
Vivian membuka matanya dengan perlahan saat mendengar suara seseorang sedang berbicara dan memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat benturan yang dia dapat.
Di mana dia sekarang? Setelah bertemu dengan team penyelamat dia tidak ingat apa-apa lagi karena sudah tidak sadarkan diri.
Sambil memegangi dadanya, Vivian berusaha untuk bangun dan duduk di atas ranjang. Pada saat melihatnya, Matthew segera menghampiri Vivian dan menyudahi pembicaraannya.
"Mich, nanti kita bahas masalah ini lagi," ucapnya karena saat itu dia sedang berbicara dengan adiknya karena mereka sedang membuat sebuah rencana untuk menangkap buronan Vivian.
"Baiklah kak, Mommy bilang dia dan nenek akan pergi ke sana dan sampaikan salamku pada kakak ipar."
"Oke," jawab Matthew.
Dia segera duduk di samping Vivian dan mengusap wajah Vivian yang terdapat sedikit luka di sana bahkan sebuah luka juga terdapat di bibir Vivian.
"Bagaimana keadaanmu babe?"
"Aku baik-baik saja Matth, bagaimana dengan Patrik?"
"Kau tidak perlu khawatir, dia sudah melewati masa kritisnya."
"Syukurlah," ucap Vivian dan dia tampak lega karena Patrik tidak apa-apa.
"Jangan khawatirkan orang lain, khawatirkan saja dirimu sendiri!" ucap Matthew seraya mencium punggung tangannya.
"Maaf membuatmu khawatir," Vivian mengusap wajah Matthew, dia tahu Matthew sangat menghawatirkannya saat ini.
"Buronanmu," ucap Matthew sambil memandangi wajah Vivian.
"Buronanmu sungguh sudah keterlaluan karena telah membuatmu seperti ini dan aku tidak akan memaafkannya!"
"Ini bukan yang pertama kali Matth, aku sudah pernah terkena bom yang dia simpan sewaktu di Inggris."
"Jadi ini bukan yang pertama kali?"
Vivian mengangguk, memang ini bukan yang pertama kalinya dia harus menghindari ledakan bom yang disimpan oleh buronannya.
"Baiklah, aku akan mengingat hal ini dan aku akan pastikan dia membayar setiap luka yang kau dapatkan dan dia juga harus membayar darah yang menetes dari tubuhmu."
"Apa kau punya rencana untuk menangkapnya Matth?"
"Tentu saja babe, kali ini aku akan serius. Aku tidak akan membiarkan buronanmu lolos. Dia berani melukaimu seperti ini maka aku tidak akan membiarkannya hidup lebih lama!"
"Bagaimana caranya Matth? Kau tahu bukan buronanku suka gonta ganti wajah? Dia buronan yang dicari sejak lama bahkan pemerintah Amerika meminta bantuan kami untuk menangkapnya tapi sampai sekarang, kami belum bisa menguak identitas aslinya dan menangkapnya."
"Jangan khawatir, percayalah padaku. Sepandai-pandainya Tupai melompat pada akhirnya akan jatuh juga dan kau harus mengingat pepatah ini. Dia tidak akan selalu menang karena di mana hari sialnya akan tiba," ucap Matthew meyakinkan.
Dia tahu untuk menangkap orang yang suka gonta ganti wajah tidaklah mudah tapi kali ini, dia akan pastikan orang itu tidak akan lepas dan tentunya dia punya cara untuk mengetahui identitas aslinya jadi tunggu saja. Saat buronan Vivian kembali berulah, maka pada saat itu juga dia tidak akan lepas dari pantauannya dan mereka akan mengetahui identitas asli orang itu.
__ADS_1
Kali ini dia akan serius karena ba*ingan itu telah berani melukai Vivian seperti ini dan tidak akan dia biarkan begitu saja.
"Baiklah, aku percaya padamu dan kita akan menangkapnya bersama-sama."
"Tentu saja, waktunya tidak lama lagi dan pada saat dia berulah kembali maka pada saat itu kita pasti mengetahui identittasnya."
Vivian tersenyum dan mencium pipi Matthew dengan mesra, "Thanks, maaf selalu merepotkanmu."
"Stts, jangan dipikirkan dan sebaiknya kembali beristirahatlah, nanti mommy dan nenek akan datang untuk menjengukmu."
"Aku tidak apa-apa, jangan merepotkan mereka."
"Tidak apa-apa, mereka datang karena menghawatirkan ini," ucap Matthew seraya mengusap perut Vivian.
"Apa? Hei apa mereka masih salah paham?"
Matthew terkekeh dan mencium pipi Vivian, "Tenang saja, aku sudah menjelaskannya."
"Syukurlah, akhirnya aku tidak perlu minum susu untuk ibu hamil lagi!"
