Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Firasat


__ADS_3

London Inggris.


Hari itu Marta tampak gelisah. Ini mengenai mimpi aneh yang dia alami semalam. Dia bermimpi tiba-tiba ada yang datang dan membawa Vivian pergi jauh darinya.


Walaupun Vivian bukan darah dagingnya tapi dia sangat menyayangi Vivian dan tidak akan dia biarkan siapapun mengambil Vivian dari mereka.


Memang mereka tidak tahu asal usul Vivian tapi mereka berharap Vivian selalu bersama dengan mereka tapi apa yang akan terjadi selanjutnya mereka tidak akan pernah tahu karena suatu saat nanti Vivian akan diambil dari mereka. Tapi apakah mereka rela?


Tentu saja tidak! Apalagi David sangat menyayangi Vivian bahkan waktu itu dia menentang kedua anaknya yang lain walaupun Charles dan Marta bersedia mengadopsi Vivian tapi putra sulung dan putrinya tidak setuju sama sekali apalagi Vivian ditemukan di rumah bordil.


Kedua anaknya khawatir Vivian adalah anak seorang jal*ng yang menjadi korban dan mereka menentang keputusan ayahnya tapi David bersikeras ingin membesarkan Vivian. Karena Charles dan Marta bersedia jadi kedua anaknya tidak bisa berkata apa-apa.


David bahkan meminta Charles dan Marta untuk tidak mengatakan pada Vivian jika dia hanya anak adopsi, itu karena dia sangat menyayangi Vivian. Dia tidak mau membuat Vivian merasa canggung dan berpikir dia hanya anak yang dipunggut dan harus balas budi.


David ingin mereka seperti keluarga pada umumnya dan ini juga kesalahan yang dia buat selain tidak menyelidiki wanita yang memeluk Vivian dua puluh lima tahun yang lalu dan keputusannya ini akan menjadi bom waktu bagi mereka setelah Jager Maxton mengetahui segalanya.


Marta tampak tidak berselera makan dan murung, dia sungguh tidak rela jika tiba-tiba ada yang mengambil Vivian dan mengaku sebagai keluarganya.


Dia tahu Vivian pasti punya orang tua kandung tapi dia sungguh tidak rela jika Vivian dirampas dan di bawa pergi. Dia harap semua itu tidak terjadi dan dia harap Vivian tidak akan meninggalkannya.


David melihat menantunya dengan heran, ada apa dengannya? Tidak biasanya Marta seperti itu.


"Marta, ada apa denganmu?" tanya David.


"Dad, entah mengapa aku merasa Vivian akan pergi dari kita," jawab Marta sambil menghela nafas.


"Tentu saja dia akan pergi dari kita karena suatu hari nanti dia akan menikah."


"Bukan begitu dad, aku bermimpi ada yang ingin merampas Vivian dari kita. Aku takut dad," mata Marta tampak sendu dan dia tidak sanggup membayangkan jika hal itu terjadi.


"Apa maksudmu Marta?" tanya Charles Adison.


"Charles, aku takut tiba-tiba orang tua kandung Vivian datang dan ingin merampas dia dari kita."


"Itu tidak mungkin terjadi!" sangkal David.


"Tapi dad, tiba-tiba firasatku mengatakan demikian," ucap Marta.


"Jika sampai itu terjadi maka tidak akan aku biarkan! Siapapun itu harus melawan aku terlebih dahulu dan harus melangkahi mayatku sebelum dia mengambil Vivian dariku!"

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu dad," ucap Charles. Dia tahu ayah dan istrinya sangat menyayangi Vivian tapi mereka tidak boleh bersikap egois.


"Marta, jika memang apa yang kau khawatirkan akan terjadi dan jika memang ada keluarganya yang ingin mengambil Vivian, kita tidak bisa mencegahnya bukan? Bagaimanapun Vivian sudah harus tahu akan hal ini jika dia bukan darah daging kita dan jika memang hal itu terjadi, kita hanya bisa menyerahkan semua keputusan pada Vivian karena dialah yang berhak memutuskan, bukan kita."


"Tapi Charles?"


"Tidak perlu khawatir, Vivian akan tetap menjadi putri kita sampai kapanpun juga dan aku rasa apa yang kau khawatirkan tidak mungkin terjadi."


Charles mencoba menenangkan istrinya, sedangkan Marta menganggguk. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh suaminya, sudah dua puluh lima tahun mereka bersama dan belum pernah ada yang datang dan mengaku sebagai keluarga Vivian. Dia berharap apa yang dia khawatirkan tidak pernah terjadi tapi itu adalah sebuah firasat untuk mereka karena tidak lama lagi, Jager Maxton akan tahu kebenarannya.


