Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 134 Gelang Yang Sama


__ADS_3

Sevia dan Rani langsung terkejut dengan apa yang didengarnya. Karena setahu mereka, ibu Sevia meninggal di timur tengah saat menjadi TKW. Setelah Sevia dapat menguasai diri dari keterkejutannya, dia pun bertanya pada Kirana.


"Maksud Nyonya, ibu bekerja di rumah Anda? Apa dia baik-baik saja?" tanya Sevia dengan suara bergetar.


"Dia baik, Via."


"Nyonya, kalau memang ibu Sevia bekerja dengan Anda, kenapa dia tidak diijinkan pulang untuk bertemu dengan keluarganya. Apa Nyonya tahu, Sevia dan ayahnya sangat kehilangan Bi Nara?" tanya Rani menimpali ucapan sahabatnya.


Rani yang sedari tadi diam mulai tersulut emosinya. Dia pikir, Kirana adalah majikan yang kejam sehingga tidak mengijinkan pembantu di rumahnya untuk pulang kampung. Bahkan mengirim uang pun tidak.


"Dia baik-baik saja, tetapi dia tidak bekerja di rumahku. Dia ada di suatu tempat sedang menunggu kedatangan putrinya," jelas Kirana.


"Nyonya, apa saya bisa melihat foto ibu yang sekarang?" tanya Sevia.


Kirana pun mengeluarkan ponsel yang dia simpan di dalam tas mahalnya, membuat Yenita menelan ludah kasar saat dia memperkirakan berapa harga tas tangan yang dibawa oleh Kirana.


Siapa sebenarnya perempuan itu? Harga tasnya saja seharga mobil yang biasa aku bawa, batin Yenita.


"Foto ini saya ambil kemarin sebelum datang ke sini." Kirana langsung memberikan ponselnya pada Sevia dan memperlihatkan seorang wanita cantik paruh baya yang sedang duduk seraya menatap kosong ke depan.


Degh!


Dada Sevia langsung bergemuruh hebat, jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Matanya terlihat berkaca-kaca, dia tidak pernah menyangka akan melihat kembali ibunya, meskipun sudah nampak berumur namun masih terlihat cantik. Selama ini, Sevia hanya melihat ibunya dari foto yang selalu dia bawa ke manapun. Foto bersama bapak dan ibunya saat dia masih kecil.


"Ibu ...." lirih Sevia.


"Nyonya, apa dia kabur saat bekerja di rumah Anda? Sepertinya dia bukan wanita yang baik. Buktinya dia meninggalkan anak dan suaminya," sela Yenita sok tahu.


"Jaga bicara Anda, Nyonya. Kakak saya adalah wanita baik-baik. Saya harap, Anda bisa menjaga ucapan Anda kalau tidak tahu kebenarannya." Kirana yang awalnya nampak anggun, mendadak berubah garang saat mendengar ada orang yang menghina kakaknya.


"Apa??? Kakak???" pekik semua perempuan yang ada di meja makan. Mereka nampak terkejut dengan apa yang Kirana katakan. Sementara para pria hanya menggelengkan kepalanya melihat reaksi istri-istri mereka.


"Iya, Kinara kakak saya. Gelang ini diberikan oleh ayah saat ulang tahun yang ke tujuh belas. Ayah sengaja memberikan hadiah yang sama karena kami lahir ditanggal dan bulan yang sama sedangkan tahunnya selisih empat tahun," jelas Kirana.


"Berarti Sevia keponakan Anda, Nyonya." timpal Icha yang kemudian menutup mulutnya karena merasa terkejut dengan kenyataan yang ada.


"Iya, selama ini saya mencarinya. Bahkan sempat mendatangi kampung halamannya, tetapi ayahnya tidak mau memberitahukan tentang keberadaan dia. Sekarang kita sudah bertemu di sini, mau 'kan bertemu dengan Kak Kinara, ibumu?" tanya Kirana.


"Mau Nyonya," jawab Sevia.

__ADS_1


"Jangan panggil Nyonya lagi, panggil saja Tante. Ini gelangnya Tante kembalikan," pinta Kirana dengan mengembalikan gelang yang sedari tadi dipegangnya. "Terima kasih Mr. Dave sudah menjaga keponakan saya dengan baik."


"Sudah menjadi kewajiban saya, Tante. Karena Sevia sangat berharga buat saya," ucap Dave dengan merangkul pundak istrinya.


"Via, kalau bisa besok kita sama-sama bertemu dengan ibumu, karena lusa saya harus kembali," ucap Kirana.


"Bi-bisa Ta-Tante," jawab Sevia.


"Sepertinya sudah sangat larut, kami permisi dulu. Terima kasih, Mr. Dave atas makan malamnya. Kami permisi dulu," Hamish yang sedari tadi hanya jadi pendengar, akhirnya undur diri karena memang sudah sangat larut.


"Terima kasih Tuan, sudah berkenan datang ke mari."


"Oh, iya Via, besok Tante jemput pukul sepuluh pagi ya," ucap Kirana pada Sevia sebelum dia pulang.