Matthew kembali terkekeh, dia juga sudah muak minum susu itu setiap malam dan sekarang mereka tidak perlu meminumnya lagi.
Dengan perlahan, Matthew membantu Vivian berbaring di atas ranjang. Dia tampak lega karena Vivian baik-baik saja walaupun banyak memar di tubuhnya tapi beruntung tidak ada tulang Vivian yang patah.
Dia tidak akan membiarkan kejadian ini terulang kembali dan siapapun buronan Vivian akan dia balas nanti.
"Matth, aku sudah berjanji dengan Jager Maxton untuk menemuinya nanti siang, bisakah kau membantuku untuk menghubunginya dan mengatakan jika besok aku baru bisa menemuinya?"
Vivian mengangguk, dia sungguh bersyukur ada Matthew di sampingnya. Tidak saja membantunya di saat dia membutuhkan tapi Matthew juga sangat perhatian dan menyayanginya.
"Terima kasih Matth," ucap Vivian seraya mencium pipi Matthew.
"Oh my, awas kau!" Matthew mengangkat dagu Vivian dan mel*mat bibirnya.
"Oh my God, sakit!" teriak Vivian karena Matthew menghisap bibirnya yang terluka.
"What? Sory babe aku lupa," ucap Matthew sedangkan Vivian memegangi bibirnya.
"Pelan-pelan, aduh!" Vivian masih meringis.
"Sory babe, aku benar-benar lupa."
"Pergi sana!" usir Vivian.
"Maafkan aku," Matthew mengusap kepala Vivian dan mencium dahinya. Dia benar-benar lupa jika bibir Vivian terluka, sepertinya dia harus menahan diri untuk hal ini selama beberapa saat.
Pada saat itu, ibu dan neneknya sudah datang. Mereka segera menghampiri Vivian untuk melihat keadaannya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan keadaanmu sayang?" tanya Kate.
"Aku baik-baik saja mom," jawab Vivian sambil tersenyum.
"Matth kemari!" perintah Kate sambil berjalan sedikit menjauh.
"Ada apa mom?" Matthew mendekati ibunya dan pada saat itu, Kate menarik telinga putranya.
"Kau anak nakal! Bukankah sudah mommy katakan untuk menjaganya dengan baik?"
"Mom bukan seperti itu," Matthew memegangi tangan ibunya yang sedang menarik daun telinganya.
"Apanya? Memangnya apa yang kau lakukan sampai Vivian bisa mengalami hal ini?!" kate masih menarik telinga putranya.
"Mom, dia sudah membantuku tapi ini semua karena aku lalai," ucap Vivian.
"Jangan membelanya sayang, biarkan saja. Seharusnya dia menjagamu dengan baik dan tidak membiarkan kau terluka seperti ini," ucap Alice pula.
"Terima kasih nek, tapi Matthew sudah membantuku dan kejadian ini di luar perkiraan kami."
"Oke baiklah, bagaimana dengan keadaanmu?" Kate melepaskan telinga putranya dan menghampiri Vivian kembali sedangkan Matthew menggerutu.
"Tidak apa-apa, aku hanya perlu istrirahat," jawab Vivian sambil tersenyum.
Alice dan kate tampak lega, beruntungnya Vivian tidak hamil seperti yang mereka duga. Jika dia benar-benar hamil maka Vivian bisa mengalami keguguran dan hal itu bisa membuat mereka semua terpukul.
Sambil mengusap telinganya yang memerah Matthew berjalan pergi karena dia ingin menghubungi Maxton sesuai permintaan Vivian.
Tidak butuh lama, terdengar suara Jager Maxton yang menjawab panggilan darinya.
"Tuan Max ini aku," ucap Matthew sambil mengusap daun telinganya.
"Ada apa tuan Smith?"
"Maaf jika menggangu waktu tuan Max, hari ini Angel tidak bisa menemuimu karena keadaannya jadi tolong tuan Max memakluminya. Tapi besok dia pasti akan menemuimu."
"Ada apa dengannya?" Jager terdengar khawatir.
"Tidak apa-apa, dia hanya tidak enak badan."
Jager Maxton terdengar lega, entah kenapa dia menghawatirkan Vivian dan jujur saja dia sangat mengharapkan pertemuan mereka kembali bahkan dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Vivian.
"Katakan padanya tuan Smith, dia bisa datang kapan saja. Pintu rumahku terbuka untuknya."
"Baiklah, terima kasih," ucap Matthew.
Jager menghela nafas dan sedikit merasa kecewa karena Vivian tidak jadi datang tapi tidak apa-apa, besok gadis itu pasti akan datang dan lagi pula ada hal penting yang ingin dia lakukan hari ini.
__ADS_1
"Otosan," panggil Damian dan dia sudah tampak siap.
"Ayo kita pergi," ajak Jager dan mereka segera pergi untuk membongkar makam istrinya.