Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Kebersamaan ayah dan anak.


__ADS_3

Matahari sudah hampir terbenam dan Jager berdiri di depan jendela sambil memandangi ke luar sana. Hari sudah sore apa putrinya belum pulang?


Jujur saja dia sudah tidak sabar dan sangat senang karena hari ini putrinya akan pulang dan menginap di rumah. Ini benar-benar moment yang dia tunggu dan dia tidak pernah menyangka sebelumnya jika dia masih diberi kesempatan seperti ini.


Tapi tunggu dulu, dia tidak punya pengalaman bersama dengan anak perempuan. Apa yang biasa dilakukan seorang ayah ketika bersama dengan putrinya?


Sebaiknya dia mencari tahu hal ini terlebih dahulu karena dia ingin melakukan apa yang dilakukan seorang ayah saat bersama dengan putrinya.


Jager memutar langkahnya, ponsel adalah salah satu alat yang bisa memberinya petunjuk.


Setelah mendapatkan benda itu, Jager melihat apa yang dilakukan oleh seorang ayah bersama dengan putrinya. Dia tampak begitu serius sampai tidak menyadari jika Damian baru saja kembali dari kantor.


Damian sangat heran melihat ayahnya sedang serius menatap layar ponsel, tidak biasanya ayahnya melihat ponsel sampai seperti itu dan karena penasaran, Damian menghampiri ayahnya dan berdiri di belakangnya.


Jager benar-benar serius sedangkan Damian ingin tertawa saat melihat video yang sedang di tonton oleh ayahnya.


"Dad, tidak mungkin kau akan melakukan hal itu nanti bukan?" tanya Damian.


"Oh kau sudah kembali?"


"Daddy begitu serius sampai tidak menyadari jika aku telah kembali," jawab Damian.


"Daddy ingin tahu Damian, apa yang dilakukan seorang ayah bersama dengan anak perempuannya? Daddy juga ingin melakukannya nanti bersama dengan adikmu."


"Tapi dia sudah besar Dad, memangnya Daddy mau melakukan apa yang Daddy lihat?"


"Tentu saja, aku pasti akan melakukannya," jawab Jager dengan penuh semangat.


Ini adalah moment pertamanya bersama dengan putrinya. Tentu dia akan melakukan apa yang dia lihat dan dia yakin putrinya pasti tidak akan keberatan.


Damian hanya menggeleng, ayahnya pasti sangat ingin hubungannya bersama dengan putrinya semakin dalam dan dia harap, adiknya tidak keberatan nanti dan mau mengabulkan keinginan ayah mereka supaya ayah mereka senang.


Damian masuk ke dalam kamarnya untuk mandi sedangkan di luar sana, Vivian sudah sampai dan menghentikan laju motornya. Dia pulang sebentar ke rumah keluarga angkatnya untuk mengambil pakaian dan sekalian melihat keadaan mereka.


Dia juga mengatakan pada keluarga angkatnya jika dia akan menginap di rumah ayahnya malam ini dan tentu saja, ibunya tidak keberatan begitu juga dengan kakek dan ayahnya.


Suara ketukan pintu terdengar, Ray segera berlari menuju pintu karena dia sudah tidak sabar menyambut kepulangan nona mudanya.


Bayi yang dibawa pergi di depan matanya waktu itu ternyata masih hidup dan dia sangat senang bisa melihatnya lagi walau sudah terpisah dua puluh lima tahun lamanya.


Pintu terbuka dan sebuah senyuman manis juga lambaian tangan Ray dapat, Ray begitu senang sampai air matanya mengalir begitu saja.


"Nona...nona Fiona, ternyata kau masih hidup. Maafkan aku tidak bisa menjagamu waktu itu," ucap Ray seraya menghapus air matanya.


"Tidak apa-apa, jangan menyalahkan dirimu," Vivian memegangi bahu Ray yang bergetar.


Ray kembali menghapus air matanya dan mengangguk, dia benar-benar senang sampai tidak menyadari jika Jager sudah berdiri di belakangnya.


"Mau sampai kapan kau berdiri di depan pintu dan tidak membiarkan putriku masuk?" tanya Jager dengan nada tidak senang.


