
Di atas gedung sang sniper masih membidikkan senjatanya, sungguh dia ragu harus menembak yang mana. Jika sasarannya salah maka dia tidak membunuh target dan resiko besar yang harus dia dapat.
Senjata apinya terkadang dia bidikkan ke arah Matthew dan terkadang ke arah Michael, dia tidak punya banyak kesempatan dan harus segera menembak tapi yang mana harus dia tembak?
"Son of a b*ch! Yang mana harus aku bunuh?" umpat sniper itu kesal.
Karena ragu dan tidak punya banyak waktu, pria itu menghubungi orang yang membayarnya dan tidak butuh lama, orang itu sudah menjawab panggilan darinya karena dia memang sedang menunggu kabar dari sniper yang dia bayar.
"Apa kau sudah membunuhnya?" tanyanya tidak sabar.
"Ada dua aku harus bunuh yang mana?!"
"F*ck! Kenapa mereka keluar bersamaan!" umpat orang itu kesal.
"Jadi apa aku harus melanjutkan misi ini apa tidak?!"
"Tembak yang mana saja, sekarang!" teriaknya.
Setelah mendapatkan perintah, sniper itu kembali fokus ke senjata apinya dan siap membidik siapa saja yang dia lihat.
Pada saat itu Michael berdiri di samping pintu mobil dan hendak masuk ke dalam dan tanpa ragu, pelatuk senjata api ditekan dan peluru melesat dengan cepat ke arah Michael dan kepala Michael adalah sasarannya.
Tanpa menyadari jika ada pembunuh yang mengincar mereka dan pada saat jarak peluru sudah dekat, Michael menunduk karena dia hendak masuk kedalam mobil dan pada saat itu?
"Trang!" peluru melewati atas kepala Michael dan mengenai bagian pintu mobil karena peluru yang ditembakkan meleset dari sasaran.
Michael sangat kaget begitu juga dengan Matthew yang sudah berada di dalam mobil, Michael mengurungkan niatnya dan melihat penyokan dan sebuah peluru yang ada dibagian pintu mobil.
Matthew segera keluar dari mobilnya dan melihat sekitarnya begitu juga dengan asisten pribadinya James.
"Mich, masuk!" perintah Matthew.
"Bagaimana denganmu kak?"
"Masuk! Jangan sampai terjadi sesuatu padamu!" perintah Matthew lagi dan dia melihat gedung-gedung disekitarnya.
__ADS_1
Sang sniper mengumpat kesal karena tembakannya meleset dan pada saat melihat Matthew berdiri di tempat yang terbuka, dia kembali mengintip dari balik teropongnya karena dia mau membidik targetnya.
Matthew memperhatikan gedung-gedung yang ada di sekitar dengan teliti karena bisa dia tebak, sepertinya ada seorang penembak jitu yang sedang bersembunyi dan mengintai mereka, tidak akan dia biarkan orang yang sudah berani menembak adiknya pergi begitu saja.
Sang sniper siap membidik tapi keberuntungan tidak akan terjadi untuk kedua kali, saat itu tanpa dia sadari cahaya matahari mengenai kaca teropongnya sehingga benda itu bercahaya dan pada saat yang bersamaan, Matthew melihat cahaya dari atap gedung di mana sang sniper berada.
"James bawa anak buah dan kepung gedung itu bersama denganku dan Mich, retas cctvnya dan laporkan padaku apa yang kau lihat!" perintahnya.
Matthew segera berlari menyebrang jalan bersama dengan James yang sedang memanggil anak buah mereka, sedangkan Michael kembali ke dalam kantor dan segera duduk di depan komputer yang digunakan karyawan mereka karena dia akan mulai meretas.
Begitu mengetahui jika dia sudah ketahuan, sang sniper segera membongkar senjatanya dan memasukkan benda itu kedalam tas karena dia harus pergi.
Matthew sudah berlari menuju gedung bersama dengan James, anak buah yang dipanggil juga sudah datang dan mereka akan mengepung tempat itu.
Seekor lalat pun tidak akan dibiarkan keluar apalagi orang yang berani menodongkan senjata api ke arah mereka.
Sang sniper segera berlari turun kebawah dan menyelinap dengan diam-diam menuju pintu darurat karena dia akan pergi melalui parkiran, jangan sampai dia tertangkap jika tidak maka habislah dia.
