
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi saat itu. Alice dan Kate tampak sedang membuat sarapan untuk keluarganya di dapur.
Damian bangun lebih awal karena dia sudah harus pergi. Ada hal penting yang harus dia lakukan dan setelah selesai dia akan kembali lagi untuk mencari keberadaan ayahnya bersama dengan Michael.
Mereka telah membuat kesepakan semalam jika mereka akan mencari Jager Maxton bersama-sama tapi pagi ini dia mau pergi. Damian berjalan menuju dapur, di mana Alice dan Kate berada.
"Nyonya, maaf menggangu," ucap Damian dengan sopan.
"Ada apa, Damian?" Kate meletakkan makanan ke atas meja dan melihatnya.
"Aku harus pergi dan terima kasih atas tumpangannya. Tapi nanti aku akan kembali lagi dan merepotkan kalian," jawab Damian.
"Jangan sungkan, kami tidak keberatan apalagi kau kakak Vivian. Apa kau tidak mau sarapan terlebih dahulu?" tanya Alice pula.
"Tidak, terima kasih Nyonya," tolak Damian sambil tersenyum.
"Baiklah, kembalilah setelah urusanmu selesai dan tidak perlu sungkan dengan kami," ucap Kate.
"Terima kasih, Nyonya," Damian membungkukkan badannya dan setelah itu dia berjalan keluar.
Setelah berpamitan dengan Alice dan Kate, dia berpamitan dengan Jacob dan Albert. Mereka mengajak Damian untuk sarapan bersama tapi Damian menolak karena dia tidak enak hati dan segera bergegas.
Damian berjalan menuju pintu setelah berpamitan dan pada saat itu Ainsley keluar dari kamarnya sambil menguap karena dia baru bangun tidur. Tanpa sengaja Ainsley melihat Damian, mau pergi ke mana pria itu?
Tapi Ainsley tidak menghiraukannya dan berjalan menuju dapur di mana ibu dan neneknya berada.
"Morning, Mom," sapa Ainsley seraya mendekati ibunya.
"Morning, Sayang," Kate memeluk putrinya dan mencium wajahnya.
"Morning, Nek," Ainsley mendekati neneknya dan memeluknya juga.
"Morning, kenapa kau baru bangun?" tanya Alice.
"Aku tidak bisa tidur, Nek," jawab Ainsley dan dia segera mengambil segelas air putih.
"Oh ya? Apa kau sedang memikirkan seseorang?" goda ibunya.
"Tidak, Mom. Mana kakak dan Kakak Ipar? Apa mereka belum bangun?"
"Mereka pasti lelah Sayang, biarkan saja mereka beristirahat. Lagi pula mereka sudah bekerja keras semalam untuk menolong ayah Clarina," jawab ibunya.
"Mommy benar tapi ngomong-ngomong kenapa Damian sudah pergi?" tanya Ainsley.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin ada hal penting yang harus dia lakukan. Kenapa? Kau seperti penasaran dengannya?" jawab Kate menggoda putrinya.
"Apa? Enak saja!" jawab Ainsley dengan wajah memerah.
Kate tertawa begitu juga dengan Alice. Padahal Kate hanya menggoda putrinya saja tapi kenapa wajahnya harus memerah?
"Aku mau mandi," ucap Ainsley sambil bangkit berdiri. Mana mungkin dia penasaran dengan Damian? Tapi dia tidak akan menyangka jika suatu hari dia akan membutuhkan bantuan Damian.
Sementara itu di dalam kamar, Vivian terbangun ketika mendengar suara alarm. Vivian segera meraba ponselnya dan mematikan suara alarm.
Dia masih mengantuk dan masih ingin tidur lagi jadi lebih baik dia tidur sebentar lagi. Dia sudah meminta ijin untuk masuk siang dan tentunya Kapten Willys mengijinkan karena dia sudah berusaha keras menyelamatkan sandera dan Wali kota.
Vivian bahkan langsung terlelap semalam dan membatalkan niatnya menghubungi keluarganya untuk mengetahui keadaan mereka. Lagi pula sudah malam dan dia tidak ingin menggangu keluarganya. Hari ini sebelum ke kantor dia akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk mereka.
Vivian memalingkan kepalanya dan ingin memejamkan matanya kembali tapi perhatiannya tertuju pada wajah Matthew yang sedang tidur. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya dan dengan perlahan, Vivian mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Matthew.
Jari jemari Vivian bermain di rambut Matthew dan tanpa dia sadari, Matthew menangkap tangannya dan mencium telapak tangannya.
"Morning, Babe," Matthew membuka matanya dan tersenyum.
"Maaf membangunkanmu."
"No problem," ucap Matthew dan dia segera menarik Vivian masuk ke dalam pelukannya.
"Ke rumah sakit untuk melihat keadaan keluargaku dan setelah itu ke kantor, Kapten Willys akan mengadakan rapat untuk membahas kejadian semalam jadi aku harus hadir. Kau sendiri?"
"Aku akan membantu kakakmu mencari keberadaan ayahmu tapi sebelum itu, aku mau pergi melihat makanan hewanku."
"Wow, apa makanan hewan perlu di lihat?"
"Tentu, aku harus melihat mereka masih sehat atau tidak karena aku tidak mau hewan peliharaanku mati setelah memakan mereka."
Vivian mengernyitkan dahi tanda dia tidak mengerti, sedangkan Matthew terkekeh melihat ekspresi wajah Vivian. Mungkin dia harus membawa Vivian melihat kebun binatang keluarganya dan akan dia lakukan nanti setelah Gary tertangkap.
