
Langit yang tadinya terang benderang mendadak gelap. Hujan pun mengguyur bumi tanpa permisi. Keano dan Devanya yang masih berada di luar langsung masuk ke dalam bungalow.
"Kenapa hujannya mendadak lebat. Bagaimana mau pulang?" keluh Devanya pelan.
"Nginap di sini saja ya, kalau hujan suka licin jalan yang pas turunan itu," saran Keano.
"Tapi, Bang. Kita kan belum ...."
"Kamu jangan khawatir, Abang tidak akan melakukan hal yang di luar batas. Abang masih harus belajar bagaimana cara membahagiakan istri di tempat tidur."
Seriusan Bang Ano gak tahu hal yang gitu-gituan? Kenapa kalah sama Ion? Apa mungkin Ion sudah biasa berciuman dengan gadis lain?
"Kenapa bengong? Apa kamu kecewa sama Abang?" tanya Keano dengan menatap lekat Devanya.
"Bukan begitu maksudku, Bang. Aku hanya heran dengan Abang."
"Heran kenapa? Apa karena Abang tidak bisa mencium kamu?" tanya Keano
Bukannya menjawab, Devanya hanya cengengesan dengan apa yang Keano katakan. Dia malu jika Keano mengira kalau dia menginginkan ciuman dari pangeran berkuda putihnya. Sementara Keano yang merasa tertantang, dia pun langsung mencari tahu mengenai posisi berciuman yang membakar gairah.
Setelah melihat videonya, dia langsung menelan ludahnya kasar. Tiba-tiba pandangannya berkabut menahan hasrat yang bergejolak. Dia melirik Devanya yang sedang asyik dengan ponselnya. Perlahan Keano pun mendekat dan duduk di samping Devanya.
"Bang, mama dan papa pulang besok. Mereka minta dijemput di bandara," ucap Devanya.
"Besok Abang antar."
"Bang, pulang yuk! Hujannya sudah reda," ajak Devanya.
Keano langsung melihat ke arah jendela. Benar saja, kini hujan yang tadinya deras ternyata sudah berhenti. Dia seperti tidak punya alasan untuk menahan Devanya agar tetap bersamanya melewati malam yang dingin.
"Ayo!" Keano langsung bangun dari duduknya. Sebisa mungkin dia menetralkan hasratnya yang sudah membara.
Bang Ano kenapa jadi diam lagi? Apa dia tidak suka aku ajak pulang?"
__ADS_1
Selama perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Keano asyik dengan pikirannya sendiri. Begitupun dengan Devanya yang terus bertanya dalam hatinya dengan perubahan sikap Keano yang mendadak.
Tiba di rumah Devanya, nampak rumah yang sepi. Devan Davin pun sepertinya belum pulang dari pesta. Begitupun dengan Diandra yang memang bersama dengan Davin.
Setelah Keano menghentikan mobilnya, dia menengok ke arah Devanya yang duduk di sampingnya. Ternyata gadis bermata biru itu sudah terlelap dalam tidurnya. Keano pun mencondongkan badannya untuk melepaskan seat belt. Namun, posisinya yang begitu dekat dengan Devanya, membuatnya mencuri kecupan sekilas pada tunangannya.
Kenapa aku menjadi mesumm begini? Padahal sebelumnya, aku tidak pernah berpikiran untuk melakukan hal intim seperti ini pada gadis yang bukan muhrim aku. Rasanya, aku ingin cepat-cepat menikahinya agar bisa merasakan surganya dunia seperti yang dikatakan oleh orang-orang, batin Keano.
Tidak ingin aksinya ketahuan, Keano langsung turun dari mobilnya dan membuka pintu samping Devanya. Perlahan, dia mengangkat tubuh seksih gadis yang dicintainya. Berkali-kali dia menelan ludahnya kasar, saat melihat belahan dada gadis yang sedang tertidur pulas dalam gendongannya.
