
Vivian menghentikan laju motornya setelah tiba disebuah rumah yang bagaikan istana dan itu adalah rumah Clarina.
Dia datang kesana untuk meminta daftar nama-nama tamu undangan dan dia harap Clarina masih menyimpannya.
Vivian melepaskan helm dan jaket kulit yang dia pakai, setelah menyimpan benda itu di atas motor dia segera berjalan menghampiri gerbang.
Didepan gerbang berdiri dua orang penjaga rumah dan pada saat melihat Vivian mereka segera menghampirinya.
"Ada perlu apa nona?" tanya salah seorang penjaga yang ada disana.
"Apa nona Clarina ada di rumah?" tanya Vivian.
"Ada keperluan apa mencari nona Clarina? Apa anda sahabatnya?"
"Bukan, aku petugas," Vivian mengeluarkan tanda mengenalnya dan memberikan kepada penjaga itu.
"Ada hal penting yang ingin aku tanyakan pada nona Clarina," ucap Vivian lagi.
Setelah melihat tanda pengenal yang diberikan oleh Vivian, salah seorang penjaga itu mulai menghubungi majikannya untuk meminta ijin dan tidak lama kemudian mereka mengembalikan tanda pengenal Vivian dan membuka gerbang.
Vivian dipersilahkan untuk masuk apalagi ayah Clarina ada di rumah, tidak butuh lama dia sudah berada diruang tamu dan menunggu Clarina.
Begitu mendapat kabar jika ada seorang petugas yang ingin menemuinya, Clarina dan ayahnya langsung menghampiri Vivian tapi Clarina sangat kaget melihat Vivian di sana, bukankah itu wanita yang berdansa dengan Matthew?
Rasanya sedikit sebal melihatnya tapi wanita itu adalah petugas jadi dia harus bersikap sopan.
"Maaf mengganggu kalian, aku petugas yang sedang menyelidiki kasus yang terjadi semalam," Vivian bangkit berdiri saat melihat tuan rumah berjalan menghampirinya dan memperlihatkan tanda pengenalnya.
"Tidak perlu sungkan nona, silahkan duduk!" ucap ayah Clarina.
"Terima kasih tuan, kedatanganku kemari hanya ingin meminta daftar nama-nama tamu undangan kalian. Apa kalian masih menyimpannya?" tanya Vivian tanpa basa basi.
"Tentu masih ada, aku akan mengambilnya dan Clarina temani tamu kita!" perintah ayahnya.
"Yes dad!" jawab Clarina tapi matanya menatap Vivian dengan tatapan tidak suka.
Vivian cuek saja sedangkan Clarina semakin sebal melihatnya, jujur saja dia sangat ingin tahu apa hubungan wanita itu dengan Matthew.
"Nona polisi, ada hubungan apa antara kau dengan sahabatku?" tanya Clarina.
Vivian mengernyitkan dahinya, sahabat yang mana? Dia baru di kota itu dan orang yang dia kenal masih bisa dihitung dengan jari.
"Nona sepertinya anda salah orang," jawab Vivian.
__ADS_1
"Mana mungkin aku salah orang? Sebelum para perampok itu menyerang, kau berdansa dengannya!" Clarina membuang wajahnya kesamping sambil bersedekap dada.
"Oh Freddy, supir aneh itu!" jawab Vivian.
"What? Freddy? Supir?" Clarina tercengang tapi tidak lama kemudian tawanya meledak. Jadi Matthew membohongi petugas ini?
Entah apa tujuan Matthew membohonginya tapi ini benar-benar lucu jadi Clarina tidak bisa menghentikan tawanya sampai membuat Vivian heran, apa ada yang salah dengan ucapannya? Atau dia salah orang?
"Apa aku salah orang nona?" tanya Vivian.
"Tidak, kau benar dia memang seorang supir!" ucap Clarina seraya menghentikan tawanya. Dasar Matthew dari dulu tidak berubah, tapi untuk apa Matthew membohongi petugas ini? Entah kenapa dia jadi ingin tahu.
Vivian ingin bertanya tapi pada saat itu ayah Clarina sudah kembali membawa daftar nama tamu yang dia minta.
"Maaf membuat anda menunggu nona," ucap ayah Clarina tidak enak hati.
"Tidak apa-apa tuan."
Ayah Clarina memberikan daftar nama yang dia bawa dan Vivian segera bangkit berdiri untuk mengambilnya.
"Bolehkah aku membawa daftar nama ini untuk diperiksa?" tanyanya dengan sopan.
"Tentu saja boleh nona," jawab Ayah Clarina.
