
Devan langsung menengok ke arah suara. Nampak Devanya berdiri tidak jauh darinya. Sepertinya, kakaknya itu baru datang dengan nampan di tangannya. Karena takut dikira meminta-minta liburan pada kakak iparnya, Devan pun langsung mencari alasan yang sekiranya bisa diterima oleh Devanya.
"Tadi Bang Ano tanya, kira-kira bulan madu yang romantis ke mana? Ya aku jawab aja ingin ke pulau Jeju kalau nanti bulan madu. Kalau Kakak ingin bulan madu ke mana?" tanya Devan langsung mengalihkan pembicaraan.
"Boleh juga ke pulau Jeju, sekalian nonton konser opa-opa Korea yang gemesin," ucap Devanya menjadi heboh
Hm ... Hm ...
Keano langsung berdehem mendengar keinginan calon istrinya. Entah kenapa, dia jadi berpikir kalau gadis bermata biru itu, seperti tidak bisa move on dari sepupunya yang berwajah asia itu. Keano mendadak tidak percaya diri bisa memiliki hati Devanya sepenuhnya.
"Abang haus? Ini aku bawakan capuccino atau ingin air putih?" tanya Devanya segera mendekati calon suaminya.
"Air putih saja," ucap Keano.
Devanya langsung menyimpan minuman dan cemilan yang dibawanya sebelum dia kembali ke dapur untuk mengambil air putih. Setelah kepergian Devanya barulah Devan bersuara kembali.
"Bang, para gadis memang sangat suka melihat wajah opa-opa Korea. Tapi kita yang berwajah blesteran tidak perlu cemas karena masih banyak gadis yang menggandrungi kita. Benar gak Vin?" Devan mengangkat alisnya sebelah meminta pembelaan dari kembarannya.
"Tentu saja, Bang. Dulu saja Kak Deva selalu histeris setiap kali habis bertemu dengan Abang. Sama tuh kayak Diandra. Mereka dua sahabat yang sangat memuja Abang," Davin yang biasanya dia, mendadak ketularan Devan yang konyol.
"Tapi kenapa Deva bisa pacaran dengan Ion?" tanya Keano.
Aku terlambat memberi pengawal pada Devanya sehingga bisa kecolongan dia dekat dengan Orion, batin Keano.
"Kalau itu gak tahu, Bang. Mungkin karena bisa setiap hari terus dikerjai oleh Ion, makanya kakak nyerah dan mau menjadi pacarnya," tebak Davin.
Benar juga apa yang Davin katakan. Berarti benar kata orang kalau jarak antara cinta dan benci hanya setipis kertas tissue. Begitupun dengan Deva dan Ion. Semoga saat aku menikah nanti, kisah mereka sudah berakhir, batin Keano.
Lamunan Keano langsung buyar, saat Devanya datang dengan segelas air putih di tangannya. "Abang ini minumnya," tunjuk Devanya.
"Makasih! Sini duduk dekat Abang!" ajak Keano.
Devanya langsung duduk di samping Keano. Dia memperhatikan wajah-wajah adiknya yang seperti serius. Gadis bermata biru itu pun langsung bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Kalian kenapa? Serius amat? Bang Amat aja gak pernah serius, dia tiap hari ngelawak," tanya Devanya.
"Garing tahu Kak candaannya!" cibir Devan.
"Biarin, Van kayaknya Martabak Bangka enak loh. Beliin dong!" suruh Devanya.
__ADS_1
"Dih nyuruh sama yang lebih muda," ledek Devan.
"Mau berapa? Biar Abang yang beli," tanya Keano yang baru selesai minum.
"Satu aja, tapi gak usah, Bang. Biar Davin saja yang beli," jawab Devanya.
"Iya, Bang! Biar aku saja yang beli martabaknya. Asal ada uang jalannya," kelakar Davin.
"Bisa diatur, sekalian saja beli buat yang lain juga." Keano langsung mengambil beberapa lembar uang tunai di dalam dompetnya.
Setelah mendapatkan uang untuk membeli martabak, Davin pun langsung pergi dengan menarik tangan Diandra agar mengikutinya. Devan yang ditinggalkan oleh kembarannya, jadi melongo karena merasa jadi obat nyamuk di antara Keano dan Devanya yang duduk bersebelahan.
"Aku ke kamar dulu, Bang. Sudah ngantuk," pamit Devan.
Kini tinggalah Devanya dan Keano yang duduk di sofa ruang tengah. Devanya hanya diam dengan tangan terus memindahkan channel televisi. Dia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Deva, tadi tadi main dengan siapa?" tanya Keano memulai percakapan.