"Oh tuan maaf, aku terlalu senang karena bisa melihat nona lagi," jawab Ray.


"Sudahlah Dad, tidak perlu dipermasalahkan."


"Baiklah, sini peluk Daddy," Jager membuka kedua tangannya dan Vivian masuk ke dalam pelukan ayahnya tanpa ragu.

__ADS_1


"Kenapa begitu lama? Daddy sudah menunggumu sedari tadi?" tanya Jager sambil mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Sorry Dad, aku kembali dulu untuk mengambil pakaianku dan melihat keadaan keluargaku."


"Baikklah, ayo masuk dan segeralah mandi. Kita akan makan malam dan setelah itu kita akan melewatkan hal menyenangkan bersama sebagai ayah dan anak," ucap Jager.


Vivian mengangguk dan mereka masuk ke dalam. Jager membawa putrinya masuk ke dalam kamar yang akan dia tempati dan ketika Vivian sedang mandi, Jager keluar dari kamar dan meminta Ray menyiapkan makanan.


"Dad, apa Vivi sudah pulang?" tanya Damian seraya menghampiri ayahnya.


"Ya, dia baru saja pulang tapi Damian, besok pergilah membelikan adikmu pakaian. Beli semua pakaian keluaran terbaru dan jangan perdulikan harganya. Aku ingin saat dia pulang dia tidak perlu mengambil pakaiannya."


"Baik Dad, akan aku lakukan," jawab Damian.


Jager tersenyum, walau Damian bukan putra kandungnya tapi sepertinya dia sangat menyayangi adiknya dan ini adalah hal yang sangat bagus.


Pada saat itu, Vivian sudah selesai mandi dan berjalan keluar. Matanya tidak lepas dari foto ibunya yang tergantung di dinding. Walau dia tidak pernah melihat ibunya tapi dia sudah mendapat banyak kasih sayang dari kelurga Adison.


"Malam kak," sapa Vivian.


"Vivi, bagaimana dengan wanita itu? Apa kalian sudah tahu siapa yang membawanya pergi?" tanya Damian.


"Entahlah kak, Patrik sudah mencarinya tapi masih belum tahu siapa yang membawa wanita itu dan ke mana dia dibawa."


"Daddy rasa mereka anak buah Matthew," ucap Jager.


"Benarkah?" Damian dan Vivian menatap ayahnya dengan serius.


"Dia bilang pada daddy jika tidak perlu menghawatirkan hal itu jadi Daddy rasa orang-orang yang membawa wanita itu pasti anak buah Matthew."


"Baiklah, aku akan membicarakan hal ini besok dengan Matthew," ucap Vivian.


Setelah selesai makan, mereka masih berbincang di ruang tamu. Waktu begitu cepat berlalu dan mereka masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat tapi tidak dengan Jager Maxton. Dia ingin melakukan apa yang dia lihat dari ponselnya tadi karena dia masih ingin bersama dengan putrinya.


Ketika Vivian sedang mengirim email untuk atasannya kapten Ston yang ada di Inggris, pintu kamarnya diketuk oleh ayahnya.


"Vivi, apa Daddy boleh masuk?" tanya Jager Maxton.


"Yes Dad," teriak Vivian.


Pintu kamar terbuka dan Jager masuk ke dalam sedangkan Vivian menyimpan laptopnya ke atas meja.


"Ada apa Dad?"


"Daddy ingin menghabiskan waktu denganmu, kau tidak keberatan bukan?"


"Tidak, tapi ini sudah malam. Apa Daddy tidak mau beristirahat?"


"Daddy ingin menghabiskan waktu denganmu Sayang jadi ijinkan Daddy membacakan dongeng untukmu sebelum kau tidur," jawab Jager.


"What Dad, aku sudah besar."


"Masih belum terlambat bukan untuk Daddy melakukan hal seperti ini?" Jager menatap putrinya penuh harap.


Dia harap putrinya mau dan tidak menolak, sedangkan Vivian jadi iba dengan ayahnya.

__ADS_1


"Baiklah, bagaimana jika Daddy menceritakan masa muda Daddy dan bagaimana saat Daddy bertemu dengan Mommy."


