
Wanita yang sedang memeluknya dari belakang benar-benar membuat Vivian kesal. Rasanya dia Ingin mendorong tubuh wanita itu karena wanita itu seperti menghalanginya untuk melawan dua puluh orang pria yang ada di depannya.
Para pria itu tersenyum dengan jahat sambil memukul-mukul tongkat di atas telapak tangan mereka. Bukannya dia tidak bisa melawan, tapi wanita yang ada di belakangnya benar-benar menyulitkan dirinya.
Seharusnya dia sudah menangkap pria itu tadi tapi kenapa wanita ini malah berlari ke arahnya? Apa ini juga jebakan?
"Ayo nona, serahkan wanita itu dan bergabunglah dengan kami untuk bersenang-senang!" ucap salah satu pria yang ada di sana.
"Tidak jangan! Nona, tolong aku. Aku tidak mau diperkosa oleh mereka!" ucap wanita itu memohon sambil memeluk Vivian dengan erat.
"Ck, bisakah kau melepaskan aku?! Kau memelukku seperti ini dan membuatku tidak bisa melawan mereka!" ucap Vivian. Rasanya ingin dia pukul wanita itu sampai pingsan.
"Aku takut!" jawab wanita itu sambil menangis.
"Tangkap mereka!" teriak salah seorang pria yang ada di sana.
Vivian mengarahkan pistolnya tapi wanita itu benar-benar mengganggunya sehinga dia mengalami kesulitan untuk menembak.
"Tidak nona, aku takut!" teriak wanita itu ketakutan.
"Oh astaga! Kau benar-benar menyebalkan!"
Vivian benar-benar kesal, dia ingin membantunya apa wanita itu tidak tahu? Tanpa pikir panjang Vivian mendorong tubuh wanita itu sekuat tenaga hingga tubuhnya jatuh terjerambab ke atas lantai.
Wanita itu berteriak dan memaki dalam hati, dia sungguh tidak menyangka Vivian akan mendorongnya dan bokongnya sangat sakit akibat tergesek aspal jalan.
Vivian menarik sebuah pistolnya lagi dari pinggangnya dan pada saat melihatnya wanita itu langsung bangkit berdiri dan menarik tangan Vivian.
"Lari!" ucapnya karena dia harus mengulur waktu sampai Vivian memanggil bantuan untuk membantunya.
Vivian ditarik dan terpaksa lari, dalam hatinya benar-benar kesal, apa wanita ini bodoh? Dia punya dua buah pistol sedangkan mereka hanya memegang tongkat. Pakai logika anak kecil juga akan tahu jika tongkat tidak akan bisa melawan pistol.
"Kejar!" kedua puluh pria yang ada di belakang mereka mulai mengejar sedangkan Vivian terus berlari mengikuti wanita itu.
Mereka berlari masuk kesebuah lorong yang sempit dan bersandar pada dinding bangunan yang ada. Mereka mengatur nafas mereka sedangkan Vivian mengintip dari balik tembok untuk melihat kedua puluh orang pria yang mengejar mereka tadi.
__ADS_1
"Sepertinya kita tidak bisa lari," ucap wanita itu.
"Kenapa kau menarikku? Padahal aku bisa menghabisi mereka!" jawab Vivian kesal.
"Kau tidak akan menang! Coba lihat tubuh mereka? Sebaiknya kita memanggil bantuan!" ucap wanita itu lagi.
Vivian melihat wanita itu dengan penuh selidik, fellingnya mengatakan jangan-jangan wanita ini bekerja sama dengan pria yang dia kejar tadi.
Rasa curiganya semakin besar Karena sejak tadi wanita itu seperti menghalanginya untuk menembaki kedua puluh pria itu.
"Menurutmu, siapa yang harus kita panggil untuk membantu kita?" tanya Vivian memancing.
"Temanmu mungkin, kau punya bukan?"
Vivian tersenyum, ternyata dugaannya tidak salah. Ingin menjebaknya dengan permainan seperti ini? Dia sudah empat tahun jadi agen dan jebakan seperti ini tidak akan bisa menjebaknya.
"Oke!" jawab Vivian menyetujui usul wanita itu dan berpura-pura mengambil ponselnya.
Wanita itu tersenyum, mangsa sudah masuk ke dalam perangkap dan sebentar lagi dia akan tahu siapa yang membantu Vivian tapi tanpa dia duga, Vivian menarik tangannya dan meninju ulu hatinya.
"Kau yang memaksaku!" ucap Vivian dan matanya mencari-cari tempat aman untuk menyembunyikan tubuh wanita itu dan matanya menatap sebuah tong sampah yang ada di ujung lorong.