Devanya melirik Keano sekilas sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan tunangannya itu. "Aku main sama Ion, tapi Abang jangan salah paham, aku dan tidak tidak melakukan hal tidak-tidak. kami hanya piknik di tepi danau yang dibangun oleh Opa Zyan," jelas Devanya.
Syukurlah Devanya jujur. Kalau dia sampai berbohong, aku yakin mereka masih tidak bisa saling melepaskan, batin Keano.
"Untuk?" tanya Devanya yang tidak mengerti dengan maksud ucapan Keano.
"Makasih, karena kamu bisa menjaga kepercayaan Abang."
"Bukan Abang yang harus berterima kasih tapi aku, karena Abang mau menerima aku apa adanya. Padahal kalau Abang mau, Abang bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih cantik dan lebih baik dari aku," tutur Devanya.
"Abang tidak bisa memaksa hati Abang untuk berpaling pada gadis lain, karena hanya gadis barbie kesayangan Abang, yang Abang inginkan untuk mendampingi di sisa hidup Abang." Keano menatap lekat wajah cantik Devanya.
"Abang, aku jadi deg-degan." Devanya langsung tersipu mendengar apa yang Keano katakan.
Keano masih teringat saat dulu neneknya selalu berusaha mendekatkannya dengan Devanya. Namun, saat itu dia hanya cuek dan tidak mau mengakui kecantikan gadis bermata biru itu. Sampai akhirnya, tanpa sengaja dia mendengar kalau neneknya Icha mengharapkan salah satu cucu laki-lakinya menikah dengan Devanya.
Dari situlah, dia mulai merasa takut kehilangan barbie kesayangannya. Sehingga saat Andrea membicarakan tentang keinginannya menjadikan Devanya sebagai cucu menantunya. Keano langsung menyetujui dangan syarat pernikahannya harus dipercepat.
"Abang, kenapa melamun?" tanya Devanya dengan melambaikan tangannya di depan wajah Keano.
Keano hanya tersenyum melihat apa yang Devanya lakukan. "Kamu cantik."
__ADS_1
"Abang ikh ... bisa aja gombalnya." Wajah Devanya langsung merah merona mendengar pujian dari Keano.
Saat keduanya sedang terlihat malu-malu, Devan yang turun untuk mengambil air minum merasa geli serasa melihat anak baru gede yang sedang jatuh cinta. Dia pun dengan iseng bersenandung.
Aku tercipta oleh-Nya, untuk selalu cintai kamu.
Beri aku kesempatan untuk bahagiakan dirimu.
Kamu tercipta oleh-Nya, untuk selalu aku cintai
Genggam erat tangan ini, jangan sampai kau lepaskan.
Devanya dan Keano langsung melihat ke arah asal suara. Mereka hanya memperhatikan apa yang Devan lakukan. Sampai akhirnya, pemuda tanggung itu sadar kalau dia menjadi pusat perhatian kakaknya.
"Kenapa melihat aku terus? Aku memang tampan kho," tanya Devan.
"Kalau kamu tampan, kenapa masih jomblo?" tanya Devanya sengit.
"Ck! Kakak aja yang gak tahu kalau pacarku banyak. Aku gak sombong ya sampai harus pamer pacar segala. Apalagi kalau harus pamer kemesraan seperti mama dan papa," sanggah Devan.
"Benarkah? Memang papa dan mama suka pamer?" pancing Devanya yang melihat papanya sudah berdiri di belakang Devan.
"Ya iyalah! Papa kakak itu, setiap hari bikin jiwa jomblo aku meronta-ronta. Dia senang sekali cium-cium mama di depan anaknya. Gak sadar apa kalau anaknya sudah gede. Nanti aku bisa-bisa jadi Davin yang langsung ...." Devan langsung menghentikan ucapannya saat ada sebuah tangan besar yang memegang telinganya.
"Mau Papa bantu bersihkan tidak pikiran kotor kamu? Papa sudah punya alat untuk mencuci otak seseorang," tanya Dave dengan tangan yang masih memegang telinga putranya.
"Eh, papaku yang paling baik, paling tampan sedunia dan paling romantis se-alam jagat raya. Otak aku baik-baik saja, Pah. Jadi tidak perlu dicuci pake alat papa itu. Tapi kalau dicuci pake black card sih boleh saja," rayu Devan.
"Yey ... Itu sih mau kamu. Kakak juga mau keles kalau dikasih black card," cibir Devanya.
"Meskipun Papa punya tapi Papa gak mau kasih black card sama kamu," tukas Dave seraya melepaskan tangannya. Dia langsung menuju ke dapur untuk mengambil susu untuk Sevia.
"Deva, besok ke kantor Abang kalau mau. Abang jarang bawa kartu itu kalau sedang tidak ada perlu."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1