
Minggu pagi yang cerah dengan suara burung yang berkicau riang. Membuat sepasang pengantin baru enggan beranjak dari kursi malas yang ada di balkon kamarnya. Selepas sarapan tadi, Keano dan Devanya memilih berjemur dengan Devanya menyandar manja di dada bidang suaminya.
"Ay, katanya mau ketemu Dev-dev?" Keano mengelus lembut perut Devanya yang masih rata.
"Sebentar lagi, Bang. Aku lagi mager, enakan tiduran gini." Ibu hamil itu menggerak-gerakan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Mataharinya udah terasa panas, Ay. Lihat sudah mau jam sepuluh."
"Tapi gendong ya!" pinta Devanya manja.
"As yours wish, baby." Keano pun langsung mengurai pelukannya. Dia bangun dari tidurannya dan langsung mengangkat ibu hamil itu untuk di bawa masuk ke dalam.
"Mau Abang mandiin sekalian?" tanya Keano dengan mengangkat alisnya sebelahnya.
"Gak aku, aku mau tiduran dulu. Abang mandi duluan aja," ucap Devanya.
Entah kenapa aku malas sekali pergi. Padahal kemarin aku yang mengajak Bang Ano pergi ke sana, batin Devanya.
Setelah Keano pergi mandi, Devanya pun memejamkan matanya. Dia tertidur kembali hingga Keano selesai mandi, barulah ibu hamil itu membuka matanya.
"Masih ngantuk, Ay? Mau Abang temani lagi," tanya Keano dengan tangan yang terus mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Tidak, Bang. Aku mandi dulu ya!" Devanya langsung beranjak pergi menuju ke kamar mandi.
Dia masih malu jika dalam keadaan sadar melihat tubuh atletis suaminya tanpa baju. Sehingga dia lebih memilih untuk pergi secepatnya ke kamar mandi. Setelah ritual kamar mandinya selesai, Devanya pun segera mencapai pakaian yang nyaman di tubuhnya.
"Ay, kenapa pake jaket kulit?" tanya Keano yang merasa heran karena melihat istrinya memakai celana dan baju yang biasa dipakai jika balapan.
"Nggak apa, Bang. Aku lagi kangen pakai baju ini. Baju ini sengaja Papa pesan khusus untuk aku agar melindungi aku saat jatuh dari motor. Bahannya yang elastis membuat baju ini tidak mudah sobek," terang Devanya bangga.
"Ya baiklah, Apa ke sananya ingin naik motor? Abang juga punya baju khusus untuk balapan," tanya Keano.
"Boleh deh," jawab Devanya dengan tersenyum.
Setelah semua persiapan untuk pergi mengunjungi Dev-dev beres, pasangan suami istri itu pun langsung berangkat. Mereka begitu menikmati perjalanan menuju ke kolam penangkaran Dev-dev. Rasa malas gerak Devanya sepertinya menguap begitu saja saat dia tahu akan menggunakan roda dua menuju ke sana.
Setibanya di gelanggang samudera, Keano pun langsung mengajak istrinya untuk masuk melihat orca kesayangannya. Mereka disambut oleh Theo perawat sekaligus pelatih Dedev.
__ADS_1
"Siang, Tuan. Apa Anda mau melihat keadaan Dedev?" tanya Theo.
"Iya, kemarin ada yang menelpon aku, katanya Dedev sudah membaik." Keano bicara dengan nada datarnya. "Siapa yang sudah memberikan nomor ponselku pada perempuan?" lanjutnya.
"Apa pelatih Inge yang menelpon, Tuan?"
"Aku tidak tahu namanya. Tapi dia sangat menggangu."
"Maaf, Tuan. Saya pasti akan menegurnya," ucap Theo.
Theo yang dulu merekrut Inge untuk menjadi pelatih Dev-dev, tentu merasa khawatir jika bawahannya itu menyinggung bosnya. Apalagi dia tahu, khusus untuk pelatih Dev-dev, mereka mendapatkan gaji langsung dari Keano bukan dari perusahaan tempat di mana dia bernaung. Ditambah lagi, gaji yang diterimanya lebih besar dari pelatih lainnya.
"Carikan pelatih baru untuk menggantikannya. Aku tidak suka dia menyimpan nomor ponsel pribadiku tanpa seijin aku," suruh Keano.
Inge, kenapa kamu mencari masalah? Lagipula, dia dapat dari mana nomor ponsel Tuan Keano, gerutu Theo dalam hati.
"Baik, Tuan! Secepatnya saya akan mencari penggantinya," sahut Theo.
Keano pun langsung berlalu pergi menuju ke kolam Dev-dev. Sedikit pun dia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Devanya. Sampai di sana, terlihat Dev-dev yang sedang bersama berenang sendiri. Orca yang kini sudah berusia dua puluh tahun itu, langsung menghampiri Keano saat melihat penyelamatnya itu datang.
