
Vivian membawa motornya dengan kecepatan tinggi karena dia sudah tidak sabar untuk segera tiba bahkan dia terus menerjang hujan yang kembali turun dengan deras.
Sepertinya cuaca akan buruk beberapa hari ini dan dia harap dia tidak sakit karena air hujan. Bukan tanpa alasan dia terburu-buru ingin cepat sampai di rumah, selama perjalanan pulang yang ada di dalam pikiran Vivian hanya ada Marck Wriston.
Vivian benar-benar curiga dengan Marck Wriston dan dia yakin orang ini ada hubungannya dengan kasus yang dia tangani akhir-akhir ini apa lagi banyak kejahatan yang terjadi atas nama Maxton.
Sepertinya ini bukan kebetulan belaka dan sebaiknya dia pulang untuk memikirkan hal ini baik-baik.
Saat lampu merah menyala, Vivian menghentikan motornya. Di dalam kepalanya masih dipenuhi dengan banyak pertanyaan tapi bukan mengenai masalah pribadinya tapi ini mengenai kasus yang sedang dia tangani.
Selama menunggu tiba-tiba saja dia teringat jika waktu itu Matthew pernah menyebut nama Wriston tapi dia lupa nama bagian depannya, pantas saja dia merasa tidak asing dan dia curiga orang itu ada hubungannya dengan Marck Wriston jadi sebaiknya dia menanyakan hal ini pada Matthew.
Setelah lampu berwarna hijau, Vivian segera membawa motornya dengan kecepatan tinggi, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera sampai.
Di rumah, Matthew sudah menunggunya dan tampak gelisah. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan dia harap Vivian segera pulang apa lagi, hujan tidak juga berhenti di luar sana.
Matthew berdiri di depan jendela dan melihat keluar, dia sudah menghubungi Jager dan mereka berkata Vivian sudah pulang. Kemungkinan Vivian sudah hampir sampai dan benar saja, tidak lama kemudian tampak motor Vivian memasuki pekarangan rumah.
Matthew tersenyum dan berjalan menuju pintu sambil membawa sebuah handuk di tangannya dan ketika Vivian turun dari motornya, Matthew sudah menunggunya di depan pintu.
Vivian segera berlari sambil menggerutu, "Aku benci hujan!"
"Bagaimana pertemuanmu dengan Maxton babe?" tanya Matthew seraya meletakkan handuk di atas kepala Vivian.
"Begitulah tapi ada hal yang lebih penting yang ingin aku bahas Matth," jawab Vivian sambil membuka sepatunya yang basah.
"Oh ya? Apa itu?"
"Nanti saja, aku mau mandi dulu, dingin," jawab Vivian sambil mengusap lengannya yang terasa dingin.
"Baiklah, pergilah mandi dan aku akan membuatkan minuman hangat untukmu."
"Thanks," ucap Vivian seraya mengecup bibir Matthew dan setelah itu dia melangkah menuju kamar sedangkan Matthew pergi membuatkan minuman hangat untuknya.
Vivian mandi dengan cepat karena dia sudah tidak sabar mencari tahu siapa Marck Wriston, semoga dia dapat petunjuk setelah ini.
Ketika dia sudah selesai mandi, Matthew sudah menunggunya dan sedang duduk di sisi ranjang. Vivian mengambil bajunya dari dalam lemari sedangkan Matthew menghampirinya dan mengambil handuk yang ada di atas kepalanya.
"Apa yang dibicarakan Maxton babe?" tanya Matthew seraya mengeringkan rambut Vivian.
"Dia menceritakan kejadian dua puluh lima tahun yang lalu ketika istrinya diculik setelah melahirkan putrinya," jawab Vivian.
"Lalu? Apa kau mendapatkan jawabannya?" tanya Matthew lagi sedangkan Vivian mengangguk.
__ADS_1
"Aku sudah memberikan rambutku padanya Matth dan sekarang, aku menunggu kedua orang tuaku tiba karena aku juga ingin mendengar penjelasan dari mereka."
"Itu bagus tapi sedikit saran untukmu babe," Matthew memutar tubuh Vivian dan mengusap wajahnya dengan lembut.
"Jika sudah terbukti bahwa kau adalah putri Jager Maxton, aku harap kau tidak membencinya karena dia juga korban dan dia tidak tahu jika kau masih hidup."
"Aku tahu Matth, walaupun butuh waktu tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Aku senang mendengarnya dan satu hal lagi, kau juga tidak boleh marah pada kedua orang tuamu karena telah merahasiakan hal ini. Mereka pasti punya alasannya dan kau harus mendengarkan penjelasan mereka dengan kepala dingin dan aku harap kau bisa mengambil keputusan yang tepat."
Vivian tersenyum dan memeluk Matthew sambil berkata, "Aku tahu Matth, terima kasih atas nasehatmu."
"Jadi, ada hal penting apa yang ingin kau bahas?" tanya Matthew seraya mengusap punggungnya.
"Oh kau benar, aku hampir melupakannya," Vivian berjalan menuju meja dan mengambil minuman hangat yang diletakkan oleh Mattew dan duduk di sisi ranjang.
"Ada apa?" Matthew mendekati Vivian dan duduk di sampingnya.
"Tadi Jager menyebut sebuah nama dan aku ingat kau juga pernah menyebutnya," jawab Vivian.
"Siapa babe?"
"Marck Wriston," jawab Vivian dengan cepat.
