Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 51 Dave, kamu di mana?


__ADS_3

Sebuah taman yang indah dengan danau buatan di depannya. Membuat banyak pasangan muda mudi betah berlama-lama di sana. Hanya sekedar untuk duduk dan menikmati udara sore seraya menunggu Sang Surya tenggelam di ufuk barat.


Sudah satu jam Sevia duduk di kursi taman seorang diri. Dia mulai gelisah karena Dave tak kunjung datang. Terakhir saat dia menghubungi suaminya, katanya sedang dalam perjalanan menuju ke taman tempat mereka akan bertemu.


Sambil menungggu Dave yang tak kunjung datang, Sevia pun memutuskan untuk melihat-lihat taman yang dimiliki oleh sebuah perusahaan property ternama di tanah air. Dia sangat mengagumi deretan apartemen yang menjulang tinggi tak jauh dari tempatnya berada.


"Kenapa Dave tidak membeli apartemen di sini saja? Pemandangannya bagus, fasilitasnya juga lengkap. Hanya saja jauh dari perusahaan. Tidak sedekat apartemen yang sekarang berada ditempati," gumam Sevia.


Sevia terus mencari spot foto yang bagus dan mengabadikannya, lalu dia mengirimkan foto yang baru diambilnya pada Dave. Bukan pose yang imut dan menggemaskan yang dia kirimkan pada suaminya, tetapi pose muka jelek yang sedang kesal.


Send to Brondong Omeshku


[Dave, lama sekali! Lihat aku sudah mulai jamuran!]


Dave terkekeh saat dia melihat foto-foto Sevia. Bukannya merasa jijik tetapi menurutnya itu foto yang menggemaskan. Ingin sekali dia cepat-cepat sampai ke taman. Namun, entah datang dari mana Edelweiss sudah berada di dalam mobilnya. Terpaksa Dave pun harus memutar balik mengantarkan Edelweiss ke rumahnya.


"Edel, aku ada urusan penting. Aku sudah meminta Barra untuk menjemputmu di pintu keluar tol. Lagian kamu bisa masuk dari mana? Kenapa ada di mobilku?" tanya Dave.


"Adikmu yang mengerjai aku. Sudah tahu aku takut dengan iguana peliharaannya, masih saja memaksaku untuk menyentuhnya. Jadinya aku sembunyi di bagasi mobilmu," jelas Edelweiss.


Padahal sebentar lagi aku sampai, kenapa juga Edel harus nyangkut di mobilku? Coba saja kalau tadi aku gak mampir ke rumah Om dan Tante dulu. Pasti aku gak akan telat seperti ini, gerutu Dave dalam hati.


"Kita ke rest area sebentar, aku mau buang air kecil dulu. Kamu tunggu saja di mobil!" suruh Dave.


Ya ampun Via! Melihat foto-foto tadi membuat aku ingin pipis enak. Udah berapa lama kita tidak saling berbagi saliva dan peluh. Aku sangat merindukanmu, jerit hati Dave.

__ADS_1


Saat sudah menemukan rest area, Dave pun segera bergegas turun. Hanya toilet yang menjadi tujuan utamanya. Sementara Edelweiss menunggu di dalam mobil lelaki pujaan hatinya. Sampai akhirnya ada panggilan masuk ke ponsel Dave yang ditinggal di atas dashboard mobil. Merasa risih karena ponselnya terus berbunyi, akhirnya Edelweiss pun langsung menerima panggilan itu.


"Hallo, Dave masih di mana?" terdengar suara perempuan di seberang sana yang menanyakan keberadaan Dave.


"Dave sedang di kamar mandi. Ini dengan siapa?" tanya Edelweiss


Hening sejenak, tak ada jawaban di seberang di seberang sana. Sampai akhirnya Edelweiss kembali bertanya.


"Hallo, masih ada di situ? Ini dengan siapa dan ada perlu apa dengan Dave? Biar nanti aku sampaikan," ucap Edelweiss.


"Maaf Mbak! Mbak siapanya Dave?" tanya perempuan di seberang sana.


"Oh, aku calon istrinya. Kalau ada perlu dengan dia biar nanti aku sampaikan," ucap Edelweiss.


"Tolong katakan pada Dave kalau Sevia menghubunginya," ucap Sevia yang langsung memutuskan teleponnya.


