
Dengan tergesa Allana pergi ke rumah putranya. Meskipun begitu, dia sudah siap sedia membawa tas dokternya. Walaupun ,dia tidak praktek lagi dan hanya mengurus dokumen-dokumen rumah sakit yang membutuhkan persetujuannya. Akan tetapi, untuk kesehatan keluarga besarnya, dia yang turun tangan sendiri.
Setibanya di rumah Keano, Allana pun segera memeriksa keadaan Devanya. Dia langsung tersenyum, saat memeriksa denyut nadi Devanya. Namun, sepertinya dia ingin mengerjai putra tampannya.
"Mom, bagaimana keadaan Deva. Baik-baik saja, kan?" tanya Keano dengan wajah cemasnya
"Bentar Ano, Mommy belum periksa semuanya. Coba, telentang dulu ya! Biar Mommy periksa dulu kondisi perut kamu." Allana pun langsung memeriksa perut Devanya. Lagi-lagi dia tersenyum tipis. Namun sebisa mungkin, Allana menyembunyikan kebahagiaan hatinya. Dia ingin, Keano maupun Devanya tahu hal itu setelah pasangan suami istri itu melihat langsung di layar monitor.
"Mom, apa ada masalah dengan perutku?" tanya Devanya harap-harap cemas.
"Mommy belum bisa memastikan. Sebaiknya langsung periksa ke rumah sakit saja bertemu dengan Dokter Daniela. Nanti Mommy buatkan janji. Kalian mau pergi jam berapa ke rumah sakitnya?" tanya Allana dengan melirik sekilas wajah putranya.
"Agak siangan aja, Mom. Badanku masih lemas," jawab Devanya.
"Iya, gak apa-apa. Istirahat saja dulu. Untuk sementara, minum obat dari Mommy." Allana pun menyiapkan obat yang harus Devanya minum untuk mengurangi rasa mual dan menambah energi.
"Makasih, Mom."
"Sama-sama, Sayang. Istirahat ya! Ano, sebaiknya ambil cuti saja untuk hari ini. Biar menemani Deva istirahat. Mommy pulang dulu, belum bersiap untuk ke rumah sakit."
"Cepat sehat ya, Nak. Papi juga pamit pulang." Kendra yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Pria dewasa yang kharismatik itu tersenyum hangat pada menantunya.
"Iya, Mom, Pih. Makasih," ucap Devanya membalas senyum mertuanya.
Allana dan Kendra pun langsung pulang. Mereka belum bersiap untuk pergi ke tempat kerja masing-masing. Sementara Keano, langsung menghubungi Hayden untuk memberitahu assisten-nya itu kalau dirinya tidak masuk kerja. Setelah urusannya beres dengan Hayden, keano pun langsung menghampiri istrinya yang sedang tertidur.
"Ay, sarapan dulu ya! Nanti minum obat," rayu Keano seraya mengelus rambut istrinya.
Devanya yang akan terlelap, akhirnya bangun dari tidurnya. Dia duduk menyender ke head board dengan mata yang sayu. Keano hany tersenyum melihat istrinya yang mengantuk tetapi memaksa untuk bangun dan sarapan pagi.
"Abang, suapi ya!" tawar Keano.
Devanya hanya menganggukkan kepalanya. Dia makan bubur seperti tidak berselera. Hingga sampai pada suapan yang ke lima, Devanya pun menolak bubur yang Keano berikan.
"Udah kenyang , Bang."
"Minum obat dulu, Ay. Baru tidur," ucap Keano.
Devanya begitu patuh mengikuti apa yang suaminya katakan. Karena rasa kantuk akibat badannya lemas sehabis muntah sedari pagi. Membuat dia hanya menurut agar bisa secepatnya tertidur.
Selesai memberikan obat pada istrinya dan memastikan Devanya tidur dengan nyaman, Keano pun turun ke bawah untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Sepertinya pria itu melewatkan sarapan paginya karena begitu sibuk mengurus istri yang sedang sakit.
__ADS_1
"Tuan, makanannya sudah dingin. Apa perlu saya hangatkan lagi," tanya Iis, pekerja di rumahnya.
"TIdak usah," ucap Keano datar.
Dia langsung duduk dan mengambil roti tawar yang selalu tersedia di meja. Lalu mengolesnya dengan selai cokelat dan menyimpan keju di atasnya, kemudian menutup kembali dengan roti yang dia oles dengan selai cokelat juga. Entahlah, Keano sangat suka rasa perpaduan keju dan cokelat.
Sementara Iis hanya diam mematung menunggu perintah tuannya dengan pikiran yang terus melayang entah ke mana. Selama dia bekerja di rumah Keano, tuannya itu selalu saja bicara seperlunya. Sangat berbeda jika Keano sedang bersama dengan istrinya.
Tuan tampan itu hanya hangat pada istrinya saja, sedangkan pada semua pekerja yang ada di rumahnya selalu saja dingin. Padahal kami juga ingin diberi senyuman agar lebih bersemangat lagi kerjanya," batin Iis.
...***...
Ruangan serba putih menjadi saksi bisu kebahagian sepasang suami istri. Setelah tadi Dokter Daniela mengatakan kalau ada dua kantung janin yang ada di rahim Devanya. Keduanya saling berpelukan menangis penuh haru.
"Alhamdulillah, Ay. Tuhan langsung menggantinya," ucap Keano.