Dev-dev langsung mengulurkan kepalanya ke tepi kolam. Berharap Keano mengelus kepalanya. Keano yang sudah mengerti dengan keinginan Dev-dev, dia langsung tersenyum tipis dan berjongkok. Lalu dia mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Dev-dev.
"BAIK." Terdengar Dev-dev berbicara menirukan suara manusia. Tentu saja itu semua hasil latihan yang disiapkan oleh pelatih khususnya.
Devanya yang sedari tadi berdiri seraya memperhatikan lumba-lumba, dia pun ikut berjongkok mengikuti suaminya. Ibu hamil itu merasa takjub mendengar Orca peliharaan suaminya berbicara.
"Hello, Dev-dev!" sapa Devanya dengan tersenyum.
"HELLO!" Lagi-lagi Orca itu menyahut sapaan dari Devanya.
"Abang, keren sekali dia bisa bicara." Devanya tak henti mengagumi Dev-dev.
Saat keduanya sedang asyik bermain dengan Dev-dev, Inge datang dengan ember di tangannya. Dia sangat senang saat melihat Keano ada di sana. Ternyata usahanya agar bisa bertemu dengan Keano berhasil. Tapi hatinya langsung menggelap ketika melihat Devanya begitu dekat dengan Dev-dev. Bahkan lumba-lumba yang dia rawat selama ini, terlihat dekat dengan gadis yang datang bersama dengan Keano.
"Permisi, Tuan. Sudah waktunya Dev-dev makan siang," ucap Inge.
"Bolehkah aku, yang memberikan dia makan?" tanya Devanya.
__ADS_1
"Silakan, Nona!" Inge pun memberikan ember yang dia bawa pada Devanya.
Dengan tersenyum lebar, Devanya pun mulai memberikan makanan yang berupa ikan pada Dev-dev. Ibu hamil itu nampak senang saat melihat Dev-dev menangkap makanan yang dia lempar ke mulut orca itu. Sementara Keano berbincang dengan Theo yang memberikan laporan medis Dev-dev padanya.
Tanpa ada seorang pun yang menyadari, tiba-tiba ada sepasang tangan yang mendorong Devanya dari belakang. Hingga ibu hamil itu terjatuh ke dalam mulut orca.
"Aww ...," teriak Devanya yang sukses membuat semua orang kaget mendengar teriakannya.
"DEVA!!!" pekik Keano saat melihat istrinya masuk ke dalam mulut lumba-lumba kesayangannya.
Dev-dev yang mengira kalau yang masuk itu makanan untuknya, dia pun berniat untuk mengoyak tubuh Devanya yang sudah masuk sebagian ke dalam mulutnya. Tetapi giginya tidak bisa menembus jaket kulit Devanya, sehingga Orca itu kembali memuntahkannya dengan melemparkan Devanya ke atas.
Keano yang panik melihat keadaan istrinya, dengan refleks dia mengambil senjata yang selalu dia sembunyikan di kantong bajunya. Sebuah senjata api yang berbentuk pulpen, langsung dia arahkan pada orca kesayangannya. Tanpa ragu lagi, dia pun langsung menekan tombol pada pulpen itu saat Devdev akan menyambut kembali tubuh Devanya yang dia lemparkan ke atas.
Dor! Bruk!
Sebuah timah panas menembus tubuh Devdev. Bertepatan dengan Devanya yang jatuh dengan keras menimpa tubuh lumba-lumba itu. Darah segar keluar dari pangkal pahanya. Begitupun dengan rasa sakit yang tidak terkira di perutnya dan seluruh tubuhnya.
Keano dan beberapa orang pelatih yang melihat kejadian itu langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Mereka berniat untuk memberikan penyelamatan pada istri bosnya. Sementara Dev-dev langsung berenang ke sana ke mari untuk menghilangkan rasa sakit akibat timah panas di tubuhnya.
"DEVDEV HENTIKAN!!!" terdengar suara Keano yang menggelegar. Mereka kesusahan untuk menolong Devanya yang ada di atas tubuh orca itu
Mendengar suara Keano yang menggelegar, Devdev pun langsung berhenti. Keano mendekati orca kesayangannya. Dengan hati yang remuk redam, dia berusaha meraih istrinya yang ada di atas tubuh Devdev.
Setelah mereka bisa membawa Devanya ke tepi kolam, para pelatih pun langsung memberikan pertolongan pada Dev-dev. Meskipun mereka tahu kalau Orca itu merupakan predator puncak dalam rantai makanan di lautan, tetapi Orca bukan pemakan manusia.
"Sayang, maafkan aku!" ujar Keano frustasi.
"Abang, perutku sakit ...," lirih Devanya.
Seperti apa yang ada di dalam mimpinya. Devanya melihat wajah Keano yang sedih dan frustasi. Dia juga melihat sekilas ke dalam kolam yang berwarna merah karena darah Devdev. Begitupun dengan senyuman sinis Inge yang berdiri di belakang Keano. Sampai akhirnya dia hilang kesadarannya.
"Sayang bangun! Ay, bangun! Jangan tinggalin Abang!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....