Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Permintaan Clarina 2


__ADS_3

Clarina benar-benar tampak gelisah dan terus melihat jam dipergelangan tangannya, dia harap orang yang dia tunggu cepat datang agar dia bisa cepat pulang.


Dari layar komputer Michael mengawasi Clarina dan dia sudah siap menghubungi kakaknya jika seandainya pria yang akan ditemui oleh Clarina adalah musuh kakaknya.


Di sebuah kamar di hotel itu, seorang pria sudah menunggu dan pria itu adalah Thomas.


Dia tidak akan menemui Clarina di restoran tapi dia akan membawa Clarina masuk ke dalam kamar untuk menemuinya.


Mendapatkan putri wali kota sangat menguntungkan dirinya, dia bisa menjalankan bisnis ilegalnya dengan mudah.


Posisi ayah Clarina yang ada di dalam pemerintahan benar-benar dapat dia manfaatkan. Jika dia bisa menjadikan Clarina miliknya maka bisnis yang akan dia jalankan di masa depan tidak akan mengalami kesulitan.


Thomas menunggu dengan sabar dan meminta seseorang mengantarkan sebotol Anggur yang sudah di beri obat untuk Clarina.


Clarina benar-benar sudah tidak sabar dan pada saat seorang pelayan menghampirinya dengan sebotol Anggur, Clarina berusaha tersenyum.


"Aku tidak memesan Anggur!" ucap Clarina.


"Ini dari tuan Thomas nona, dia meminta kami mengantarkan Anggur ini untuk nona nikmati karena dia akan sedikit terlambat," jawab pelayan itu.


"Baiklah terima kasih," ucap Clarina tanpa curiga sama sekali.


Pelayan itu menuangkan Anggur ke dalam gelas untuk Clarina, Clarina masih belum menyentuh gelas itu dan dia harap Thomas segera datang tapi dia tidak tahu jika Thomas sudah menunggunya di kamar.


Sementara itu di arena tinju, Vivian sudah mulai lelah. Dia memang memukul Matthew tapi tidak satu pukulannya mengenai wajah Matthew. Itu karena setiap kali pukulannya hendak mengenai wajah Matthew, Matthew selalu melindungi wajahnya menggunakan lengannya.


Matthew mengikuti permainan Vivian dan ingin membuat gadis itu lelah. Menjatuhkan Vivian adalah hal mudah dan akan dia lakukan nanti.


Vivian tampak terengah-engah dan menatap Matthew dengan tajam. Dia benar-benar kesal, kenapa setiap pukulannya tidak mengenai wajah Matthew?


Tenaganya benar-benar sudah habis dan dia rasa sudah hampir terkapar di atas lantai ring tapi seadainya dia kalah, dia tidak mau kalah dengan mudah.


Matthew hanya tersenyum, sepertinya sudah saatnya mengakhiri semuanya apalagi ini sudah malam dan dia juga harus tahu bagaimana keadaan Clarina.


"Apa kau menyerah babe?"


"Tidak akan!" jawab Vivian dan dia sudah siap dengan tinjunya.


Vivian mulai memukul dari arah kanan tapi Matthew menahan tinjunya menggunakan lengannya bahkan saat Vivian memukul dari arah kiri, Matthew melakukan hal yang sama.


Karena sudah kelelahan, gerakan Vivian melambat dan setiap gerakannnya dapat dibaca oleh Matthew.


Vivian benar-benar tidak mau menyerah, dia terus berusaha memukul karena dia tidak mau Matthew menang. Jika sampai dia kalah, sungguh dia tidak bisa membayangkan apa yang akan diminta oleh pria itu.


Dengan sisa tenaga yang ada dan sebelum lonceng tanda permainan berakhir berbunyi, Vivian kembali memukul tapi lagi-lagi Matthew menahan tangannya dan kali ini, Matthew menangkap leher Vivian dan berkata, "Kau kalah babe!" Matthew langsung menjatuhkan Vivian ke atas lantai ring.


Vivian terengah-engah dan dadanya tampak turun naik. Matthew menelan ludahnya saat melihatnya apalagi Vivian memakai baju olahraga yang minim.


