Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Pertemuan terakhir.


__ADS_3

Gary tampak bersandar pada dinding ruangan, sedangkan pandangannya tampak menerawang jauh. Dia sungguh menyesal karena tidak langsung membunuh Maxton untuk membalas kematian ayahnya.


Jika saja Jager Maxton sudah mati maka dia tidak akan menyesal berada di tempat itu. Seharusnya dia mendengarkan Maxton untuk langsung membunuhnya tapi, mana dia tahu jika Felicia akan menghianatinya dan menggagalan rencananya?


Tadinya dia ingin memancing Vivian datang seorang diri dan menggunakan kelemahan terbesarnya. Dia tahu Vivian takut dengan laki-laki karena kenangan buruk yang pernah dia alami jadi dia akan menggunakan kelemahannya itu.


Saat Vivian datang, dia akan meminta para anak buahnya untuk mengepung Vivian dan menangkapnya. Tentunya Jager Maxton sebagai sandera akan dia manfaatkan dengan baik sehingga Vivian tidak berdaya.


Dia akan melakukan pertukaran dan setelah Vivian setuju, dia akan membunuh Jager Maxton dan membawa Vivian pergi yang jauh. Dia sudah sangat yakin jika rencananya akan berhasil tapi semua hancur gara-gara agen bodoh yang menghancurkan rencananya dan lihatlah, mereka harus berada di sana sekarang.


Entah apa yang tejadi selanjutnya dia sendiri tidak tahu tapi jika dilihat apa yang telah dialami oleh Bruke dan Thomas, sepertinya mereka akan menjalani hari berat dan buruk dan bisa saja, mereka akan menjalani hari paling buruk dalam hidup mereka.


"Sial!" umpat Gary kesal.


Sekarang dia hanya bisa menunggu, menunggu kematian datang menghampirinya dan dia berharap, Malaikat maut segera mencabut nyawanya tapi memang saat itu, Malaikat maut yang akan mengambil nyawanya sudah berada di luar sana tapi Malaikat maut itu berbeda dengan Malaikat maut lainnya.


Mobil yang dibawa oleh James sudah berhenti, Vivian melihat di mana Matthew membawanya saat ini dengan teliti. Tidak ada bangunan lain selain sebuah bangunan yang tampak luas di sana dan bangunan itu dikelilingi pagar kawat berduri yang menjulang tinggi di sekelilingnya.


Itu seperti sebuah markas rahasia dan dia rasa tempat itu digunakan untuk suatu tujuan apalagi tempat itu dibangun di tempat terpencil jauh dari kota.


Tempat itu dijaga dengan ketat oleh anak buah Matthew, cctv tampak berada di mana-mana dan tentunya di luar bangunan itu banyak terdapat ranjau yang mereka sembunyikan. Ranjau itu berguna bagi orang-orang yang hendak melarikan diri, jika mereka bisa keluar dari bangunan maka mereka akan meledak terkena ranjau yang disembunyikan di bawah tanah.


Walaupun belum pernah ada yang berhasil kabur tapi tempat itu tetap diberi pengamanan yang tinggi.


Vivian tampak begitu serius melihat tempat itu sampai dia tidak menyadari jika Matthew sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Babe, apa kau mau di dalam mobil sepanjang hari?" Matthew menyentuh bahu Vivian dan tampak heran karena Vivian diam saja.


"Tempat apa ini, Matth?" Vivian menyambut uluran tangan Matthew dan segera turun dari mobil.


"Yeah ...."


"Hey, jawaban macam apa itu?"


"Kau akan tahu nanti." jawab Matthew seraya menutup pintu mobil.


"Apa kau sudah siap menendang bokong Gary, Babe?"


"Uhm, apa dia ada di dalam?"


"Yes, dia bagianmu hari ini tapi besok, dia bagianku."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Kau tidak perlu tahu, Sayang."

__ADS_1


"Ck, menyebalkan!" dengus Vivian.


Tapi apapun yang ingin dilakukan Matthew pada Gary dia tidak akan perduli. Lagi pula dia sudah begitu kecewa dengan Gary dan ini adalah pertemuan terakhir mereka. Dia akan melupakan Gary untuk selamanya dan dia tidak mau mengingat kenangannya bersama dengan Gary lagi.


Matthew membawa Vivian menuju bangunan dan ketika pintu terbuka, Thomas dan Bruke langsung melihat ke arah pintu begitu juga dengan Gary.


Thomas dan Bruke tampak senang begitu melihat Matthew karena dia harap, Matthew melepaskan alat yang ada di atas kepala mereka tapitidak dengan Gary, dia berteriak saat melihat Vivian masuk ke dalam tempat itu bersama dengan Matthew.


"Vivi, aku buronanmu jadi tangkap aku, Vivi!" teriak Gary.


"Matthew, kau sudah menangkapnya jadi lepaskan alat yang ada di kepalaku ini!" teriak Thomas pula.


"Benar! Kau sudah berjanji!" Bruke juga berteriak.


"Berisik! Kalian berdua, diam! Jika berani mengeluarkan suara atau sepatah katapun maka aku akan mengambil sesuatu untuk menjepit lidah kalian!" ucap Matthew kesal."


"Tapi kau sudah berjanji," ucap Bruke.


"Jangan menguji kesabaranku! Belum waktunya kalian bersuara jadi sebaiknya diam!" Matthew menatap mereka dengan tajam.


Bruke dan Thomas langsung diam dan memaki dalam hati. Mereka tahu Matthew tidak main-main dengan ucapannya jadi sebaiknya mereka diam.


