Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Aku benci penghianat!


__ADS_3

Vivian berdiri di depan cermin sambil meraba bahunya yang dipenuhi bekas gigitan Matthew dan berdecak kesal. Seharusnya dia melakukannya dengan pelan-pelan tadi tapi dia benar-benar sudah tidak sabar agar cepat selesai.


Bukan saja bekas gigitan yang menjadi pusat perhatiannya tapi sebuah memar yang terdapat di lengannya. Itu karena pukulan yang dia dapat dan dia baru menyadarinya.


Begitu melihat memar yang terdapat di lengan Vivian, Matthew sangat marah dan jika dia tahu maka akan dia cincang orang yang melakukannya.


Matthew masuk ke dalam kamar setelah mendapatkan obat dan kompres, dia tidak mau lengan Vivian membengkak karena pukulan yang dia dapat.


Vivian segera memakai bajunya saat Matthew berjalan menghampirinya dengan obat dan kompres di tangannya.


"Kemarilah," Matthew meraih tangan Vivian dan membawanya menuju ranjang.


Mereka duduk di sisi ranjang dan Matthew meraih tangan Vivian untuk melihat memar yang terdapat di lengannya.


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku tadi jika ada yang memukulmu?" tanya Matthew seraya mengompres lengan Vivian.


"Tidak apa-apa Matth, ini hanya pukulan dan aku sudah biasa mendapatkannya."


"Tapi aku tidak suka ada yang menyakitimu dan aku juga tidak suka ada yang melukai milikku. Seharusnya kau katakan padaku tadi pria mana yang memukulmu!"


Vivian tersenyum dan mengusap pipi Matthew, entah kenapa Matthew begitu menghawatirkannya padahal dia tidak apa-apa.


"Thanks kau begitu perhatian padaku tapi aku juga tidak tahu pria mana yang memukulku karena aku sibuk melawan mereka. Lagi pula jika aku mengatakannya padamu, memangnya apa yang mau kau lakukan?"


"Walaupun kau tidak tahu pria mana yang memukulmu tapi jika kau mengatakannya padaku maka aku akan memenggal tangan mereka semua dan akan aku gantung di atas tiang lampu jalan yang ada di jalanan itu!" jawab Matthew dengan kemarahan di hati.


"Wow, kau terdengar seperti psikopat?"


"Aku tidak suka ada yang melukaimu sayang karena kau milikku!"


"Oke baiklah Mr psiko, kau terlalu berlebihan. Terluka saat menjalankan tugas sudah biasa dan ini hanya memar saja. Aku sudah sering mendapat luka yang lebih parah dari pada ini! Melompat keluar jendela saat terjadi ledakan, jatuh di atas kap mobil dan hampir ditimpa teruntuhan, tangan terkilir dan lebih banyak lagi!" ucap Vivian.


"Ck!" Matthew berdecak kesal saat mendengarnya. Dia segera memijit lengan Vivian yang memar dengan sekuat tenaga.


Vivian berteriak dan berusaha menarik tangannya tapi Matthew terus memijit lengannya dengan sekuat tenaga.


"Matthew, are you crazy?!" teriak Vivian.


"Sakit?"


"Tentu saja oh my God! Kau benar-benar gila!"


"Lain kali jika masih berbicara hal yang tidak penting maka aku akan menghukummu dengan cara lain!"


"Oke baiklah, sepertinya bukan hal bagus jadi lain kali aku akan tutup mulut!" ucap Vivian sambil meringis dan memegangi lengannya.

__ADS_1


"Siapa bilang bukan hal bagus?" Matthew mendekati Vivian dan mengangkat tubuhnya seperti anak kecil dan setelah itu mendudukkan Vivian di atas pangkuannya.


"Memangnya hukuman apa?" tanya Vivian tidak mengerti.


Matthew tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke telinga Vivian dan berbisik, "Aku akan membuatmu berteriak nikmat di bawah kendaliku babe!"


"Da...dasar mesum!" ucap Vivian dengan wajah memerah dan tanpa dia inginkan benda keras dan besar yang dia pegang tadi kembali teringat di kepalanya.


Wajah Vivian semakin memerah dan pada saat melihatnya, Matthew terkekeh dan mencium pipi Vivian dengan lembut.


"Siap membuat taruhan babe?"


"Bisa nanti saja? Aku ingin melihat rekaman yang diberikan oleh adikmu."


"Oke baiklah. Setelah ini jangan lupa kita akan membuat sebuah taruhan yang menyenangkan!"


"Tentu Mr Smith, aku suka taruhan tapi pinjami aku laptop," pinta Vivian sambil memeluk leher Matthew.


"Oke," jawab Matthew seraya mencium bibir Vivian dengan mesra.


Setelah Matthew melepaskan bibirnya, Vivian turun dari atas ranjang sedangkan Matthew berjalan keluar untuk mengambil laptop yang diinginkan oleh Vivian.


Selama menunggu Matthew kembali, Vivian teringat dengan sesuatu yang harus dia bahas dengan Matthew dan malam ini dia akan mengutarakannya.


Tidak butuh lama, Matthew telah kembali dengan sebuah laptop di tangannya, Vivian segera mengambil flashdisk yang dia simpan di dalam laci dan setelah itu, dia naik ke atas ranjang di mana Matthew sedang menyalakan laptopnya.


"Hm?"


"Rumah dinasku sudah ada jadi aku rasa aku harus pindah."


"Kenapa kau harus pindah? Apa kau tidak suka tinggal denganku?" Matthew menatapnya dengan tajam.


