
Suara alarm yang berbunyi membangunkan Vivian dari tidurnya. Dengan perlahan Vivian membuka matanya dan meringis dengan pelan. Itu dikarenakan bibirnya berdenyut dan terasa sakit dan semua itu ulah pria yang masih tidur di sampingnya.
Semalam Matthew tidak melepaskan bibirnya dan menciumnya sampai puas. Vivian rasa pagi ini bibirnya pasti bengkak oleh perbuatan pria itu.
Alarm kembali berbunyi dan dengan perlahan, Vivian mengambil ponselnya dan mematikan alarm. Sebaiknya dia segera melihat bibirnya dan dia harap bibirnya tidak bengkak seperti yang dia pikirkan.
Vivian berjalan ke arah kamar mandi dan pada saat melihat bibirnya di depan cermin, Vivian menggerutu kesal karena bibirnya benar-benar bengkak.
"Oh my God, pria ini benar-benar mengerikan!" gumamnya sambil menyentuh bibirnya.
Sepertinya dia harus mengompres bibirnya supaya bengkaknya hilang, semoga saja bengkaknya bisa cepat hilang supaya dia bisa pergi bekerja hari ini.
Setelah mencuci wajahnya, Vivian keluar dari kamar dan pada saat mendengar suara pintu di tutup, Matthew terbangun dari tidurnya dan mencari Vivian yang sudah tidak ada.
Di dapur, Vivian sedang mengompres bibirnya menggunakan es batu sambil menggerutu dalam hati. Sepertinya dia harus waspada setelah ini, tidak akan dia biarkan pria itu menciumnya seenaknya lagi.
"Babe?" Matthew mencarinya dan berjalan ke dapur setelah mencuci wajahnya.
Vivian melotot saat melihatnya, sedangkan Matthew tersenyum dan menghampirinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Lihat ini!" Vivian menunjuk bibirnya yang merah dan bengkak.
"Wow!"
"Awas kau! Setelah ini jangan menciumku lagi!" ucap Vivian sambil menatapnya dengan tajam.
"Oh babe, aku terlalu bersemangat jadi maafkan aku."
Matthew mendekati Vivian dan mengusap kepalanya, dia juga tidak bermaksud membuat bibir Vivian seperti itu tapi dia terlalu bersemangat karena dia sudah lama menginginkan bibir Vivian.
"Coba aku lihat," ucapnya seraya memegangi dagu Vivian.
"Apa kalian para lelaki akan seperti ini saat mencium seseorang?" tanya Vivian.
"Tidak, aku hanya terlalu bersemangat. Maafkan aku," ucap Matthew seraya mencium pipi Vivian.
"Sudahlah, lain kali pelan-pelan!"
Matthew tersenyum dan menggendong Vivian, dia juga membawa Vivian dan mendudukkannya ke atas meja.
"Morning babe," bisiknya dan dia mencium pipi Vivian kembali.
"Uhm," Vivian memeluk lehernya dan tersenyum. Apa yang tidak pernah dia lakukan dengan Carlk selama ini dia lakukan bersama dengan Matthew dan rasanya menyenangkan.
Mereka berpelukan begitu lama, sedangkan Matthew mulai mencium leher Vivian dan mengusap punggungnya.
__ADS_1
"Hari ini apa yang akan kau lakukan?"
"Bekerja, aku ingin menemui orang hari ini," jawab Vivian.
"Oh ya?"
"Uhm," jawab Vivian singkat.
Matthew melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Vivian dengan lembut sambil berkata, "Berhati-hatilah saat bekerja, jika ada apa-apa segera hubungi aku dan jangan pernah merasa ragu. Aku pasti akan membantumu!"
"Pasti, kau tidak perlu khawatir."
Matthew tersenyum dan mendekatkan bibir mereka. "I love you Angel," bisiknya dan setelah berkata demikian, Matthew mencium bibir Vivian dengan lembut.
Jantung Vivian berdebar saat mendengarnya dan dia segera membalas ciuman Matthew. Ciuman bibir biasa saja yang mereka lakukan berubah menjadi panas saat Matthew memasukkan lidahnya ke dalam mulut Vivian.
Vivian semakin memeluk leher Matthew dengan erat begitu juga yang dilakukan oleh Matthew bahkan, kaki Vivian sudah melingkar di tubuhnya.
Mereka terus memperdalam ciuman mereka dan terdengar suara decapan lidah mereka berdua, setelah membutuhkan oksigen mereka menyudahi ciuman mereka. Vivian menyembunyikan wajahnya yang memerah ke leher Matthew sambil mengatur nafasnya, sedangkan Matthew mengusap rambutnya dan mencium pipinya.
"Hanya dalam satu malam, kau sudah ahli dalam berciuman," godanya.
"Berisik!" jawab Vivian karena dia sangat malu.
"Tidak sia-sia bukan bibirmu jadi bengkak!" ucap Matthew sambil terkekeh.