"Kau...curang!" ucap Vivian disela-sela nafasnya yang masih terengah-engah.


"Enak saja, aku tidak curang! Kau sudah kalah jadi bersiaplah mengabulkan permintaanku tapi nanti!" ucap Matthew dan dia segera bergegas turun dari atas ring.


"Hei, kau mau kemana?" tanya Vivian.


"Nanti aku kembali!" jawab Matthew.


Dia harus melihat apakah adiknya ada menghubunginya? Jangan sampai dia mengabaikan hal ini karena bisa saja orang yang ingin ditemui Clarina memang Thomas musuhnya.


Yang pertama diambil oleh Matthew adalah ponselnya dan benar saja, Michael sudah menghubunginya berkali-kali. Tidak ingin membuang waktu, Matthew langsung menghubungi adiknya.


"Ada apa?"


"Astaga kak, cepatlah pergi menolong Clarina!" pinta adiknya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Sepertinya dia diberi obat!"


"Apa?"


"Cepat kak, seorang pelayan hendak membawa Clarina pergi."


"Damn! Terus awasi aku akan pergi ke sana dan cobalah untuk menghubunginya!" perintahnya.


"Baik kak!"


Setelah berbicara dengan adiknya, Matthew mengganti bajunya dengan terburu-buru. Semoga Clarina sedikit pintar dan bisa melindungi dirinya sampai dia datang.


Memang beberapa saat yang lalu, karena bosan menunggu. Clarina meminum Anggurnya sampai beberapa gelas dan setelah itu dia mulai merasa tidak nyaman dan tubuhnya terasa panas.


Pelayan yang mendapat perintah dari Tomas langsung mendekati Clarina karena dia akan membawanya ke atas.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" pelayan itu pura-pura khawatir.


"Panas," jawab Clarina.


"Apa anda sakit nona?" pelayan itu masih pura-pura dan Clarina mengatakan hal yang sama.


"Ayo ikut denganku untuk beristirahat."


Pelayan itu hendak memapah tubuh Clarina tapi pada saat itu, ponsel Clarina berbunyi. Clarina masih punya kesadaran untuk mengambil dan menjawab ponselnya.


"Hallo," suaranya terdengar berat dengan nafas yang memburu.


"Clarina, pergi dari sana dan sembunyi. Kakak sedang menuju ke sana!" perintah Michael.


"Kenapa?"


Clarina langsung sadar dengan situasi yang dia hadapi dan dengan kekuatan yang ada, dia mendorong tubuh pelayan yang hendak memapahnya pergi.


"Le..lepaskan!" pintanya.


"Nona aku akan membawamu untuk beristirahat," ucap pelayan itu.


"Tidak!" Clarina mulai berjalan pergi dengan sempoyongan.


Tubuhnya semakin terasa panas dan keringat membanjiri tubuhnya, rasanya semakin tidak nyaman dan rasanya dia ingin membuka seluruh bajunya.


Pelayan itu segera menghubungi Thomas, apakah dia perlu mengejar wanita itu?


"Tuan Thomas dia pergi, apa yang harus aku lakukan?"


"Dasar bodoh! Kejar dan bawa kemari!" teriak Thomas marah.


"Baik tuan," pelayan itu segera berlari untuk mengejar Clarina.


Clarina benar-benar berusaha agar tetap sadar, dia masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia pikir hal itu bisa mengurangi rasa panas di tubuhnya ternyata dia salah.


"Matt, cepatlah datang aku sudah tidak tahan!" gumamnya.


Ketika Clarina mendengar suara langkah kaki, dia langsung bersembunyi di dalam kamar mandi. Jangan sampai ada yang melihat dirinya dalam keadaan seperti itu.


Palayan tadi terus mencari Clarina dan masuk ke dalam kamar mandi, jantung Clarina berdegup dengan cepat apalagi saat pelayan itu memanggilnya dan mengecek setiap ruangan yang ada di kamar mandi.


Di luar sana, Matthew menghentikan mobilnya dan memarkirkannya dengan sembarangan. Dia segera berlari memasuki hotel dan berlari menuju kamar mandi di mana Clarina berada.


