membiarkan Harry terus memeluknya.
"Harry, kapan kamu datang?" tanya Rani.
"Tadi malam. Aku masih ngantuk, sudah dua hari aku gak tidur." terdengar suara Harry yang serak. Sepertinya, pria itu terganggu tidurnya dengan pergerakan Rani.
"Tidurlah! Aku ingin ke toilet, tolong lepaskan tanganmu!" Rani.
Meskipun enggan, Harry pun langsung melepaskan tangan. Perlahan Rani turun dari peraduannya. Dilihatnya wajah lelah Harry dengan kumis dan janggut yang sudah memanjang.
Sepertinya benar apa yang Via katakan. Dia jadi tidak mengurus dirinya. Apa kamu benar-benar tidak menginginkan perpisahan kita? Tapi setiap kali aku teringat saat dulu aku tidak bisa berjalan, hatiku masih terasa sakit.
Setelah kepergian Rani ke kamar mandi. Harry langsung membuka matanya dengan sempurna. Dia hanya terdiam dengan menatap pintu kamar mandi. Hatinya sedikit mencelos mendapatkan sikap dingin Rani.
Rani, apa yang harus aku lakukan agar bisa kembali bersama kamu seperti dulu. Aku sengaja menjual rumah itu, agar bisa melupakan setiap kenangan pahit yang ada di sana. Aku bekerja siang malam, berusaha memenangkan tender demi tender, agar bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah yang di samping rumah Dave. Karena aku tahu, saat kamu berada di dekat Sevia, kamu bisa jadi diri kamu sendiri.
Saat Harry larut dalam lamunannya, terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Dia pun segera ambil posisi tertidur kembali. Harry ingin tahu apa yang akan Rani lakukan padanya.
Nampak Rani keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang membalut tubuhnya dan handuk kecil tergulung di kepalanya. Sepertinya ibu hamil itu telah membersihkan dirinya dengan mandi besar. Membuat sisa-sisa air yang menetes di rambutnya terlihat membasahi belahan dadanya.
Perlahan Harry meneguk ludahnya pelan. Sudah lama sekali dia tidak menyentuh tubuh wanita. Meskipun di sana kehidupannya bebas. Tetapi dia tidak ingin mengkhianati pernikahannya lagi. Sehingga, setiap hari selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan.
__ADS_1
Sementara Rani yang mengira Harry tidur pulas, dia perlahan menurunkan handuk kimono. Rani mengelus perutnya lembut setelah dia memakai pakaian dalam. Lalu ibu hamil itu tersenyum lembut sambil melihat ke arah perutnya.
Aku tidak menyangka akan hamil lagi. Tapi kenapa kamu baru hadir, Nak? Saat pernikahan Mama dan Daddy kamu sedang goyah. Maafkan Mama jika menempatkan kamu dalam posisi yang sulit, batin Rani.
Saat Rani sedang asyik berbicara dengan bayi yang masih ada dalam kandungannya, perlahan Harry mendekat dan langsung berjongkok di depannya. Tanpa bicara lagi, dia pun langsung mencium perut istrinya.
"Selamat pagi, sayang. Apa kamu baik-baik saja di perut Mama? Maaf ya, Nak. Daddy baru bisa datang sekarang." Harry mencium perut Rani berkali-kali. Dia tidak perduli dengan wajah kaget Rani yang menatapnya.
"Harry, kamu tahu dari siapa kalau aku hamil?" tanya Rani.
"Dave. Hanya dia yang mau memberitahu kabar tentang kamu padaku. Terima kasih Rani, kamu mau mempertahankan bayi kita." Harry pun langsung berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Rani.
Tanpa bicara lagi, Harry langsung mencuri ciuman sebelum dia berlalu pergi ke kamar mandi. Entahlah, Harry ingin mempraktekan apa yang dia dengar dari Orion. Saat pemuda itu sedang bercerita dengan putranya Gavin. Meskipun Orion masih sangat muda tapi Harry yang memang kurang ahli mengambil hati perempuan, akan mencoba cara pemuda itu saat mendapatkan hati Devanya.
Sementara Rani masih mematung ditempatnya. Dia masih terkejut dengan sikap hati padanya. Bukankah saat terakhir kali mereka bertemu, kedua terlibat adu mulut hingga berakhir dia atas tempat tidur.
