Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
S2 65 Menunggu Bang Ano


__ADS_3

Bosan, sepertinya gadis itu dilanda kebosanan. Yang katanya disuruh sebentar, pada kenyataannya dia harus menunggu hampir satu jam lebih. Meskipun sedari tadi dia terus bermain ponsel, tetapi kejenuhan tidak bisa dia tepis. Devanya pun memutuskan untuk menghampiri Keano yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Bang, aku pulang aja ya!" ucap Devanya.


Grep


Keano langsung menarik gadis itu hingga terduduk di pangkuannya. "Duduk saja di sini temani Abang! Sebentar lagi udahan."


"Bang malu, nanti ada yang lihat."


"Tidak akan, mereka tidak bisa masuk tanpa akses dari Abang kecuali Hayden dan ...."


"Asyik bener kerja sambil peluk-pelukan, bikin jiwa jombloku merana melihatnya." celoteh Hayden saat dia baru masuk ke ruangan bos-nya.


Devanya terperanjat kaget sehingga dia langsung melepaskan diri. Namun, karena dia tergesa membuat dia hilang keseimbangan dan menarik dasi Keano sebagai pegangannya.


Bruk


Cup


Tabrakan bibir itu tidak bisa dihindarkan saat pemuda tampan itu ikut terjatuh dan menimpa Devanya. Hayden yang melihat kejadian itu hanya melongo tidak percaya. Rasanya seperti mimpi melihat sahabat sekaligus bos-nya itu berciuman di depan matanya.


"Kalian menodai mataku dua kali," keluh Hayden dengan memasang wajah masam.


Keano langsung bangun dengan wajah yang bersemu merah. Sungguh dia merasa malu karena terlihat begitu intim dengan Devanya. Namun sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaannya itu. Tidak jauh berbeda dengan Keano, Devanya pun langsung merona. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kecupan singkat dari tunangannya.


"Kenapa tidak ketuk pintu?" tanya Keano dengan nada datar.


"Sorry, Bos! Aku pikir kamu sendiri. Jadinya aku aku langsung masuk. Ternyata sedang asyik-asyikkan sama ayang mbeb," ledek Hayden.


"Ada apa ke sini?" Lagi-lagi Keano bertanya dengan nada datarnya, membuat Hayden mengerti kalau sahabatnya itu tidak suka melihat dia masuk ke ruangannya.


"Tuan Zyan sudah menunggu di ruang meeting," ucap Hayden.

__ADS_1


"Kapan aku punya janji dengan Opa Zyan?" tanya Keano dengan mengeryitkan keningnya.


"Tadi pagi sekretarisnya menelpon aku dan membuat janji untuk bertemu," terang Hayden


"Kenapa tidak konfirmasi dulu?" gerutu Keano pelan.


"Bang, temui aja dulu Opa Zyan. Mungkin ada hal penting. Aku gak apa nunggu di sini," ucap Devanya.


Keano tidak langsung menjawab apa yang dikatakan oleh Devanya. Dia hanya menatap dalam gadis itu. Sungguh, rasanya berat sekali harus meninggalkan gadis yang dicintainya. Dia pun menghela napas dalam sebelum akhirnya berbicara.


"Ayo ikut!"Keano langsung menarik tangan Devanya agar mengikutinya ke ruang meeting.


Namun, gadis itu menolak keras. Devanya pun berpegangan pada meja kerja Keano. "Aku gak mau ikut meeting!!!"


"Dev, nanti Abang lama." Keano mencoba memberi pengertian pada Devanya.


"Gak apa, Bang. Aku mau di sini saja," tolak Devanya.


"Ok, tapi gak boleh pulang! Tunggu Abang!" pinta Keano.


Melihat bibir Devanya yang maju lima senti. Telunjuk Keano pun langsung menempel di bibir merah jambu itu. Lalu berkata, "Jangan menggoda Abang! Kamu tahu seorang lelaki jika pernah merasakan manisnya bibir seorang perempuan, maka di pikirannya terus terbayang hal itu."


Mendengar apa yang Keano katakan, Devanya langsung melipat bibirnya hingga masuk ke dalam rongga mulutnya. Dia khawatir, Keano akan menciumnya lagi di depan Hayden. Meskipun sebenarnya yang tadi hanyalah sebuah kecelakaan tetapi memberikan kesan tersendiri bagi keduanya.


