Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Rasa puas


__ADS_3

Patrik dan Vivian saling pandang sejenak saat mobil mainan berhenti tidak jauh dari mereka. Suara detakan jarum penunjuk angka yang terdapat di bom terasa begitu nyaring terdengar begitu juga dengan degupan jantung mereka.


"Lari!" teriak mereka secera bersamaan dan mereka segera lari untuk menyelamatkan diri karena mereka tidak punya banyak waktu.


Mereka berlari sekuat tenaga dan tidak lama kemudian?


"Duaarr!!" bom meledak dan tubuh mereka terhempas oleh dahsatnya gelombang ledakan.


Cctv yang ada di sana rusak akibat ledakan dan Matthew kehilangan Vivian karena cctv mati tidak bisa merekam lagi. Dia juga memanggil-manggil Vivian dan berharap Vivian baik-baik saja.


"Babe....babe?" Matthew berusaha memanggil tapi sayang, tidak ada yang menjawab karena earphone yang dipakai oleh Vivian terpental entah kemana.


Matthew mengumpat kesal dan segera keluar, dia akan menuju lokasi untuk melihat keadaan Vivian. Dia harap Vivian baik-baik saja karena daya ledak bom begitu dahsyat.


Siapapun buronan Vivian jika sudah tertangkap tidak akan dia biarkan orang itu mati dengan mudah, akan dia buat orang itu mengalami siksaan yang menyakitkan sampai dia berharap untuk mati tapi kematian tidak akan mendatanginya dengan mudah.


Matthew benar-benar marah karena buronan Vivian sudah benar-benar keterlaluan. Akan dia buat orang itu membayar setiap luka dan setiap tetes darah yang menetes dari tubuh Vivian. Akan dia ingat kajadiannya ini dan pada saat sudah tertangkap, akan dia pastikan orang itu harus membayarnya.


Dilokasi kejadian, Vivian menggerakkan tubuhnya yang terpental dan membentur dinding dengan susah payah. Tulang-tulangnya bagaikan remuk itu karena tubuhnya terhempas jauh dan menabrak dinding dengan keras.


Darah segar mengalir dari bibirnya dan tangannya seperti keseleo. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan sambil menahan sakit, Vivian mencari Patrik dan dia harap Patrik baik-baik saja.


"Patrik?" asap dan debu akibat ledakan mengepul dan berbaur menjadi satu menutupi pandangannya.


"Patrik?" Vivian kembali memanggil karena Patrik tidak menjawab.

__ADS_1


"Patrik apa kau baik-baik saja?" tanya Vivian dan dia berusaha bangkit berdiri.


"An...Angel," samar-samar terdengar suara patrik dan Vivian masih mencari.


"Patrik?" Vivian mendekati suara Patrik saat Patrik memanggil namanya lagi.


Begitu melihat keadaan Patrik Vivian sangat kaget dan langsung berlari menghampiri Patrik sambil memegangi lengannya. Bagaimana tidak, Patrik sedang bersandar pada dinding bangunan dengan sebuah besi menancap di perutnya.


"Patrik, oh astaga!"


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawab Patrik sambil melihat keadaan Vivian yang dipenuhi dengan luka.


"Apanya yang tidak apa-apa? Jika kau mati maka seluruh Bikini bottom akan sedih!"


"Hei ini bukan saatnya bercanda!" ucap Patrik sambil meringis kesakitan.


"Ayo, aku akan membawamu keluar."


"Tinggalkan aku Angel dan pergi cari bantuan."


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan rekanku," ucap Vivian dan dengan tenaga yang ada, Vivian memapah tubuh Patrik karena dia harus menolong rekannya. Jangan sampai Patrik mati kehabisan darah.


Mereka melewati bangunan yang hancur sebagian dan api masih menyala membakar bangunan itu. Akibat ledakan yang dahsyat, beberapa lantai bangunan hancur dan terbakar, sedangkan di bawah sana para polisi mulai memanggil mobil pemadam kebakaran dan menugaskan beberapa tim penyelamat untuk masuk mencari dua agen yang masih berada di dalam.


Mereka juga memanggil Ambulans untuk datang karena mereka harus mengambil antisipasi jika terjadi sesuatu dengan kedua agen yang masih terperangkap di dalam sana.

