Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Bukan sebuah kebetulan belaka!


__ADS_3

Suasana tampak hening, tidak ada yang bersuara. Semua mata menatap Vivian dan Vivian seperti orang bodoh karena dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Dengan kaki bergetar, Jager mulai melangkah mendekati Vivian dan pada saat itu, matanya terasa panas karena air matanya mulai mengalir.


Ini bukan mimpi, bukan! Kenapa gadis yang berdiri di samping Matthew Smith terlihat begitu mirip dengan istrinya sewaktu masih muda?


Apa istrinya berinkarnasi dan hidup kembali? Tapi tidak mungkin karena ini bukan dunia fiksi di mana seseorang yang sudah mati bisa hidup lagi apalagi dia menyaksikan sendiri mayat istrinya dan dia juga melihat istrinya dimakamkan. Tapi kenapa gadis itu sangat mirip dengan istrinya?


Vivian semakin bingung karena Jager Maxton menghampirinya dengan air mata berderai. Dia semakin bingung ketika Jager tiba-tiba memeluknya sambil menyebutkan sebuah nama, "Cristiana."


Vivian ketakutan dan sangat ingin mendorong tubuh Jager tapi tubuh pria tua itu bergetar dan dia menangis tersedu-sedu, ini seperti menumpahkan kerinduan yang sudah lama tertahan.


"Cristiana...Cristiana," Jager memanggil nama istrinya berkali-kali karena dia benar-benar rindu dengan istrinya tapi dia sadar, gadis yang dia peluk saat ini bukan istrinya.


Kenapa gadis itu sangat mirip dengan istrinya? Apakah ada sesuatu yang dia lewatkan?


"Tu..tuan," Vivian berusaha mendorong tubuh Jager tapi pria tua itu semakin memeluknya dengan erat dan masih menangis.


Entah kenapa saat itu ada sebuah perasaan hangat mengalir dalam hati Vivian dan tanpa dia sadari dan inginkan, airnya matanya tiba-tiba mengalir begitu saja.


Vivian sangat kaget dengan reaksi tubuhnya dan langsung menghapus air matanya, kenapa dia menangis? Dia sendiri tidak tahu. Yang semakin membuatnya heran adalah, seorang pria tua sedang memeluknya tapi kenapa Matthew diam saja dan tidak mencegahnya?


Seperti yang Matthew duga, Jager pasti akan kaget melihat Vivian dan langsung mengingat istrinya. Ini kejadian yang aneh padahal mereka tidak punya hubungan apa-apa.


"Tuan tolong lepaskan aku," pinta Vivian karena dia sudah tidak tahan lagi dan rasanya ingin membanting Jager ke atas lantai.


Dengan berat hati, Jager Maxton melepaskan pelukannya, "Maaf," ucapnya seraya melangkah mundur tapi matanya tidak lepas dari wajah Vivian.


Jager memegangi dadanya dan air matanya kembali mengalir, ada apa ini sebenarnya? Apa putrinya masih hidup? Jujur saja saat memeluk gadis itu, dia merasakan sebuah perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi waktu itu dia juga melihat putrinya dimakamkan dengan istrinya, apa sudah terjadi kesalahan dua puluh lima tahun yang lalu?


"Maafkan ketidaksopananku," ucap Jager sambil melangkah pergi. Walaupun gadis itu mirip dengan istrinya tapi dia sadar, istri dan putrinya sudah tiada dan sepertinya ini hanya kebetulan belaka. Tapi apakah ada kebetulan seperti ini?


Jager mempersilahkan Matthew dan Vivian untuk duduk dan meneguk minuman yang telah disediakan pelayannya kembali untuk menenangkan emosinya, setelah ini dia akan mencari tahu semuanya. Mengenai gadis yang mirip istrinya dan mengenai kejadian dua puluh lima tahun yang lalu dan dia tahu siapa yang bisa membantunya dan orang itu sedang duduk di depannya dan dia harap Matthew Smith mau membantunya.


Dengan penuh tanda tanya di hati Vivian duduk bersama dengan Matthew bahkan dia sampai lupa tujuannya datang kesana karena baru saja dia mengalami kejadian aneh. Dia dan pria tua yang dia yakini adalah Jager Maxton, seperti sedang reuni dan setelah pulang dia akan menanyakan hal ini pada Matthew.


Pelayan pribadi Maxton menghidangkan segelas minuman untuk Vivian tapi suasana masih terasa hening karena tidak ada yang memulai berbicara.


Mata Damian juga tak lepas dari Vivian karena wajahnya mirip dengan almarhum istri ayahnya bahkan dia melihat foto istri ayahnya dan setelah itu dia melihat Vivian dan benar saja, mereka sangat mirip. Apa ayahnya telah melewatkan sesuatu dua puluh lima tahun yang lalu?


"Nah nona," Jager memecahkan keheningan diantara mereka.

__ADS_1


"Aku dengar kau ingin mengintrogasiku?" tanya Maxton dan dia kembali tampak berwibawa.


