Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Trouble maker


__ADS_3

Setelah menghubungi Maxton, Vivian duduk di sofa sambil menghela nafasnya. Kapan dia bisa menyelesaikan misinya dan kembali ke Inggris?


Misinya kali ini benar-benar sulit dipecahkan tapi dia tidak akan menyerah. Dia merasa semakin tertantang dan akan terus mencari tahu siapa sebenarnya pria berinisil M yang sedang menantangnya bahkan dia tidak perduli jika harus kalah taruhan dengan kakeknya.


Setelah misinya selesai barulah dia akan kembali ke Inggris dan selama misinya belum selesai maka dia tidak akan kembali.


Vivian kembali menghela nafasnya dan pada saat itu, Matthew menghampiri Vivian dan duduk di sampingnya.


"Aku perhatikan sedari tagi kau selalu menghela nafasmu, ada apa babe?"


"Tidak ada apa-apa," jawab Vivian tapi matanya menerawang jauh.


"Jika ada apa-apa katakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu!"


Matthew memandangi wajah cantik Vivian, sedangkan Vivian diam saja sambil berpikir, " Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh seorang supir seperti Freddy?"


"Babe?" Matthew jadi penasaran karena Vivian diam saja.


"Tidak ada Fredd, aku hanya ingin sendiri saja jadi bisa tinggalkan aku?" pinta Vivian.


"Tidak!" tolak Matthew dan dia segera merangkul bahu Vivian.


"Freddy!" protes Vivian sambil menyingkirkan tangan Matthew.


"Biarkan aku seperti ini babe, aku tidak tahu ada apa denganmu apalagi kau tidak mau mengatakannya padaku tapi biarkan aku memelukmu! Mungkin dengan demikian perasaanmu bisa sedikit membaik."


Vivian diam saja dan membiarkan Matthew memeluknya dan mengusap kepalanya, dengan perlahan Vivian menyandarkan kepalanya di bahu Matthew dan memejamkan matanya.


Belaian tangan Matthew dan kehangatan tubuhnya membuat perasaanya nyaman dan tanpa dia sadari air matanya mengalir begitu saja.


"Babe, kenapa kau menangis?" Matthew memegangi dagu Vivian dan memandangi wajahnya.


Vivian hanya menggeleng, dia sendiri tidak tahu kenapa dia menagis. Apa ini karena dia teringat dengan Carlk? Atau karena sentuhan tangan Matthew atau dia sedang rindu dengan keluarganya?


Vivian tidak mau memikirkannya bahkan dia diam saja saat Matthew mencium dahinya dan mendekapnya semakin erat.


"Babe."


"Hm?"


"Boleh aku mencium bibirmu?"


"Enak saja!" jawab Vivian.


Matthew tekekeh dan mengusap punggung Vivian, setidaknya dia sudah pernah merasakannya satu kali.


"Kenapa? Apa Carlk belum pernah menciummu?"


"Tidak! Kau orang pertama yang berani menciumku!"


"Wow, benarkah?" senyum Matthew langsung mekar karena dia senang.


"Ya, jadi awas kau jika berani menciumku tanpa sepengetahuanku. Akan aku tendang kau keluar!" ancam Vivian.


"Hm, oke," jawab Matthew. Untung saja Vivian tidak tahu jika dia sudah mengambil ciuman pertamanya.

__ADS_1


Matthew kembali tersenyum dan mendekap Vivian semakin erat, jika begitu dia akan jadi pria pertama bagi Vivian dan dia adalah pria paling beruntung saat Vivian sudah jadi miliknya.


"Oke baiklah, lepaskan! Aku mau membersihkan rumah," Vivian mendorong tubuh Matthew dan merapikan rambutnya.


"Aku akan membantu," ucap Matthew.


"Bersihkan kamarmu sana!" Vivian bangkit berdiri dan merenggangkan otot-otot tangannya ke atas, sedangkan Matthew juga bangkit berdiri dan memeluk Vivian dari belakang.


"Setelah ini jangan lupa taruhan kita babe," bisiknya.


"Aku tahu! Sana bersihkan kamarmu dan ingat jangan sampai ada satu barangpun yang pecah atau rusak! Jika sampai ada maka habis kau!" ancam Vivian.


"Tenang saja, aku ahli dalam bersih-bersih!" jawab Matthew menyombongkan dirinya.


"Awas kau, aku mau cuci baju jadi keluarkan baju kotormu!" Vivian melepaskan tangan Matthew yang melingkar di tubuhnya dan melangkah pergi.


"Siap bos!" jawab Matthew dan dia sengera masuk kedalam kamar untuk mengambil bajunya.


Vivian mengambil keranjang baju dan menyalakan mesin cuci, selama mencuci dia akan membersihkan kamarnya dan setelah itu dia akan membersihkan dapur dan ruang tamu.


Di dalam kamar, Matthew melihat kamar yang dia tempati dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


Dari mana dia harus memulai dan apa yang harus dia bersihkan? Sungguh dia tidak tahu tapi dia terlanjur menyombongkan diri tadi jadi jangan sampai Vivian tahu jika dia hanya berkata bohong.


"Fredd, mana baju kotormu?" Vivian mengetuk pintu kamar.


"Sebentar babe," teriak Matthew dan dia segera mengambil baju kotornya.


"Kenapa begitu lama?" tanya Vivian saat Matthew telah membuka pintu.