__ADS_1


Vivian masih berusaha memapah tubuh Patrik dengan susah payah dan akan membawanya ke luar dari tempat itu. Dia sungguh tidak kuat lagi dan rasanya sudah mau pingsan karena rasa sakit disekujur tubuhnya, apalagi mereka harus melewati kobaran api yang mulai menjalar membakar tempat itu.


Beruntungnya mereka bertemu dengan team penyelamat yang sedang mencari mereka karena wajah Patrik sudah tampak pucat akibat kehabisan darah dan semua itu disebabkan besi yang masih menancap di perutnya.


Team penyelamat langsung melakukan tindakan untuk mengevakuasi mereka berdua dan langsung membawa mereka keluar dari tempat yang masih terbakar.


Di luar sana Matthew sudah tiba tapi dia tidak diperbolehkan mendekat oleh para pihak berwajib. Bisa dia lihat bangunan hancur sebagian dan masih dalam keadaan terbakar. Dia harap Vivian baik-baik saja di dalam sana dan segera keluar karena sejak ledakan terjadi dia sudah berusaha menghubungi Vivian tapi sia-sia.


Matthew menunggu dengan was-was dan rasanya ingin menerobos masuk melewati pembatas polisi untuk mencari Vivian di dalam gedung yang masih terbakar.


Dia benar-benar akan melakukannya dan tidak perduli dengan petugas yang ada di sana jika dalam lima menit Vivian tidak keluar, ini menyangkut keselamatan Vivian dan dia tidak perduli jika harus bertikai dengan pihak berwajib.


Setelah beberapa saat menungu dengan perasaan yang campur aduk, tidak lama kemudian Vivian dan Patrik tampak di bawa oleh team penyelamat menggunakan tandu.


Vivian sudah tidak sadarkan diri begitu juga dengan Patrik. Saat melihatnya Matthew semakin marah dan rasanya dia ingin meledakkan kepala buronan Vivian jika ada di depan matanya.


Tubuh Vivian dan Patrik di bawa masuk ke dalam mobil Ambulans karena mereka harus segera ditangani terutama Patrik, bahkan seorang dokter dan seorang perawat sudah berada di dalam mobil Ambulans yang membawa Patrik untuk melakukan tindakan darurat jika tidak Patrik bisa mati di dalam perjalanan.


Mobil Ambulans mulai bergerak pergi untuk membawa dua agen yang menjadi korban akibat ledakan, sedangkan Matthew masih berdiri di sana dengan kemarahan di hati.


Matthew menggenggam tangannya dengan erat, tunggu saja akan dia balas nanti. Dia segera kembali ke mobilnya karena dia mau mengikuti mobil Ambulans yang membawa Vivian dan ingin melihat keadaanya.


Sementara itu dari kejauhan Carlk tersenyum dengan puas melihat bar yang meledak dan terbakar akibat perbuatannya, dia benar-benar puas karena bisa membalas Vivian. Dia harus berbangga diri akan hal ini karena dia bisa melukai Vivian walaupun masih ada cinta di hatinya untuk gadis itu.


Dia tahu Vivian tidak akan mati hanya karena sebuah ledakan dan ini hanya tontonan kecil baginya. Tontonan yang lebih menarik akan segera dimulai saat rencana adu dombanya berhasil dan dia akan jadi penonton saat mereka saling bunuh.

__ADS_1


Karena sudah puas, Carlk segera pergi. Dia akan pulang dan tidur dengan nyenyak tapi waktu untuknya tidak akan lama lagi karena Malaikat maut mengikutinya dan sudah menentukan kapan keberuntungannya akan selesai. Malaikat maut itu juga sudah menentukan kapan kematiannya akan terjadi dan bagaimana dia akan mati untuk menebus segala dosa yang telah dia lakukan karena telah merenggut nyawa banyak orang yang tidak bersalah.


Biarkan dia tetawa karena tidak lama lagi, tawanya akan berubah menjadi sebuah jeritan penuh penderitaan dan pada saat itu terjadi, kematian pun enggan menghampirinya jadi tunggu waktunya tiba.


__ADS_2