"Ya, benar tuan Max. Maaf jika aku lancang."


"Namamu?" tanya Jager lagi sambil melihatnya.


"Angel."


"Usia?"


Vivian sangat heran, kenapa jadi dia yang diintrogasi? Tapi dia harus sopan demi mendapatkan informasi.


"Dua puluh lima tahun," jawab Vivian.


Jager dan Damian saling pandang, dua puluh lima tahun? Sepertinya ini benar-benar bukan sebuah kebetulan belaka!


"Dari mana kau berasal?" tanya Jager lagi karena dia ingin tahu lebih banyak mengenai Vivian.


"Maaf tuan Max, identitasku dirahasiakan dan aku tidak bisa mengumbar identitasku sembarangan," jawab Vivian sesopan mungkin dan dia harap Jager Maxton tidak marah.


Jager tampak kecewa tapi dia akan mencari tahu nanti dan tentunya dia tidak mau memaksa Vivian.


"Benar, ada beberapa pertanyaan yang ingin aku berikan pada tuan Max dan aku harap tuan Max mau bekerja sama," jawab Vivian.


"Baiklah, suasana hatiku sedang buruk hari ini jadi datanglah besok siang, kita akan membahas permasalahan ini besok."


Jager memang sengaja berkata demikian karena dia ingin bertemu dengan Vivian lagi, sedangkan Vivian merasa sedikit kecewa karena kedatangannya hari ini tidak membuahkan hasil tapi tidak apa-apa karena Maxton sudah mau bertemu dengannya.


"Baiklah tuan Max, aku akan datang besok siang dan terima kasih tuan Max mau menemuiku," ucap Vivian sambil tesenyum.


Jager tidak berpaling dari wajah Vivian, bahkan senyumnya sangat mirip dengan senyum istrinya. Dia semakin yakin jika telah terjadi kesalahan dua puluh lima tahun yang lalu.


"Jika begitu, kami harus pergi tuan Max," ucap Matthew seraya bangkit berdiri karena sudah tidak ada lagi yang mereka lakukan di sana.


"Terima kasih tuan Smith, terima kasih telah mempertemukan aku dengannya," jawab Jager dan dia juga bangkit berdiri dengan Damian.


Mereka berjabat tangan dan pada saat Vivian berjabat tangan dengan Jager, pria tua itu menatapnya dengan lembut dan tersenyum dengan ramah.


"Datanglah besok siang nak, aku menunggu."


"Terima kasih tuan Max," jawab Vivian dengan perasaan sedikit aneh.

__ADS_1


Vivian dan Matthew segera keluar dari rumah Jager sedangkan Jager berdiri di depan pintu menatap kepergian mereka.


Damian berdiri di belakang ayahnya dan sungguh banyak yang ingin dia tanyakan pada ayahnya, mengenai gadis yang sangat mirip dengan istri ayahnya dan dia rasa semua ini bukan kebetulan.


"Otosan."


"Dia sangat mirip dengan Cristiana bukan?" tanya Maxton dan matanya masih menatap Vivian yang masih berbicara dengan Matthew di depan gerbang.


"Dad, apakah daddy tidak marasa ada yang aneh?"


"Daddy sedang memikirkannya Damian."


"Daddy bilang putri daddy juga dibunuh, apa daddy melihat jasadnya?"


"Tentu saja," jawab Jager.


Bagaimana mungkin dia bisa lupa saat melihat mayat bayinya yang sudah hangus terbakar dan terbaring di samping istrinya saat itu?


Mata Jager masih setia menatap Vivian yang naik ke atas motor dan pada saat itu tiba-tiba saja sebuah pertanyaan muncul dalam kepalanya. Bagaimana jika bayi yang ada di samping istrinya saat itu bukan anaknya?


Sepertinya dia harus memastikan hal ini untuk mencari jawabannya.


"Damian, aku akan membongkar makam istriku."


"Untuk apa dad?" Damian sangat kaget mendengarnya.


"Tes DNA. Aku ingin memastikan apakah bayi yang dikuburkan bersama dengan Cristiana putriku atau bukan."


"Tapi dad?" Damian ingin mencegah tapi lagi-lagi wajah ayahnya tampak sedih.


"Aku ingin memastikannya Damian dan gadis itu? Jika yang dimakamkan bukan putriku jangan-jangan gadis itulah putriku!"


"Jika memang yang dimakamkan bukan putri daddy lalu apa yang bisa daddy lakukan? Daddy dengar bukan? Identitasnya dirahasiakan dan aku rasa tidak akan mudah mencari tahu tentangnya."


"Kau tidak perlu khawatir Damian, seseorang akan membantuku."


"Siapa?"


"Matthew Smith!" jawab Jager Maxton.


Dia percaya Matthew akan membantunya jika tidak, maka dia akan memohon di bawah kaki pria itu agar mau membantunya. Semoga saja, putrinya benar-benar masih hidup dan setelah makam istrinya dibongkar dan setelah melakukan tes DNA maka semuanya akan terjawab.

__ADS_1


__ADS_2