Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 52 Pulang


__ADS_3

Perlahan Sevia membuka matanya, menyesuaikan cahaya di sekitarnya. Matanya menyipit saat menyadari kalau dia berada di kamar yang asing baginya. Sebuah kamar yang serba putih dengan bau obat-obatan yang menusuk hidung.


Gadis malang itu ingin bangun dari tidurnya. Namun kepalanya terasa sangat berat. Mencari seseorang yang bisa dimintai tolong olehnya. Sudut matanya menangkap sosok yang sedang tidur dengan menelungkupkan kepalanya di pinggir ranjang tempat dia terbaring.


"Dave!" panggil Sevia lirih.


Adam yang baru akan tertidur langsung membuka matanya saat mendengar Sevia memanggil nama Dave. Di pun langsung menegakkan badannya ingin melihat keadaan gadis yang ditolongnya kemarin sore.


"Via, kamu sudah sadar?" tanya Adam.


"Adam haus," lirih Sevia.


Adam pun segera mengambil botol minuman kemasan yang masih baru. Dia membuka dan memberikan pada Sevia setelah memasukkan sedotan pada botol itu. Sevia yang sudah duduk menyender pada bantal segera mengambil minuman yang diberikan Adam.


"Syukurlah kamu sudah sadar, sehari semalam panas kamu terus meninggi sehingga aku dan Rei memutuskan untuk membawa kamu ke rumah sakit," ucap Adam yang terlihat senang.


"Makasih," lirih Sevia.


"Sudahlah, simpan saja dulu makasih kamu. Yang terpenting kamu harus menjaga kesehatan! Jangan main hujan lagi! Kasian bayi kamu kalau sampai ibunya sakit," ucap Adam.


"Ma-ma-maksud kamu bayi ... Apa aku hamil?" tanya Sevia dengan terbata.


"Memang kamu tidak tahu, kalau sekarang kamu sedang hamil lima minggu? Pantas kamu ceroboh hanya memikirkan dirimu sendiri. Sudah tahu hujan deras malah sengaja main hujan. Pasti masa kecil kamu kurang bahagia," cerocos Adam yang merasa kesal karena Sevia tidak memperhatikan dirinya.


Sevia hanya terdiam tidak membantah sedikit pun dengan apa yang dikatakan oleh Adam. Perasaannya campur aduk, ada rasa senang karena dia akan memiliki bayi dari laki-laki yang dicintainya sekaligus sedih karena sekarang mereka sudah tidak bersama lagi. Namun, Sevia ingin sekali mengatakan pada Dave, kalau sekarang dia sedang hamil.


"Adam, di mana ponselku?" tanya Sevia.


"Saat aku membawamu, aku tidak melihat ponselmu," jawab Adam.


"Apa kamu melihat tas yang aku bawa waktu itu?" tanya Sevia.


"Nih tas kamu!" Adam pun memberikan tas Sevia yang sudah Reina keringkan.

__ADS_1


Sevia langsung memeriksa isi tasnya. Namun ponselnya tidak dia temukan. Akhirnya dia hanya pasrah jika tidak bisa menghubungi Dave.


"Nanti saja kalau aku sudah sembuh, akan aku tanyakan pada Mr. Bram," gumam Sevia.


Tak lama kemudian, Reina datang dengan membawa tentengan di tangannya. Tadi dia ada kelas sehingga menitipkan Sevia pada Abangnya yang baru pulang kerja. Saat melihat sahabatnya sudah membaik, gadis cantik itu langsung menghambur ke pelukan Sevia.


"Syukurlah Via, kalau kamu sudah siuman. Aku khawatir sekali saat panas kamu tidak turun-turun," ucap Reina.


"Makasih Rei, kamu sudah menjagaku." Sevia pun membalas pelukan sahabatnya.


...***...


Lima hari sudah Sevia dirawat di rumah sakit. rencananya hari ini dia akan pulang. Namun, Sevia nampak bingung harus pulang ke mana setalah nanti dia keluar dari apartemen Dave. Sampai akhirnya dia menerima tawaran Reina untuk sementara tinggal di rumahnya.


"Via Sepulang dari sini kamu sama Bang Adam saja ke apartemen untuk mengambil barangmu. Aku ada kuis soalnya," ucap Reina.