"Baiklah, semoga tidak ada serangga yang masuk ke dalam ce*ana d*lammu!" ucap Vivian seraya menarik tubuh Wanita yang telah dia buat pingsan.
Setelah sampai di tong sampah dan membuka penutupnya, Vivian mengangkat tubuh Wanita itu dan memasukkannya ke dalam tong sampah yang tampak penuh dan setelah selesai, Vivian menepuk-nepukkan telapak tangannya.
"Semoga petugas yang mengambil sampah besok tidak mengira kau adalah boneka s**ex" ucap Vivian dan setelah itu Vivian berjalan pergi karena sekarang dia bisa membereskan dua puluh orang yang sedang berpura-pura mencari mereka untuk mengulur waktu.
Vivian berjalan Keluar dan berdiri di tengah-tangah gang. Dia menatap kedua puluh orang yang sedang mencari dan memegangi kedua gagang pistol yang dia simpan di belakang.
Vivian menarik nafasnya dan segera bersiul untuk menarik perhatian mereka, "Hei, sedang mencariku?!" teriaknya.
Kedua puluh pria itu langsung melihat ke arah Vivian dan sangat heran karena Vivian hanya seorang diri, mana wanita yang bersama dengannya tadi?
"Sialan! Tangkap dia!" teriak salah seorang dari mereka dan mereka segera berlari mendekati Vivian.
__ADS_1
Vivian menarik dua senjata apinya dan segera menembaki mereka, dia terus melangkah maju dan terus menembaki mereka. Musuh yang dia tembak langsung terkapar sedangkan yang lainnya sudah berlari ke arahnya dan memukulkan tongkat mereka ke tubuh Vivian.
Vivian mulai melawan, menghindari setiap pukulan-pukulan yang ditujukan ke arahnya. Terkadang dia mendendang dan karena jarak yang begitu dekat membuatnya sulit untuk menembak.
Selama dia sibuk menghindari pukulan, tanpa Vivian sadari seseorang hendak memukulnya dari belakang dan setelah dia menyadarinya, tongkat sudah hampir mengenai kepalanya tapi dengan cepat Vivian menangkis tongkat menggunakan lengannya.
Vivian mengumpat kesal, setelah ini lengannya pasti bengkak. Dia kembali melawan tapi pada saat itu terdengar suara tembakan dan tiba-tiba saja salah seorang pria yang melawannya ambruk dan terkapar di atas jalan.
Semua mata langsung melihat ke arah orang yang menembak dan dua orang pria berjalan menghampiri mereka dengan dua pistol mereka. Setelah terhalang oleh jalanan yang macet, Matthew dan James datang tepat waktu. Mereka segera turun dari mobil dan menembaki para penjahat yang sedang mengeroyok Vivian.
Mereka kembali menembak dan para pria itu mulai lari tapi Vivian tidak mensia-siakan kesempatan dan segera menembaki orang-orang itu.
Mereka bagaikan anak ayam yang kehilangan induk dan mereka terus mencari tempat bersembunyi tapi sayang, timah panas terus menghujani mereka.
"Hy babe," sapa Matthew dengan santai sedangkan James menembaki orang-orang yang tersisa.
"Oh my God! Kenapa kau datang? Bagaimana jika ada yang melihatmu?"
"Bodoh! Aku bukan pengecut yang harus bersembunyi! Biarkan mereka melihatku dan mendatangiku! Aku akan menyambut siapapun itu dengan senang hati!"
"Oke baiklah, seharusnya aku tidak menghawatirkan hal ini!"
"Memang tidak! Maaf aku terlambat membantumu babe!"
"Tidak apa-apa, kalian datang di waktu yang tepat!" ucap Vivian sambil tersenyum.
James segera menghampiri mereka setelah selesai menyelesaikan orang yang tersisa.
"Ayo kita pergi babe," ajak Matthew seraya merangkul pinggang Vivian.
Vivian mengangguk dan mereka segera pergi, Vivian khawatir ada yang melihat Matthew karena dia tidak mau melibatkan pria itu tapi sepertinya dia terlalu berlebihan.
Michael masih berada di depan komputer untuk mengacaukan rekaman cctv yang ada dilokasi kejadian, jangan sampai para petugas melihat jejak-jejak kakaknya ada di sana.
Vivian pulang bersama dengan Matthew dan melupakan satu hal yaitu wanita yang dia masukkan ke dalam tong sampah, semoga saja para polisi menemukan tubuh wanita itu jika tidak semoga saja dia sadar sebelum petugas kebersihan datang dan mengangkat tong sampah dan membuangnya tapi jika sampai hal itu terjadi, ya maaf saja.
__ADS_1