"Sory babe, aku sedang berpikir apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu," jawabnya.


"Oke," jawab Marthew.


Vivian kembali ke mesin cuci sedangkan Matthew pergi mengambil alat kebersihan. Saat melihat benda-benda itu dia mulai bingung, yang mana harus dia gunakan?


Karena tidak mau menunda jadi dia asal ambil saja, sebotol cairan pembersih, sebuah alat pel, sebuah sarung tangan dan kain lap dia bawa masuk ke dalam kamar.


Vivian melihat Matthew yang masuk kedalam kamar dan melihat apa yang dia bawa, sepertinya pria itu bisa melakukannya jadi dia diam saja dan masuk kedalam kamar.


Di dalam kamar, Matthew mulai dengan experimennya. Dia tidak mau bertanya pada adiknya lagi karena dia tahu adiknya juga tidak tahu apa-apa.


"Ini hal mudah!" ucapnya sambil menuangkan cairan pembersih ke atas lantai.


Semua sudut dan lantai dia beri cairan pembersih lantai dan tidak hanya menuangkannya di lantai tapi dia juga menuangkannya di kamar mandi sampai satu botol pembersih yang berisi lima liter habis semua.


Dia berniat membersihkan semuanya dengan sekali pel dan setelah selesai, Matthew mulai membasahi kain pel di kamar mandi.


"Ups sialan licin!" umpatnya saat dia berjalan keluar dan menginjak cairan pembersih yang ada di atas lantai.


Dengan hati-hati, Matthew berjalan menuju sudut ruangan yang tidak jauh dari jendela karena dia akan mulai dari sana.


Dia mulai membersihkan lantai dan melangkah mundur tapi pembersih yang terdapat di atas lantai benar-benar licin sampai membuatnya hampir jatuh berkali-kali.


"Sialan, sepertinya aku salah!" umpatnya tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain membereskan kekacauan yang dia buat. Jangan sampai Vivian tahu jika tidak gadis itu pasti akan marah.

__ADS_1


Dengan hati-hati Matthew kembali membersihkan lantai tapi cairan pembersih yang yang ada di atas lantai semakin licin akibat kain pel nya.


Matthew mengumpat dalam hati dan terus melangkah mundur dan pada saat mendekati jendela, kaki Matthew menginjak cairan pembersih hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuh Matthew jatuh kebelakang dan pada saat itu?


"Prang!" gagang pel yang dia pegang mengenai kaca jendela hingga pecah.


"Oh my!" ucap Matthew dan dia mulai panik.


Vivian segera berlari menuju kamar saat mendengarnya, apa yang terjadi?


"Freddy? ada apa?" teriaknya.


"Jangan masuk babe!" teriak Matthew tapi sayang, Vivian sudah membuka pintu dan tanpa tahu jika di atas lantai terdapat begitu banyak cairan pembersih dan licin, Vivian masuk kedalam dan?


"Gubrak!" tubuhnya terpeleset dan jatuh ke atas lantai.


"Oh my God, pinggangku!" ucap Vivian sambil meringis kesakitan.


"Bukankah sudah aku katakan jangan masuk?"


Vivian menatap Matthew yang sedang duduk di atas lantai dengan tajam dan setelah itu dia melihat lantai.


"Oh my God, apa-apaan ini?" tanya Vivian saat melihat seluruh lantai dipenuhi cairan pembersih.


"Sory babe, cairannya tumpah!" dusta Matthew seraya bangkit berdiri dan menghampiri Vivian.


"Benarkah?" Vivian benar-benar tidak percaya.


"Yes," Matthew mengulurkan tangannya untuk membantu Vivian bangun dari atas lantai.


"Lalu suara apa tadi? Apa yang kau pecahkan?" tanya Vivian seraya menyambut uluran tangan Matthew.


"Hm. itu," jawab Matthew sambil menunjuk ke arah jendela yang pecah gara-gara ulahnya.


"Oh my God, kau benar-benar trouble maker! Aku bisa bangkrut gara-gara kau!" ucap Vivian kesal saat melihat kaca jendela yang pecah.


"Sorry babe."


"Sorry..Sorry enak saja!" Vivian mendorong tubuh Matthew dengan sekuat tenaga.


"Babe, licin!" Matthew memegangi tangan Vivian tapi sayang, kaki Vivian tergelincir dan membuat tubuhnya jatuh ke belakang.


"Oh no!" Vivian berteriak dan meraih tangan Matthew hingga mereka berdua jatuh ke atas lantai.


"Freddy!" Vivian berteriak kesal karena Matthew menimpa tubuhnya.


"Oh my God, sorry babe. Kali ini bukan salahku karena kau yang menarikku!"


"Minggir!" pinta Vivian kesal dan setelah Matthew bangun dari atas tubuhnya, Vivian meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya.


"Sepertinya tidak saja jatuh bangkrut tapi pinggangku juga akan patah!" keluh Vivian kesal.


"Aku benar-benar minta maaf babe."


Vivian menghembuskan nafasnya dan melihat lantai yang dipenuhi cairan pembersih, salahnya sudah mempercayai pria itu dan sekarang dia tidak mau mempercayainya lagi.

__ADS_1


"Dasar trouble maker!"


Matthew terkekeh dan membantu Vivian, seharusnya dia menghubungi adiknya tadi supaya dia tahu apa yang harus dia lakukan.


__ADS_2