"Bukan begitu, aku tidak ingin ada yang tahu jika aku tinggal denganmu dan aku tidak mau buronanku tahu keberadaanmu karena aku tidak mau melibatkanmu."


"Bodoh!" Matthew menarik Vivian dan memeluknya.


"Aku bukan pengecut jadi kau tidak perlu khawatir jika sampai ada yang melihatmu bersama denganku! Aku membantumu dan melindungimu karena kau adalah pacarku dan itu adalah hal wajar. Kau tidak perlu menghawatirkan hal ini babe, siapapun buronanmu aku tidak takut jika dia melihatku. Aku justru berharap dia datang mencariku dan menantangku agar aku bisa menghabisinya supaya misimu cepat selesai jadi kau tidak perlu menghawatirkan hal ini. Yang aku khawatirkan justru dirimu dan aku harap kau tidak lengah dan bisa jaga diri."


"Thanks," ucap Vivian sambil tersenyum.


Sepertinya dia terlalu menghawatirkan hal ini dan meremehkan Matthew. Tapi walau begitu, dia tidak ingin ada rekan kerjanya tahu jika Matthew Smith yang membantunya selama ini.


Mata mereka berdua tertuju ke layar laptop saat benda itu telah menyala dan flashdisk sudah di masukkan. Rekaman yang diambil Michael sewaktu Vivian menjalankan misi di pelabuhan mulai berputar dan memperlihatkan gerak-gerik seorang rekannya bahkan orang itu tampak ragu saat menembak musuh.


Vivian diam saja menyaksikan isi rekaman dengan serius, sepertinya dugaannya jika ada penghianat diorganisasi adalah benar dan dia tidak percaya bahwa dialah orangnya. Setelah rekaman selesai diputar, Vivian memasukkan lagi sebuah flashdisk dan di dalam sana berisi rekaman yang diambil di kantornya.

__ADS_1


Kecurigaannya semakin kuat karena orang yang sama menunjukan gelagat yang mencurigakan di kantor dan dia yakin, jangan-jangan orang itulah penghianatnya.


"Ck, dasar penghianat! Aku sungguh tidak menyangka. Pantas saja misi kami selalu gagal dan jangan-jangan dia adalah mata-mata buronanku!" ucap Vivian kesal.


"Jadi?" tanya Matthew.


"Tunggulah, aku akan menangkapnya dengan tanganku dan akan aku tendang dia masuk ke dalam penjara!" ucap Vivian seraya menutup layar laptop.


"Kau terdengar begitu bersemangat?"


"Tentu saja Matth, aku benci dengan penghianat! Setelah mendapatkan bukti lebih kuat, aku akan menjebaknya dan menangkapnya dan setelah itu aku akan mengintrogasinya agar dia buka mulut dan mengatakan siapa sebenarnya M!"


"Bagaimana jika serahkan ini padaku? Aku yang akan menangkapnya menggantikanmu dan aku jamin dia akan mengatakan siapa buronanmu."


"Kau serius?"


"Yes, jika ada rekanmu yang mencarinya sebaiknya pura-pura tidak tahu dan anggap saja dia terpeleset dan masuk ke dalam rawa buaya."


Vivian tertawa dan mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Matthew, "Baiklah Mr Smith, aku tidak akan menolak bantuanmu tapi aku akan menyelidikinya terlebih dahulu supaya aku yakin dan tidak salah sasaran. Bagaimanapun aku tidak mau salah menangkap orang!" pinta Vivian karena dia tetap harus memastikannya.


"Tentu saja babe, saat kau yakin katakan padaku maka aku yang akan menangkapnya dan mengintrogasinya!"


"Oke," jawab Vivian.


"Jadi?" Matthew memeluk Vivian dari belakang dan mencium bahunya.


"Apa kita jadi membuat taruhan?"


"Katakan padaku apa taruhannya?"


"Oke dengarkan baik-baik babe pertanyaannya!"


..."Ada sebuah perlombaan di hutan dan di ikuti oleh tiga binatang paling lambat. Dua jenis siput ikut dalam perlombaan itu. Yang satu siput biasa dan yang satunya siput jenis Banana slug sedangkan binatang yang satunya lagi kura-kura Galapagos. Mereka berlomba kecepatan dan siapa yang bisa sampai kegaris finis terlebih dahulu maka dialah pemenangnya!"...


"Oh astaga!" Vivian sudah frustasi saat mendengar ceritanya, sedangkan Matthew terkekeh.


"Pertanyaannya adalah, siapa yang akan memenangkan perlombaan? Jika kau menjawab kura-kura maka kau harus memberikan alasannya begitu juga dengan yang lainnya. Kau harus tahu, alasan yang paling penting dalam jawabanmu nanti."


"Hm, berapa lama waktuku untuk menjawab?"


"Aku akan memberimu waktu beberapa hari, jika kau bisa menjawabnya maka kau boleh memintaku melakukan apapun tapi jika salah?" Matthew mengigit telinga Vivian dengan lembut.


"Kau harus menjadi milikku dan tidak boleh menolak jadi pikirkan jawabannya baik-baik!"


"What?" Vivian sangat kaget mendengarnya.

__ADS_1


"Maukan babe?" Matthew kembali menggigit telinga Vivian dan pada saat itu, ingatan benda besar itu teringat kembali.


"Sialan!" umpat Vivian dalam hati dan wajahnya memerah. Sepertinya otaknya benar-benar sudah kacau gara-gara jamur!


__ADS_2