Michael sudah meretas dan melihat cctv yang ada di dalam gedung, seorang pria yang tampak mencurigakan turun dari atap gedung dan berjalan menuju pintu darurat.
Michael mengambil earphonenya dan memasang benda itu di telinga, dia akan segera memberi tahu kakaknya kemana pria itu pergi.
"Terus awasi kemana dia pergi dan katakan padaku!" perintah Matthew.
"Siap kak," jawab Michael.
Matthew dan para anak buahnya berlari menuju parkiran, mereka akan mencegat sniper itu di sana.
Tanpa tahu jika gerak geriknya diawasi dan akan disergap, sang sniper berjalan dengan terburu-buru menuruni anak tangga.
Lift bisa dia gunakan tapi dia tidak ingin menunggu apalagi gedung itu memiliki puluhan lantai. Resiko tertangkap sangat besar jika dia menggunakan lift apalagi dia tahu beberapa orang berlari ke arah tempat itu saat sudah mengetahui keberadaannya.
Anak buah Matthew juga naik menggunakan tangga dan Matthew berjalan di belakang mereka. Mereka naik secara diam-diam supaya orang yang akan mereka tangkap tidak mengetahui keberadaan mereka bahkan senjata api sudah siap di tangan mereka.
Matthew memerintahkan anak buahnya untuk menangkap orang itu hidup-hidup karena dia akan mengintrogasinya untuk mencari tahu siapa yang membayarnya.
__ADS_1
"Kak, dia sudah berada empat lantai di atasmu," Michael memberi laporan.
Matthew mengangguk dan memberi perintah kepada anak buahnya untuk naik lebih cepat tapi pada saat itu, Michael kembali berkata, "Kak, dia berjalan menuju lift!"
"Naik!" perintah Matthew kepada anak buahnya dan mereka mulai berlari untuk naik ke atas.
Sang sniper menghampiri lift dengan tergesa-gesa karena ini saatnya melarikan diri menggunakan benda itu, dia sudah memperhitungkannya. Lift turun dari atas dan tidak mungkin orang-orang itu berada di dalam lift.
Pria itu segera menekan tombol lift dan berharap lift segera turun tapi sayang, benda itu berhenti di lantai lain.
Dia mengumpat kesal dan memutar langkahnya menuju anak tangga, dia akan kembali turun menggunakan tangga karena bisa saja orang-orang yang mengejarnya berada didalam lift lain yang sedang bergerak naik tapi dia tidak tahu anak buah Matthew sudah berada satu lantai di bawahnya.
Sang sniper berlari menuruni tangga tapi langkahnya berhenti saat dia bertemu dengan anak buah Matthew.
"Kalian bertemu dengannya kak," ucap Michael.
"Tangkap dia!" perintah Matthew.
"What the f*ck!" umpat sang sniper dan dia langsung berlari ke atas, sedangkan anak buah Matthew mengejarnya.
"Sebaiknya berhenti jika tidak akan kami tembak!" teriak salah satu anak buah Matthew yang sudah menodongkan senjata apinya.
Sang sniper mengumpat kesal, ini benar-benar di luar perhitungannya. Bagaimana mereka tahu jika dialah yang menembak?
Dia ingin mengeluarkan senjata apinya dari balik bajunya tapi pada saat itu, sebuah peluru sudah ditembakkan ke arahnya dari sebuah pistol kedap suara.
Si sniper berteriak saat timah panas menembus kakinya dan pria itu langsung jatuh ke atas lantai.
Matthew berjalan mendekati pria itu dan menatapnya dengan tajam, sedangkan pria itu meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.
"Bawa dia ke markas dan jangan sampai ada yang tahu!" perintahnya.
"Siap bos!" jawab anak buahnya.
Matthew menyimpan pistolnya dan berbicara dengan adiknya, "Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan Mich?"
__ADS_1
"Tenang saja kak, aku sudah mengacaukan Cctv di gedung itu sedari tadi dan tidak akan ada yang tahu apa yang kakak lakukan!" jawab Michael.
"Bagus!" Matthew menyibakkan jasnya dan melangkah pergi, sedangkan anak buahnya membawa si sniper yang sudah mereka buat pingsan ke markas.