
Setelah keluarga Matthew pergi, Vivian duduk termenung di meja makan dengan segelas susu yang dibuatkan oleh Alice.
Dia diminta meminum susu itu tiga kali sehari dan itu adalah susu untuk ibu hamil. Vivian menghela nafasnya dengan berat dan memandangi kaleng susu yang begitu banyak di atas meja, apa dia harus menghabiskan semua itu?
Entah apa yang dikatakan Matthew pada keluarganya sampai membuat mereka salah paham dan dia tidak bisa melakukan apapun selain mendengarkan nasehat Alice.
Lagi pula itu hanya susu saja bukan? Walau dia tidak hamil tetap akan dia habiskan karena dia tidak mau membuat nenek Matthew kecewa.
Vivian kembali menghela nafasnya dan meneguk susu yang ada di dalam gelas. Lambungnya sudah membaik karena dia sudah minum obat untuk lambung tapi jika melihat makanan dia masih merasa mual.
Mungkin untuk beberapa hari dia akan seperti itu dan semua yang dia alami gara-gara Matthew. Jika sampai kakeknya tahu maka kakeknya pasti akan menendang bokong Matthew.
Hari ini cuaca begitu panas apalagi sedang siang bolong, Karena dia sudah minta ijin jadi dia tidak pergi ke kantor dan dia akan menghabiskan waktu di rumah seharian.
Matthew sedang berada di dalam sebuah ruangan karena ada hal penting yang harus dia kerjakan sedangkan Vivian tampak bosan.
Mungkin sebaiknya dia pergi berenang di pantai untuk mengisi waktu apalagi matahari sedang bersinar dengan terik, ini waktu yang pas untuk berjemur.
Vivian segera meneguk susunya sampai habis karena setelah ini dia akan pergi berenang.
Gelas kosong diletakkan di samping ponselnya tapi pada saat itu, sebuah pesan masuk dan itu pesan dari Patrik.
Vivian meraih ponselnya dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Patrik.
"Angel, aku sudah mendapatkan apa yang kau mau. Nanti sore temui aku di cafe, aku akan memberikan data Matthew Smith untukmu."
"Thanks Patrik, kirimkan alamatnya dan aku akan pergi ke sana untuk menemuimu."
Setelah membalas pesan Patrik, Vivian bangkit berdiri dan setelah itu dia berjalan menuju kamar. Sepertinya hari ini dia akan tahu siapa Matthew sebenarnya dan dia harap dia tidak kecewa.
Di dalam kamar, Vivian mulai sibuk mencari Bikini dan setelah dapat Vivian segera memakainya. Walaupun dadanya tidak besar tapi dia tampak puas dengan bentuknya. Lagi pula untuk terlihat cantik tidak harus selalu memiliki dada yang besar bukan?
Setelah memakai bikini, Vivian mengambil sebuah kain dan mengikatkannya ke pinggang dan setelah itu dia berjalan ke luar kamar.
Vivian hendak pergi ke pantai tapi pada saat itu perhatiannya teralihkan oleh sebuah kaca jendela besar yang memperlihatan sebuah taman.
Selama ini dia belum begitu tahu rumah Matthew dan ini pertama kalinya dia barada di rumah seharian karena biasanya pagi-pagi dia sudah pergi dan malam baru kembali. Bisa dikatakan, kamar dan dapur adalah tempat biasanya dia berada.
Karena penasaran, Vivian berjalan menghampiri jendela dan melihatnya. Matanya berbinar saat melihat sebuah kolam renang. Tidak mau membuang waktu, Vivian melangkah menghampiri pintu dan segera kaluar.
"Wow!" Vivian benar-benar kagum melihat taman yang indah dan sebuah kolam renang yang tampak begitu bersih di sana.
Niatnya untuk berenang di laut dia urungkan karena dia lebih tertarik berenang di kolam renang. Tanpa ragu Vivian melepaskan kain yang melilit dipinggangnya dan berjalan masuk ke dalam kolam renang.
Di dalam ruangan, Matthew sedang serius berbicara dengan adiknya tapi matanya tidak lepas dari gadis berbikini merah yang tampak seksi di kolam renang. Rasanya ingin bergabung tapi dia belum selesai membahas pekerjaan penting dengan adiknya.
Vivian keluar dari air dan tampak semakin seksi dengan keadaannya yang basah, Matthew meneguk salivanya dan rasanya dia sudah tidak sabar bergabung dengan Vivian.
__ADS_1
"Mich, apa sudah selesai?" tanya Matthew dengan tidak sabar.
