
Saat itu, Matthew sedang berbicara dengan Michael. Mereka sedang membahas orang yang ingin membunuh mereka akhir-akhir ini dan menurut orang-orang yang mereka tangkap dan introgasi, mereka menyebut satu nama yang sama yaitu Maxton.
Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja apalagi selama ini organisasi Black King selalu tunduk dengan mereka dan tidak pernah mencari perkara. Apakah sekarang mereka berniat memberontak?
Selama menunggu Vivian sadar lebih baik dia membicarakan hal ini dengan adiknya dan mereka berbicara melalui telephone selular karena Michael masih berada di kantor saat ini.
Matthew juga ingin meminta adiknya mengawasi kegiatan organisasi Black King beberapa hari kedepan melalui Cctv yang dia retas.
"Jadi kak? Menurut orang yang kita tangkap kemarin, apakah lagi-lagi Maxton yang membayar mereka?" tanya Michael.
"Ya, ini sudah kedua kalinya Mich. Bagaimana menurutmu? Apa aku harus langsung mendatangi Black King dan menghancurkan mereka? Atau ada orang lain yang kau curigai?" Matthew balik bertanya.
"Menghancurkan mereka adalah hal mudah bagimu kak tapi sebaiknya tidak terburu-buru melakukannya!" jawab adiknya.
"Aku tahu kau pasti akan mengatakan hal ini jadi aku ingin kau memantau kegiatan yang dilakukan oleh Black King selama beberapa hari kedepan. Cari tahu apa yang mereka lakukan terutama Maxton, setelah Angel sembuh aku akan pergi menemuinya secara pribadi."
"Seperti permintaanmu kak, aku akan melakukannya," jawab Michael.
"Baiklah, ngomong-ngomong di mana Ainsley?"
"Sudah pulang, kenapa?"
"Hei kalian tidak lupa bukan jika kalian harus bertanggung jawab dan menjelaskan pada Angel jika dia hanya salah paham!"
Michael terkekeh dan berkata, "Jangan khawatir kak, kami akan kesana untuk menyelamatkan kedua bokongmu!"
"Ck, dia tidak akan bisa menendang bokongku untuk saat ini!" jawab Matthew kesal.
Michael kembali terkekeh, semoga saja. Tapi dia punya firasat jika kakaknya akan mendapat tendangan lagi dan entah itu kapan.
Pada saat itu, Vivian terbangun saat mendengar suara seseorang sedang berbicara di sampingnya. Dengan perlahan, Vivian membuka matanya dan merasakan sakit di area perutnya.
Di mana dia saat ini? Apa dia sudah mati atau bagaimana? Vivian memegangi kepalanya dan pada saat melihat Matthew berada di sampingnya, Vivian langsung membuang wajahnya karena dia tidak mau melihat Matthew.
Dia diam saja dan kembali memejamkan matanya, kenapa pria itu ada di sana? Apa belum cukup mempermainkannya selama ini?
Setelah selesai berbicara dengan adiknya, Matthew meletakkan ponselnya di atas meja dan setelah itu Matthew mengusap punggung tangan Vivian.
Secara refleks Vivian segera menarik tangannya karena dia tidak mau disentuh oleh Matthew.
"Babe, bagaimana dengan keadaanmu?" Matthew sangat senang Vivian sudah sadar tapi Vivian diam saja tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Babe, kenapa kau diam saja?" tanya Matthew lagi tapi Vivian tetap diam.
"Babe lihat aku! Apa kau tidak mengenaliku lagi? Apa kepalamu terbentur saat ledakan terjadi?"
Matthew jadi khawatir dengan keadaan Vivian, kenapa diam saja? Apa gigi Vivian ada yang rontok atau jangan-jangan dia gegar otak?
"Babe!"
__ADS_1
"Pergi! Aku tidak mau melihatmu!" ucap Vivian dengan dingin.
"Kenapa? Kesalahan apa yang telah aku perbuat?"
"Jangan pura-pura tidak tahu jadi pergilah! Mulai sekarang aku tidak mau melihatmu lagi! Aku juga akan menganggap tidak pernah bertemu denganmu dan mengenalmu jadi pergilah! Aku sungguh tidak mau melihat wajahmu lagi!"
"Enak saja! Jangan sembarangan memutuskan!" ucap Matthew tidak terima.
"Pergilah! Cukup sampai di sini hubungan kita! Aku sangat berterima kasih kau telah mengajarkan aku banyak hal!" Vivian menutupi matanya menggunakan lengannya. Rasanya ingin menangis tapi dia tahan.
"Kau!" Matthew sangat kesal mendengarnya. Belum mendengarkan penjelasannya tapi sudah berani memutuskan hubungan mereka seenaknya.
"Pergi! Aku tidak mau melihatmu!" ucap Vivian.
"Tidak mau melihatku kau bilang?!" Matthew semakin kesal.
