Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Pagi sebelum tragedi besar dimulai.


__ADS_3

Vivian terbangun saat mendengar suara orang berbicara, Walau dia hanya tidur sebentar tapi sudah cukup baginya.


Dengan perlahan Vivian membuka matanya dan ketika melihat kakaknya sedang berbicara dengan ibunya, Vivian langsung bangkit berdiri.


Sepertinya ibunya sudah sadar dan dia sangat senang. Tanpa membuang waktu, Vivian segera menghampiri ibunya dan ketika melihat keadaan ibunya, air mata Vivian mengalir.


"Mommy," Vivian mendekati ibunya sedangkan Marta tersenyum.


"Jangan khawatir, Sayang. Mommy baik-baik saja," ucap Marta untuk menenangkan putrinya.


"Mom, maafkan aku. Semua gara-gara aku. Jika aku tidak meminta kalian untuk tinggal ...."


"Jangan berkata seperti itu, Vivi," sela ibunya.


"Semua bukan salahmu dan Mommy sudah mendengar dari kakakmu jika bukan Matthew yang melakukannya, apa itu benar?"


"Benar Mom, aku bisa menunjukkan buktinya pada Mommy jika Mommy tidak percaya," jawab Vivian.


Marta tersenyum dan menyentuh tangan putrinya, "Aku percaya denganmu, Sayang. Lagi pula apa alasan Matthew melakukan hal itu pada kami? Dia sangat baik dan aku percaya dia tidak punya niat jahat sedikitpun tapi katakan pada Mommy, siapa yang menyamar jadi Matthew dan menembak kami?"


Vivian menunduk, keluarganya sangat mengenal Carlk karena Carlk datang ke rumahnya beberapa kali waktu dia masih berada di Ingris.


"Semua ini ulah Carlk, Mom."


"Apa?" Marta sangat kaget mendengarnya begitu juga dengan Mariam.


"Carlk? Pria yang telah meninggalkanmu dan tidak pernah kembali itu?" tanya Mariam.


"Iya kak, dia ada di sini dan aku sudah bertemu dengannya beberapa kali."


"OH my God, kenapa dia begitu jahat melakukan hal ini, Vivi?" tanya kakaknya lagi.


Dia sungguh tidak percaya orang yang selalu mencari adiknya dulu adalah dalang yang menembak keluarga mereka. Padahal Carlk sangat baik dengan mereka dulu tapi siapa yang menyangka?


"Katakan pada kami, Vivi. Kenapa dia melakukan hal ini pada kami. Apa kami membuat sebuah kesalahan padanya?" tanya ibunya.


"Tidak, Mom. Semua salahku. Aku tidak mau kembali dengannya dan memilih bersama dengan Matthew dan aku rasa hal ini membuatnya marah. Tidak hanya itu saja, dia juga menangkap ayahku karena dia menyimpan dendam pada ayahku. Semua ini gara-gara aku, Mom. Jadi aku minta maaf pada kalian," air mata Vivian kembali mengalir.


Jujur saja, dia semakin merasa bersalah karena telah melibatkan keluarganya dan hampir membuat mereka celaka.


"Memang semua ini gara-gara kau!" ucap Hilary.

__ADS_1


Dia mendengar semua yang dibicarakan oleh Vivian bersama dengan ibu juga kakaknya.


"Jika kau tidak menolaknya dan tidak menahan mereka, mereka pasti tidak akan mengalami hal seperti ini dan lihatlah, kakekmu belum juga sadar!"


"Maafkan aku, Aunty." Vivian semakin merasa bersalah.


"Hilary, jangan berkata seperti itu. Vivian tidak salah sama sekali. Dia sudah tidak menyukai Carlk dan menolaknya, apa dia salah?" tanya Marta.


"Hng, putri yang kau adopsi benar-benar pembawa masalah! Tidak saja putri seorang penjahat tapi dia juga berhubungan dengan seorang penjahat dan lihatlah, mantan pacarnya juga penjahat!" ucap Hilary dengan sinis.


"Jaga ucapanmu baik-baik, Nyonya! Jika kau kelewat batas maka aku tidak akan segan walaupun kau bibi Vivian sekalipun! Aku akan buktikan padamu bagaimana diperlakukan oleh seorang penjahat dan sekalipun Vivian memohon, aku tidak akan melepaskanmu!" Matthew sudah berdiri di belakang Vivian dan ketika melihatnya, Hilary langsung mendengus dan melangkah pergi menghampiri kakaknya.


Lebih baik tidak mencari masalah karena dia juga takut, bagaimana jika dia dibunuh dan tidak bisa kembali ke Inggris lagi?


"Maafkan adik iparku, Matthew. Dia memang tidak menyukai Vivian sejak dulu dan sekarang, Hilary pasti semakin membenci Vivian," pinta Marta.


"Sekalipun dia membenci Vivian, tidak seharunya dia berbicara seperti itu! Carlk menggunakan wajahku untuk mencelakai kalian dan jika dia ingin marah, dia bisa marah padaku bukan dengan Vivian," jawab Matthew tapi matanya menatap Hilary dengan tajam sampai membuat Hilary ketakutan karena dia seperti diincar.


"Sudahlah, Matth. Maafkan bibiku," pinta Vivian.


Matthew tersenyum dan mengusap kepala Vivian. Sungguh, jika Hilary tidak ada hubungannya dengan keluarga Adison sudah dia perintahkan James menculik Hilary dan menyiksanya sampai mati.