"Ck, kakak terdengar tidak sabar. Apa ada hal penting yang ingin kakak lakukan?"
"Tentu saja dan aku tidak boleh melewatkannya!"
"Baiklah kak, sisanya serahkan padaku dan sebaiknya kakak segera membuat kakak ipar hamil agar mommy dan nenek tidak kecewa," ucap Michael bercanda.
"Sedang aku usahakan."
Michael terkekeh sedangkan Matthew meletakkan ponselnya dan segera keluar dari ruangannya. Dengan cepat Matthew berjalan menuju kolam renang dimana Vivian sedang duduk di sisinya dan memainkan kakinya ke dalam air.
"Hai babe, kenapa tidak mengajakku?"
"Bukankah kau sedang sibuk?" Vivian melihatnya sejenak.
"Sudah tidak," Matthew melepaskan pakaiannya dan duduk di samping Vivian.
"Bagaimana dengan lambungmu?"
"Sudah lebih baik tapi sekarang aku mual dengan susu."
Matthew terkekeh dan merangkul pinggang Vivian, "Nanti aku akan membntumu menghabiskannya."
"Are you sure?"
"Baiklah, itu terdengar adil."
"Tapi babe?"
"What?"
"Aku lebih suka yang itu," ucap Matthew seraya memandangi dada Vivian.
"Apa? Dasar kau mesum!" Vivian langsung menutupi dadanya.
Matthew tertawa dan masuk ke dalam air, setelah itu Matthew mengulurkan kedua tangannya.
"Sini."
Vivian tersenyum dan segera melompat ke dalam pelukan Matthew.
"Apa lambungmu benar-benar sudah tidak apa-apa babe?" tanya Matthew memastikan.
"Ya, kau tidak perlu khawatir."
Matthew menunduk dan mencium bahu Vivian, dia bahkan menggigitnya sedangkan kedua tangannya sibuk meremas bokong Vivian.
__ADS_1
"Kau begitu seksi babe dan aku sudah tidak sabar menjadikanmu milikku."
"Oh ya? Menurutku biasa saja."
"Tidak! Lihat bibirmu ini?" Matthew mengusap bibir Vivian dan menggigitnya dengan lambut.
"Bibirmu begitu seksi dan aku suka," ucapnya seraya mengecup bibir Vivian, sedangkan wajah Vivian memerah.
"Dan kedua bokongmu?" tangannya sudah masuk dan mengusap bokong Vivian.
"Aku juga suka meremasnya."
"CK, kau terlalu memuji."
"Tidak, tapi memang ada satu yang kurang," ucap matthew.
"Oh ya?"
"Yes," tangan Matthew merayap naik ke atas dan meremas dada Vivian.
"Bagian ini masih kurang besar dan ini adalah tugasku untuk membuatnya besar."
"Matth."
"Stts," Matthew mencium bibir Vivian dan tangannya sudah menarik tali bikini yang di pakai oleh Vivian.
Vivian memeluk lehernya dan membiarkan Matthew menyentuh tubuhnya dan dia merasa traumanya sudah hilang karena dia tidak takut lagi dan tentunya hanya pada Matthew saja.
"Matth."
"Yes babe?" Matthew memandanginya dan mengusap wajahnya.
"Nanti sore aku harus pergi menemui Patrik untuk membahas hal penting."
"Perlu aku antar?"
"Tidak perlu. Aku tidak mau dia melihatmu dan mengacaukan rencana yang sudah aku buat."
Matthew kembali mengusap wajah Vivian dan mencium pipinya, "Berhati-hatilah. Jika ada masalah segera hubungi aku."
"Pasti, kau tidak perlu khawatir."
Vivian mencium pipi Matthew, jujur saja dia takut kecewa saat dia tahu kebenarannya. Siapa Matthew sebenarnya? Tapi dia harap siapapun Matthew, dia tidak kecewa karena dia tahu Matthew mencintainya dengan tulus. Tapi siapa yang akan tahu?
Vivian kembali mencium Matthew dan memeluk lehernya dengan erat, "Aku ingin kita seperti ini untuk sebentar saja."
"Seperti keinginanmu sayang, kau boleh memelukku selama yang kau mau," ucap Matthew sambil mengusap punggung Vivian.
__ADS_1
Vivian tersenyum, dia ingin seperti itu sebentar untuk menikmati waktu mereka berdua karena dia takut mereka tidak bisa seperti itu lagi. Semoga saja mereka bisa selalu seperti itu dan selalu bersama. Dia harap saat dia melihat data tentang Matthew yang diberikan Patrik, dia bisa menerima Matthew sehingga hubungan mereka tidak memiliki jarak.