Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Sambutan


__ADS_3

Setelah sampai ke tempat yang dia tuju, Vivian menghentikan motornya dan segera melepaskan helm yang dia pakai.


Vivian melihat rumah mewah dengan sebuah taman yang cukup besar dan lagi-lagi, pagar dan tembok yang menjulang tinggi mengelilingi rumah itu.


Untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Vivian menghembuskan nafasnya saat melihat beberapa penjaga yang berdiri di depan pagar dan di depan pintu rumah.


Amerika benar-benar rumah bagi orang kaya dan dia harap kedatangannya ke sana membuahkan hasil walaupun dia sempat ditolak oleh Maxton.


Vivian menyimpan helm dan turun dari atas motor. Dia segera menghampiri seorang penjaga yang sedang berjaga di samping pagar dan pada saat melihatnya, penjaga itu segera mendekati Vivian.


"Cari siapa nona?"


"Maaf mengganggu, aku FBI," Vivian memberikan tanda pengenalnya dengan perasaan was-was, semoga dia tidak diusir seperti tadi.


"Oh, nona Angel," ucap penjaga itu seraya mengembalikan tanda pengenalnya.


"Ya," jawab Vivian dan dia sangat heran dan mengambil kartu tanda pengenalnya kembali.


Tanpa banyak bicara penjaga itu membuka pintu pagar dan mempersilahkan Vivian untuk masuk kedalam.


"Silahkan nona, bawa saja motornya masuk kedalam."


"Tidak perlu terima kasih," ucap Vivian seraya melangkah masuk ke dalam.


Ini sungguh aneh, ini pertama kalinya dia tidak mengalami kendala saat ingin menemui seseorang untuk diintrogasi dan yang membuatnya heran, sepertinya orang yang ada di dalam sudah tahu jika dia akan datang.


Vivian melangkah masuk melewati pohon-pohon yang tumbuh ditaman dan ketika ada anak tangga untuk menuju pintu utama, Vivian menaikinya dengan perlahan dan melihat sekelilingnya. Entah kenapa jantungnya jadi berdegup dengan kencang, sepertinya yang dia datangi bukan orang biasa.


Dua orang penjaga yang berdiri di depan pintu melihatnya dengan teliti ketika Vivian sudah memcapai ujung tangga.


"Maaf, aku?" ucap Vivian tapi penjaga itu sudah membuka pintu untuknya.


"Silahkan nona, anda sudah ditunggu!" ucap salah seorang penjaga itu.


Vivian semakin dibuat bingung, sudah ditunggu? Dia belum membuat janji sebelumnya tapi kenapa dia sudah ditunggu?


Walaupun dia sedikit bingung tapi ini adalah kesempatan bagus, lagi pula dia tidak diusir seperti tadi jadi dia tidak boleh mensia-siakan kesempatan.


"Terima kasih," jawab Vivian dan dia langsung masuk ke dalam tanpa ragu.

__ADS_1


Dia kira di dalam dia akan disambut tapi ternyata dia salah, di dalam tidak ada siapa-siapa dan tampak sepi. Kemana penghuni rumah?


Vivian diam saja tidak tahu harus melakukan apa bahkan dia berdiri di depan pintu cukup lama. Karena tidak mau membuang waktu lagi, Vivian melangkah masuk ke dalam.


"Permisi," ucapnya sambil melihat-lihat apakah ada orang atau tidak.


"Permisi, aku FBI ingin bertemu dengan?" sebelum Vivian menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah pisau melayang ke arahnya dan begitu melihatnya Vivian sangat kaget dan langsung menghindar.


"Brak!" pisau menancap di daun pintu dan hal itu benar-benar membuat Vivian kaget. Apa yang terjadi?


Vivian masih belum mengerti dan pada saat itu, muncul seorang wanita setengah baya dan ditangannya ada dua buah pisau lainnya yang siap dia lemparkan dan wanita itu adalah Kate. Dia ingin menguji kemampuan Vivian, apakah gadis itu pantas berada di samping Matthew atau tidak?!


"Permisi nyonya aku?"


Tanpa mau mendengarkan ucapan Vivian dan tanpa berkata apa-apa, Kate melemparkan pisaunya lagi ke arah Vivian. Vivian benar-benar bingung tapi dia segera bersalto ke belakang untuk menghindari dua pisau yang melayang ke arahnya sehingga pisau yang dilemparkan mengenai vas bunga dan yang satunya menancap didinding.


