Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 8 Baikan


__ADS_3

"Aku maafkan untuk semua yang sudah kamu lakukan padaku. Tapi maaf Ion, jika kamu melakukan kesalahan lagi maka aku akan sulit untuk memaafkan kamu."


"Tidak! Aku akan berhenti menjahili kamu, Vanya. Apa sehari ini aku sudah mengerjai kamu?" tanya Ion.


"Hari ini mungkin tidak, tapi tadi malam?" tanya Devanya menghentikan ucapannya sejenak.


"Ion, apa yang terjadi tadi malam, aku minta jangan sampai terulang lagi ataupun ada orang yang tahu. Aku akan menganggap semua itu nasib buruk aku. Aku tidak bisa menyalahkan kamu sepenuhnya, karena salah aku juga ketiduran di apartemen kamu. Kata Mama lelaki itu seperti kucing yang akan susah menolak jika diberi ikan," lanjut Devanya dengan menundukkan kepalanya.


Satu hal yang sangat dia takuti sekarang, Devanya sangat takut jika dia harus hamil di luar nikah dan mendapatkan gunjingan dari semua orang. Apalagi, Icha neneknya Orion sering mewanti-wanti padanya untuk bisa menjaga diri dan jangan pernah menyerahkan kehormatan pada lelaki yang belum resmi menjadi suaminya.


"Iya, aku janji tidak akan melakukannya lagi," ucap Orion.


Benar kata Om Dave, bagi seorang perempuan, kehormatannya sangat penting bagi mereka. Mungkin karena kejadian semalam, Vanya in pergi dari jauh ninggalin aku, batin Orion.


Kedua membisu menikmati suara deburan ombak yang menghantam bebatuan. Sampai sinar mentari sudah semakin meredup, barulah Orion kembali bicara.


"Vanya, apa kamu serius mau pindah kuliah ke luar negeri?" tanya Orion.


"Kamu tahu darimana?" tanya Devanya kaget.


"Aku tahu apapun tentang kamu, apa kamu serius akan pindah? Kalau aku tidak mengijinkan bagaimana?" tanya Orion melirik Devanya dgan sudut matanya.


"Kamu kan tidak berhak melarang apapun yang akan aku lakukan," jawab Devanya.

__ADS_1


"Oh, oke! Tapi kamu jangan melupakan satu hal. Video kamu masih ada sama aku. Video itu tidak akan sampai tersebar jika kamu tetap berada di dekatku, tapi jika kamu pergi begitu saja, maka video itu akan tersebar begitu saja di dunia maya. Jangan salahkan aku jika semua itu terjadi," ucap Orion dengan mata yang tak lepas dari laut lepas.


"Ion, katanya kita baikan tapi sekarang, kenapa mengancam aku lagi?" Devanya langsung cemberut mendengar apa yang Orion katakan padanya.


"Pikir saja sendiri! Kamu mau pilih yang mana? Video aman atau tersebar? Sudahlah aku ngantuk!" Orion langsung merebahkan badannya dan menyimpan kepalanya di pangkuan Devanya. Membuat gadis itu merasa kage dengana apa yang dilakukan oleh tman kecilnya.


"Ion, bangun!" Devanya akan mengangkat kepala Orion dari pangkuannya. Namun tangan Orion menahannya dan menggerakkan tangan Devanya agar mengelus kepalanya.


"Sebentar Vanya! Aku kangen sama mommy," pinta Orion dengan mata yang terpejam.


Tumben cowok nyebelin ini jadi melow begini. Biasanya, dia tidak pernah kehabisan akal buat bikin aku sebel. Kalau kamu tenang begini, aku tidak perlu tiap hati terkena darah tinggi, batin Devanya.


"Ion, langitnya udah mau gelap. Pulang yuk!" ajak Devanya.


"Ion, kenapa cium pipi aku?" tanya Devanya dengan mengerucutkan bibirnya.


"Itu hanya bayaran karena paha kamu sudah jadi bantal yang empuk," ucap Orion dengan senyum yang menurut Devanya sangat menyebalkan.


"Udah ah, aku mau pulang!" Devanya pun langsung berdiri dari duduknya.


Tanpa bicara lagi, dia pergi begitu saja meninggalkan Orion. Pemuda tampan itu langsung mengejar gadis yang selalu ingin dia miliki sendiri. Langkah Orion yang lebih lebar dari Devanya, membuat dia cepat menyusulnya.


"Vanya, memang kamu tahu arah ke parkiran?" tanya Orion.

__ADS_1


Devanya yang sedang berjalan langsung menghentikan langkahnya seketika. Dia berpikir sesaat, memang dia tidak tahu jalan pulang. Tadi saat keluar dari taman hiburan tidak mengingat lewat pintu mana.


"Ion, aku gak ingat harus lewat mana. Kamu duluan jalannya," suruh Devanya.


Orion hanya tersenyum miring mendengar Devanya tidak tahu jalan pulang. Muncul lagi ide gila di kepalanya. Namun, secepatnya dia mengusirnya jauh-jauh.


Tidak! Aku tidak boleh membuat Vanya takut dekat sama aku. Meskipun aku tidak bisa kalau tidak mengerjai dia, tapi tidak boleh keterlaluan seperti kemarin, batin Orion.


"Ayo, ikuti aku!" ajak Orion. Dia sengaja tidak lewat ke taman hiburan tetapi melalui jalan raya yang lumayan jauh kalau dengan jalan kaki.


"Ion, masih jauh gak? Perasaan tadi pas kita keluar tidak terlalu jauh dari pintu taman," tanya Devanya saat kakinya mulai terasa pegal karena sudah berjalan jauh tapi belum sampai juga.


"Lumayan jauh, kenapa? Kamu sudah capek? Ayo aku gendong!" Orion pun memposisikan dirinya berjongkok di depan Devanya.


Meskipun awalnya ragu, tapi gadis itu akhirnya memilih untuk naik ke punggung Orion. Terserah orang mau berkata apa yang jelas dia sudah tidak kuat jika harus berjalan lebih lama lagi. Senyum pun terbit dari kedua sudut pemuda tampan ini itu. Dia bertekad untuk membuat Devanya betah berada di sampingnya agar gadis itu tidak memilih pergi jauh dari kehidupannya.


Mumpung Ion hari ini setannya lagi jauh, aku tidak mau menyia-nyiakan tawarannya, batin Devanya.


Kenapa aku merasa sangat senang bisa sedekat ini dengan Vanya tanpa paksaan dariku. Harusnya dari dulu aku seperti ini, batin Orion.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2