"Baiklah, ini terdengar lebih baik dari pada sebuah dongeng jadi sini," Jager menepuk pahanya agar putrinya berbaring di sana.


Sesuai permintaan ayahnya, Vivian membaringkan kepalanya di atas paha ayahnya dan mendengarkan cerita ayahnya.


Jager bercerita sambil mengusap kepala putrinya, sedangkan Vivian mendengarkan cerita ayahnya dan terkadang dia melontarkan beberapa pertanyaan saat ayahnya menceritakan persahabatannya dengan Marck Wriston.


Vivian semakin yakin jika Gary Wriston adalah buronan yang dia cari dan dia harus mendapatkan bukti supaya dia bisa menangkapnya tapi seorang kambing hitam akan memutar balikan semua fakta yang ada.


"Dad, ingat pesanku. Daddy harus berhati-hati saat bepergian karena aku curiga orang yang ingin menembak Daddy tadi siang adalah orang suruhan Gary Wriston," ucap Vivian setelah ayahnya selesai bercerita.


"Tentu saja, aku akan mendengarkan nasehat putriku jadi sekarang bolehkah aku menggendong putriku?" pinta Jager.


"What?" Vivian langsung bangun dari tidurnya.


"Daddy sangat ingin menggendongmu nak. Terakhir kali aku menggendongmu saat kau masih bayi jadi ijinkan aku merasakan bagaimana perasaan saat aku menggendongmu."


"Tapi Dad, kau sudah tua dan aku berat. Apa Daddy masih kuat?"


"Jangan meremehkan kekuatanku!" ucap Jager seraya bangkit berdiri.


"Tapi ini memalukan Dad," tolak Vivian.


"Ayolah, jangan tolak permintaan Daddy. Daddy hanya ingin menggendongmu saja," ucap Jager sambil memasang wajah memohon.


Vivian jadi iba, mungkin ayahnya memang ingin merasakan bagaimana perasaan saat menggendong putrinya jadi sebaiknya dia mengabulkan permintaan ayahnya.


"Daddy yakin?" tanya Vivian seraya turun dari atas ranjang.


"Sangat yakin jadi sini biar Daddy gendong," Jager sudah siap menggendong putrinya.


Demi mengabulkan permintaan ayahnya, Vivian membiarkan ayahnya menggendongnya dan Jager benar-benar bahagia. Dia begitu bersemangat dan memutar putrinya yang masih berada di dalam gendongannya.


"Dad!" teriak Vivian karena dia khawatir mereka akan terjatuh.


Jager masih memutar putrinya tapi tidak lama kemudian, dia mulai kehilangan keseimbangan. Langkah Jager mulai terhuyung dan tidak lama kemudian, "Gubrak!" mereka berdua jatuh ke atas lantai dan berteriak.


Damian langsung berlari masuk ke dalam kamar adiknya saat mendengar hal itu.


"OH my God, apa Daddy melakukannya?" tanya Damian seraya mendekati mereka.


"Oh pinggangku," keluh Jager sambil memegangi pinggangnya.


"Apa Daddy tidak apa-apa?" tanya Vivian.


"Tidak apa-apa, tenang saja. Daddy telalu senang jadi ayo sini Daddy gendong lagi," jawab Jager saat Damian dan Vivian membantunya bangkit berdiri.


"Oh my God Dad, lupakan! Kau sudah tua dan aku sudah besar," tolak Vivian.


"Tidak apa-apa adikku, biarkan Daddy menggendongmu karena setelah ini Daddy harus menggendongku," ucap Damian.


"What?" Jager memandangi Vivian dan Damian, sedangkan mereka mengangguk.


"Boleh juga," Vivian mengiyakan perkataan kakaknya.

__ADS_1


"Oh tidak, kalian bisa mematahkan pinggangku!"


Damian dan Vivian tertawa dan setelah itu mereka memeluk ayah mereka, Jager tampak begitu bahagia apalagi sebuah ciuman selamat malam dia dapatkan dari putrinya. Perasaan yang dia rasakan saat itu sulit diungkapkan dengan kata-kata dan dia benar-benar bahagia.


__ADS_2