Vivian bangun dari tidurnya dan merapikan rambutnya, sedangkan Matthew memeluknya dari belakang dan mencium bahunya.
"Tidak mau tidur lagi?"
"Aku haus," jawab Vivian.
"Aku akan mengambilkan air hangat untukmu tapi bagaimana dengan keadaanmu, apa tubuhmu masih sakit, Sayang?" tanya Matthew lagi seraya mencium pipi Vivian.
"Sudah tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir. Pergilah ambilkan air hangat untukku, aku haus," pinta Vivian.
__ADS_1
"Hm," Matthew masih memainkan bibirnya di pipi Vivian, sedangkan Vivian memejamkan matanya dan menikmati sentuhan bibir Matthew. Padahal mereka selalu bersama tapi rasanya mereka sudah lama tidak bermesraan seperti itu.
Semua gara-gara ulah Gary yang membuat mereka sibuk. Menyerang keluarganya, menculik ayahnya bahkan melibatkan Clarina dan ayahnya. Ngomong-ngomong soal Clarina, apa yang dia lakukan saat ini?
Tentu pagi ini dia sedang bersiap-siap untuk menghadiri konferensi pers bersama dengan ayahnya. Dia juga akan bersaksi dan membersihkan nama Matthew dan setelah itu dia mau mencari Matthew untuk menemui si tampan kemarin. Siapa tahu mereka berjodoh? Tapi yah, sebenarnya dia sudah berencana untuk pindah.
Setelah Matthew keluar, Vivian segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia diam sebentar untuk melihat goresan yang ada di wajahnya, semoga saja tidak membekas.
Selama dia sedang mencuci wajahnya, terdengar suara pintu kamar terbuka karena Matthew telah kembali dengan segelas air hangat. Matthew meletakkan air yang dia bawa ke atas meja dan setelah itu dia berjalan menuju kamar mandi.
"Apa kau sudah selesai?"
"Hm," jawab Vivian seraya mengelap wajahnya dengan handuk.
"Air hangatmu ada di atas meja dan setelah ini Mommy mengajak kita untuk sarapan."
"Thanks, Matth," Vivian mendekati Matthew dan mencium wajahnya dan setelah itu dia keluar dari kamar mandi sementara Matthew masih di dalam untuk membersihkan diri.
Vivian meneguk air hangatnya sampai habis dan setelah itu Vivian merenggangkan oto-otot tubuhnya yang terasa pegal. Setelah rapat dia mau melacak ponsel Felicia dan dia harap dia bisa menemukan Felicia. Mungkin dengan begitu Felicia mau mengatakan di mana Gary bersembunyi.
Mencari satu orang di antara jutaan penduduk di kota besar tidaklah mudah apalagi jika orang itu selalu berganti wajah seperti yang Gary lakukan. Itu sama halnya mencari rambut berwarna pink di antara jutaan helai rambut berwarna merah.
Rasanya sangat mustahil tapi kali ini dia harap mereka bisa menemukan Gary dan dia harap Gary tidak lari lagi. Lagi pula, bukankah Gary menginginkan dirinya? Selain mencari keberadaan Felicia, hari ini dia akan menunggu tindakan apa yang akan Gary lakukan. Apa dia akan memberikan surat tantangan dan teka teki lagi seperti yang sudah-sudah?
Tapi bukan berarti mereka akan diam saja karena Michael dan Damian akan mencari keberadaan ayahnya disetiap sudut kota San Diego dan San Fransisco. Tentu itu bukan hal yang mudah karena mereka seperti mencari seekor semut didua stadion sepak bola.
Setelah selesai membersihkan diri, Matthew keluar dari kamar mandi dan menghampiri Vivian yang sedang menyisir rambutnya. Vivian tersenyum dan mengusap wajah tampan kekasihnya, bertemu dengan Matthew adalah hal paling indah yang terjadi dalam hidupnya. Jika tidak, apa sampai saat ini dia masih menunggu sampah seperti Gary?
"Apa kau sudah selesai?" Matthew berbisik di telinganya dan menggigitnya dengan lembut.
"Yes," jawab Vivian seraya melingkarkan kedua tangannya ke leher Matthew.
"Jika begitu ayo kita keluar," Matthew mendekatkan bibir mereka dan mengecup bibir Vivian dengan lembut.
"Setelah ini," bisik Vivian dan setelah itu mereka berciuman dengan mesra.
Waktu berharga seperti ini tidak boleh mereka lewatkan apalagi mereka akan menjalani hari yang berat kembali karena sebelum Gary tertangkap dan Jager Maxton belum ditemukan, bahaya masih mengintai mereka.
Matthew dan Vivian segera keluar dari kamar dan bergabung dengan keluarganya yang sudah berada di meja makan. Vivian tidak mencari kakaknya karena dia tahu, kakaknya akan pergi pagi ini.
Melewatkan pagi bersama dengan keluarga Matthew yang hangat terasa menyenangkan. Mereka berbincang dan bercanda. Vivian tertawa lepas ketika salah satu keluarga Matthew melemparkkan leluconnya.
Ini pagi yang menyenangkan sebelum mereka menghadapi perang karena saat itu, Felicia sedang mendatangi Gary. Sendirian di kota besar membuatnya bagaikan semut di bawah kaki gajah.
__ADS_1
Dia mencari Gary untuk tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya karena dia sudah mau mengakhiri permainan mereka dan kembali ke Inggris. Setelah dia tahu rencana Gary maka dia akan menyusun rencananya sendiri.