"Sudah sana berangkat! Opa Zyan pasti sudah menunggu," usir Devanya kikuk.


Keano pun melepaskan tangan Devanya dan berlalu pergi meninggalkan gadis itu sendiri. Kini tinggallah Devanya di ruangan yang lumayan besar itu. Dia langsung menuju ke kursi kebesaran Keano. Tanpa sungkan, dia langsung duduk di sana kemudian berselfi ria dengan berbagai pose.


"Ternyata enak juga duduk di kursi presiden direktur. Selain empuk, nyaman juga. Pantas saja Bang Ano betah berlama-lama di sini." Devanya terus mengotak-atik tombol yang ada di kursi kebesaran Keano.


Saat menekan tombol angka 1, laci meja Keano terbuka. Nampak di sana sebuah jepit rambut kupu-kupu. Devanya pun mengambil jepit rambut itu. Dia terus memperhatikan jepit rambut itu hingga akhirnya dia teringat kejadian saat dia masih kecil.


Flashback on

__ADS_1


Devanya yang waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasar berjalan begitu bahagia, dengan jepit rambut kupu-kupu yang dia pakai di rambutnya. Namun, saat bertemu dengan Orion di depan kelasnya. Orion langsung mengambilnya dan berlari sehingga Devanya pun mengejar anak lelaki itu.


Akan tetapi, saat dia sudah bisa mengejar Orion, ternyata Orion sudah membuangnya saat anak lelaki itu berlari dari kejaran Devanya. Sejak saat itu, Devanya tidak pernah lagi memakai pernak-pernik anak perempuan karena Orion pasti menjahilinya.


Flashback off


"Pantas saja aku cari-cari tidak ketemu, ternyata Bang Ano yang nemuin jepit rambut ini. Mungkin Bang Ano hapal kalau jepit rambut ini Tante Allana yang kasih saat beliau pulang berlibur ke negeri ginseng," gumam Devanya.


Tanpa sadar, Devanya langsung memasangkan jepit rambut kupu-kupu itu. Dia langsung mengambil ponsel dan bergaya di depan kamera. Setelah puas mengambil beberapa gambar, gadis itu langsung meng-upload foto yang tadi dia ambil dengan caption 'Akhirnya ku menemukanmu'.


Sementara seorang pemuda tampan yang sedang meeting dengan opa-nya sekaligus rekan bisnisnya, langsung melihat layar ponselnya saat mendapatkan notifikasi bahwa Devanya baru saja membuat postingan baru dia sosial media.


Keano tersenyum tipis melihat foto-foto Devanya yang memamerkan jepit rambut yang bernilai fantastis itu. Dia sengaja menyimpan jepit rambut itu di laci meja kerjanya. Agar saat dia merasa jenuh dengan pekerjaannya, ada sesuatu yang membuat mood-nya kembali baik.


Tadinya mau aku kembalikan saat kita sudah menikah tapi ternyata kamu sudah menemukannya lebih dulu. Pasti saat ini Deva sedang duduk di kursi kebesaranku, batin Keano.


"Bagaimana Ano? Kapan proyek ini mulai berjalan?" tanya Zyan.


"Bos, Tuan Zyan bertanya," bisik Hayden dengan menyenggol tangan Keano.


"I-i-iya Opa. Maaf saya sedang tidak fokus," ucap Keano.


"Rupanya sudah masuk jam makan siang. Apa sudah punya janji dengan seseorang?" tanya Zyan dengan melihat jam tangan di pergelangan tangannya.


"Sebenarnya sudah, Opa. Apa Opa mau bergabung?" tanya Keano.


"Opa juga sudah ada janji. Kalau proyeknya sudah siap untuk dikerjakan, secepatnya kasih kabar ke Opa ya!" pinta Zyan.


"Baik, Opa. Ano pasti secepatnya memberi kabar pada Opa," ucap Keano.


Setelah cukup berbasa-basi, Zyan pun langsung pulang bersama dengan sekretarisnya. Sementara Keano langsung menuju ke ruangannya dengan tergesa. Dia sudah tidak sabar ingin menemui gadisnya yang sudah pasti sedang menunggunya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2