"Lumayan!" ucap Kate setelah melihat Vivian bisa menghindari pisau yang dia lemparkan.


Vivian berlutut di atas lantai dengan satu kakinya dan menatap wanita itu dengan heran, ada apa ini? Dia sungguh bingung tapi sebelum dia bisa memahami situasinya, Kate sudah berlari ke arahnya untuk menyerangnya.


Dengan cepat, Vivian bangkit berdiri dan pada saat Kate melayangkan kakinya ka wajah Vivian gadis itu segera menangkisnya.


"Aku tahu!" jawab Kate dan dia terus menyerang Vivian dengan tendangannya sampai membuat Vivian terus bersalto ke belakang untuk menghindari tendangan dari Kate.


Beruntungnya rumah itu cukup luas sehingga dia punya banyak ruang untuk menghindar tapi jika dia terus menghindar tanpa menyerang maka akan sangat merugikan dirinya.


"Oh my God nyonya! Maafkan aku, kau yang memaksa!" ucap Vivian dan dia mulai membalas menyerang Kate.


"Akhirnya!" ucap Kate dan dia semakin terlihat bersemangat.


Kate memundurkan langkahnya dan memasang kuda-kuda begitu juga dengan Vivian, mereka diam saja dan saling pandang. Vivian jadi lupa tujuannya karena dia akan mengalahkan wanita paruh baya itu.


"Kau siap?" tanya Kate memastikan.


"Tentu! Jangan salahkan aku jika aku memukul nyonya!" jawab Vivian, sedangkan Kate hanya tersenyum.


Mereka berjalan memutar dan masih belum ada yang menyerang tapi tidak lama kemudian, mereka berdua berteriak dan saling menendang.


Tidak ada yang mau mengalah diantara mereka berdua. Kate terus menghindari setiap tendangan dan pukulan Vivian begitu juga dengan Vivian. Mereka terus menendang dan pada saat kaki mereka saling menahan tendangan satu sama lain, mereka berhenti dan saling pandang dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Bagus, aku suka kau!" ucap Kate.


"Terima kasih," jawab Vivian tanpa tahu apa-apa.


Mereka berdua menurunkan kaki mereka dan melangkah mundur, Kate tampak puas tapi ada satu hal lagi yang akan dia lakukan. Walaupun Vivian tidak mengerti tapi dia juga puas, anggap saja dia sedang berolahraga.


Kate memutar langkahnya tanpa berkata apa-apa begitu juga dengan Vivian, mereka tidak beranjak dan tampak waspada. Beberapa detik kemudian Kate menarik dua senjata api dari balik baju yang dia pakai dan memutar langkahnya kembali dan menodongkan kedua benda itu ke arah Vivian.


"Cklek!" tanpa Kate duga, Vivian juga melakukan hal yang sama dan dua senjata api sudah menempel di dahi Kate.


Mereka diam saja saling menodongkan senjata api dan pada saat itu, terdengar suara tepuk tangan.


"Wow, kalian hebat!" ucap Alice.


"Kau pasti mau melakukannya juga bukan, honey?" tanya Jacob.


"Tentu, tapi sayang aku sudah tua!" jawab Alice.


"Sudah cukup bukan darling?" tanya Albert.


"Oh my God, aku benar-benar suka denganmu dan kau lulus!" ucap Kate seraya menurunkan pistolnya.


"What?" Vivian juga menurunkan pistolnya dan tampak bingung, apa maksudnya?


"Sudah aku katakan, putra kita pasti tidak salah memilih!" ucap Albert lagi.


"Hm, hello, ada apa ini?" Vivian benar-benar seperti orang bodoh. Dia datang ke sana untuk mengintrogasi Matthew Smith tapi kenapa tidak seperti yang dia bayangkan?


Semua mata memandanginya dan dengan serempak mereka berkata," Welcome to my family!"


"What?" Vivian memandangi mereka satu persatu dengan wajah kebingungan.


"Sudah..sudah, ayo ikut denganku!" Alice menarik tangan Vivian dan membawanya.


"Tapi nyonya?"


"Ayo kami sudah menyiapkan makanan untukmu!" Kate mengikuti langkah mereka.


Vivian benar-benar bingung, apa dia salah masuk rumah? Atau jangan-jangan mereka semua sudah gila!

__ADS_1


__ADS_2