Sampai di kamar Devanya, perlahan Keano membaringkan kekasih hatinya di ranjang dengan seprai motif galaksi. Sedikit pun tidur Devanya tidak terganggu. Gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada Keano.
Tuhan, kenapa imanku setipis ini? Ingin sekali aku mengecupnya, batin Keano.
Merasa takut terjadi hal yang tidak diinginkannya, Keano pun langsung melepaskan pelukan Devanya perlahan. Lalu dia menyelimuti gadis itu hingga ke dadanya sebelum dia pergi ke rumahnya.
Selepas kepergian Keano, perlahan Devanya membuka mata. Dia tersenyum tipis dengan apa yang Keano lakukan padanya. Hatinya senang karena merasa sudah memilih lelaki yang tepat untuk menjadi pendampingnya.
Devanya pun langsung mengganti bajunya lalu pergi ke dalam kamar mandi untuk membersihkan make-up. Saat dia keluar dari kamar mandi, terdengar bunyi ponselnya yang berbunyi. Dia pun langsung mengambilnya dan melihat siapa yang menelponnya malam-malam.
"Davin, tumben nelpon," gumam Devanya. Gadis bermata biru itu langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo Vin, ada apa?" tanya Devanya saat sudah tersambung.
"Kakak gawat, aku di kantor polisi terkena rajia. Kakak cepat ke sini!" pinta Davin diseberang sana.
"Rajia kenapa?"
"Cepat ke sini dulu, nanti aku jelaskan."
"Ya sudah Kakak berangkat sekarang. Share located ya!"
Klik
__ADS_1
Devanya langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia pun bergegas memakai jaket hitam kesayangannya. Tanpa menunggu waktu lama, gadis bermata biru itu langsung mengambil motor sport kesayangannya yang sudah lama tidak dia pakai.
Tidak butuh waktu lama buat gadis itu sampai di kantor polisi tempat Davin di periksa. Dia langsung masuk ke kantor polisi tanpa membuka helm-nya. Terlihat Davin dan Diandra yang duduk bersebelahan di depan seorang petugas polisi. Devanya pun langsung menghampiri adiknya.
"Selamat malam, Pak! Apa ada masalah dengan adik saya?" tanya Devanya. Dia pun langsung membuka helm yang sukses membuat petugas polisi itu melongo.
"Pak, kakak saya bertanya," tegur Davin.
"Oh iya, begini dek. Adik adek cantik ini telah melakukan hal asusila. Dia dan pacarnya terkena rajia saat mereka check-in di sebuah hotel. Untuk itu kami terpaksa menikahkan mereka berdua," ucap polisi itu.
"Davin, bagaimana bisa?!! Kamu juga, Dian. Kenapa mau diajak gak bener sama bocah ini?" pekik Devanya kaget.
Dia tidak menyangka adiknya akan melakukan hal senekat itu. Meskipun dia tahu kalau Davin begitu tergila-gila pada Diandra tapi cara dia mendapatkannya kenapa harus dengan cara yang gak bener?
"Kakak, nasi sudah menjadi bubur. Aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai berada di kamar dan melakukan hal yang iya-iya. Padahal aku inginnya melakukan hal itu dalam keadaan sama-sama sadar dengan Diandra," ucap Davin melas.
"Lalu Devan ke mana?" tanya Devanya.
"Sedang mencari penghulu untuk menikahkan kami," jawab Davin lagi.
Sementara Diandra hanya menunduk malu. Dia tidak mengerti kenapa bisa berada di dalam kamar hotel dengan Davin. Bahkan mereka sama-sama tertidur dengan pakaian yang tidak terpakai dengan baik.
"Sudah telpon papa?" tanya Devanya.
"Jangan, Kak! Jangan bilang mama sama papa! Nanti kalau mereka marah bagaimana. Lalu menyuruh Tante Rani ke luar dari rumah bagaimana?"
"Ya tanggung jawab kamu lah. Udah punya penghasilan sendiri juga. Kamu harus bertanggung jawab pada Diandra dan mamanya kalau kamu akan menikahi dia."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1