Selama putra dan menantunya masih berbicara, David memilih pergi karena dia ingin menghubungi Vivian. Dia sangat merindukan Vivian dan rasanya ingin meminta cucunya untuk pulang.


Tidak butuh waktu lama, Vivian sudah menjawab panggilan dari kakeknya dan terdengar sangat senang.


"Kakek."


"Vivi, apa yang kau lakukan?"


"Tidak ada kakek, bagaimana kabar kakek?" tanya Vivian. Dia tidak mau kakeknya tahu keadaannya saat ini karena dia tidak mau membuat keluarganya khawatir.


"Kakek baik-baik saja Vivi, kakek sangat rindu denganmu."


"Aku juga rindu dengan kakek tapi aku belum lama pergi."


Vivian terkekeh, memang itu yang selalu mereka lakukan setelah dia pulang bekerja.


"Vivi," panggil kakeknya lagi.


"Ya kakek," jawab Vivian.


"Suatu hari nanti apa kau akan meninggalkkan kakek?" tanya David dan jujur saja di dalam hatinya yang paling dalam, dia khawatir apa yang ditakutkan oleh menantunya akan terjadi.


Vivian mengernyitkan dahinya, kenapa kakeknya bertanya seperti itu?


"Tidak kakek, aku tidak akan meninggalkan kakek, mommy dan daddy. Kakek tahu bukan aku sangat menyayangi kalian tapi kakek harus tahu, bahwa suatu saat nanti aku pasti akan menikah dan mengikuti suamiku seperti kakak."


"kalau itu kakek tahu Vivi jadi segeralah pertemukan kami dengannya. Jika aku tidak suka maka untuk mendapatkan restu dariku dia harus memberikan bokongnya untuk aku tendang."


"Hahahahaha!" Vivian tertawa sambil memandangi Matthew yang sedang duduk di sampingnya dan sedang mengelap tubuhnya yang dipenuhi memar.

__ADS_1


"Kita berdua akan menendang bokongnya kakek," jawab Vivian.


Matthew memandangi Vivian dengan tajam, sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menendang bokongnya.


"Baiklah Vivi, kakek hanya ingin tahu keadaanmu. Jaga dirimu baik-baik di sana," ucap David.


Setidaknya dia merasa lega setelah Vivian berjanji tidak akan meninggalkan mereka karena dia tidak rela Vivian diambil begitu saja dari mereka.


"Pasti kakek, kakek juga jaga diri dan jangan lupa minum obat," jawab Vivian tanpa tahu kenapa kakeknya bertanya demikian.


Sesudah berbicara dengan kakeknya, Vivian meletakkan ponselnya dan pada saat itu Matthew memeluknya dari belakang.


"Ada apa dengan kakekmu?"


"Tidak ada apa-apa."


"Aku dengar babe, kalian merencanakan sesuatu untuk menendang bokongku!"


Vivian terkekeh dan mengusap kepala Matthew dengan lembut, "Kakek bilang jika dia tidak suka denganmu maka persiapkanlah bokongmu untuk dia tendang supaya kau mendapat restu darinya."


"Wow! Ini bercanda atau serius?"


"Tentu saja serius, kau tahu bukan aku suka menendang bokong begitu juga dengan kakekku."


"Sepertinya aku harus membeli bantal yang tebal untuk mengganjal bokongku!"


"Persiapkanlah Mr Smith," ucap Vivian sambil tertawa.


"Tapi sebelum itu, lebih baik aku membuat perut cucunya membesar terlebih dahulu!"


"Hei!"


"Sttss," tanpa banyak bicara Matthew sudah menerkam Vivian dan mencium bibirnya sedangkan tangannya sudah berada di atas kedua dada Vivian yang tidak ditutupi apa-apa.


Vivian berusaha mendorong tubuh Matthew karena Matthew sedang menindihnya dan tubuhnya masih terasa sakit.


"Matth! Oh my God, tubuhku masih sakit apa kau gila?" rintih Vivian di bawah himpitan tubuh Matthew.


"Oh my, sory babe," Matthew segera mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


"Dasar kau mesum!" Vivian melompat ke arahnya dan menggigit daun telinganya.


Matthew berteriak tapi Vivian tidak perduli dan masih menggigit daun telinganya dengan kuat. Rasakan, semoga daun telinganya tidak lepas!


__ADS_2