"Gak apa-apa Rei. Aku sudah sehat sekarang, aku pulang sendiri saja. Nanti kalau barangku sudah beres semua, baru aku minta kamu untuk menjemputku." Sevia tersenyum samar. Sebenarnya dia merasa berat harus pergi dari apartemen Dave karena hatinya masih menginginkan untuk bersama dengan brondong yang mampu membuat hari-harinya terasa bermakna.


"Makasih ya Rei!" ucap Sevia.


"Udah yuk! Bang Adam sedang mengurus administrasi, sebentar lagi pasti datang."


Benar saja apa yang dikatakan Reina. Adam langsung menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Udah siap belum?" tanya Adam.


"Udah, ayo Bang!" Reina langsung menuntun Sevia sedangkan Adam membawa barang Sevia yang sengaja Reina beli saat Sevia sakit.


Sesampainya di apartemen, Adam dan Reina langsung berpamitan pulang karena Reina terburu-buru pergi ke kampus. Sementara Sevia hanya berdiam diri duduk di sofa. Dia teringat kalau sekarang bukan hanya dirinya sendiri yang harus dia jaga. Namun ada janin yang mmbutuhkan perhatiannya.


Saat Sevia akan beranjak dari duduknya, terdengar suara pintu ada yang membukanya dari luar. Nampak Bram yang terkejut melihat ada Sevia di dalam apartemen Dave.


"Sevia, kapan kamu datang? Aku pikir kamu tidak akan kembali ke sini lagi," tanya Bram.


"Aku hanya akan mengambil barang-barang aku di sini. Bram, boleh aku tahu Dave ada di mana?" tanya Sevia dengan suara getir.

__ADS_1


"Dave sibuk! Dia tidak punya waktu untuk pulang. Aku sarankan, sebaiknya kamu menata kembali hidupmu dan lupakan Dave!" Bram terpaksa mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan pada Sevia. Dia tak ingin Sevia terus berharap pada Dave. Sementara keadaan sahabatnya hanya memiliki kesempatan untuk bertahan hidup sangat kecil.


"A-apa Dave akan menikah dengan gadis itu?" tanya Sevia dengan suara bergetar.


Gadis, gadis yang mana maksudnya? Apa dia berpikir Dave akan kembali pada Kattie? Batin Bram.


"Iya," jawab Bram datar.


"Aku mengerti Bram. Semoga Dave bahagia bersama dengan gadis yang dia cintai," ucap Sevia.


"Kamu juga harus bahagia, Via! Lanjutkan kuliahmu sampai selesai. Jangan terpuruk karena keadaan! Seandainya kalian masih berjodoh, pasti akan bersama lagi!" pesan Bram.


"Makasih, Bram! Aku baik-baik saja. Bolehkah aku minta untuk tidur sendiri malam ini, sebelum aku pergi dari sini. Aku janji besok pagi aku sudah pergi dari sini," pinta Sevia.


"Sevia, kalau kamu inggin tinggal di sini terus juga tidak apa-apa. Dave pasti tidak keberatan memberikan apartemen ini padamu," ucap Bram.


"Tidak Bram! Aku sudah memutuskan untuk tinggal di rumah temanku," ucap Sevia.


"Baiklah kalau itu keputusan kamu. Aku ke apartemen Harry dulu. Beristirahatlah, Hari sudah malam!" Bram pun beranjak pergi menuju ke apartemen Rama karena pemiliknya sudah pindah ke ibu kota.


Setelah kepergian Bram, Sevia langsung menuju ke dapur. Dia membuat jus alpukat yag bagus untuk kandungannya. Meskipun hatinya sedih, setiap kali dia mengelus perutnya, ada rasa bahagia di hatinya. Sevia berharap, bayi yang dikandungnya akan menjadi pengobat kerinduannya pada Dave. Setelah meminum habis jus alpukatnya, Sevia pun mengajak anak yang ada dalam kandungannya untuk berbicara.


"Sayang, yang sehat ya ada di perut mama. Jangan sedih karena tidak ada papa bersama kita. Mama pasti bisa menjagamu dengan baik. Sebaiknya kita tinggal di mana setelah keluar dari sini? Sejujurnya aku merasa tidak nyaman pada Adam kalau harus tinggal bersama keluarganya. Aku takut dia berharap lebih padaku. Sementara aku tidak bisa mengabulkan keinginan hatinya."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


sambil nunggu up yuk kepoin karya Author yang lain, tentang orang tua Dave dan orang tua asuhnya


__ADS_1


__ADS_2