
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan pada saat itu, Michael sudah terlihat rapi dan keluar dari kamarnya.
Pemuda itu berjalan dengan santai menuju ruang makan di mana ibu dan neneknya berada. Michael sangat ingin menghubungi kakaknya tapi dia urungkan karena bisa dia tebak, kakaknya pasti sedang tidur saat ini.
"Morning mom, nek," sapa Michael saat melihat ibu dan neneknya.
"Morning sayang, kenapa kau baru bangun?" Kate menghampiri putra bungsunya dan menciumnya.
"Semalam aku membantu kak Matthew jadi aku tidur terlambat," jawab Michael.
"Oh ya? Apa yang kakakmu lakukan?" tanya Kate penasaran.
"Membantu Kakak ipar menjalankan misi."
"Bagus, jadi di mana mereka?"
"Mungkin sedang tidur mom."
"Mich, katakan pada Matthew untuk membawa pacarnya pulang. Nenek ingin bertemu," pinta Alice.
"Baiklah nek, aku akan menghubunginya," setelah meneguk segelas air Michael kembali berjalan menuju kamar dan pada saat itu, Ainsley turun dari anak tangga dengan terburu-buru.
"Ainsley, kau mau ke mana?" tanya Michael seraya menghentikan langkahnya.
"Aku mau menemani sahabatku mencari gaun pernikahan kak," jawab adiknya.
Michael mengangguk dan kembali berjalan menuju kamarnya, dia akan membangunkan kakaknya dan memintanya untuk pulang. Lagi pula ada yang mau dia berikan pada kakak iparnya.
Pada saat ponsel-nya berbunyi Matthew masih tidur sambil memeluk Vivian. Ketika mendengar suara ponsel-nya, Matthew terbangun dan mendapati Vivian masih tertidur dengan pulas sambil memeluknya dengan erat.
Dengan perlahan, Matthew mengangkat tangan Vivian yang sedang memeluknya dan pada saat itu Vivian memutar tubuhnya dan kembali tidur.
Matthew segera menyambar ponsel-nya yang masih berbunyi dan segera menjawab panggilan dari adiknya.
"Ada apa?"
"Kak, Nenek memintamu pulang bersama kakak ipar."
"Baiklah, aku akan pulang nanti dengannya."
"Oke kak, aku ingin memberikan sebuah rekaman untuk Kakak ipar."
"Oke," jawab Matthew seraya mematikan ponsel-nya dan setelah itu dia meletakkannya kembali ke atas meja.
Matthew mengusap rambutnya dan memandangi Vivian yang masih tidur, sebaiknya dia membangunkannya.
"Babe," dengan perlahan Matthew mendekati Vivian dan memeluknya dari belakang.
"Hm?"
"Nenek memintamu ke rumah," bisiknya seraya mencium tengkuk Vivian.
"Jam berapa sekarang?" Vivian belum membuka matanya karena dia masih ingin tidur.
"Jam sepuluh."
Vivian memutar tubuhnya dan memeluk Matthew, masih ada waktu sebelum pergi ke kantor dan dia ingin mereka seperti itu sejenak.
"Aku ingin kita seperti ini sebentar."
"Ternyata kau bisa bersikap manja juga."
__ADS_1
"Aku hanya manja pada pacarku memangnya salah?"
"Tentu saja tidak babe, aku senang kau seperti ini."
Metthew mencium wajah Vivian dengan mesra, sedangkan Vivian membiarkan Matthew menyelusuri Wajahnya dengan bibirnya, dia suka mereka seperti itu.
"Adikku bilang ada rekaman yang mau dia berikan padamu," ucap Matthew seraya mengusap wajah cantik Vivian sedangkan Vivian tersenyum.
"Rekaman apa?"
"Mungkin rekaman yang dia ambil semalam saat kau sedang menjalankan misi dan aku rasa ada sesuatu yang aneh jadi dia merekamnya."
"Oh ya? Aku belum tahu nama adikmu."
"Panggil saja Michael dan adik perempuanku Ainsley."
"Jadi adikmu ahli meretas?"
"Ya, dia selalu membantuku dari belakang dan mengatakan padaku apapun yang dia lihat dari layar komputernya."
"Kalian pasti sangat kompak. Jadi kau yang bertindak dan adikmu yang memberi informasi?"
"Yes," jawab Matthew seraya mencium pipi Vivian.
"Kenapa adikmu tidak ikut beraksi? Bukankah lebih menyenangkan dari pada duduk di depan komputer?" tanya Vivian penasaran.
"Sejak kecil adikku punya penyakit bawaan, walaupun dia sudah menjalani operasi tapi kami selalu menjaga keadaannya dan ibuku paling menghawatirkannya bahkan melarangnya untuk tidak terlibat dengan apapun! Walau begitu, jangan meremehkan otaknya, sekalipun kau bersembunyi dilubang cacing dia pasti akan menemukanmu!"
"Wow, jadi kau pakai tenaga dan dia memakai otaknya?"
"Yes."
"Sepertinya kalian kakak beradik yang mengerikan!"