Tak berapa lama kemudian, dia kembali setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dave terlihat lega karena sudah menuntaskan hajatnya. Namun wajah cemasnya sangat terlihat jelas, sudah telat satu jam dari waktu yang telah mereka sepakati.


Dave langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Terlihat langit sudah mulai gelap, pertanda hujan akan segera turun. Dia tidak ingin membuat Sevia menunggu terlalu lama. Saat sudah keluar dari pintu tol, benar saja Barra sudah menunggu dengan seragam polisi yang terlihat pas di tubuhnya. Polisi tampan itu menyambut kedatangan gadis yang diam-diam dia sukai. Namun sedikit pun Barra tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya karena dia tahu kalau Edelweiss menyukai Dave sedari mereka masih kecil.


"Barra, tolong antarkan dia! Kamu harus berani buat tunjukan perasaan kamu sama dia," bisik Dave yang hanya dibalas senyuman oleh Barra.


Aku tidak setampan kamu, Dave. Hal itu yang membuat aku tidak ingin berharap banyak pada dia, batin Barra.


"Ayo Barra kita pulang! Sekarang Dave menyebalkan, masa tadi bawa mobil udah kaya setan saja," gerutu Edelweiss.

__ADS_1


"Biar kamu kapok tidak ngumpet lagi di mobilku. Kamu tahu, aku jadi telat datang." Dave langsung memutar balik lagi mobilnya menuju ke kota industri.


...***...


Sementara Sevia masih terus menunggu di bangku taman tempatnya dulu dan Dave bertemu. Setelah tadi dia menelpon Dave dan diangkat oleh seorang gadis, Sevia terasa perih. Namun, dia butuh kepastian dari Dave sehingga gadis itu memutuskan untuk menunggu Dave sampai dia datang.


"Dave, kalau kamu sudah punya calon istri, apa mungkin selamanya aku hanya akan jadi istri simpanan kamu atau hari ini hubungan kita berakhir? Aku harus bagaimana Dave? Memang tidak seharusnya aku memiliki perasaan lebih pada pernikahan yang tanpa cinta, tapi semakin aku memungkirinya, semakin kuat rasa ingin selalu bersamamu, memilikimu seutuhnya," Sevia terus bicara sendiri di bawah guyuran air hujan yang mulai turun ke bumi.


Langit seakan merasakan kesedihan Sevia, sehingga menumpahkan air hujan yang begitu deras untuk menghapus semua kesedihan gadis itu. Sevia tetap tak bergeming dari duduknya. Dia hanya mendongakkan kepala dan merentangkan tangannya untuk merasakan tiap tetesan air hujan yang menerpa tubuhnya. Sampai wajahnya mulai memucat kedinginan, bibir yang mulai membiru dan tubuh yang gemetar.


"Dave, kamu di mana? Kenapa kamu mengingkari janji? Bukankah kamu yang memintaku untuk datang ke sini, tapi kenapa kamu sendiri tidak datang. Dave mungkinkah ini keputusanmu? Kamu tidak datang karena tidak tega melihatku sedih dengan keputusanmu. Baiklah, Dave! Aku menerima keputusan kamu untuk mengakhiri pernikahan ini. Meski sebenarnya aku tidak ingin. Aku harap kamu bahagia bersamanya. Bersama dengan gadis yang kamu cintai. Terima kasih untuk semuanya. Untuk semua kenangan indah kita, untuk semua hal yang sudah kamu beri padaku dan keluargaku. Dave aku mencintaimu" Sevia terus bicara sendiri di bawah guyuran air hujan sampai akhirnya dia hilang kesadaran.


Reina dan Adam yang kebetulan mau pulang karena hujan sudah tidak terlalu deras, setelah melihat-lihat apartemen yang akan Adam tempati, tanpa sengaja melihat Sevia yang sedang duduk sendiri sehingga Adam segera menepikan mobilnya dan langsung menghampiri gadis itu untuk mengajaknya pulang bersama dia.


"Via, Via bangun! Dia malah pingsan. Rei kamu payungi Abang, biar Abang yang gendong dia!"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih!...


kepoin juga karya Author yang lain kak


Tentang pengorbanan seorang istri yang tidak dihargai oleh suaminya.

__ADS_1



__ADS_2