
Saat itu Carlk sangat marah karena keberadaan Vivian tidak diketahui setelah kedua mata-mata yang dia utus menyerangnya.
Agen yang menjadi mata-matanya juga tidak tahu di mana keberadaan Vivian apalagi, Vivian tidak menjawab panggilan di ponselnya. Itu karena semua barang-barang Vivian ada di rumah Matthew dan selama dirawat di rumah sakit, Matthew tidak mengambilkan barang-barangnya. Dia ingin Vivian beristirahat tanpa memikirkan pekerjaannya.
Hilangnya Vivian tanpa kabar membuat Charlk bertanya-tanya, apakah Vivian mati saat ledakan terjadi? Tapi itu tidak mungkin karena tubuh Vivian tidak ditemukan direruntuhan.
Jangan-jangan Vivian dibawa pergi oleh pria yang bersama dengannya dan pria itu menyembunyikannya. Entah mengapa rasa penasarannya semakin besar, sepertinya dia harus menangkap orang yang membantu Vivian saat itu untuk diintrogasi. Pria itu pasti tahu Keberadaan Vivian dan mungkin saja pria itu juga tahu siapa yang membantu Vivian.
Carlk memutar langkahnya dan pada saat itu, telephone yang ada di atas mejanya berbunyi. Carlk segera duduk untuk menjawab panggilan dari seseorang yang selalu memberinya informasi selama ini.
Sebuah alat pengeras suara yang ada di telephone sudah ditekan, Calrk mengangkat kakinya ke atas meja dan berbicara dengan orang itu.
"Bagaimana Mr M, apa ada kendala?" terdengar suara seorang wanita sedang berbicara dengannya.
"Ck, agen yang kau tunjuk untuk menjadi mata-mataku di sini kurang pandai!" jawab Carlk.
"Maaf Mr M, hanya dia yang bisa memberikan informasi selama Angel di sana. Walaupun bodoh tapi percayalah, dia bisa dipercaya. Aku jamin dia akan memberikan informasi apapun yang kau inginkan dan aku juga yakin dia akan selalu mengacaukan misi Angel untuk menangkapmu."
"Baiklah, tapi ada satu hal yang aku ingin kau lakukan!"
"Katakan Mr M, apapun itu akan aku lakukan!" jawab wanita itu.
"Bagus, aku ingin kau mengawasi keluarga Angel yang ada di sana," perintahnya.
"Untuk apa Mr M?"
"Mereka adalah pionku yang paling penting dan pada saatnya nanti, peran mereka sangat penting jadi awasi mereka! Bukankah kau juga sangat ingin menyingkirkan Angel? Setelah dia tidak ada maka karirmu akan menanjak ke atas," ucap Carlk dengan seringai di wajahnya.
Orang yang sangat terobsesi memang mengerikan dan dia memanfaatkan obsesi wanita itu untuk mencapai tujuannya.
Pertemuan mereka disebuah club malam adalah sebuah kebetulan yang luar biasa. Peran alkohol sangat penting waktu itu sehingga dia bisa tahu jika wanita yang sedang membantunya saat ini sangat membenci Vivian. Rasa benci wanita itu terhadap rekan kerjanya, dia manfaatkan dengan baik bahkan berkat dialah, bisnis gelap yang dia jalani di Inggris selalu berjalan dengan lancar tanpa pernah diketahui oleh pihak berwajib dan berkat wanita itu juga, dia bisa tahu jika Vivian akan menyergapnya saat dia akan melakukan transaksi di club malam The Ministry of Sound sewaktu di Inggris.
"Hanya mengawasi mereka itu perkara mudah Mr M, aku akan melakukannya tapi jangan lupa mentransfer jatahku dan jatah si bodoh itu. Jika dia tidak mendapat bayaran maka dia tidak akan menjadi mata-mata kita lagi."
"Tidak perlu khawatir, aku akan segera mengirimkan jatah kalian berdua!" ucap Carlk.
__ADS_1
"Terima kasih Mr M, senang berbisnis denganmu," ucap wanita itu sambil tersenyum puas.
Bertemu dengan pria yang menyebut dirinya sebagai M benar-benar menguntungkan. Tidak saja bisa mendapatkan uang tapi dia juga bisa menyingkirkan rekan kerjanya dan yang lebih menguntungkan dirinya adalah, dia tidak perlu melenyapkan Angel menggunakan kedua tangannya.
Tidak saja mendapatkan uang tapi dia juga bisa menyingkirkan Angel, Walaupun dia tidak tahu kenapa pria yang menyebut dirinya sebagai M sangat ingin menyingkirkan Angel tapi ambisi mereka sama dan mereka saling membutuhkan.
