Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Jangan menendangku


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi Vivian masih berada di kantor, dia berada di sana sampai malam karena dia sedang mengecek beberapa nama yang diberikan oleh atasannya.


Walaupun dia belum mengecek semuanya tapi dia sudah tahu beberapa orang yang ada di dalam daftar.


Mungkin besok dia harus kembali mencari tahu tentang mereka dan tanpa curiga, Vivian menyimpan daftar nama yang dia dapat di dalam laci mejanya.


Malam ini Matthew akan mengajarinya beberapa model bom jadi dia tidak punya waktu untuk mengecek nama-nama itu di rumah.


Lagi pula itu hanya sebuah daftar nama dan di kantor semua agen dapat dipercaya.


Vivian merentangkan kedua tangannya ke atas untuk merenggangkan otot tangannya dan setelah itu, dia bangkit berdiri karena dia mau pulang.


Kantor sudah sepi karena semua rekannya sudah pulang dan hanya seorang security saja berada di sana.


"Nona Angel sudah mau pulang?" tanya Security itu.


"Ya, maaf kau harus menungguku," jawab Vivian basa basi.


"Tidak apa-apa nona, aku bertugas menjaga tempat ini sampai jam delapan," jawab security itu.


Vivian mengangguk dan memakai jaketnya, sebaiknya dia segera pulang dan membeli makanan. Ini sudah malam dan dia khawatir Freddy belum makan, jangan sampai pria itu mati kelaparan di rumahnya.


Setelah kepergian Vivian, security tadi menghubungi seseorang dan tidak lama kemudian seorang agen masuk kedalam ruangan.


"Kau jaga di depan pintu! Jangan sampai dia kembali dan memergoki kita!" perintahnya.


Security itu mengangguk dan berjaga di depan pintu, sedangkan sang agen membuka laci Vivian dan mengambil daftar nama yang Vivian simpan di sana.


Agen itu tersenyum dan melakukan tugasnya, dia mendapat perintah untuk menghapus sebuah nama yang ada di dalam daftar dan menggantinya dengan nama lain.


Perintah itu dia dapat dari seseorang, jangan sampai Vivian mengecek nama asli pria yang berinisial M dan mengetahui siapa pria itu begitu cepat karena pria itu berencana menemui Vivian secara pribadi tentunya dengan sebuah kejutan pula.


Tidak sulit membuat daftar nama baru dan mengganti sebuah nama yang ada di dalam daftar, jumlah nama tidak berkurang dan sebuah nama penjahat kelas teri dimasukkan untuk menganti nama asli pria berinisial M yang ada di dalam daftar.


Dalam waktu kurang lebih tiga puluh menit daftar baru telah jadi dan dimasukkan ke dalam laci meja kerja Vivian dan daftar asli akan dibawa pergi untuk dihancurkan.


Agen itu menghampiri security yang sedang berjaga untuk melihat keadaan.


"Ini untukmu!" ucapnya seraya memberikan sebuah amplop di mana sejumlah uang ada di dalamnya.


"Terima kasih," security itu mengambil amplop yang diberikan dan tampak puas.


"Jangan lupa dengan cctv!" ucap agen itu dan dia segera pergi karena tugasnya sudah selesai.


Vivian pasti tidak akan curiga dengan daftar nama-nama yang telah dia ubah dan daftar nama yang asli langsung dia hancurkan dan tentunya, kabar ini langsung sampai ke telinga orang yang berinisial M.

__ADS_1


Diperjalanan pulang, Vivian menghentikan laju motornya saat dia melintasi sebuah jalan di mana jembatan Golden Gate yang tampak indah pada malam hari terlihat jelas.


Entah kenapa dia jadi ingin memandangi jembatan itu dan menikmati malam di sana.


Vivian duduk di atas motornya sambil menggosok tangannya yang dingin karena angin malam sedangkan matanya menatap lampu-lampu jembatan yang terlihat indah.


Angin malam berhembus dan menerpa wajahnya tapi dia tidak perduli, entah kenapa perasaannya jadi tidak menentu.


Vivian diam saja dan pada saat itu kenangan bersama dengan Carlk kembali teringat. Jika tidak Ingat dengan janjinya, mungkin dia sudah melupakan Carlk dan menyerah dengan cintanya.


Menunggu bukan hal yang menyenangkan, jika bukan karena trauma yang dia alami dia pasti sudah melupakan Carlk dan mencari cinta yang lain.


Di rumah Matthew mondar mandir tidak jelas Karena menunggu Vivian. Ini sudah hampir jam delapan malam kenapa Vivian belum juga pulang?


Dia sudah mencoba menghubungi Vivian beberapa kali tapi Vivian tidak juga menjawab panggilannya. Karena tidak mau menunggu Matthew melacak posisi Vivian dari nomor ponselnya.


Vivian tampak berada di sisi jalan dan diam saja, hal itu benar-benar membuat Matthew penasaran. Apa yang sedang dilakukan Vivian?


