Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Kabar baik di tengah kesedihan.


__ADS_3

Terbangun dengan keadaan sakit kepala dan mata yang terasa membengkak, itulah yang dialami Vivian pagi ini. Dia terbangun ketika mendengar suara orang sedang berbicara dan suara ponselnya yang terus berdering sedari tadi.


Vivian membuka matanya dan melihat Damian sedang berbicara dengan dokter yang menangani ayah mereka. Dia langsung duduk di atas ranjang dan kembali khawatir, apa terjadi sesuatu dengan ayahnya?


Vivian segera menghampiri kakaknya dengan cepat dan mengabaikan sakit di kepalanya. Dia sungguh ingin tahu keadaan ayahnya saat ini.


"Apa terjadi sesuatu dengan Daddy, Kak?"


"Tidak, Daddy baik-baik saja jadi kau tidak perlu khawatir," jawab Damian seraya mengusap kepala adiknya.


Vivian tampak lega. Dia segera menghampiri ayahnya karena dia tidak mau mengganggu kakaknya yang sedang berbicara dengan dokter yang menangani ayah mereka.


"Good morning, Dad," Vivian menunduk dan mencium dahi ayahnya.


Vivian memandangi wajah ayahnya sejenak dan setelah itu dia menarik sebuah kursi dan duduk di samping ayahnya.


"Aku harap Daddy cepat sembuh dan sadar," Vivian meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya.


"Banyak yang belum kita lakukan, aku ingin mengajak Daddy melakukan banyak hal seperti adu boxing, aku juga ingin mengajak Daddy naik kuda. Daddy juga belum pernah mengajakku jalan-jalan untuk menikmati indahnya pemandangan di sini dan yang paling aku inginkan, aku ingin Daddy mengantar aku ke altar saat hari pernikahanku. Apa Daddy tidak mau?" Vivian memandangi wajah ayahnya tapi sayangnya tidak ada reaksi.


Wajah Vivian tampak murung dan kembali terlihat sedih, pada saat itu, Damian mendekati adiknya dan menyentuh bahunya.


"Jangan khawatir, Vivi. Dokter bilang keadaan Daddy sudah stabil," ucap Damian.


"Tapi kenapa Daddy belum bangun, Kak?"


"Daddy mengalami banyak tekanan selama dia diculik, Vivi. Daddy butuh waktu dan dokter berkata, Daddy akan segera sadar. Kita tunggu saja selama dua puluh empat jam ke depan."


Vivian mengangguk sedangkan Damian merapikan rambut adiknya yang berantakan.


"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu tampak pucat," ucap Damian.


"Tidak apa-apa, aku hanya sakit kepala," jawab Vivian.


"Pergilah cuci wajahmu. Jangan sampai ketika Daddy sadar dia kaget melihat wajahmu yang tampak mengerikan dan pingsan," goda Damian.


"Apa wajahku begitu mengerikan?" Vivian memegangi kedua pipinya.


"Sangat, wajahmu sudah seperti Zombie saat ini," ucap Damian sambil terkekeh.


"Oh tidak," Vivian bangkit berdiri.


"Ngomong-ngomong di mana Matthew? Aku tidak melihatnya sedari tadi?"


"Dia keluar setelah menjawab telephon dari seseorang," jawab Kakaknya.


Vivian mengangguk dan segera melangkah menuju kamar mandi, sedangkan Damian duduk di samping ayahnya.


Selama Vivian berada di kamar mandi, Matthew kembali membawa beberapa barang. Dia sangat heran karena tidak mendapati Vivian di sana.


"Mana adikmu?" Matthew bertanya pada Damian.


"Di kamar mandi," jawab Damian seraya menunjuk kamar mandi.


Matthew segera menuju kamar mandi dan masuk ke dalam, dia segera menghampiri Vivian yang sedang melihat luka di lengan dan memar di tubuhnya.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang?"

__ADS_1


"I'm okey," jawab Vivian.


"Apa lukamu sakit?"


"Tidak, memang masih sedikit sakit tapi sudah tidak apa-apa."


"Jiak begitu obati lukamu lagi dan jika kau sudah selesai keluarlah, aku sudah membawakan sarapan untukmu dan Damian."


"Terima kasih, Matth. Kami selalu merepotkanmu."


"Stts," Matthew meraih pinggang Vivian dan mengusap wajahnya dengan lembut.


"Jangan berkata seperti itu. Aku tidak suka melihatmu bersedih dan aku akan selalu ada untukmu."


"Thanks," Vivian berjinjit dan mengecup bibir Matthew dengan mesra.


"Aku bersyukur memilikimu," ucapnya.


"Aku juga," jawab Matthew dan setelah itu mereka berciuman sejenak.


Vivian kembali memakai bajunya dan setelah itu, Matthew menyisirkan rambut Vivian.


"Babe, aku baru saja mendapat kabar dari rumah sakit jika kakekmu sudah sadar," ucap Matthew.


"Apa? Benarkah?" Vivian terlihat sangat senang mendengarnya.


"Yes."


"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?" Vivian keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru karena dia sudah sangat ingin mengetahui keadaan kakeknya.


"Kak, apa benar Kakek sudah sadar?" tanya Vivian tidak sabar.


"Akhirnya Vivi, aku sudah menghubungi sejak tadi, kemana saja kau?" tanya kakaknya


"Maaf Kak, aku tidak tahu."


"Sudahlah, tidak apa-apa."


