Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Kita akan bertemu tidak lama lagi!


__ADS_3

KHUSUS 62+ 🤭


Matthew sedang menunggu Vivian dengan perasaan cemas, sudah hampir pagi kenapa Vivian belum kembali juga?


Seharusnya dia tidak cepat kembali tadi dan melihat apa yang dilakukan oleh Vivian terlebih dahulu.


Matahari mulai terbit sedangkan Matthew keluar dari pintu dan berdiri di sana. Dia bahkan tidak tidur sama sekali dan dia harap Vivian cepat kembali.


Beberapa menit menunggu, terdengar suara motor Vivian. Senyum Matthew langsung mengembang saat melihat Vivian kembali. Vivian memarkirkan motornya dan setelah itu dia langsung berlari ke arah Matthew yang sudah membuka kedua tangannya.


Vivian melompat masuk ke dalam pelukan Matthew karena dia sangat senang misinya berhasil dan semua itu berkat bantuan Matthew.


"Kenapa kau baru kembali?"


"Sory, banyak yang harus aku lakukan."


"Bagaimana dengan misimu?"


"Jangan pura-pura tidak tahu!" jawab Vivian.


Matthew terkekeh dan mencium pipi Vivian yang terasa dingin karena terpaan angin.


"Terima kasih, aku bisa berhasil karena berkat bantuanmu."


"Sttts, bukan aku. Semua bisa berhasil berkat kerja sama teammu dan aku hanya membantu sedikit. Tapi jika kau ingin berterima kasih, berterima kasihlah pada adikku."


"Apapun itu aku sangat berterima kasih," ucap Vivian seraya mencium pipi Matthew.


"Oh babe, sekarang waktunya kita berdua!"


"Mau apa?"


"Stts!" Matthew mencium bibir Vivian dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.


Mereka menuju kamar sambil berciuman dan setelah tiba di dalam kamar, Matthew mengusap wajah Vivian dengan senyum diwajahnya.


"Pergilah mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu."


"Thanks, kau begitu perhatian."


"Ini hanya untukmu babe dan aku hanya memanjakanmu saja."


"Oh ya? Apa kau tidak punya pacar sebelumnya?"


"Mantan pacarku banyak tapi yang paling aku inginkan cuma dirimu saja. Gadis yang sangat aku cintai juga yang sangat ingin aku manja hanya dirimu saja dan aku akan memberikan apapun yang kau mau!"


Wajah Vivian memerah saat mendengarnya, apakah rasa cinta Matthew untuknya sebesar itu?


"Baiklah, dasar kau playboy penggoda!" Vivian menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Matthew terkekeh dan mencium pipi Vivian, "Pergilah mandi, nanti airnya dingin!"

__ADS_1


Vivian mengangguk dan segera membuka jaketnya. Setelah selesai mandi dia ingin langsung tidur karena dia lelah dan sudah mengantuk.


Tanpa menaruh curiga sama sekali, Vivian masuk ke dalam kamar mandi. Seperti yang dikatakan oleh Matthew, air hangat sudah tersedia di dalam bathup.


Vivian membuka bajunya satu persatu dan masuk ke dalam bathup. Berendam air hangat bisa mengurangi rasa lelah di tubuhnya sejenak. Dia segera menuang aroma terapi dan juga sabun, Vivian memainkan air sampai sabun mengeluarkan banyak busa tapi pada saat itu Matthew masuk ke dalam kamar mandi dengan sebuah handuk melilit di pinggangnya.


"Oh my God!" Vivian kaget bukan kepalang saat melihatnya dan dia mulai sibuk menutupi tubuhnya dengan busa sabun.


"Kenapa kau masuk kemari?!" teriak Vivian dan dia tampak panik.


"Mandi denganmu, aku belum mandi!" jawab Matthew dengan santai seraya membuka handuk yang melilit di pinggangnya.


"Oh my God Matth!" teriak Vivian dan dia langsung menutup kedua matanya.


Matthew hanya terkekeh dan masuk ke dalam bathup, sedangkan wajah Vivian semakin memerah dan jantungnya berdetak dengan cepat. Apa Matthew sudah gila?


"Babe," Matthew mendekati Vivian.


"Ja...jangan mendekat!" Vivian mundur kebelakang. Dia semakin gugup dan sangat panik saat Matthew meraih tangannya yang sedang sibuk menutupi matanya.


"Babe, aku sudah di dalam air jadi tidak perlu menutupi matamu lagi!"


"Kau...kau curang!"


Matthew hanya tersenyum, jika tidak begitu mereka tidak akan pernah mandi bersama dan dia harap setelah ini Vivian akan terbiasa.


Matthew menarik Vivian hingga masuk kedalam pelukannya dan mencium bahunya, hal itu membuat jantung Vivian seperti genderang dan dia sendiri bisa mendengar detakannya.


"Ma...Matth?"


Vivian mengangguk sedangkan Matthew memandangi wajahnya dan mengusapnya dengan lembut.


"Bolehkah aku menyentuhnya?" bisik Matthew dan tangannya sudah mengusap punggung Viivian.


"Ti...tidak boleh!" tolak Vivian.


"Hanya menyentuhnya. Boleh bukan? Aku berjanji tidak akan seperti orang yang melecehkanmu waktu kecil dan jika kau takut maka aku akan menghentikannya."