Sementara itu di rumah sakit, Vivian hendak membuka kancing piyama yang dia pakai dengan ragu karena saat itu Matthew ingin membersihkan tubuhnya.
Dia sudah menolak dan meminta Matthew mamanggil perawat tapi Matthew tidak mau karena ini adalah kesempatan yang tidak boleh dia lewatkan sama sekali.
Kedua tangan Vivian sudah berada di kancing bajunya, sedangkan Matthew sudah menunggunya membuka baju dengan tidak sabar. Rasanya dia ingin menarik tangan Vivian dan membuka kancing bajunya karena Vivian begitu lama.
"Ayolah babe, kenapa kau ragu seperti itu?"
"A...aku malu!" jawab Vivian dengan wajah memerah.
"Aku sudah melihatnya babe jadi jangan malu."
"Apa? Dasar menyebalkan!" wajah Vivian semakin memerah sedangkan Matthew terkekeh.
"Jangan khawatir babe," Matthew menyingkirkan tangan Vivian dan meraih kancing bajunya.
"Baiklah tapi tutup matamu!" pinta Vivian. Walaupun Matthew pernah melihatnya tapi entah mengapa saat ini dia merasa malu.
"Baiklah, tidak masalah!" ucap Matthew seraya menutup kedua matanya.
Vivian membuka kancing bajunya setelah Matthew menutup matanya, dengan perlahan Vivian membuka piyama dan juga bra yang dia pakai.
"Sudah," ucap Vivian dan pada saat itu Matthew membuka matanya.
"Wow!" Mata Matthew langsung tertuju pada dua bukit kembar Vivian yang menantang.
"Kau, curang! Tutup matamu cepat!" Vivian menutupi mata Matthew menggunakan kedua tangannya.
"Siapa yang curang! Aku sudah menutup mataku tadi!" Matthew berusaha menyingkirkan tangan Vivian yang menghalangi matanya untuk memandangi pemandangan indah yang ada di depannya.
__ADS_1
"Oh my God, kau benar-benar penipu ulung!" Vivian menutupi dadanya menggunakan lengannya dan tampak kesal.
"Sudahlah, hanya aku lihat saja dan tidak bisa aku curi. Tapi nanti?" Matthew menekuk-nekukkan jari jamarinya di depan Vivian.
"Saat kau sudah sembuh, bersiaplah menerima remasan jari-jari tanganku ini," ucapnya lagi sambil tersenyum dengan nakal.
"Dasar kau mesum! Cepat lakukan, dingin!" pinta Vivian dengan wajah memerah.
"Serahkan padaku!" Dengan menggunakan sebuah handuk basah, Matthew menyeka tubuh Vivian.
Vivian diam saja dan memandangi Matthew yang tampak begitu serius, dia merasa tidak mudah bertemu dengan pria aneh tapi penuh kasih sayang seperti Matthew Smith.
"Thanks," ucapnya sambil menunduk.
"Hm? What do you say babe?"
"I just say, thank you," Vivian menyentuh wajah Matthew dan tersenyum.
"Oh babe, jangan mengodaku. Jika bukan karena lukamu maka akan aku terkam kau sekarang!" Matthew meraih tangan Vivian dan mencium tangannya.
Vivian hanya tersenyum dan tanpa Matthew duga, Vivian mendekatinya dan mencium wajahnya.
"Oh damn, jangan sampai aku berakhir di kamar mandi!" umpat Matthew dalam hati karena rasanya dia sangat ingin meremas dua bukit milik Vivian tapi dia berusaha menahannya.
Tidak mau berlama-lama Matthew segera membersihkan punggung Vivian dan menyingkirkan rambutnya yang panjang.
Matthew menghentikan tangannya sejenak saat melihat sebuah tanda di bagian belakang telinga Vivian tapi setelah itu dia kembali menyeka bahu Vivian dan tidak mau bertanya karena dia pikir itu pasti sebuah tanda lahir saja.
Begitu selesai Matthew membantu Vivian memakaikan piyama bersih dan merapikan rambutnya.
"Sudah selesai! Sekarang tidurlah, kau butuh istirahat."
"Mau menemaniku?" goda Vivian.
"Oh my, dengan senang hati!"
__ADS_1
Vivian tersenyum dan merebahkan dirinya di atas ranjang, seperti itu tidak buruk. Lagi pula dia bisa melihat jika Matthew Smith sangat tulus dan benar-benar serius dengannya.
Dia harap jika dia bertemu dengan Carlk suatu saat nanti, Carlk tidak kecewa karena sudah ada seorang pria yang menggantikan posisinya di dalam hatinya dan orang itu sedang memeluknya saat ini juga menciumnya dengan mesra.