
Senyum cerah menghias bibir seksih Davin. Dia sesekali bersenandung seraya menuju ke kamar kembarannya. Devan yang melihat kebahagiaan tiada tara dari wajah Davin. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Ck! Vin, kalau mau gila jauh-jauh dari kamarku! Aku gak mau ketularan virus gila kamu," usir Devan dengan melirik sekilas ke arah kembarannya.
"Harusnya kamu ikut bahagia, sebentar lagi, kamu akan punya kakak ipar." lagi-lagi Davin tersenyum ceria.
"Pastilah, abis wisuda kan Kak Vanya mau nikah sama Bang Ano. Tapi aku kasian sama Ion, semenjak dari karaoke itu, dia jadi sering murung. Tiap hari lembur terus."
"Resiko kita yang masih muda. Belum dianggap kalau bilang ingin kawin. Pasti disuruh sekolah dulu yang tinggi," ucap Devan.
Benar juga ya, pasti papa gak bakal setuju kalau aku bilang mau nikah sama Dian. Daripada nanti hubungan aku kaya Ion dan Kak Deva, lebih baik aku nikah diam-diam saja. Mumpung Diandra setuju nikah, batin Davin.
"Bengong lagi, mikirin apaan sih? Jangan bilang kamu kebelet kawin. Sadar Vin, kita masih dianggap anak-anak. Papa aja nyuruh kita buat balik ke sana lagi," ucap Devan lagi.
"Van, bisa pegang rahasia gak?" tanya Davin.
"Maksud kamu? Memang kapan aku bocor. Kamu setiap malam tidur dengan Diandra, aku gak bilang sama siapa-siapa. Hanya Kak Vanya yang tahu." Devan cengengesan karena baru sadar kalau dia sudah kelepasan bilang pada Devanya.
"Ogeb lu!" Dengan reflek tangan Davin menoyor adiknya.
"Jangan kurang ajar kamu! Kepalaku tiap tahun dizakatin sama mama. Awas aku adukan sama mama," ancam Devan yang tidak terima Davin menoyor kepalanya.
"Dikit doang. Besok anterin aku ke KUA. Tapi kamu gak boleh bilang siapa-siapa." ucap Davin pelan.
"Mau ngapain ke sana," tanya Devan.
"Gak usah banyak tanya! Kamu tinggal ikut aja,' ketus Davin.
"Dasar, kembaran judes! Baiknya hanya pada Diandra saja," cibir Devan.
"Terserah, aku mau tidur."
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya, Davin dan Devan benar-benar mendatangi kantor KUA yang ada di wilayah kediamannya. Kedatangan mereka pun disambut baik oleh petugas kantor urusan agama setempat. Tanpa malu, Davin mengatakan tujuannya datang ke sana.
"Permisi, Pak. Saya mau daftar nikah," ucap Davin.
"Boleh lihat kartu tanda penduduknya?"
"Boleh Pak," ucap Davin lalu memberikan kartu tanda penduduk miliknya.
Setelah petugas itu melihat tanggal lahir Davin, dia pun hanya tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nak Davin, nanti dua tahun kemudian, baru datang ke sini lagi. Usia Nak Davin belum cukup jika menikah sekarang."
"Tapi umur calon istriku sudah jalan dua puluh, Pak." Davin kekeh dengan keinginannya.
"Kenapa ingin menikah buru-buru? Bukankah seusia Nak Davin harusnya masih sekolah? Lebih baik sekolah dulu yang benar. Nanti kalau Nak Davin sudah dua puluh lima tahun, baru balik lagi ke sini untuk daftar nikah."
Gimana caranya agat aku bisa nikah dengan Diandra. Masa petugas kantor urusan agama menolak orang yang ingin nikah, batin Davin.
"Iya." sahut Davin pelan.
"Mereka kebobolan, Pak. Dari pada zina terus lebih baik dinikahkan saja," ceplos Devan dengan santainya.
Dia baru mengerti kenapa kembarannya mengajak ke sana. Ternyata Davin ingin mencuri start dari kakaknya. Devan pun mau tidak mau harus berpihak pada Davin, daripada dia pun ikut merasakan kesedihan kembarannya.
"Yang benar? Kenapa bisa terjadi?" tanya petugas itu kaget.
"Bisa saja terjadi, Pak. Kami satu rumah, setiap malam kembaran aku ini sering menyelinap masuk ke dalam kamar pacarnya. Lebih baik, Bapak bantu nikahkan saudaraku ini. Berapapun biayanya tidak jadi masalah buat kami." Devan terus saja berusaha meyakinkan petugas KUA.
"Sebentar, Bapak diskusikan dulu pada Bapak Kepala," pamit petugas itu.
"Van, bisa-bisanya kamu bocorkan rahasia aku ke orang lain. Lagipula Diandra gak hamil. Aku belum pernah ngapa-ngapain sama dia selain ciuman," sewot Davin.
__ADS_1
"Apa?? Kamu udah ciuman???" pekik Devan kaget.
"Dasar anak muda jaman sekarang, masih kecil minta kawin. Giliran ada badai dalam rumah tangganya langsung minta cerai. Masih kecil tuh mending belajar jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh," sindir seorang ibu-ibu yang sedang menunggu antrian.
"Memang ibu ke sini mau apa?" tanya Devan.
"Tentu saja mau daftar nikah," jawab ibu itu.
"Sudah setua itu baru nikah, Bu?" tanya Devan heran.
"Ini kan pernikahan kedua saya," jawab Ibu itu.
"Oh ...," jawab Davin dan Devan kompak.
Tak lama kemudian, petugas itu datang dengan seorang pria yang sudah berumur. Kedua pria dewasa itu pun saling pandang sebelum bicara dengan Davin. Sementara pria yang diduga sebagai kepala KUA, menelisik penampilan Davin dari atas sampai bawah.
"Sebenarnya, Bapak tidak bisa menikahkan kamu karena masih di bawah umur. Tetapi karena kejadiannya sudah seperti itu, terpaksa Bapak menikahkan kamu dengan kekasihmu itu. Hanya saja pernikahan di bawah tangan. Kamu bisa mengurus administrasinya setelah cukup umur," ujar Pak Penghulu.
"Maksudnya di bawah tangan bagaimana, Pak?"
"Kalian sah menikah tapi belum memiliki surat nikah dan diakui oleh negara."
"Tidak apa, Pak!" sahut Davin.
"Kalau bikin sendiri surat nikahnya bisa gak, Pak. Biar jadi bukti kalau nanti digerebek warga," celetuk Devan.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1