Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Mulai sedikit terbuka


__ADS_3

Waktu terus berputar dan malam semakin larut, di saat sebagian orang sudah terlelap dan masuk ke dalam mimpi indah mereka tapi ada dua orang yang tidak bisa memejamkan mata mereka.


Siapa lagi jika bukan Matthew dan Vivian. Matthew tidak ingin malam itu cepat berlalu, sedangkan Vivian takut Matthew melakukan sesuatu padanya sehingga dia tidak berani tidur walaupun matanya sudah terasa berat.


Jantung Vivian berdetak dengan cepat saat tangan Matthew mengusap punggungnya dan sesekali memainkan rambutnya.


Dia bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu yang terasa nyaman dan sungguh, dia merasa kehangatan yang dia rasa jauh berbeda dengan Carlk. Apa karena Carlk tidak pernah memeluknya? Atau karena ini pertama kalinya seorang pria memeluknya? Dia sendiri tidak tahu!


Rasanya ingin mendorong tubuh Matthew dan menendangnya tapi reaksi tubuh tidak sejalan dengan pikirannya.


"Babe kau belum tidur?" tanya Matthew seraya memainkan jari-jemarinya di rambut Vivian.


"Kau sendiri kenapa tidak tidur?"


"Aku tidak ingin malam ini cepat berlalu babe. Aku ingin terjaga sepanjang malam sambil memelukmu karena mungkin besok aku tidak bisa melakukannya lagi!"


"Ck, jangan terlalu berlebihan!"


"Aku tidak berlebihan. Jika besok kau mengijinkan aku tidur denganmu lagi maka aku akan tidur!"


"Enak saja!" jawab Vivian.


Matthew terkekeh dan memandangi wajah cantik Vivian, mungkin sebaiknya dia mencari tahu kenapa gadis itu takut dengan laki-laki.


"Babe, boleh aku tanya satu hal?"


"Ya, apa yang mau kau tahu?"


"Apa yang terjadi padamu sampai kau takut dengan laki-laki?"


Vivian diam saja, itu kenangan buruk yang sangat ingin dia lupakan tapi tidak bisa.


"Aku hanya ingin tahu babe, kenapa kau bisa seperti ini? Tapi jika kau tidak mau mengatakannya padaku maka tidak apa-apa."


Vivian masih diam saja, sedangkan Matthew memeluknya dan mengusap kepalanya sampai dia merasa bahwa Matthew benar-benar bisa dipercaya.


"Waktu itu aku masih kecil," Vivian mulai bercerita dan mengingat kejadian kelam yang dia alami.

__ADS_1


"Aku berada di sekolah dan sedang latihan bernyanyi dengan para sahabatku tapi siapa yang menyangka, pagi itu sekelompok penjahat masuk kedalam sekolah dan menyandera kami semua."


"Jangan katakan?" Matthew mengerti sekarang. Walaupun Vivian belum menyelesaikan ceritanya tapi dia sudah bisa menebaknya.


"Ya, karena sekolah dikepung oleh polisi jadi mereka menangkapku dan guru menari untuk dijadikan sandera agar mereka bisa keluar dari sekolah. Kami di bawa ke tempat yang gelap dan kotor dan setelah itu?" Tubuh Vivian bergetar ketakutan dan Matthew dapat merasakannya.


"Jangan memaksakan dirimu babe," Matthew mengusap punggungnya untuk menenangkannya.


"Tidak apa-apa, aku harus melawan semua ini. Aku tidak bisa terus hidup di bawah bayang-bayang trauma yang aku alami. Aku percaya padamu Fredd jadi aku akan menceritakan hal ini padamu."


"Benarkah?" Matthew tersenyum dan tampak senang.


"Hm, tapi jangan menghianati kepercayaanku!"


"Tenang saja, aku orang yang setia jadi bisa kau lanjutkan ceritanya?"


Vivian mengangguk dan mengambil nafas sejenak.


"Di tempat itu, kami mulai mendapatkan perlakuan tidak adil! Mereka mulai merobek baju guru menariku dan?" Air mata Vivian mulai mengalir saat ingatan yang dia alami teringat jelas di kepalanya.


"Apa mereka menodaimu?" tanya Matthew seraya menghapus air mata Vivian dan menenangkannya.


Vivian menggeleng, walaupun pria itu tidak menodainya tapi dia mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.


"Pria itu menyentuh tubuhku bahkan membuka bajuku dengan paksa! Aku sungguh tidak berdaya dan sudah pasrah tapi pada saat itu kakekku datang dan menyelamatkan aku!"


