
Di Inggris, kedua orang tua Vivian sangat menghawatirkan keadaan Vivian begitu juga dengan kakeknya. Setelah melihat berita yang menayangkan sebuah ledakan terjadi di rumah seorang agen dan wajah Vivian muncul di layar televisi, mereka langsung berusaha menghubungi Vivian tapi sayang, ponsel Vivian memang berbunyi tapi tidak ada yang menjawabnya.
Hal itu membuat Marta sangat menghawatirkan keadaan putrinya begitu juga David kakek Vivian. Walaupun Vivian bukan cucu kandungnya tapi kasih sayangnya sangat besar untuk Vivian dan kasih sayang yang dia berikan sama seperti dengan cucu kandungnya apalagi Vivian mengikuti jejeknya dan Vivian selalu mendengarkan nasehatnya.
Setelah menemukan Vivian dua puluh lima tahun lalu, David lebih sering berada di rumah dan memberikan apapun untuk Vivian dan dia selalu berlaku adil pada cucu kandungnya. Jangan sampai ada iri hati diantara mereka dan lihatnya, kedua cucunya sudah seperti saudara kandung karena cucu kandungnya juga menyayangi Vivian.
Sampai sekarang Vivian tidak tahu jika dia hanya anak yang dia temukan dan David merasa tidak perlu mengatakannya. Lebih baik tetap seperti ini dan Vivian tidak perlu tahu agar tidak ada celah diatara hubungan mereka.
David memutuskan demikian karena bagaimanapun keluarganya sudah menganggap Vivian adalah bagian dari mereka tapi David tidak tahu jika ada orang yang ingin memporak porandakan hubungan mereka.
Marta mulai menangis membayangkan keadaan putrinya yang jauh di sana, seharusnya dia tidak melepaskan Vivian pergi ke Amerika. Rasanya dia sangat ingin pergi melihat keadaan putrinya tapi jarak diantara mereka yang jauh sangat memakan banyak waktu.
David juga demikian, dia menunduk dan menutupi wajah tuanya menggunakan kedua tangannya. Dia juga sangat menghawatirkan keadaan Vivian yang belum ada kabar sampai saat ini. Dia sangat berharap cucunya baik-biak saja di Amerika dan segera menghubunginya.
Karena sudah tidak tahan lagi dan tidak mau menunggu terlalu lama, Marta bangkit berdiri dan berkata, "Aku mau pergi ke Amerika!"
"Tidak Marta, tunggulah sebentar lagi. Jika terjadi sesuatu dengan Vivian agensi yang menaunginya pasti akan memberi kita kabar," cegah suaminya.
"Tapi Charles, sampai kapan kita harus menunggu? Aku khawatir terjadi sesuatu dengan Vivian di sana!"
"Percayalah, putri kita baik-baik saja karena dia bukan gadis lemah," hibur Charles seraya memeluk istrinya. Walaupun dalam hatinya juga menghawatirkan Vivian tapi dia percaya jika Vivian baik-baik saja saat ini.
Pada saat itu ponsel Charles berbunyi, dengan cepat Charles mengambil ponselnya dan dia harap itu adalah kabar dari Vivian.
"Hallo," Charles menjawab panggilan yang masuk dengan tidak sabar.
"Daddy," terdengar suara Vivian dari seberang sana.
"Vivi?" Charles benar-benar senang mendengar suara putrinya begitu juga dengan Marta dan David, mereka langsung mendekati Charles.
Marta mengambil ponsel dari tangan suaminya karena dia sudah tidak sabar untuk berbicara dengan putrinya dan mengetahui keadaannya.
"Vivi, bagaimana dengan keadaanmu sayang? Kami lihat diberita jika rumah dinas yang kau tempati meledak. Bagaimana dengan keadaanmu sekarang?" tanya Marta dengan tidak sabar.
"Aku baik-baik saja mom, maaf terlambat memberi kabar."
"Kau tidak terluka bukan? Apa terjadi hal serius padamu?"
"Mommy jangan khawatir, aku tidak apa-apa karena ada yang membantuku di sini."
Marta bernafas lega, syukurlah putrinya baik-baik saja dan apa yang dia takutkannya tidak terjadi.
"Berikan ponselnya padaku!" pinta David dan Marta segera memberikannya.
"Vivi."
__ADS_1
"Kakek, maaf aku terlambat memberi kabar dan membuat kalian khawatir."
"Kenapa kau begitu lengah sampai bisa diserang seperti itu?" tanya kakeknya.
"Aku sedang tidak enak badan kakek dan aku tidak tahu jika ada yang mengincarku."
"Berhati-hatilah Vivi, sepertinya penjahat yang kau tangani saat ini tidak mudah."
"Aku tahu kakek, jangan khawatir. Ada yang membantuku di sini dan kami akan menangkap penjahat itu bersama-sama."
"Oh ya? Apa kau sudah punya teman di sana?"
"Hm, kakek," Vivian berdehem sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Setelah misiku selesai, aku akan pulang dan mengenalkan seseorang pada kalian semua," ucapnya seraya melirik ke arah Metthew yang sedang berbicara dengan Michael.