"Iya, Bang. Alhamdulillah aku bisa hamil lagi," ucap Devanya dengan suara seraknya.
"Selamat ya Tuan, Nona. Semoga semuanya berjalan lancar melahirkan nanti. Nanti akan saya resepkan vitamin dan penguat kandungan."
"Terima kasih, Dokter."
Setelah cukup mendengarkan arahan dari dokter kandungan yang sengaja Allana pilihkan untuk menantunya, mereka pun langsung berpamitan. Namun, keduanya tidak langsung pulang melainkan pergi ke ruangan Rani untuk menengoknya. Sementara buah tangannya sudah dibawa terlebih dahulu oleh supir pribadi Keano.
"Wa'alaikumsalam, ayo sini masuk!" suruh Sevia yang memang sedang menjaga sahabatnya.
Devanya dan Keano pun langsung mencium punggung tangan wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya. Bergantian dengan Rani yang sedang menyusui bayinya. Lalu Devanya memilih duduk di dekat Rani dan melihat bayi kecil itu begitu menikmati sumber kehidupannya.
"Tante selamat ya, Tan. Atas kelahiran dedek cantiknya," ucap Devanya.
"Makasih, Sayang. Semoga kamu dan Dian segera menyusul memiliki momongan," ucap Rani dengan tersenyum.
"Alhamdulillah, Tan. Allah sudah mempercayai Deva untuk memiliki anak lagi." Devanya tersenyum lebar menanggapi ucapan tantenya.
"Maksud kamu?" tanya Sevia kaget mendengar ucapan putrinya.
"Deva hamil bayi kembar, Mah. Sekarang sudah tujuh minggu," ucap Devanya dengan wajah yang berbinar.
"Apa??? Hamil??? Alhamdulillah," Sevia langsung memeluk tubuh putrinya. Dia begitu terharu mendengar kabar gembira yang dibawa oleh Devanya.
"Selamat, Sayang. Tante ikut senang mendengarnya. Tapi kapan kamu periksa ke dokter?"
__ADS_1
"Kami baru pulang dari dokter, Tan." lagi-lagi Devanya tersenyum bahagia. Membuat orang yang melihatnya ikut tersenyum.
"Selamat ya, Ano, Deva, Mama sangat senang mendengarnya. Papa pasti senang mendengar kabar bahagia ini," ucap Sevia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terima kasih, Mah, Tante Rani!" sahut Keano.
Mereka pun larut dalam obrolan. Rani dan Sevia berbagi pengalaman mereka saat hamil oleh anak-anaknya. Sampai tidak terasa, waktu sudah menunjukkan angka lima. Keano yang sedari tadi diam di sofa, dia sibuk mengecek pergerakan saham di ponselnya. Membiarkan istrinya bercengkerama dengan mertuanya.
Hingga terdengar suara pintu ada yang membuka dari luar. Ternyata Diandra dan Davin datang menengok mamanya. Namun, sepertinya sedang terjadi perang badar di antara keduanya. Sehingga wajah Diandra terlihat kecut seperti rasa mangga muda.
"Dian, kamu kenapa? Datang-datang bukannya memberi salam malah cemberut," tegur Rani pada putrinya.
"Tuh tanya saja sama dia. Tadi habis ciuman sama siapa. Mama bayangkan coba, suami mama peluk cium di depan mama. Udah gitu, bukannya menghindar, dia malah diam saja," gerutu Diandra. Dia lupa kalau di sana ada mertuanya juga.
Tanpa bicara lagi, Sevia langsung menjewer telinga putranya. Dia gemas sama Davin dan Diandra yang dikit-dikit selalu ribut. Entah siapa yang kurang dewasa di antara mereka berdua. Yang jelas, Diandra sering marah-marah kalau ada perempuan yang curi-curi perhatian pada suaminya. Tetapi Davin terkadang tidak menyadarinya.
"Mah lepas! Aku bukan anak kecil lagi. Tadi tuh ada ibu hamil yang tiba-tiba saja ingin cium aku. Karena gak tega takut anaknya ileran, ya aku ijinkan. Tahunya Dian gak suka aku berbuat baik," ungkap Davin.
"Benar begitu?" tanya Sevia seraya melepaskan jeweran-nya. Davin hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu tuh bukan berbuat baik tapi cari kesempatan dicium cewek cantik," ketus Diandra.
"Memang ibu hamilnya masih muda?" tanya Devanya yang sedari tadi memperhatikan keributan adik dan sahabatnya.
"Iya, itu loh kak, tetangganya nenek," jawab Davin.
"Maksud kamu yang artis itu?" tanya Devanya.
"Iya," jawab Davin dengan cengengesan.
"Pantas saja, memang bagian mana yang dia cium?"
Davin pun menunjukkan kedua pipinya. Dia khawatir kakaknya itu akan menjembil kedua pipinya. Namun, ternyata perkiraan dia salah.
"Mah, cium pipi Davin yang bekas artis itu, biar Dian tidak kesal lagi. Gak apa kan Dian kalau Mama yang cium?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya, Dian langsung mencium kedua pipi Davin tanpa bicara lagi. Entah kenapa, dia merasa tidak rela kalau suaminya itu dicium oleh orang lain.
"Nah, gitu dong. Kamu jangan mau kalah sama cewek lain," puji Devanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....