
Hari telah berganti dan hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Jager Maxton karena hari ini dia akan bertemu dengan orang yang telah merawat dan membesarkan putrinya.
Jager bangun lebih pagi dari biasanya karena dia sudah tidak sabar dan dia harap pertemuan mereka hari ini dapat berjalan dengan lancar tanpa ada yang menggangu mereka.
Bukti tes DNA sudah ada dan sesuai dengan saran Damian, Jager sudah mempersiapkan foto istrinya yang sedang mengandung dan saat istrinya menggendong putri mereka di rumah sakit sebelum istrinya dibawa pergi oleh Marck Wriston.
Semua sudah dia siapkan dan dia sudah terlihat tidak sabar tapi entah kenapa tiba-tiba dia ingin menyiapkan sebuah kamar untuk putrinya tempati nanti. Jager segera berjalan menuju sebuah kamar yang tidak ditepati oleh siapapun di rumahnya, mungkin dia harus merombak kamar itu untuk putrinya dan dia harap putrinya mau tinggal dengannya dan menghabiskan waktu bersama dengannya.
Dia ingin menebus waktu dua puluh lima tahun yang terbuang sia-sia dan dia harap putrinya mau tinggal dengannya, cukup seperti itu saja sudah membuatnya bahagia.
Jager melihat kamar yang masih kosong, dia sedang memikirkan apa yang disukai oleh anak perempuan dan bagaimana dia harus mendekorasi kamar itu agar putrinya senang.
Jujur saja dia tidak tahu masalah ini dan memang dia tidak tahu apa-apa. Lebih baik dia mencari tahu hal ini dan bertanya pada pelayan pribadinya, siapa tahu dia bisa memberi solusi.
Jager keluar dari kamar untuk mencari Ray dan pada saat itu Damian baru saja kembali dari berolahraga.
"Dad, kenapa kau bangun begitu pagi?"
"Aku sudah tidak sabar Dam dan sekarang aku ingin mendekorasi kamar untuk adikmu tempati nanti," jawab ayahnya dengan penuh semangat.
Damian terkekeh dan berjalan menuju dapur karena dia ingin mengambil air sedangkan ayahnya mencari pelayan pribadinya.
Jager terdengar begitu bersemangat dan dia mengajak pelayan pribadinya menuju kamar yang ingin dia rombak untuk putrinya tempati, dia sangat ingin putrinya tinggal di sana dan menemani harinya. Dia akan mengutarakan niatnya nanti dan dia harap putrinya tidak menolak permintaannya.
Sedangkan di tempat lain, Marta terlihat gelisah karena hari ini mereka akan bertemu dengan orang yang mengaku sebagai orang tua Vivian. Entah seperti apa orang itu tapi dia harap orang itu tidak mengambil putrinya dan tidak melarang mereka untuk bertemu lagi.
Dia benar-benar takut dan dia harap hal itu tidak terjadi jika tidak, dia tidak akan rela kehilangan Vivian dan dia tidak rela Vivian diambil begitu saja.
"Morning mom," sapa Vivian.
Dia baru saja kembali dari lari pagi dan dia menginap di sana karena dia ingin dekat dengan keluarganya. Walaupun berat, Matthew membiarkan Vivian bersama dengan keluarganya dan sepertinya mereka tidak akan tidur berdua untuk beberapa saat.
"Sayang, bagaimana dengan tugasmu di sini?" Marta bertanya seraya mengambilkan air minum untuk putrinya.
"Tugas kali ini sedikit berat mom tapi tidak perlu khawatir, dua rekanku sudah datang untuk membantuku."
"Apa kau betah tinggal di sini?" tanya ibunya lagi.
"Tentu saja mom," jawab Vivian tanpa tahu jika ada kesedihan di wajah ibunya.
"Jadi kau tidak akan kembali ke Inggris dan akan tinggal di sini bersama dengan orang tua kandungmu? " tanya Marta sambil menunduk.
__ADS_1
"Mom," Vivian mendekati ibunya dan memeluknya.
"Di manapun aku berada, kau tetap akan menjadi ibuku. Mungkin aku akan menikah dengan Matthew dan tinggal bersama dengannya di sini tapi aku akan sering-sering pulang ke Inggris untuk menjengukmu nanti. Walaupun aku tinggal di sini bukan berarti kita putus hubungan. Sampai kapanpun kau adalah ibuku dan aku Vivian Adison adalah putrimu."
"Kau benar, mommy lupa jika suatu hari nanti kau akan menikah dan tinggal bersama dengan suamimu tapi sayang, boleh mommy tahu satu hal?"
"Tentu, apa yang ingin mommy tahu?"
"Bagaimana dengan mantan pacarmu? Apa kau sudah melupakannya?"
Vivian tersenyum, ibunya pasti tidak menyangka jika dia sudah bertemu dengan Carlk dan dia sudah melupakan Carlk.
"Aku sudah melupakannya mom, dia hanya penipu dan yang aku cintai sekarang hanya Matthew saja."
"Baiklah, mommy senang mendengarnya. Pergilah mandi dan setelah itu tanyakan pada kakekmu jam berapa dia akan menemui orang yang mengaku sebagai orang tuamu."