Keadaannya sudah lebih baik dan besok dia sudah boleh pulang. Karena ponselnya tidak ada jadi dia meminjam ponsel Matthew untuk menghubungi keluarganya.
"Wah, kakek sangat tidak sabar. Apa kau tahu akan kalah taruhan dengan kakek sehingga kau mencari pacar di sana?" goda kakeknya.
"Tidak, enak saja!" sangkal Vivian.
"Jadi? Jangan katakan kau bertemu dengan pria yang kau tunggu selama ini di sana?!"
"Tidak kakek, aku tidak bertemu dengannya. Aku..aku sedang belajar mencintai orang lain!" jawab Vivian.
"Aiyaye kapten!" jawab Vivian.
David terkekeh dan duduk kembali, dia harap Vivian memilih pasangan hidup yang tepat dan ingat dengan nasehatnya untuk tidak berhubungan dengan pria yang hidup dalam dunia hitam. Bagaimanapun hitam dan putih tidak bisa bersatu dan keduanya bagaikan mata koin yang berlawanan.
Vivian masih berbicara dengan keluarganya sedangkan saat itu Matthew dan Michael sedang membahas hal penting dan sebuah laptop berada di atas meja.
Sesuai permintaan kakaknya, Michael mengawasi gerak gerik Black King dan mengawasi Maxton. Tidak ada hal mencurigakan yang dia temukan tapi dia mendapat sebuah informasi mengenai Maxton.
"Jadi, Maxton sedang mencari orang?" tanya Matthew.
"Menurut informasi yang aku dapat seperti itu, Maxton sedang mencari orang belakangan ini dan aku rasa bukan dia yang mengirim orang-orang itu untuk membunuh kita," jawab Michael.
"Aneh, apa ada yang ingin mengadu domba Maxton dengan kita?"
"Aku juga berpikir seperti itu kak. Jangan-jangan ada musuh kakak di luar sana yang melakukan trik licik seperti ini. Ingin menghabisi kakak tapi menggunakan nama Maxton. Aku rasa orang ini mencari aman jadi dia menggunakan nama Maxton."
"Baiklah masuk akal, tapi aku akan tetap menemuinya nanti! Ini baru perkiraan kita saja jadi kita tidak boleh lengah."
"Itu sudah pasti kak, aku akan tetap mengawasi organisasi Black King jadi kakak tidak perlu khawatir."
__ADS_1
Matthew mengangguk dan memandangi layar laptop adiknya di mana beberapa gambar apa yang dilakukan oleh Maxton terpampang jelas di sana.
Menghabisi organisasi Black King adalah perkara mudah tapi dia tidak mau salah sasaran, jangan sampai musuh yang sebenarnya tertawa di atas kebodohan yang mereka lakukan.
Matthew dan Michael masih membahas sesuatu dan sekarang mereka membahas pekerjaan mereka, sedangkan Vivian sudah selesai berbicara dengan keluarganya.
Sejak kejadian itu dia belum menghubungi Patrik dan agensi untuk memberi kabar. Sebaiknya dia meminta Matthew mengambilkan ponselnya agar dia bisa menghubungi agensi.
Dia tidak mau menggunakan ponsel Matthew karena dia tidak mau ada yang tahu jika Matthew Smith adalah orang yang membantunya selama ini.
Setelah selesai berbicara dengan kakaknya, Michael akan kembali ke kantor. Sambil membawa laptopnya Michael dan Matthew berjalan bersama-sama.
"Kakak ipar aku mau pergi," ucap Michael.
"Ya, hati-hati," jawab Vivian.
"Terima kasih kakak ipar dan ingat, Kelelawar keluar pada malam hari untuk makan buah jadi berhati-hatilah kakak ipar," ucap Michael lagi.
"What?" Vivian tidak mengerti maksud perkataan Michael.
"Michael!" Matthew menekan ucapannya sedangkan Michael tertawa dan segera pergi.
Setelah adiknya keluar, Matthew mendekati Vivian dengan senyum di wajahnya, dia duduk di samping Vivian dan mengusap kepalanya.
"Sudah memberi kabar pada keluargamu?"
"Ya, terima kasih. Ini ponselmu," Vivian mengembalikan ponsel Matthew.
"Oh my, tidak perlu berterima kasih tapi cium aku sebagai gantinya."
"Ck, mesum!"
"Ayolah," pinta Matthew.
"Baiklah, tapi beri tahu aku apa maksud ucapan adikmu tadi?" pinta Vivian karena dia penasaran.
"Itu Pr untukmu babe dan carilah jawabannya jika kau bisa!"
"Oh no!" tolak Vivian.
"Why?"
Vivian menggeleng, pasti jawabannya di luar dugaan dan dia tidak mau memikirkannya. Matthew terkekeh dan mencium pipi Vivian sambil berkata, "Tidak ada jawaban berarti satu hukuman!"
"Apa? Aku tidak mau!"
__ADS_1
"Kau tidak bisa menolak!" sebelum Vivian protes Matthew sudah membungkam bibir Vivian dan menciumnya.