Vivian berjalan mendekati Gary dan berdiri agak jauh darinya, matanya menatap Gary dengan tajam dan sekarang dia benar-benar benci dengan Gary.


"Aku buronanmu Vivi jadi tangkap aku. Kau penegak hukum jadi kau harus menangkap aku dan aku siap menjalani eksekusi mati!" ucap Gary.


"Sial!" umpat Gary marah.


"Ini pertemuan terakhir kita, Gary. Setelah ini aku tidak mau melihatmu lagi karena aku sangat kecewa padamu."


"Tidak, Vivi. Dengarkan penjelasanku," pinta Gary. Dia ingin mendekati Vivian tapi sayangnya kakinya diikat dengan rantai.


"Aku benar-benar mencintaimu dan aku tidak berbohong dengan perasaanku bahkan sekarang aku masih mencintaimu. Jika saja ayahmu tidak membunuh ayahku maka kita tidak akan seperti ini!" ucap Gary.


"Apa kau tahu kenapa ayahku membunuh ayahmu, Gary?"


"Tentu aku tahu tapi aku tidak terima ayahku dibunuh dengan keji oleh ayahmu."


"Kau tidak terima ayahmu dibunuh?"


Vivian menatap Gary dengan penuh kebencian. Ternyata Gary tahu kenapa ayahnya dibunuh tapi dia menutup mata dan tidak melihat kebenarannya.


"Apa kau pernah memikirkan perasaan ayahku saat ibuku mati? Kau tidak terima ayahmu dibunuh oleh ayahku lalu apa kau pikir ayahku bisa menerima apa yang telah ayahmu lakukan? Kau tahu alasannya tapi kau menutup matamu, Gary!" teriak Vivian marah.


"Tidak, Vivi. Aku hanya punya ayahku saja di dunia ini dan kau tidak akan mengerti dengan perasaanku."

__ADS_1


"Aku memang tidak mengerti," jawab Vivian.


"Aku memang tidak mengerti kenapa kau melakukan hal ini padaku, Gary. Tidak saja ingin membalas dendam dan hampir membunuh ayahku tapi kau juga melukai keluargaku. Kau bilang kau mencintaiku? Sekarang aku tanya padamu, cinta seperti apa yang ada di hatimu untukku? Apa itu cinta? Atau hanya obsesimu saja untuk balas dendam atau karena aku tidak menginginkanmu lagi!"


"Aku benar-benar mencintaimu, Vivi. Percayalah," pinta Gary.


"Terima kasih tapi aku tidak butuh cintamu lagi! kau sudah meninggalkan aku selama lima tahun dan aku sudah tahu jika cintamu tidak pernah tulus padaku."


"Percayalah padaku!" pinta Gary lagi dan dia kembali mendekati Vivian.


"Percayalah padaku, Vivi. Aku benar-benar mencintaimu. Kita ulangi dari awal dan kali ini aku akan menempati janjiku dan kita akan menikah. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi jadi maafkan aku," pinta Gary.


"Hahahahaha!" Vivian tertawa.


"Apa aku begitu menyedihkan di matamu, Gary? Apa kau pikir aku barang yang bisa kau tinggalkan lalu kau ambil lagi? Dengar ucapanku baik-baik Gary, aku tidak butuh cinta darimu lagi jadi simpan cintamu untuk para jal*angmu! Perasaanku untukmu sudah lama mati dan aku sangat kecewa padamu. Jadi jangan kau pikir aku datang ke sini untuk menyapamu dan mendengar ungkapan cintamu yang memuakkan itu!" ucap Vivian dengan sinis.


Gary mengumpat dalam hati, ternyata Vivian tidak mudah dia rayu lagi. Pada saat itu, Matthew mendekati Vivian dan memeluk pinggangnya.


"Kau siap menendangnya, Babe?"


"Tentu saja, Matth. Aku sudah tidak sabar," jawab Vivian.


"Matthew Smith, lepaskan tanganmu darinya!" geram Gary marah.


"Wow, ada yang cemburu," jawab Matthew dengan santai.


"Dari awal dia millikku! Vivian yang aku kenal tidak seperti ini dan kau sudah meracuni pikirannya!" teriak Gary marah.


"Wow, apa benar begitu, Babe?"


"Yes, kau memang sudah meracuni pikiranku dengan jamurmu," jawab Vivian asal.


"Hahahahahahaha!!" Matthew tertawa, sedangkan Gary semakin kesal.


"Sepertinya kau sudah kecanduan dengan jamurku," Matthew mendekatkan bibir mereka.


"Aku memang sudah kecanduan," jawab Vivian.


Mereka berciuman dengan mesra di depan Gary, sedangkan Gary benar-benar kesal dan marah melihat itu. Gary berteriak dan memaki tapi mereka tidak perduli.


Dia tidak terima melihat kemesraan mereka dan seharusnya dia yang melakukan hal seperti itu dengan Vivian.


"Baj*ngan, lepaskan dia, lepaskan!" ucap Gary dengan wajah memerah karena marah.


"Sebaiknya kau siap-siap, Gary. Aku akan menendangmu sekarang!" ucap Vivian seraya berjalan mendekati Gary.

__ADS_1


"Kalian berdua, pegang dia!" perintah Matthew pada anak buahnya.


"Tidak, Vivi. Maafkan aku," pinta Gary dan dia mulai memberontak saat anak buah Matthew memeganginya.


__ADS_2