"Benar jadi pergi sana dan jangan kembali!" jawab Vivian.
"Kau yang memaksa dan akan aku buka matamu lebar-lebar supaya kau melihatku!"
Tanpa Vivian duga, Matthew naik keatas ranjang bahkan naik keatas tubuhnya. Vivian sangat kaget apalagi Matthew ingin menyingkirkan lengan yang menutupi matanya.
"Mau apa kau?!"
"Membuka matamu agar kau melihatku?!" jawab Matthew.
"Tidak mau, pergi sana!" usir Vivian sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Pergi! Jangan menindas orang sakit!" ucap Vivian.
Matthew terkekeh tapi dia tetap memaksa dan menyingkirkan kedua tangan Vivian yang menutupi wajahnya.
"Ayo sini buka matamu!" ucap Matthew tapi Vivian tetap tidak mau.
"Aku tidak mau melihatmu!" Vivian masih tetap dengan pendiriannya.
Setelah menyingkirkan kedua tangan Vivian, kini kedua tangan Matthew sudah berada di wajah Vivian dan jarinya sudah berada di kedua kelopak mata Vivian untuk memaksa Vivian membuka kedua matanya.
"Dasar jahat! Aku sudah bilang tidak mau melihat wajahmu!" teriak Vivian sambil memegangi kedua tangan Matthew.
"Ayolah, buka matamu jika tidak aku akan melakukan hal lainnya dengan bibirku!"
"Apa? Jangan mengancam!"
"Kau yang memaksaku babe!"
Matthew masih memaksa membuka kelopak mata Vivian sedangkan Vivian masih tetap tidak mau membuka matanya. Adegan paksa memaksa membuka mata masih berlanjut sampai seorang perawat masuk kedalam dan sangat kaget melihat kelakuan mereka.
"Oh my God, apa yang kalian lakukan?" teriak perawat itu.
__ADS_1
"Suster, dia menganiaya orang sakit!" teriak Vivian.
"Jangan salah paham, aku sedang mencari rambut di matanya!" jawab Matthew asal.
"Rambut siapa yang masuk ke dalam mataku?!" tanya Vivian kesal.
"Rambutku!" jawab Matthew sambil terkekeh.
Matthew turun dari atas tubuh Vivian dan hendak turun dari atas ranjang tapi pada saat itu, Vivian mengangkat kakinya dan?
"Gubrak!" Matthew terjungkal ke bawah karena Vivian menendang bokongnya.
"Oh my, babe!" Matthew sangat kesal dan mengusap bokongnya.
"Impas!" ucap Vivian sambil tersenyum puas.
Perawat tadi hanya menggeleng melihat kelakuan mereka, sepertinya dia masuk di saat yang tidak tepat.
Setelah memeriksa keadaan Vivian perawat itu segera keluar sedangkan Matthew dan Vivian diam saja.
Vivian merapikan rambutnya yang berantakan dan pada saat itu Matthew mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Masih marah?"
"Huh!" Vivian membuang wajahnya ke samping.
Matthew mengusap wajah Vivian dengan senyum di wajahnya dan pada saat itu, Vivian menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku!" ucap Vivian dengan sinis.
"Bebe jangan salah paham, yang kau lihat bukan aku!"
"Oh ya? Jika begitu yang aku lihat adalah arwahmu yang sedang berselingkuh!"
"Percayalah babe, yang kau lihat bukan aku tapi mereka adalah adikku."
"Aku tidak percaya!"
"Aku tidak berbohong babe," ucap Matthew meyakinkan.
"Sudahlah, aku tidak percaya padamu lagi jadi pergilah. Dia lebih cantik dan lebih baik dariku jadi pergilah! Kita akhir hubungan kita sampai di sini saja."
"Oh astaga kau benar-benar!" Matthew jadi kesal kembali.
"Dengar baik-baik! Seandainya yang kau lihat adalah aku, belum tentu gadis yang bersama denganku adalah pacarku! Selama ini kau selalu berkata jika cintamu masih untuk Carlk dan belum ada untukku lalu kenapa kau marah? Kenapa saat ini kau seperti orang yang sedang cemburu? Apa di hatimu sudah ada cinta untukku sehingga kau marah seperti ini? Jika tidak ada aku rasa kau tidak perlu marah saat melihatku dengan wanita lain yang belum tentu adalah pacarku apalagi sampai sekarang cintamu masih untuk Carlk bukan?"
Matthew menatap Vivian dengan serius, sedangkan Vivian diam saja sambil bertanya dalam hati, "Apa maksud ucapan Freddy?"
"Jawab aku Angel!" Matthew memegangi pipi Vivian sehingga mereka saling pandang.
__ADS_1
"Apa sudah ada cinta di hatimu untukku?"
Vivian diam seribu bahasa dan mencari jawaban dalam hatinya, apa dia sudah jatuh cinta pada pria aneh ini?