"Iya, Tante. Terima kasih," ucap Sevia sendu.


Setelah Hamish berpamitan pada semua orang yang ada di sana, dia pun langsung menggandeng istrinya untuk segera pulang. Sementara Dave dan Sevia mengantar kepergian mereka sampai mobilnya sudah tidak terlihat lagi.


Tak berselang lama kemudian, Icha dan Al juga berpamitan untuk pulang. Sementara Edward dan Yenita masih betah berbincang dengan Harry.


"Om, mau menginap di sini?" tanya Dave yang ikut bergabung bersama mereka.


"Oh, kalau begitu aku permisi ke atas duluan. Sepertinya istriku sudah lelah, ayo sayang!"


Dave langsung merangkul Sevia dan membawanya naik ke lantai atas. Setelah mereka melihat dulu keadaan putrinya, Dave pun langsung mengajak Sevia untuk ke kamarnya. Dia merasa khawatir melihat keadaan istrinya yang nampak masih syok dengan kabar yang dibawa oleh Kirana.


"Sayang, tidurlah! Jangan terlalu dipikirkan, besok kita akan bertemu dengan ibu." Dave membantu Sevia untuk membaringkan tubuhnya, lalu dia pun ikut berbaring di sebelah istrinya.


"Dave, apa kamu percaya dengan apa yang Nyonya Kirana katakan? Aku masih ragu antara harus percaya atau tidak. Kalau ibu masih hidup, kenapa selama dua puluh tahun ini, dia tidak pernah berkunjung ke rumah ataupun mengirim surat. Apa ibu sudah menikah lagi dan suaminya melarang untuk menemui anaknya?" tanya Sevia dengan segala praduganya.


"Via, kita lihat saja besok bagaimana keadaan ibu. Sekarang kamu tidur saja dulu," suruh Dave.


"Aku tidak bisa tidur, Dave. Aku terus kepikiran ibu. Apa bapak tahu kalau ibu masih hidup? Dia pasti akan senang mendengarnya."


Sevia mengambil ponselnya berniat ingin menghubungi bapaknya di kampung dan memberitahu kabar gembira ini. Namun, Dave dengan cepat menghentikannya.


"Via, bukankah bapak tidak suka kamu bertemu dengan Nyonya Kirana. Kalau kamu memberitahu bapak, dia pasti melarangnya," ucap Dave.


"Dave, kenapa aku merasa seperti mimpi. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan keluarga ibu, karena selama ini mereka tidak ada yang mencari aku."

__ADS_1


"Sepertinya kita memiliki nasib yang tidak jauh beda. Aku baru bertemu dengan keluarga papaku sedangkan kamu baru bertemu dengan keluarga ibumu. Setelah ini kita harus saling terbuka memperkenalkan keluarga kita pada anak-anak."


"Iya, Dave. Ternyata benar kata orang, tidak mungkin seseorang bisa bersatu kalau tidak memiliki kesamaan," ucap Sevia seraya memeluk tubuh kekar suaminya.


"Aku merasa beruntung karena yang memiliki kesamaan denganku itu kamu, seandainya wanita lain, entah apa yang akan terjadi." Dave menatap ke langit-langit kamarnya dengan tangan yang memeluk erat istrinya.


"Aku juga merasa beruntung bertemu dengan brondong sepertimu. Meskipun kamu lebih muda dariku, tapi kamu mampu berpikiran dewasa."


"Via, jangan mengukur kedewasaan seseorang dari umurnya tapi dari cara dia berpikir. Belum tentu orang yang lebih muda dari kamu itu pecicilan dan tidak bisa berpikir jauh ke depan. Buktinya, kamu juga masih suka pecicilan."


"Dave, kamu menghina aku?" Sevia langsung tersinggung dengan apa yang suaminya katakan.


"Tentu saja tidak, mana berani aku menghina keponakan investorku," sindir Dave dengan tertawa.


"Kamu menyindirku, Dave. Aku tidak mau kamu peluk." Ibu hamil itu sepertinya mulai merajuk.


"Tidak sayang, iya aku minta maaf tapi jangan marah ya!" pinta Dave.


Baru juga bisa tidur bareng lagi, masa harus pisah lagi, gerutu Dave dalam hati.


"Baiklah tapi ada syaratnya."


"Syarat apa?"


"Pijitin kaki aku dulu, kakiku pegal-pegal," pinta Sevia


"Baiklah Mommy, apapun yang kamu minta." Dave langsung mengurai pelukannya dan mulai memijat kaki ibu hamil.


Meskipun awalnya pijatan itu benar-benar pijatan, tetapi lama kelamaan pijatannya naik ke atas hingga sampai ke area terlarang Sevia. Pada akhirnya, sesi pijat memijat berubah menjadi sesi berburu kenikmatan sepasang suami istri.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Jangan lupa klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


Rekomendasi lagi nih kawan dari Author keren satu ini.


__ADS_1


__ADS_2