Vivian tidak langsung pergi, dia duduk di atas motornya untuk memeriksa nama-nama tamu undangan. Jika ada nama Matthew Smith didalam daftar maka dia akan menemui orang itu tanpa ragu dan akan mengintrogasinya.
Vivian begitu fokus pada nama-nama yang ada didalam daftar tapi suara ponsel yang berbunyi, membuat Vivian menghentikan pekerjaannya sejenak.
Tanpa membuang waktu Vivian mengambil ponsel yang ada disaku celananya dan segera menjawabnya.
"Hallo."
"Babe, apa yang sedang kau lakukan?" terdengar suara Matthew.
"Ck, bekerja! Untuk apa kau mencariku dan berhenti memanggilku babe!" jawab Vivian dengan ketus.
"Aku rindu denganmu, apa kau tidak rindu denganku, babe?" Matthew tidak memperdulikan permintaan Vivian.
"Tidak!" jawab Vivian dengan datar.
Matthew hanya tersenyum, jujur saja dia sangat ingin bertemu dengan Vivian lagi. Setelah berpikir begitu lama akhirnya dia dapat ide supaya dia bisa bertemu dengan Vivian setiap hari agar dia bisa mendekati gadis itu.
"Tidak perlu menggombal, untuk apa kau mencariku?"
__ADS_1
"Babe, kau tidak lupa dengan imbalan yang harus kau berikan padaku bukan?"
"Aku ingat, memangnya kau mau apa?"
"Aku ingin kau mentraktirku makan malam setiap hari!" pinta Matthew.
"What? Everyday?!" Vivian sedikit shock mendengarnya.
"Yes!" jawab Matthew tanpa ragu karena hanya ini alasan yang bagus agar mereka bisa bertemu setiap hari.
"Oh my God, aku bisa bangkrut!" gerutu Vivian kesal sedangkan Matthew terkekeh.
Dia baru saja membeli komputer baru dan dia juga sedang berhemat untuk mewujudkan impiannya tapi sekarang? Tiba-tiba saja dia harus memberi seseorang makan? Dan orang itu orang yang baru dia kenal.
"Bagaimana babe, jangan lupa jasaku!" ucap Matthew pura-pura mengingatkan.
"Kenapa tidak sekalian minta tumpangan di rumahku!" ucap Vivian kesal tanpa maksud apa-apa tapi dia tidak tahu jika ucapannya ini akan membuatnya dalam masalah besar.
"Aha, ide bagus babe!" jawab Matthew dengan cepat dengan senyum diwajahnya.
"Apanya yang bagus?" tanya Vivian belum mengerti maksud Matthew.
"Kau tahu babe, aku banyak hutang dan rumahku akan disita. Kebetulan sekali kau mau menampungku," ucap Matthew berdusta.
"Hei aku tidak mau menampungmu! Aku hanya asal bicara saja tadi!"
"Tapi ucapanmu terdengar seperti undangan untukku babe, oh aku sangat senang kau mau menampungku dan aku tidak harus jadi gelandangan," Matthew terdengar senang karena dia memang sangat senang.
"Apa? Jangan asal bicara kau?!"
"Jangan khawatir babe, aku akan bayar sewa. Aku juga akan mengajarimu cara menjinakkan beberapa bom dan memberimu informasi mengenai Matthew Smith dan ini gratis, bagaimana?"
Vivian belum menjawab karena dia sedang berpikir, ini tawaran yang sangat menarik. Dia memang harus banyak belajar mengenai bom karena dia khawatir orang berinisial M yang menjadi buronannya akan menantangnya kembali dan dia juga khawatir orang ini akan memakai bom yang lebih berbahaya dari pada bom semalam dan Freddy sangat mengetahui benda berbahaya itu dengan baik.
Lagi pula dia tidak akan lama di Amerika, jika ada yang mau mengajarinya maka tidak boleh dia sia-siakan apalagi dia tidak meragukan kemampuan Freddy karena dia sudah melihatnya, Freddy sangat ahli menangani bom semalam. Tapi apa dia harus tinggal satu atap dengan Freddy demi mempelajari benda berbahaya itu lebih jauh?
"Bagaimana babe?" tanya Matthew.
"Aku mau kembali bekerja!" jawab Vivian tanpa menjawab permintaan Matthew.
"Babe, aku tunggu di restoran Albright jam 7 malam!" ucapnya dan setelah itu Vivian mematikan ponselnya.
Matthew menyimpan ponselnya dan tersenyum, lihat saja, dia pasti akan tinggal satu atap dengan gadis itu dan dia yakin Vivian akan tertarik dengan tawarannya.
__ADS_1