
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang dan Jager sudah tidak sabar menunggu Damian pulang karena mereka akan pergi makan siang dengan putrinya.
Dia sudah tidak sabar bertemu dengan putrinya dan rasanya sudah sangat merindukannya. Malam ini dia ingin meminta putrinya untuk pulang dan menginap di rumah dan dia harap putrinya mau.
Walau kamar yang yang dia siapkan belum selesai di dekorasi tapi putrinya bisa tidur di kamar tamu untuk sementara.
"Ray, bersihkan kamar tamu karena aku ingin mengajak putriku pulang," perintah Jager.
"Tuan, jadi benar anggota FBI yang datang waktu itu adalah putri tuan?" tanya Ray karena dia belum tahu akan hal ini.
"Kau benar Ray, kau tidak akan menyangka bukan? Sejujurnya aku juga tidak menyangka diusiaku yang sudah tua seperti ini aku masih punya kesempatan untuk bertemu dan bersama dengan putriku yang aku kira sudah tiada!"
"Aku turut senang mendengarnya tuan, pantas saja wajahnya begitu mirip dengan nyonya dan aku akan menyambutnya nanti," ucap Ray dengan penuh semangat.
Ray segera berlalu pergi untuk membersihkan ruang tamu sedangkan Jager menghampiri foto istrinya dan berdiri di bawahnya.
"Cristiana, aku sungguh tidak menyangka jika putri kita masih hidup dan aku akan mengajaknya pulang nanti malam. Saat itu kau pasti sudah berusaha melindungi putri kita sampai kau mengorbankan nyawamu dan pengorbananmu tidak sia-sia. Terima kasih Cristiana dan maafkan aku karena aku tidak tahu apa yang kau alami selama di Inggris dan kenapa kau bisa berada di rumah bordil. Aku berjanji padamu untuk menjaganya selama aku masih hidup dan aku tidak akan membiarkan pengorbananmu menjadi sia-sia. Maafkan aku Cristiana karena aku belum bisa bersama denganmu. Aku bersikap sedikit egois sekarang karena aku ingin hidup lebih lama dan menghabiskan waktu bersama dengan putri kita, semoga kau mau memaafkan aku dan menunggu aku sedikit lebih lama di sana," ucap Jager Maxton.
Jager berdiri begitu lama sambil memandangi foto istrinya dan pada saat itu, Damian telah kembali untuk menjemput ayahnya karena sebentar lagi mereka akan makan siang bersama dengan Vivian.
"Dad, kenapa kau berdiri di sana?"
"Aku hanya berbicara dengan istriku saja Damian."
"Daddy selalu berbicara dengan foto istri daddy apa daddy tidak takut di kira gila?" goda Damian.
"Jika begitu segeralah menikah agar aku punya teman untuk berbincang di rumah dan agar aku punya cucu."
__ADS_1
"Tidak ada yang mau denganku dad," jawab Damian asal.
Dia masih baru di Amerika dan belum punya banyak kenalan bahkan dia juga masih baru memimpin perusahaan ayahnya, mana mungkin dia bisa punya pacar begitu cepat?
"Omong kosong, jika aku keluar rumah pasti ada yang mau denganku apalagi kau, tidak mungkin tidak ada yang mau denganmu!"
Damian terkekeh dan menghampiri ayahnya, "Jadi daddy ingin mencari istri baru? Sepertinya aku harus mengatakan hal ini pada adik nanti."
"Enak saja! Dari dulu sampai sekarang hanya Cristiana yang ada di hatiku dan tidak ada yang bisa mengantikannya lagi!"
"Sepertinya daddy pantas mendapat piala oscar karena telah menjadi pria paling setia," ucap Damian bercanda sedangkan Jager tersenyum.
"Kau harus ingat Dam, kesetiaan sangat penting dalam menjalin sebuah hubungan dan aku harap kau setia dengan wanita pilihanmu nanti."
"Tentu saja dad, sudah siap pergi?"
Jager mengangguk, mereka sudah harus pergi untuk makan siang dengan putrinya dan dia tidak mau Vivian menunggu mereka nantinya.
Dia masih terlihat sibuk mengumpulkan beberapa data mengenai penjahat yang bernama Mosha. Dia harus pura-pura mencurigainya supaya kedua rekannya tidak curiga dan ketika jam makan siang sudah tiba, Charlie dan Felicia menghampiri Vivian karena mereka ingin mengajaknya makan siang.
