Simpanan Brondong Tajir

Simpanan Brondong Tajir
Bab 65 Mencuri Start


__ADS_3

Keesokan harinya, Sevia terbangun karena suara dering telepon dari ponsel Dave yang terus berbunyi. Meskipun masih sangat mengantuk, tetapi Sevia dan Dave akhirnya membuka mata. Apalagi saat di layar ponsel tertera sebuah nama yang tidak bisa Dave bantah kata-katanya, My Sweetie Aunty.


"Tante Icha ada apa pagi-pagi sudah nelpon?" gumam Dave seraya mengucek matanya untuk memastikan dengan apa yang dilihatnya. Setelah merasa yakin kalau yang menelponnya adalah Icha, Dave pun langsung menerima panggilan telepon.


"Hallo, Assalamualaikum Tante," sapa Dave saat sudah tersambung.


"Wa'alaikumsalam, Dave kamu di mana? Kenapa tidak pulang ke rumah? Kamu jangan sembunyikan menantu Tante, pokoknya siang ini kalian harus datang ke rumah!" cerocos Icha di seberang sana.


"Iya, Tan!" sahut Dave.


"Kamu kenapa lemas, Dave? Apa kamu sakit?" tanya Icha lagi.


"Nggak, Tan! Aku baru bangun," jawab Dave apa adanya.


"Ya ampun Dave! Lihat matahari sudah naik! YA sudah Tante tutup teleponnya dulu, Assalamualaikum." Icha langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu Dave untuk menjawabnya.


"Wa'alaikumsalam, kebiasaan Tante. belum juga dijawab sudah ditutup teleponnya," gerutu Dave. "Sevia pasti di kamar mandi, aku mau menyusulnya, sudah lama tidak mandi bersama."


Dave pun langsung bangkit dan menyusul istrinya yang sedang mandi dibawah guyuran air shower. Tanpa menunggu lama, Dave pun langsung bergabung bersama Sevia. Namun, saat keduanya sedang saling bertukar saliva dengan tangan Dave yang bergerilya ke sana ke mari menyentuh tiap titik sensitif istrinya, terdengar suara Devanya yang menangis karena dia terbangun tidak menemukan siapa pun dia kamar.


Sevia segera menyudahi acara mandinya yang mampu membuat dia terbang melayang. Begitupun dengan Dave yang terpaksa harus bersolo karir karena tidak mungkin menuntaskan hasratnya sementara putrinya sedang menangis.


"Via, Sebaiknya kita tinggal di rumah Tante Icha dulu, agar ada yang membantu menjaga Deva," ucap Dave saat keduanya sedang bersiap untuk pergi ke rumah Keluarga Putra.


"Tapi aku malu, Dave! Apalagi Om kamu seperti tidak suka sama aku," sahut Sevia.


"Om Al memang seperti itu sama orang yang baru, tapi sebenarnya dia baik." Dave mencium pipi chuby putrinya yang menggemaskan. Dia tidak menyangka di usianya yang baru 23 tahun sudah memiliki seorang putri yang menggemaskan.


"Dave, bagaimana dengan barang-barang aku yang ada di rumah kontrakan?" tanya Sevia.

__ADS_1


"Kasihkan saja pada sahabatmu, lagipula nanti kita punya rumah sendiri, sudah ada barang yang baru di sana," ucap Dave enteng.


"Dave, tapi aku juga punya usaha online. Kasihan Rani kalau mengurusnya sendiri, dia pasti kerepotan," keluh Sevia.


"Via, kamu ingin hidup bersamaku tidak? Bukankah seorang istri harus ikut suaminya ke mana pun dia pergi? Aku merasa aneh sama kamu, perasaan aku transfer uang yang lumayan banyak sebelum pergi ke tempat janjian, kenapa kamu tidak memakainya untuk membeli rumah dan perabotan yang layak?" tanya Dave.


"Karena aku selalu berharap bisa bertemu lagi denganmu. Aku selalu meminta pada Tuhan agar kita dipertemukan lagi." Sevia menundukkan kepalanya. Dia teringat saat masa-masa sulit itu. Saat dia hamil dan membutuhkan sosok seorang suami di sisinya, tapi pada kenyataannya dia harus berjuang sendiri. Beruntung ada Rani yang memperhatikan kehamilannya.