"Sejak kejadian itu aku mengurung diri dan tidak mau bertemu dengan siapapun bahkan aku tidak mau pergi ke sekolah. Kabar kematian guru menariku yang bunuh diri karena depresi membuatku semakin takut bertemu dengan orang-orang. Entah berapa puluh Psikolog yang didatangkan kakekku kerumah untuk menyembuhkan traumaku tapi sampai sekarang aku masih takut jika disentuh oleh laki-laki. Apa kau mau tahu kenapa aku begitu setia menunggu Carlk?"


Matthew mengangguk, jadi nama pacar Vivian adalah Carlk? Sungguh dia ingin tahu rupanya.


"Di saat aku menganggap semua laki-laki sama saja dia hadir dan mengubah duniaku. Dialah pria pertama yang memberikan rasa aman dan nyaman untukku, dialah yang mengenalkan apa itu cinta padaku dan dialah yang mengubah pandanganku dan memberikan keberanian padaku untuk berdekatan dengan laki-laki."


"Sekarang sudah ada aku bukan?" sela Matthew.


"Walaupun dia yang pertama dan aku yang kedua tapi aku akan mengajarimu banyak hal yang tidak pernah dia ajarkan padamu."


"Oh ya?" Vivian memandangi Matthew dengan serius.

__ADS_1


"Yes, aku akan mengajakmu kencan dan kau akan merasakan indahnya pacaran, aku akan mengajarimu ciuman dan ehem! Dan yang lain-lainnya!" ucapnya sambil tersenyum nakal.


"Huh, kau pria paling mesum yang pernah aku temui!" gerutu Vivian kesal dan Matthew hanya terkekeh.


"Percayalah padaku babe, jika kau mau jadi milikku kau pasti tidak akan menyesal!"


Vivian memutar tubuhnya dan berkata, "Aku tidak mau jadi milik siapapun karena aku sudah memutuskan untuk tidak menikah jika Carlk tidak kembali!"


"What? Hei yang benar?" protes Matthew tidak terima tapi Vivian diam saja tidak mau menjawabnya.


Matthew tersenyum dan mencium ujung kepala Vivian, ini sebuah langkah yang bagus dan dia tidak menyangka jika Vivian mau menceritakan masa lalunya walaupun dia belum mengatakan identitas aslinya.


Pelan tapi pasti dia akan tahu dan pria bodoh bernama Carlk? Besok dia akan mencari tahu mengenai pria ini. Dia akan melihat rupanya dan menendangnya dari kehidupan Vivian.


"Terima kasih babe kau sudah mau terbuka padaku dan mau menceritakan masa lalumu!" ucapnya seraya memeluk Vivian dari belakang.


"Singkirkan tanganmu dan jangan ambil kesempatan!" Vivian memukul tangan Matthew yang melingkar di perutnya tapi Matthew tidak mau melepaskannya dan memeluknya semakin erat.


"Tidurlah babe, aku tidak akan mengambil kesempatan untuk menyentuhmu. Jika aku melakukannya maka kau boleh menendangku!"


"Pegang ucapanmu!" jawab Vivian.


"Babe, aku harap kau mau jadi milikku dan melupakan Carlk. Dia hanya baj*ngan yang tega membuatmu menunggu. Percayalah padaku, aku tidak akan melakukan hal seperti itu padamu dan aku juga tidak akan memberikan kesempatan pada Carlk untuk masuk kembali kedalam hidupmu dan aku akan menendangnya sejauh mungkin."


Vivian memejamkan matanya dan tersenyum, entah Matthew serius dengan perkataannya atau tidak tapi dia masih punya waktu untuk melihat ketulusannya. Jika sampai pria itu berani memanfaatkannya maka akan dia lubangi kepalanya tanpa ragu.


"Aku mau tidur!" jawab Vivian.


Matthew mendekapnya dengan erat dan memejamkan matanya karena dia mau tidur tapi keberuntungan tidak akan selalu berpihak padanya.


Di saat Vivian sudah tertidur dengan pulas, Matthew mengumpat dalam hati karena bokong Vivian menyentuh adiknya yang penasaran.


Matthew menghembuskan nafasnya dan berkata, "Oke little junior, jangan coba-coba memberontak karena belum saatnya kau beraksi! Dan bokong itu? Pasti akan jadi milikku dan aku sudah tidak sabar meremasnya!"


Matthew memejamkan matanya kembali, semoga saja dia bisa tidur tapi bayang-bayang tubuh telanjang Vivian menghantuinya dan bisa membunuhnya bahkan dia bisa merasakan little junior yang mulai memberontak.


"Sialan! Kenapa harus mengingat hal itu di saat seperti ini?!" umpatnya dalam hati dan sepertinya dia tidak akan bisa tidur sampai pagi.

__ADS_1


__ADS_2