Michael terus mengabari keadaan Clarina selama dia menuju ke sana. Matthew bahkan langsung pergi dengan terburu-buru tanpa mengatakan lagi kepada Vivian karena dia tidak mau membuang waktu.

__ADS_1


Dia harus bergegas menolong sahabatnya dan jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Clarina.


"Kamar mandi disebelah mana?" tanya Matthew pada adiknya.


"Tidak jauh lagi kak, Clarina masuk ke sana dan tidak keluar lagi dan seorang pelayan juga menyusulnya tadi!" jawab Michael.


"Baiklah!" Matthew segera berlari menuju kamar mandi yang dimaksud oleh adiknya.


Di dalam kamar Mandi, pelayan tadi sedang berusaha mendobrak pintu Karena dia harus segera membawa Clarina.


"Nona, ayo keluar! Aku akan membantumu!" ucap pelayan itu terus berusaha mendobrak pintu.


"Per..pergi!" ucap Clarina dengan suara berat.


"Ayolah, Kau tidak akan tersiksa lagi jika kau ikut denganku!"


Pelayan itu masih mendobrak dan pada saat itu juga?


"Brak!" pintu kamar mandi ditendang oleh Matthew hingga terbuka.


Pelayan itu sangat kaget, kenapa laki-laki itu masuk kedalam kamar mandi wanita?


Matthew menghampiri pelayan itu dengan api kemarahan terpancar dari matanya. Beraninya seorang pelayan membantu menjebak Clarina?!


"Tu..tuan ini kamar mandi wanita," ucap pelayan itu sambil berjalan mundur.


"Beraninya kau!!" tanpa banyak bicara Matthew menendang pelayan itu hingga tubuhnya terpental kedinding.


Pelayan itu berteriak dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Clarina, ini aku. Ayo buka pintunya!" pinta Matthew sambil mengetuk pintu.


"Matt, Matthew?" tanya Clarina dengan suara lemah.


"Ya, cepat buka pintunya!"


Dengan susah payah dan dengan kekuatan yang ada, Clarina membuka pintu dan pada saat melihat Matthew, Clarina langsung memeluknya dan tampak lega.


"Matt, tubuhku panas. Tolong bantu aku," pinta Clarina.


"Ayo pergi dari sini," Matthew mengangkat tubuh Clarina.


"Tu..tunggu!" pinta pelayan itu dengan tubuh bergetar sambil memegangi perutnya yang ditendang oleh Matthew.


Matthew menghentikan langkahnya, orang yang bernama Thomas ini benar-benar sudah keterlaluan. Mau dia musuhnya atau bukan, dia tidak takut.


"Katakan pada Thomas, jika dia tidak terima maka cari aku Matthew Smith dan jika dia berani melakukan hal seperti ini lagi pada Clarina, maka aku yang akan mencarinya dan menghabisinya!"


Setelah berkata demikian, Matthew membawa Clarina pergi sedangkan perkataannya langsung sampai ke telinga Thomas.


Di dalam kamar Thomas mencengkram gelas Brandy nya dangan erat. Kenapa Matthew Smith membantu Clarina? Apa mereka memiliki hubungan spesial?


Apapun itu, dia tidak akan melepaskan mereka dan dia akan membalas Matthew Smith karena sudah mengganggunya dan juga membalas Clarina karena telah menolaknya. Tunggu saja, waktu untuk membalas dan menghabisi mereka akan segera tiba.


Sementara itu di dalam gendongan Matthew, Clarina sudah tidak bisa menguasai dirinya lagi. Tangannya mulai menyentuh dada Matthew dan dia juga memohon.


"Matt, peluk aku Matt, aku sangat menginginkanmu!"


"Tahanlah sebentar lagi!"


"Tidak, kau tahu aku sangat mencintaimu jadi aku sangat menginginkanmu dan peluk aku sekarang, please."


Matthew diam saja dan membawa Clarina kedalam mobil, Clarina benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya lagi dan tidak mau lepas dari pelukannya dan terus memohon supaya Matthew memeluknya.

__ADS_1


Matthew benar-benar frustasi. Apa yang harus dia lakukan?


__ADS_2