"Oke mom, i love you," ucap Vivian seraya mencium pipi ibunya dan setelah itu dia berlalu pergi.
Vivian mandi dengan cepat dan setelah itu dia mencari kakek dan ayahnya. Dia ingin tahu jam berapa kakeknya akan menemui Maxton karena dia harus memberi Maxton kabar.
"Kakek," Vivian mendekati kakeknya yang sedang menikmati segelas teh di ruang tamu.
"Ada apa Vivi?"
"Jam berapapun boleh Vivi tapi sebaiknya tanyakan pada Jager Maxton, jam berapa dia bisa kita temui, apa kita yang harus pergi mencarinya atau dia yang mendatangi kita?"
"Baiklah kakek, aku akan menanyakan hal ini," jawab Vivian dan dia segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya.
Sebelum menghubungi Maxton, entah kenapa dia jadi ingin menghubungi Matthew terlebih dahulu. Dia ingin tahu apa yang Matthew lakukan dan tidak butuh lama, sudah terdengar suara Matthew.
"Oh babe, aku tidak bisa tidur tanpamu," ucap Matthew sedangkan Vivian terkekeh.
"Kau harus bisa Mr Smith karena aku akan menginap di sini selama keluargaku ada di Amerika."
"What? Are you kidding me?"
"No, jadi kau harus bisa tidur sendiri."
"Oh my, sungguh siksaan yang berat!"
Vivian kembali terkekeh, sebenarnya dia juga sulit tidur karena tidak ada yang memeluknya tapi nanti mereka akan terbiasa.
__ADS_1
"Matth, apa kau tidak mau datang?"
"Tentu saja mau sayang, jam berapa keluargamu akan bertemu dengan Jager Maxton?"
"Aku belum menanyakan hal ini pada Jager."
"Ck, segeralah hubungi Maxton, dia pasti sudah menunggu kabar darimu dan jangan membuatnya menunggu terlalu lama!"
"Aku tahu, segeralah datang jika tidak aku akan menendangmu!" ancam Vivian.
"Baiklah Mrs Smith, aku tidak bisa membantahmu," jawab Matthew sedangkan Vivian tertawa.
Setelah berbicara dengan Matthew, Vivian segera menghubungi Jager dan begitu ponselnya berbunyi, Jager segera menjawabnya karena dia sudah menunggu sedari tadi.
"Maaf menggangu tuan Max."
"Tidak apa-apa, katakan padaku kapan aku bisa bertemu dengan mereka?" Jager sudah terdengar tidak sabar.
"Kapanpun bisa dan kakek bertanya di mana kalian akan bertemu? Apa kami harus mendatangi tuan Max atau?"
"Aku yang akan pergi ke sana," sela Jager dengan cepat.
"Katakan pada mereka nak, aku dan Damian yang akan menemui mereka. Aku tidak ingin merepotan mereka jadi tunggulah, aku yang akan pergi ke sana."
"Baiklah tuan Max, kami akan menunggumu dan aku akan mengirimkan alamatnya nanti padamu," ucap Vivian.
Sebentar lagi dia harus mempersiapkan hatinya untuk mengetahui kenyataannya dan dia sangat ingin tahu apa yang telah terjadi dan kenapa kedua orang tua dan kakeknya menyembunyikan hal ini darinya.
Setelah berbicara dengan Jager, Vivian mengirimkan sebuah alamat untuk Jager dan ketika sudah mendapatkan alamat itu, Jager semakin tidak sabar dan memanggil putranya.
Ini moment yang dia tunggu, bertemu dengan orang yang mengadopsi putrinya dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dua puluh lima tahun yang lalu.
"Damian, ayo kita pergi," ajak Jager.
"Yes dad, apa kau sudah membawa buktinya?" tanya Damian memastikan.
"Tentu," jawab ayahnya.
Damian segera mengambil kunci mobil sedangkan Jager menghentikan langkahnya saat melewati foto istrinya.
Jager menghampiri foto istrinya dan berkata, "Cristiana, sebentar lagi aku akan membawa putri kita pulang dan sebentar lagi aku akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian. Aku minta maaf padamu Cristiana karena aku tidak tahu jika putri kita masih hidup hingga aku tidak bisa membesarkannya dengan kedua tanganku ini tapi aku berjanji padamu, aku akan menjaganya baik-baik dan tidak akan mengulangi kesalahan yang telah aku perbuat."
__ADS_1
Jager memandangi foto istrinya cukup lama sampai Damian memanggilnya, Jager menghampiri Damian dan mereka segera pergi ke alamat yang diberikan oleh Vivian. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui semuanya dan yang paling dinantikan oleh Jager adalah saat Vivian memanggilnya daddy.
Tapi apakah Vivian mau memanggilnya demikian? Entah kenapa sebuah rasa takut muncul di dalam hati Jager, dia takut Vivian menolaknya apalagi ada orang yang membesarkan dirinya di sana. Semoga saja hal itu tidak terjadi tapi rasa takut itu menghantuinya disepanjang perjalanan.