"Katakan pada Mommy, apa maksudmu ayahmu juga ditangkap? Apa Cark juga menangkap ayahmu?"


"Oh my God, jadi bagaimana dengan keadaan ayahmu, Sayang?" Marta tampa khawatir sedangkan Mariam baru tahu hal ini.


Ternyata banyak yang terjadi dan tidak seharusnya dia menyalahkan dan meragukan adiknya. Adiknya pasti sedang memikirkan keadaan ayahnya saat ini dan seharusnya sebagai kakak, dia tidak membuat masalah yang terjadi semakin buruk.


"Maafkan kakak, Vivi," Mariam bangkit berdiri dan memeluk adiknya.


"Tidak seharusnya aku meragukanmu jadi maafkan aku. Aku tidak tahu jika banyak yang terjadi dan aku tidak tahu kesulitanmu."


"Tidak apa-apa, Kakak. Jangan kau pikirkan. Aku sangat berterima kasih Kakak sudah mau mempercayai aku dan mengijinkan aku memindahkan Mommy dan Daddy juga Kakek," jawab Vivian sambil membalas pelukan kakaknya.


Marta tersenyum melihat kedua putrinya, keadaannya sudah baik-baik saja begitu juga dengan suaminya. Tapi keadaan ayah mertuanya?


Setelah berbicara dengan ibunya, Vivian menghampiri ayahnya untuk melihat keadaan ayahnya. Dia juga memberi penjelasan pada ayahnya jika yang menyerang mereka bukan Matthew.


Dia juga mengatakan jika yang melakukan hal itu adalah Carlk. Setelah mendengar penjelasan putrinya, Charles mempercayai apa yang diucapkan oleh putrinya. Lagi pula, Matthew tidak memiliki motif apapun untuk mencelakai mereka.


Vivian sangat lega ayah dan ibunya mau mempercayainya, setidaknya dia tidak perlu menjelaskan masalah ini panjang lebar sehingga menjadi seperti sebuah drama. Dia tidak perduli paman dan bibinya mau percaya atau tidak karena yang paling penting adalah, kedua orangtuanya percaya jika yang menyerang mereka bukan Matthew. Tapi bagaimana dengan kakeknya?

__ADS_1


Vivian berdiri di samping kakeknya yang belum juga sadarkan diri. Sebuah alat terpasang di hidung kakeknya dan sebuah infus tertancap di tangannya. Apa kondisi kakeknya begitu parah?


Dengan perlahan Vivian memegangi tangan kakeknya dan menggenggamnya, "Kakek, cepatlah sadar. Aku rindu dengan kakek dan setelah sadar kita akan bermain anggar bersama," ucap Vivian dan tanpa terasa air matanya mengalir.


"Aku akan mengalah kali ini dan aku akan membiarkan kakek menang. Aku juga tidak akan merebut makanan kakek dan ketika kita main catur, aku juga akan mengalah," Vivian menyembunyikan wajahnya dibalik lengan kakeknya dan menangis.


Dia sangat takut kakeknya pergi meninggalkan mereka begitu saja dan dia tidak akan pernah sanggup kehilangan kakeknya seperti itu. Dia harap kakeknya cepat sadar dan dia juga berharap kakeknya baik-baik saja.


"Aku sangat menyayangimu, Kakek. Jadi jangan tinggalkan aku begitu cepat. Jika Kakek pergi maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena semua yang kalian alami gara-gara aku!"


"Jangan berkata seperti itu, Babe," Matthew mengusap kepala Vivian karena dia berdiri di belakang Vivian.


"Aku hanya takut, Matth."


"Tidak perlu khawatir, kakekmu pasti baik-baik saja. Dia belum sadar karena menerima banyak pukulan di kepalanya."


"Apa Kakek akan hilang ingatan?" tanya Vivian.


"Tidak, dia hanya mengalami shock. Dokter yang menangani kakekmu mengatakan jika Kakekmu akan segera sadar," jelas Matthew.


"Aku harap begitu," Vivian memandangi kakeknya dan mengusap tangannya.


"Apa hari ini kau tidak mau pergi ke kantor, Babe?"


"Tentu aku harus pergi Matth," Vivian bangkit berdiri.


"Aku akan membuka kedok si penghianat hari ini dan aku pasti akan menangkapnya. Entah apa yang direncanakan oleh Gary jadi kita harus waspada. Aku tidak akan membiarkannya lari kali ini dan aku akan menyelamatkan ayahku."


"Kau tidak sendirian karena ada aku. Aku pasti akan membantumu dan aku akan meminta Michael untuk mengawasi semuanya."


"Terima kasih Matth, kita akan bekerja sama untuk menangkap Gary."


"Tentu," jawab Matthew.


Mereka segera berpamitan karena ada yang harus mereka lakukan. Anak buah Matthew berjaga di rumah sakit itu dan tidak akan membiarkan seorangpun lewat karena mereka harus waspada.


Di luar sana cuaca tampak cerah tapi hari ini akan ada badai besar yang harus mereka hadapi karena Thomas akan melakukan bagiannya dan tentunya, Gary juga akan melakukan bagiannya. Dia sedang pergi ke tempat di mana Jager sedang disekap dan hari ini dia akan mengakhiri semuanya dan hari ini, tragedi besar akan terjadi.


#Yang kangen visual mereka#


__ADS_1



__ADS_2