Tidak mau membuang waktu, Matthew segera meraih kunci mobilnya dan keluar dari rumah karena dia akan melihat keadaan Vivian.


Tidak butuh waktu lama dia sudah tiba, Matthew turun dari mobilnya dan menghampiri Vivian yang sedang duduk termenung di atas motor.


Mata Vivian masih memandangi lampu di jembatan Golden Gate dan tidak menyadari jika Matthew berjalan menghampirinya.


"Babe," suara panggilan Matthew membuat Vivian kaget dan langsung melihat pria itu.


"Aku menunggumu babe, kenapa kau tidak pulang? Aku sangat menghawatirkanmu, kau tahu?"


"Kau menghawatirkan aku?" Vivian memandangi Matthew dengan serius, mereka tidak punya hubungan apa-apa, untuk apa pria itu menghawatirkannya?


"Tentu saja aku menghawatirkanmu! Ini sudah malam tapi kau belum juga pulang, aku takut terjadi sesuatu padamu sebab itu aku datang kemari."


Vivian tersenyum dan turun dari atas motor, dia berdiri di samping motornya sedangkan Matthew menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan di sini babe?"


Vivian menghembuskan nafasnya dan mengusap telapak tangannya yang terasa dingin.


"Aku rindu dengan seseorang Fredd."


"Siapa?"


"Aku rindu dengan pacarku," jawab Vivian, sedangkan Matthew mengumpat dalam hati.


"Aku benci dengan perasaan cinta ini! Jika saja bukan karena janji yang kami buat, aku pasti sudah melupakannya!" ucap Vivian dan tanpa terasa air matanya mulai mengalir.

__ADS_1


Matthew menghembuskan nafasnya dan memberanikan diri untuk merangkul bahu Vivian.


"Jangan menendangku, oke? Aku hanya ingin menghiburmu," ucapnya.


"Tidak apa-apa, aku tidak akan menendangmu!" jawab Vivian sambil menghapus air matanya.


"Babe, memangnya di mana pacarmu saat ini?"


"Entahlah," jawab Vivian singkat.


"Apa maksudmu entahlah?"


Vivian diam saja, haruskah dia menceritakan hal ini pada Matthew?


"Kenapa kau diam saja babe? Ceritakan padaku, mungkin aku bisa menghiburmu dan mengurangi sedikit rasa kesedihanmu," Matthew memberanikan diri mengusap kepala Vivian.


"Aku tidak tahu Fredd, aku sungguh tidak tahu di mana dia berada!" Air mata Vivian mengalir semakin deras, entah mengapa dia merasa usapan tangan Matthew di rambutnya memberikan rasa nyaman untuknya.


"Stts! Untuk apa kau menangisi pria yang bahkan kau sendiri tidak tahu keberadaannya?"


"Aku hanya benci perasaan ini!"


"Babe, dengarkan aku dan jangan menendangku!"


Matthew menarik Vivian hingga gadis itu masuk kedalam pelukannya, Vivian sangat kaget dan berusaha mendorongnya tapi Matthew mendekapnya dengan erat dan tidak memberikan peluang untuknya bergerak.


"Fredd, lepas!" pinta Vivian.


"Tidak dengarkan aku!" Matthew benar-benar tidak melepaskan Vivian.


"Mungkin kau mengalami sindrom dengan laki-laki karena suatu kejadian. Mungkin kau menganggap semua laki-laki di dunia ini sama tapi bukalah matamu lebar-lebar, tidak semua laki-laki di dunia ini seperti apa yang kau pikirkan. Jika kau menganggap semua laki-laki ba*ingan lalu bagaimana dengan ayahmu? Bagaimana dengan kakekmu? Apa mereka juga ba*ingan?"


"Tidak!" jawab Vivian singkat.


"Sebab itu babe, masih ada lelaki baik di dunia ini dan mengenai pacarmu? Untuk apa kau menangisinya di sini? Memangnya dia tahu dan melihatmu? Tidak bukan?! Jika dia memang serius mencintaimu dan menyayangimu, dia tidak akan membuatmu seperti ini dan jika aku adalah dia, maka aku tidak akan membuatmu menangis seperti ini!"


"Hanya laki-laki bodoh dan tidak bertanggung jawab yang meninggalkan pacarnya tanpa kabar dan kau gadis paling bodoh yang setia menunggu orang yang tidak mencarimu lagi!"


"Apa? Aku tidak bodoh!" ucap Vivian.


"Ya kau tidak bodoh dalam beberapa hal, tapi kau bodoh dalam percintaan."


"Kau tidak akan mengerti, dia cinta pertamaku!"


"So? Apa kau pikir setiap orang harus memiliki cinta pertamanya?"

__ADS_1


Vivian diam saja, apakah benar? Apakah dia sudah harus melupakan Carlk? Mungkin dia harus memikirkan hal ini baik-baik.


Mereka masih diam saja di sisi jalan dan Matthew masih memeluk Vivian, rasanya dia tidak mau melepaskan gadis itu tapi jika tidak dia lepaskan maka mereka akan menjadi patung di sisi jalan.


__ADS_2