"Ngomong-ngomong apa pekerjaan kalian?"
"Kau sudah pernah datang ke perusahaan bukan? Jadi kau pasti tahu."
Vivian memandangi Matthew curiga, dia rasa Matthew bukan hanya seorang Ceo saja dan dia merasa Matthew punya profesi lain.
"Babe," Matthew mengusap bibir Vivian menggunakan jarinya dan tersenyum.
"Hm?"
"Apa kau sudah melupakan Carlk?"
Vivian masuk kedalam pelukan Matthew dan berkata, "Jangan mengingatkan aku dengannya! Sekarang sudah ada dirimu dan aku harap kami tidak pernah bertemu lagi!" ucap Vivian.
Dia memang berharap tidak bertemu dengan Carlk lagi agar perasaannya saat ini tidak goyah tapi siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
"Oh babe, mendengar ucapanmu berarti kau sudah menerimaku bukan?"
"Bodoh! Bukankah sudah aku katakan padamu? Aku sedang belajar mencintaimu dan jika aku tidak serius melakukannya maka aku tidak akan mengijinkan kau menyentuh tubuhku dan menciumku!"
Matthew tersenyum saat Mendengarnya, cepat atau lambat Vivian pasti akan menjadi miliknya dan jika Carlk datang mengganggu hubungan mereka maka akan dia tendang pria itu.
Karena tidak punya banyak waktu, mereka segera bangun dari tidur mereka dan segera bersiap-siap untuk pergi.
Alice dan Kate sudah menunggu mereka sedari tadi dan ketika melihat kedatangan Vivian, mereka begitu senang.
"Selamat siang Nenek, Aunty," sapa Vivian dengan sopan.
__ADS_1
"Kenapa kau memanggilku Aunty? Panggil aku Mommy seperti waktu itu," ucap Kate.
Vivian mengangguk dan tersenyum, mereka begitu ramah sampai membuatnya merasa canggung.
"Kakak Ipar," panggil Michael.
"Ya?" Jawab Vivian dan pada saat itu Michael melemparkan sesuatu ke arahnya dan Vivian segera menangkapnya menggunakan satu tangannya.
"Rekaman itu pasti berguna untuk kakak ipar."
"Thanks tapi lain kali jangan memanggilku kakak ipar. Aku belum menikah dengan kakakmu!"
"Sory kakak ipar, sudah tradisi," jawab Michael seraya melangkah pergi untuk mencari ayah dan kakeknya.
Alice dan Kate segera mengajak Vivian sedangkan Matthew mengikuti langkah adiknya menuju ruang keluarga di mana ayah dan kakeknya sedang bermain catur.
"Daddy, Kakek, bagaimana kabar kalian?" tanya Matthew.
"Baik-baik saja," jawab Jacob tapi matanya tidak lepas dari papan catur.
Matthew duduk di sebelah kakeknya, sedangkan Michael duduk di samping ayahnya yang terlihat serius juga. Pada saat itu Ainsley kembali bersama dengan sahabatnya karena dia melupakan sesuatu.
"Hai guys."
"Kenapa kau kembali lagi Ainsley?" tanya Michael seraya melihat adiknya bersama dengan seorang gadis yang adalah sahabatnya.
"Hai," sapa gadis itu dengan sopan sambil tersenyum dengan ramah.
"Aku mau mengambil dompetku yang ketinggalan kak," jawab Ainsley.
Ainsley segera mengajak sahabatnya untuk mengambil dompetnya tapi ketika melihat ada Vivian sedang bersama dengan nenek dan ibunya, Ainsley mengajak sahabatnya untuk bergabung.
Di luar sana, Jacob melihat Matthew dan entah mengapa dia jadi ingin tahu satu hal. Tidak ada salahnya bertanya bukan?
"Boy, jadi pacarmu tinggal denganmu sekarang?"
"Ya, kenapa kakek?"
"Kau, tidak terkena kutukan bukan?"
"Hah?" Matthew dan Michael langsung melihat ke arah kakeknya.
"Dad, kau mulai lagi!" ucap Albert.
"Aku hanya ingin tahu!" jawab Jacob.
"Jika kakek masih hidup maka dia akan memukul kepalamu Dad!"
"Ck, aku justru merindukan pukulannya!"
"Jika begitu aku akan meminta Mommy untuk memukul kepala Daddy!"
"Enak saja!" ucap Jacob.
"Kutukan apa sih Dad?" tanya Matthew dan Michael secara bersama-sama.
"Sebaiknya tidak perlu tahu jika tidak kalian akan benar-benar merasa dikutuk jika kalian gagal nanti!" jawab ayahnya.
"Ck, Daddy menyebalkan! Kutukan apa sih?" Matthew dan Michael semakin penasaran.
"Mau aku beri tahu boy?" tanya Jacob.
__ADS_1
"Daddy!" Albert menekan perkataannya.
"Aku hanya bercanda!" Jawab Jacob sambil tertawa sedangkan Matthew dan Michael semakin penasaran, kutukan apa? Apa keluarga mereka dikutuk?