"Angel, ayo temani kami makan siang, kau sudah lama di sini dan tau restoran apa saja yang menyajikan makanan enak," ajak Charlie.
"Sorry Charlie, aku sudah ada janji," tolak Vivian.
"Dengan siapa?" tanya Felicia.
"Keluargaku," jawab Vivian lagi seraya bangkit berdiri.
__ADS_1
"Keluargamu ada di Amerika?" tanya Charlie lagi.
"Yes, aku akan kembali dengan cepat agar kita bisa pergi menyelidiki Mosha."
Vivian segera mengambil kunci motornya dan melangkah pergi sedangkan kedua rekannya hanya saling pandang.
Vivian pergi menuju Greens restoran karena ayah dan kakaknya sudah menunggu di sana. Greens restoran adalah restoran yang menyediakan makanan sehat ala Vegetarian tapi pengunjung yang datang ke sana akan puas dengan makanan yang dihidangkan di restoran tersebut.
Damian dan Jager sudah menunggu Vivian, hari itu restoran begitu ramai dengan pengunjung dan tanpa mereka tahu jika Ella sudah berbaur dengan pengunjung yang ada di sana karena mereka tidak mengenal Ella.
Ella duduk tidak jauh dari mereka dan pura-pura memesan menu makanan, dia harus menunggu moment yang tepat untuk menembak targetnya karena saat itu, banyak yang berlalu lalang melewati meja tempat Jager dan Damian berada.
Sesuai dengan perintah Gary, dia harus membunuh Jager Maxton. Gary memang ingin melenyapkan Jager terlebih dahulu barulah dia bermain dengan Vivian dan Matthew.
Hancurkan musuh utama lalu kacaukan musuh kedua, itulah rencana Gary. Dia ingin Jager Maxton membayar kematian ayahnya dengan cepat dan dia tidak mau menunda untuk hal ini lagi.
Rencana adu domba antara Vivian dan Jager Maxton sudah gagal jadi sebaiknya dia memerintahkan Ella menghabisi Jager dengan sekali tembak.
Setelah memesan makanan, Ella mengambil pistol dari dalam tasnya dan sebuah serbet karena para pengunjung sudah duduk di tempatnya. Dia akan menutupi pistolnya dengan serbet saat dia akan menembak Jager Maxton tapi sayang saat itu niatnya kembali terhalang karena seorang waiters menghampiri targetnya untuk memberikan buku menu yang dipinta oleh Damian.
Ella berdecak kesal saat waiters itu menghalanginya dan dia tidak jadi menembak. Waiters itu cukup lama berdiri di sana sampai membuat Ella memaki dalam hati karena waktunya terbuang banyak.
Tadi adalah kesempatan yang sangat bagus tapi terlewat begitu saja karena terhalang oleh seorang waiters. kesempatan seperti itu sudah terbuang sia-sia dan dia harap setelah ini dia bisa langsung membunuh pria tua itu karena dia tidak mau mengecewakan Carlk.
Di depan pintu masuk Vivian baru tiba, dia segera mencari ayah dan kakaknya karena dia tidak ingin membuat mereka menunggu sedangkan waiters yang menghalangi Ella berjalan pergi.
Ella menutupi pistolnya menggunakan serbet karena ini adalah kesempatannya, pistol diangkat dan di arahkan ke dada kiri Jager Maxon. Cukup sekali tembak maka pria tua itu akan mati dan misinya selesai.
__ADS_1
Pelatuk pistol siap ditekan tapi pada saat itu, tanpa sengaja Vivian melihat ke arah Ella saat dia mencari keberadaan ayah dan kakaknya diantara para pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka. Vivian melihat Ella dengan curiga dan melihat benda yang dipegang oleh Ella sedang mengarah ke arah ayahnya, dia langsung tahu jika benda yang sedang dipegang oleh Ella dan ditutupi dengan serbet adalah sebuah pistol dan Ella ingin menembak ayahnya.
Tanpa membuang waktu Vivian berlari dan berteriak, "Daddy awas!" tapi sayang pelatuk pistol sudah ditekan oleh Ella dan, "Dor!" sebuah timah panas sudah dimuntahkan dan melesat dengan cepat ke arah Jager Maxton.