
Waktu sudah menunjukan jam delapan malam dan hujan masih turun dengan deras di luar sana.
Setelah selesai makan, Vivian dan Matthew duduk di ruang tamu berdua dan tampak begitu serius. Mereka seperti itu karena Matthew sedang mengajari beberapa bom yang dia bawa.
Vivian tampak begitu serius mendengarkan setiap ucapan Matthew dan sungguh itu adalah ilmu yang sangat berguna baginya apalagi, bom yang diperlihatkan oleh Matthew sama sekali belum dia lihat sebelumnya.
Banyak yang ingin dia tanyakan tapi dia kesampingkan karena dia lebih fokus dengan setiap ucapan Matthew mengenai benda-benda yang ada di depannya.
Hampir dua jam mereka seperti itu dan setelah menjelaskan bom yang terakhir, Matthew memandangi Vivian, sedangkan Vivian mengangguk.
"Apa kau sudah mengeri babe?"
"Hm, tapi ada satu yang belum begitu aku pahami," jawab Vivian.
"Yang mana, jika ada yang belum kau pahami tanyakan saja, aku pasti akan mengatakannya padamu."
"Yang ini," Vivian mengambil sebuah model bom yang menyerupai sebuah rompi.
"Apa yang belum kau pahami?"
"Kau bilang bom ini tidak bisa dijinakkan bukan?"
"Yes," Matthew mendekati Vivian dan memeluknya dari belakang.
"Kalau begitu, seadainya seseorang dipakaikan bom ini lalu bagaimana kita harus menolongnya?"
"Babe, tidak semua bom bisa dijinakkan dan untuk model ini, tidak bisa dijinakkan."
"Jadi? Kita akan menonton orang itu mati meledak, begitu?"
"Tidak juga," jawab Matthew seraya merentangkan bom yang berupa rompi di depan mereka.
"Segala sesuatu ada kelemahannya babe. Walaupun bom ini tidak bisa dijinakkan tapi jika kau tahu kelemahannya maka bisa kau lepaskan dan kau punya waktu lima menit untuk lari saat bom ini sudah lepas dari tubuh korban."
"Oh ya?"
"Sepertinya kau tidak menyimak penjelasanku tadi. Apa kau lebih kagum dengan ketampananku sampai kau tidak mendengarkan penjelasanku?" goda Matthew.
"Enak saja!" protes Vivian, sedangkan Matthew terkekeh.
"Dengarkan penjelasanku baik-baik jika tidak aku akan menciummu nanti!"
"Ck, memang itu maumu bukan?"
__ADS_1
"Oh babe, jangan lupa imbalan untukku nanti!"
"Setelah ini ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Vivian.
"Oh ya? Apa itu?" Matthew mengusap dahi Vivian dan mencium pipinya. Sekarang Vivian tidak menolak dan tidak takut lagi saat dicium olehnya dan sepertinya malam ini dia akan mendapatkan ciuman spesial.
Dia harap Vivian segera memiliki perasaan untuknya dan mulai menerima Cintanya agar dia bisa menjadikan Vivian miliknya secepatnya.
"Nanti saja, sekarang katakan padaku bagaimana caranya menangani bom ini. Kau tahu musuhku selalu bermain dengan bom dan aku khawatir, dia akan menyandera seseorang dan memasang bom ini ketubuhnya."
"Baiklah, perhatikan ini," ucap Matthew sedangkan Vivian mengangguk.
"Perhatiin kedua pemicu yang ada di sisi kanan dan sisi kiri yang terdapat pada benda ini. Kedua pemicu ini berbeda tapi pada saat bom diaktifkan secara otomatis kedua pemicu ini juga aktif. Satu hal yang harus kau ingat, saat kau ingin memotong kabelnya maka potong kabel merah pada pemicu sebelah kiri dan kabel orange pada pemicu sebelah kanan. Jangan terkecoh dengan warna dan kau harus memotong warna kabel yang berbeda."
"Lalu kenapa bom ini masih bisa meledak?" tanya Vivian penasaran.
"Tentu bisa sayang. Kedua kabel itu bukan untuk mematikan bom tapi supaya bom tidak meledak saat dilepaskan dan kau harus perhatikan pemicu lain yang tersembunyi di belakang rompi," Matthew membalikan bom itu dan menunjuk sebuah pemicu lain yang benar-benar tersembunyi.
"Wow," ucap Vivian.
"Sekarang sudah paham bukan?"
"Yes, thanks."