"Tenang saja babe, bibirmu tambah seksi," goda Matthew.
"Enak saja!" Vivian mendorong tubuh Matthew dan turun dari atas meja.
Sebaiknya dia segera mandi jika tidak dia akan terlambat pergi bekerja, hari ini dia mau pergi mencari Maxton di rumahnya dan alamat itu dia dapatkan dari Patrik.
Tidak hanya itu, setelah menemui Maxton dan mengintrogasinya, dia akan menemui Matthew Smith. Dia harap kedua orang ini bisa diajak untuk bekerja sama sehingga mempermudah penyelidikannya.
Setelah selesai mandi, Vivian segera membuat sarapan. Karena dia sudah hampir terlambat jadi dia pergi dengan terburu-buru tapi tidak lupa, Matthew melepas kepergiannya dengan sebuah ciuman.
Ketika tiba di kantor, Vivian mendapat tatapan dari beberapa agen dan hal itu membuatnya heran. Ada apa dengan mereka?
Karena ingin tahu apa yang terjadi Vivian segera menghampiri Patrik yang sedang sibuk melihat sesuatu di atas mejanya.
"Patrik, kenapa semua melihatku seperti itu?" tanya Vivian sambil berbisik.
"Oh mereka seperti itu karena?"
"Angel, congratulation," seorang agen mendekti mereka dan menyela ucapan Patrik.
"Congratulation for what?" tanya Vivian. Sungguh dia tidak tahu ada apa.
__ADS_1
"Kami sudah mendengar jika kemarin lagi-lagi kau bisa memecahkan kasus dan lagi-lagi kau bisa memecahkan teka taki yang diberikan hingga kau bisa mengetahui di mana bom berada dan tidak hanya itu, kau juga hampir menangkap buronan yang berinisial M, apa benar?" Seorang agen lain juga menghampiri mereka.
Vivian langsung menatap Patrik sedangkan Patrik mengangkat kedua bahunya sambil berkata, "Bukan aku Angel."
"Selamat Angel, ternyata kabar jika kau sangat hebat bukan hisapan jempol belaka!" lagi-lagi seorang agen mendekati mereka.
"Aku tidak hebat, hanya kebetulan!" jawab Vivian.
"Oh ya? Kami dengar ada yang membantumu boleh kami tahu siapa?"
Keempat agen langsung menatap Vivian dengan serius sedangkan Vivian diam saja, dari mana mereka tahu hal ini? Selain Patrik yang tahu jika ada yang membantunya tidak ada yang lain lagi dan kenapa kabar itu tersebar di kantor dan apa maksudnya?
"Patrik kau?!"
"Angel, bukan aku!" jawab Patrik dengan cepat.
Vivian menghela nafasnya, baiklah. Dia tidak boleh mencurigai rekan kerjanya sembarangan. Mungkin mereka hanya ingin tahu tanpa maksud apa-apa.
"Baiklah, karena kalian sudah tahu jadi aku akan mengatakannya. Aku tidak hebat dan aku selalu meminta bantuan seseorang," ucapnya.
Keempat agen tampak penasaran termasuk Patrik, dia juga ingin tahu siapa yang dihubungi Vivian dan siapa yang membantu Vivian.
"Kakekku. Aku menghungi kakekku dan meminta bantuannya!" ucap Vivian lagi.
"Yang benar?" ketiga agen bertanya secara serempak sedangkan Patrik diam saja dan tampak tidak percaya.
"Untuk apa aku berbohong! Aku tidak punya kenalan di sini yang bisa membantuku dan kalian tahu sendiri bukan?" Vivian memandangi rekan-rekannya satu persatu.
"Sudah sana bubar dan kembali bekerja!" perintah Patrik.
Ketiga rekan mereka kembali bekerja begitu juga dengan Patrik, dia berlalu pergi sambil membawa sebuah berkas yang akan dia berikan pada atasan.
Vivian hanya menggeleng dan kembali ke tempat duduknya, entah apa maksud orang yang menyebarkan berita itu dan dia sedikit curiga dengan Pantrik. Tapi apa tujuannya?
Di sebuah ruangan seseorang menghubungi Carlk dan memberikan laporan apa yang baru saja dia dengar.
"Tuan, dia bilang yang membantunya adalah kakeknya!"
"Tidak mungkin, aku tidak percaya!" jawab Carlk.
"Jadi?" tanya agen itu.
"Bukankah sudah aku katakan? Utus mata-mata untuk mengawasinya dan ingat jangan sampai ketahuan!"
"Baik tuan!" jawab agen itu seraya mematikan ponselnya.
Carlk menggenggam ponselnya dengan erat, entah mengapa dia merasa ada seseorang di dekat Vivian apalagi gara-gara mimpinya semalam. Dia akan mencari tahu dan setelah dia tahu tidak akan dia lepaskan karena tidak akan dia biarkan siapapun membantu Vivian dan menggagalkan rencananya.
__ADS_1