"Maaf, aku tidak ada di samping kamu saat kamu harus berjuang untuk kelahiran putri kita." Dave langsung mencium kening Sevia. Hatinya pun merasa sakit karena membiarkan istrinya harus berjuang sendiri. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin ceritanya akan berbeda.


"Tidak apa, Dave! Aku hanya minta, jangan pernah tinggalkan aku lagi tanpa kepastian!" Sevia menatap ke dalam manik Dave. Iris mata yang selalu dia kagumi, kini seakan meyakinkannya kalau mereka akan selalu bersama dan akan terus saling memiliki satu sama lain.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, istriku sayang, tante mesumku, ibu dari anak-anakku," ucap Dave dengan tersenyum nakal. "Te amo, mi amor Sevia."


"Apa Dave? Teh ramo? Memang ada?" tanya Sevia yang tidak mengerti dengan apa yang Dave katakan


Astaga! Aku bilang cinta katanya teh ramo. Ya ampun, aku ingin cepat-cepat sampai rumah Tante Icha biar bisa menitipkan Deva padanya. Lalu aku akan mengurung cewek ini karena sudah membuat aku tergila-gila padanya, batin Dave.


Pipi Sevia langsung merona merah mendengar apa yang dikatakan oleh Dave. Hatinya berbunga-bunga, seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Meskipun suasananya tidak romantis, tetap saja membuat ibu muda itu merasa sangat bahagia mendengar pernyataan cinta dari suaminya.


"Aku juga mencintaimu, Dave!" ujar Sevia dengan malu-malu.


"Aku tahu! Meskipun kamu tidak pernah mau mengakuinya, tapi aku yakin kalau kamu sudah jatuh cinta sama aku dari dulu," jawab Dave enteng seperti tanpa beban.


"Kho kamu gitu sih, Dave?" tanya Sevia merengut.


"Sudah, ayo kita ke rumah Tante!" ajak Dave.


...***...

__ADS_1


Saat sampai di kediaman Putra, nampak banyak mobil yang terparkir dihalaman rumah megah itu. Dave langsung menggenggam tangan Sevia yang terasa dingin karena gugup. Dia terus menyakinkan semuanya akan baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum," ucap Dave di ambang pintu yang sedang terbuka.


"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang sedang berkumpul di ruang tamu.


"Wah, ini dia pencuri kecilnya! Kamu mencuri start Dave dengan mendahului semua sahabatmu menikah," seloroh Oryza, salah satu sahabat mamanya Dave. "Padahal aku berharap memiliki menantu bule sepertimu," lanjutnya.


"Ryza, jangan bahas yang tidak-tidak." Icha langsung memberi peringatan pada sepupu suaminya. "Via, kenalin ini semua sahabat juga sepupu omnya Dave."


Sevia hanya menganggukan kepala dengan tersenyum malu lalu berkata," Iya, Tan!"


"Apa kabar, Om?" Dave langsung bersalaman dengan semua orang yang ada di sana dan diikuti oleh Sevia.


"Om baik, Dave! Apa ini putrimu? sangat mirip denganmu." Oryza melirik sekilas ke arah Sevia yang nampak malu-malu berada di sana.


"Iya, Om! Aku ke atas dulu, sepertinya Devanya ingin minum susu," Dave langsung berpamitan pada para orang tua yang sedang berkumpul di sana.


"Sayang sekali Dave menikah dengan gadis itu. Padahal aku ingin dia menjadi menantuku, tapi Edelweiss malah memilih Barra."


"Namanya juga jodoh, Za! Buktinya mau menikah dengan Zee juga tidak jadi."


"Sudah Ryza, kamu jangan mengungkitnya lagi. Mungkin putrimu memang tidak berjodoh dengan Dave."


Meskipun samar-samar, tetapi apa yang dikatakan oleh orang yang berada di ruang tamu itu masih terdengar jelas di telinga Sevia, sehingga membuat ibu muda itu seman merasa sungkan berada di tengah-tengah keluarga Dave.


Mungkin aku bukan menantu yang diharapkan oleh keluarga ini. Aku sadar memang aku tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga Dave yang kaya raya ini. Karena aku hanya seorang anak yang tidak memiliki apa-apa, bahkan kasih sayang seorang ibu pun tidak aku miliki.


...~Bersambung~...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya kawan! Biar othor tambah semangat update.


__ADS_2