"Matth, dari cerita yang aku dengar Marck Wriston adalah sahabat baik Jager dan dialah yang menculik istri dan putri Jager Maxton. Aku sempat bertanya apakah mereka adalah musuh dan Jager mengatakan jika mereka memang musuh tapi dia telah membunuh Marck Wriston lima tahun yang lalu. Terus terang saja aku curiga jika kasus yang aku tangani ada hubungannya dengan hal ini."
Matthew memandangi Vivian dengan serius, apa yang dikatakan oleh Vivian ada benarnya dan dia ingin mendengar teori Vivian yang tiba-tiba bisa mencurigai Marck Wriston.
"Nona detektif, coba katakan padaku kenapa tiba-tiba kau menyimpulkan hal demikian? Aku sangat ingin mendengarnya."
"Hei aku tidak sedang bercanda!"
"Aku juga tidak sayang, katakan padaku apa teori mu, mungkin setelah ini kita bisa memecahkan kasus ini bersama-sama."
"Baiklah, dengarkan aku. Aku rasa kasus yang aku tangani memang ada hubungannya dengan Marck Wriston karena banyak kejahatan yang dilakukan atas nama Maxton dan barang yang kami sita sewaktu di pelabuhan juga atas nama Maxton. Buronanku selalu menggunakan inisal M dan aku rasa dia menggunakan nama Marck. Waktu di cafe buronanku juga menggunakan wajah Damian dan menurut informasi yang aku dapat dari Jager waktu itu, Damian tinggal di Jepang dan kemungkinan tidak ada yang tahu bagaimana rupanya tapi kenapa buronanku bisa menggunakan wajah Damian?"
"Jadi menurutmu seseorang yang memiliki hubungan dengan Marck Wriston ingin membalas kematian Marck karena Jager telah membunuhnya?" tanya Matthew.
"Tepat sekali Matth, ini terbukti orang itu selalu menggunakan nama Maxton dan mungkin saja orang ini ingin aku menangkap Maxton. Aku juga curiga orang ini sangat tahu hubunganku dengan Maxton, itu sebabnya dia selalu menantangku dan jangan-jangan dia ingin mengadu domba aku dengan Maxton."
"Teori yang bagus dan kau harus tahu, akhir-akhir ini ada orang yang ingin membunuhku dan dia juga menggunakan nama Maxton."
"See, aku tidak salah bukan? Memang ada yang ingin membalas dendam dan menghancurkan Maxton. Mungkin dia ingin Maxton mati di tanganmu atau dia ingin aku yang menangkap Maxton. Aku curiga orang ini berhubungan dengan Marck Wriston dan jika aku tidak salah ingat waktu itu kau pernah menyebut nama Wriston, siapa dia Matth?"
__ADS_1
"Gary Wriston dan dia adalah putra dari Marck Wriston," jawab Matthew.
"Gary Wriston?" Vivian diam sejenak dan tidak lama kemudian, Vivian dan Matthew saling pandang dan pada saat itu mereka menyadari sesuatu.
"Jangan-jangan," ucap mereka secara bersamaan.
"Oh Tuhan aku sungguh tidak menyangka jika kejadian ini memberiku petunjuk dan aku akan menyelidiki orang ini besok," ucap Vivian seraya bangkit berdiri.
"Mau ke mana babe?" Matthew menahan tangan Vivian.
"Mengambil laptop, aku ingin melihat rupanya."
"Tidak ada gunanya karena kau tidak akan bisa menemukannya di media manapun. Aku ada fotonya di kantor dan besok aku akan membawanya pulang."
"Benarkah?"
"Yes dan kau harus ingat, kau harus berhati-hati menghadapi Gary Wriston. Dia orang yang licik babe dan sebaiknya hal ini kita berdua saja yang tahu. Aku akan membantumu menyelidikinya secara diam-diam dan ingat jangan mengulangi kesalahan karena bisa saja ada mata-mata Gary di kantormu."
"Baiklah Matth, kau benar. Sebelum menemukan bukti aku akan merahasiakan hal ini dari semua rekanku," ucap Vivian dan dia kembali duduk tapi kali ini dia duduk di atas pangkuan Matthew.
"Sudah malam, ayo kita tidur," ajak Matthew sambil mencium dahi Vivian.
"Baiklah tapi tunggu dulu," ucap Vivian dan dia memandangi Matthew dengan curiga.
"Ada apa?"
"Ngomong-ngomong Matth, kenapa kau punya foto Gary Wriston di kantormu? Jangan katakan kau dengannya?" Vivian pura-pura shock.
"Enak saja!" jawab Matthew dengan cepat.
"Oh tidak, aku tidak percaya ini," Vivian masih menggoda Matthew dan bangkit berdiri.
"Hei!"
"Sepertinya aku harus menyelidiki hal ini," ucap Vivian lagi dan dia hendak berjalan pergi tapi Matthew sudah menangkap tubuhnya.
"Sembarangan, sini kau!" Matthew membawa Vivian ke atas ranjang dan men*ndihnya.
"Matth aku hanya bercanda."
"Kau harus dihukum babe."
"Apa? Tidak!" ucap Vivian tapi tidak lama kemudian, terdengar suara teriakannya karena Matthew sedang menghukumnya.
__ADS_1
Vivian harap semoga kali ini tebakannya tidak salah dan besok dia akan melihat rupa Gary Wriston. Setelah melihatnya, dia akan menyelidiki Gary secara diam-diam tapi bagaimana reaksinya saat dia tahu jika Gary Wriston adalah Carlk!