Apa dia sedang merayuku lagi? Kenapa Harry selalu saja menolak setiap kali aku ingin berpisah? Aku merasa gak pantas untuk kamu Harry. Sedangkan kamu masih terlihat hot, pasti banyak gadis belia seperti Anne yang mau menjadi istri kamu. Kenapa kamu masih mempertahankan aku yang sudah tidak muda lagi?
"Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung menentukan jalanku," gumam Rani.
"Berdamailah dengan hatimu dan kembalilah padaku. Kesalahan aku memang besar tapi aku janji tidak akan mengulangi lagi. Rani, maafkan aku! Ayo kita jaga bersama-sama bayi yang sekarang sedang kamu kandung. Aku janji akan berusaha sebaik mungkin untuk kamu dan anak-anak kita," cetus Harry yang tidak sengaja mendengar apa yang Rani katakan.
Dia sengaja langsung menyusul Rani ke balkon, setelah selesai acara mandinya. Namun, saat tiba di sana, tanpa sengaja dia mendengar apa yang Rani katakan.
"Harry, kamu menguping?"
"Tidak! Aku baru tiba di sini. Aku tidak sengaja mendengar ucapan kamu," sanggah Harry.
"Harry, coba beri satu alasan pasti, kenapa kamu tidak ingin melepaskan aku? Aku hanya ingin memberi kamu kesempatan untuk menjalin hubungan yang jelas dengan perempuan yang lebih muda dari kamu," pinta Rani.
__ADS_1
"Karena aku bukan orang bodoh yang akan melepaskan batu permata demi batu kerikil. Rani, bagiku kamu sangat berarti." Harry menghela napas sejenak sebelum melanjutkan bicara.
"Apa kamu ingat saat awal kita bertemu, saat awal kita bersama? Kita dua orang yang sama-sama terluka oleh pasangan kita. Kamu ditinggalkan untuk selama-lamanya, sedangkan aku ditinggalkan karena dikhianati." Lagi-lagi Harry menghela napas. Dia menetralkan perasaannya saat mengingat masa lalunya bersama dengan Rani
"Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan karena aku pun pernah mengalaminya. Aku tidak keberatan jika kamu ingin menghukum aku dengan kekerasan fisik, tapi aku mohon, jangan pernah meminta berpisah dariku! Karena itu tidak akan tidak pernah bisa aku lakukan."
"Apa bisa kamu berjanji satu hal padaku, aku tidak ingin merasakan lagi sakitnya dikhianati. Aku ...."
"Demi kamu dan anak-anak kita, aku berjanji akan selalu setia padamu," potong Harry. "Apa kita bisa baikan sekarang? Aku sangat merindukanmu, Rani."
Harry semakin mendekat, mengikis jarak di antara keduanya. Sampai saat sudah tinggal satu jengkal lagi, dia pun kembali berjongkok di depan perut Rani dan mencium perut yang mulai terlihat buncit. Dia sangat bersyukur, kehadiran buah hatinya menjadi peredam kobaran api dalam pernikahannya
Puas mencium perut ibu hamil itu, Harry pun kembali berdiri saling berhadapan dengan Rani. Tanpa sungkan lagi, dia langsung menahan tengkuk istrinya dan meraup candunya dengan rakus. Kerinduannya yang sudah membuncah di dadanya, kini dia salurkan dalam ciuman yang panjang dan lama.
Puas dengan bergelut lidah, Harry langsung membopong Rani dan membawanya ke atas peraduannya. Namun, saat dia kan mengulangi ciumannya, terdengar suara Dian berbicara seraya mengetuk pintu kamar.
"Mah, sarapannya sudah siap. Aku tunggu di meja makan!" teriak Diandra.
"Iya, sayang sebentar!" sahut Rani.
Harry hanya tersenyum dan langsung melepaskan diri dari Rani. Dia menopang kepala dengan tangannya seraya menatap wajah Rani. Harry hanya diam membiarkan ibu hamil itu merapikan bajunya sebelum turun ke bawah.
"Mau makan di sini, apa ikut turun ke bawah?" tanya Rani.
"Aku ikut turun, aku juga kangen pada Dian dan ingin mengucapkan selamat padanya."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....