"Bagaimana dengan keadaan Kakek?" tanya Vivian lagi.


"Kakek baik-baik saja, Vivi. Kondisinya memang masih lemah tapi Kakek baik-baik saja. Dia ingin bertemu denganmu dan pacarmu, ada yang ingin dia bicarakan dengan kalian."


"Aku akan segera ke sana, Kak. Aku sangat senang jika Kakek sudah sadar," Vivian benar-benar senang dan sudah tidak sabar untuk melihat keadaan kakeknya.


Setelah berbicara dengan kakeknya, Vivian menghubungi Kapten Willys dan meminta ijin dengannya. Hari ini dia mau cuti karena dia ingin menemani ayahnya dan juga ingin melihat keadaan kakeknya.


Matthew duduk di samping Vivian saat itu dan mengambil obat yang dia bawa karena dia akan memakaikan obat di luka Vivian. Dia harap luka Vivian cepat sembuh dan tidak meninggalkan bekas.


Vivian benar-benar bahagai setelah mengetahui keadaan kakeknya dan setelah ini dia mau pergi ke sana.


"Bagaimana dengan keadaan kakekmu, Babe?" tanya Matthew seraya mengolesi obat di luka Vivian.


"Kakek mau bertemu dan berbicara dengan kita, Matth."


"Ada apa? Apa ada hal yang serius?"


"Entahlah, kau mau menemuinya bukan?"

__ADS_1


"Tentu saja bodoh, setelah pergi melihat keadaan kakekmu aku mau pergi ke markas untuk melihat Gary."


"Kau mau membunuhnya hari ini?"


"No, i just want to say hi to them."


Damian bangkit berdiri ketika mendengar ucapan Matthew, dia segera menghampiri Matthew dan berdiri di depan Matthew dan adiknya.


"Ajak aku pergi bersama denganmu," ucapnya.


"Apa yang mau Kakak lakukan?" tanya Vivian.


"Aku ingin membalas perbuatan orang yang telah membuat Daddy seperti ini, adikku. Wanita itu? Aku ingin menggantungnya dalam posisi terbalik, menyiksanya sampai puas dan setelah itu jemur dia di bawah terik sinar matahari dan biarkan dia mati!" ucap Damian kesal.


Dia bukan tipe orang brutal tapi dia tidak terima ayahnya diperlakukan dengan kejam. Setidaknya dia ingin orang yang hampir merenggut nyawa ayahnya menerima akibat perbuatan yang mereka lakukan.


"Tenang saja, Kakak ipar. Kau tidak perlu turun tangan karena aku yang akan membalas perbuatan mereka. Percayalah, apa yang akan aku lakukan nanti akan membuat mereka menyesal. Lagi pula kau harus menjaga ayahmu, jangan meninggalkannya sendirian karena keadaannya belum begitu baik."


"Benar, Kak. Kita harus menjaga Daddy. Aku tidak bisa terus di sini karena harus melihat keadaan Kakekku jadi tidak apa-apa bukan jika Kakak menjaga Daddy selama aku pergi melihat keadaan keluargaku?"


"Bodoh, tentu saja tidak apa-apa. Aku hanya merasa tanganku sudah gatal ingin memukul orang yang telah membuat ayah kita seperti itu," ucap Damian.


"Aku juga, Kak. Aku ingin menendang Felicia sampai puas dan aku juga akan menendang Gary. Aku yang akan membuat perhitungan dengan mereka nanti jadi Kak Damian jaga Daddy baik-baik."


"Hey, siapa yang bilang kau boleh ikut?" tanya Matthew.


"Apa tidak boleh?" Vivian memandangi Matthew penuh harap.


"Yeah ...."


"Please, take me," Vivian memasang wajah memohon.


"No!"


"Please, Matth. Please," Vivian terus memohon sambil menarik tangan Matthew.


"Hey, jangan tarik tanganku!" protes Matthew.


"Ayolah, aku hanya ingin menendang mereka."


"Sebaiknya kau ijinkan jika tidak dia akan menangis di bawah ranjangmu semalaman dan jangan sampai dia menarik kakimu ketika tengah malam," goda Damian.


"Apa? Enak saja! Memangnya aku hantu!" protes Vivian, sedangkan Matthew terkekeh.


"Baiklah, kau boleh menendang mereka sampai kau puas," ucap Matthew.


"Oh, Matth. Kau yang terbaik!" Vivian melompat ke dalam pelukan Matthew.


"Aku hanya takut kau menarik kakiku saat tengah malam," goda Matthew.


"Enak saja!" Vivian tampak cemberut sedangkan Matthew dan Damian tertawa.


Setelah mereka menjenguk kakek Vivian dia akan membawa Vivian ke markas dan hari ini dia akan mengijinkan Vivian menendang Felicia dan Gary sampai dia puas tapi setelah itu?


Biarkan hari ini Vivian menendang Gary dan rekannya dan setelah itu dia tidak mau membawa Vivian lagi karena dia tidak mau Vivian melihat apa yang akan dia lakukan apalagi Vivian belum tahu sisi kejam yang ada di dalam dirinya.


Tiga sekawan dan satu ja*lang yang dia tangkap pasti akan dia siksa dengan kejam dan seharusnya mereka sudah saling menyapa saat ini dan memang, Gary tersadar dan tampak bingung mendapati dirinya di tempat aneh. Di mana dia saat ini?

__ADS_1


__ADS_2