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
Matthew mengikuti langkah Vivian dan memperhatikan Vivian yang sedang meneguk segelas air hangat. Setelah Vivian selesai, Matthew meraih pinggang Vivian, mengangkatnya dan mendudukkan Vivian di atas meja.
"Hei!" Vivian ingin protes tapi tidak jadi karena Matthew memandangi matanya dengan lekat.
"Jadi apa yang ingin kau tahu?" tanya Matthew lagi karena setelah Vivian bertanya, dia sudah ingin mengutarkan permintaannya.
"Aku ingin tahu, kenapa kau bisa tahu jika ada orang mencurigakan yang sedang melihatku saat di Cafe."
Matthew diam saja, dia tidak menyangka Vivian akan menanyakan hal ini tapi jangan panggil dia Matthew Smith jika dia tidak bisa menjawabnya.
"Kenapa kau diam saja?" Vivian melihatnya dan tampak curiga, jangan-jangan pria itu mengikutinya tadi.
"Aku hanya menebak!" jawab Matthew.
"Tidak mungkin!" Vivian benar-benar tidak percaya.
"Percayalah babe, aku bisa meramal dan sekarang, aku bisa melihat jika kau akan jadi istriku nanti."
__ADS_1
"Hei, itu sih kemauanmu!"
Matthew terkekeh dan mengusap wajah Vivian, "Mau aku tahu dari mana tidak penting yang pasti aku akan selalu membantumu jadi percayalah padaku," ucapnya.
"Baiklah, aku tidak akan mempermasalahkannya dan terima kasih atas bantuanmu hari ini."
Vivian tersenyum dan mengangkat tangannya untuk mengusap wajah Matthew, hal itu membuat Matthew sedikit terkejut dan dia segera menangkap telapak tangan Vivian bahkan menciumnya.
"Babe, apa kau sudah memiliki perasaan untukku?" Matthew mendekati Vivian dan memeluknya.
"Aku tidak tahu, tapi aku akan melupakannya," jawab Vivian seraya melingkarkan kedua tangannya ke leher Matthew.
"Benarkah?" Matthew benar-benar tidak percaya mendengarnya dan dia benar-benar senang.
"Uhm, aku tidak mau seperti orang bodoh yang selalu menunggunya dan walaupun kau hanya seorang supir yang mempunyai banyak hutang tapi kau tidak begitu buruk!"
"Hei, apa maksudmu?!"
"Aku...aku akan belajar mencintaimu," ucapnya dan dia sangat malu mengatakan hal ini. Vivian menyembunyikan wajahnya yang memerah ke leher Matthew dan jantungnya berdegup dengan cepat.
"Are you serious babe?" Matthew benar-benar tidak percaya mendengarnya. Mimpi apa dia semalam?
"Uhm," jawab Vivian sambil mengangguk.
"Oh my!" Matthew mengangkat tubuh Vivian dan memutarnya, dia melakukan hal itu karena dia benar-benar senang.
"Freddy!" Vivian memegangi bahunya karena kepalanya mulai pusing.
"Oh aku benar-benar senang. Entah apa yang terjadi padamu tapi aku berjanji padamu, kau tidak akan menyesal telah memilihku."
"Benarkah?"
Matthew menghentikan aksinya dan tersenyum sambil memandangi Vivian.
"Ya, bukankah sudah aku katakan padamu? Kau tidak akan pernah menyesal untuk seumur hidupmu dan aku akan membantumu melupakan dia dengan cepat."
"Terima kasih," Vivian memeluk leher Matthew dan entah kenapa dia merasa bahagia.
"Aku banyak kekurangan jadi jangan tinggalkan aku seperti Carlk!" pinta Vivian.
"Bodoh, harusnya itu ucapanku. Kau tahu aku hanya seorang supir yang punya banyak hutang dan kau mau menerima aku yang seperti ini, aku senang kau mau menerima aku tanpa memandang statusku," ucap Matthew dan sungguh, walaupun dia berbohong, Vivian adalah gadis pertama yang mau menerimanya tanpa memandang status dan kedudukan.
"Mungkin aku sudah gila, tapi sekarang kau tidak perlu khawatir saat depcolector mengejarmu, kau tidak akan lari sendirian karena aku akan mengikutimu."
__ADS_1
"Hahahahaha!" Matthew tertawa dan mencium pipi Vivian.
Matthew menggendong Vivian begitu lama dan rasanya tidak ingin dia lepaskan. Bahkan jika bisa dia ingin menghentikan waktu agar malam itu tidak cepat berlalu.