Vivian memandangi Matthew sejenak tapi tidak lama kemudian dia mengangguk dengan wajah memerah, tidak ada salahnya dia mencoba. Lagi pula mau sampai kapan dia harus selalu merasa takut? Lebih baik dia melawan rasa takut yang ada di dalam hatinya.


Karena Vivian sudah mengijinkannya, Matthew mencium bibir Vivian dan mel*matnya dengan lembut. Vivian melingkarkan kedua tangannya ke leher Matthew, sedangkan tangan Matthew sudah merayap mendekati dada Vivian.


Jantung Vivian semakin berdebar dan tubuhnya mulai bereaksi merasa takut saat tangan Matthew sudah hampir tiba didua bukitnya yang menantang.


Vivian menahan tangan Matthew Karena dia merasa tidak bisa tapi Matthew mencium wajahnya dan berbisik, "Jangan takut babe, tidak akan sakit."


"Uhm," Vivian melepaskan tangan Matthew dan memberanikan dirinya.


Matthew kembali mencium bibir Vivian dengan lembut, sedangkan satu tangannya sudah bergerak ke bokong Vivian dan satu tangannya lagi bergerak ke dada Vivian yang menantang.


Vivian semakin gelisah dan rasanya dia ingin memukul Matthew tapi dia harus berusaha menahannya. Dengan perlahan, tangan Matthew me*emas dada Vivian.

__ADS_1


Dibalik ciuman mereka Vivian mulai mengerang, Matthew melepaskan bibir Vivian dan mencium lehernya. Tubuh Vivian mulai bergetar dan dia semakin memeluk leher Matthew dengan erat apalagi jari Matthew sudah memainkan ujung dadanya dan bibir Matthew terus menyelusuri lehernya, menciumnya dan terkadang meninggalkan tanda di sana.


"Matth?"


"Stts, nikmati saja dan jangan banyak berpikir."


Vivian mengangguk dengan nafas memburu, rasanya sudah tidak tahan ingin menyudahi semuanya apalagi dia sangat mengantuk.


Bibir Matthew terus kebawah sedangkan satu jarinya masih bermain diujung dada Vivian dan membuat Vivian mengerang karena perbuatannya.


"Matth, aku?"


"Yes babe."


"Bisa lain kali kita lanjutkan? Aku sangat mengantuk," pinta Vivian dengan wajah memerah.


"Oh babe, tentu saja. Hari ini cukup sampai di sini dan ini perkembangan yang sangat bagus tapi lain kali, aku akan melakukan lebih dari pada ini!" ucap Matthew.


"Ti...tidak mau!" Vivian memalingkan wajahnya yang memerah.


Matthew terkekeh dan mencium wajah Vivian kembali dan setelah itu Matthew melepaskan Vivian dan bangkit berdiri.


Vivian menunduk tidak berani melihat tubuh Matthew, setelah memakai handuk, Matthew membantu Vivian berdiri, melilitkan handuk di tubuhnya dan menggendongnya keluar.


Dia bahkan membantu mengeringkan tubuh Vivian, walaupun merasa malu tapi Vivian diam saja membiarkan Matthew mengeringkan tubuhnya dan memakaikan bajunya.


Setelah berpakaian mereka berdua naik ke atas ranjang karena mereka belum tidur semalaman dan butuh istirahat.


"Tidurlah babe," ucap Matthew seraya mencium dahi Vivian.


"Hm," Vivian masuk ke dalam pelukan Matthew dan tertidur karena dia memang sudah sangat mengantuk dan lelah.


Disaat semua orang sedang sibuk melakukan aktifitas mereka, Vivian dan Matthew tidur dengan pulas dan di tempat lain, seorang pria melempar ponselnya dengan kemarahan di hati dan pria adalah Carlk.


Dia terbangun dari tidurnya saat mendengar ponselnya berbunyi. Carlk mengira itu adalah kabar baik tapi sayangnya kabar buruk yang dia dapat.


Kerugian yang harus dia tanggung karena barang-barangnya disita benar-benar membuatnya marah apalagi saat dia tahu jika memang ada yang membantu Vivian sehingga misi yang dijalani Vivian berhasil.


Carlk mengumpat marah sambil mengusap rambutnya, sepertinya dia harus mengubah strategi.


Dia kembali ke arah ponselnya yang telah dia lemparkan untuk menghubungi mata-matanya.


"Jebak dia supaya orang yang membantunya menampakkan diri!" perintahnya sambil berteriak.


"Baik mr M," jawab si penghianat.


Calrk kembali melemparkan ponselnya dan memaki, sepertinya dia harus menemui Vivian untuk mencari tahu sendiri siapa yang ada di belakangnya.


"Aku terlalu meremehkanmu Vivi. Tunggulah, kita akan bertemu tidak lama lagi! Sebelum aku menjadikanmu pionku untuk balas dendam, aku harus menyingkirkan orang yang ada di belakangmu supaya tidak menggagalkan rencanaku!" ucap Carlk dengan kemarahan di hati.


Dia akan memanfaatkan rasa cinta yang ada di hati Vivian untuknya dan mereka akan kembali seperti dulu tapi dia tidak tahu jika saat ini Vivian tertidur dengan pulas dalam pelukan kekasihnya yang tampan.

__ADS_1



#Carlk# cocok ngak 🤔


__ADS_2